Sunday, December 1, 2013

"Shadow Football", Latihan Bola ala Anatoli Polosin

Dari beberapa nama pelatih legendaris Indonesia, nama Anatoli Polosin patut dikedepankan. Lewat tangan dinginnya, timnas Indonesia berhasil meraih prestasi membanggakan berupa medali emas Sea Games 1991. Polosin, yang menjadi pelatih kepala timnas dengan dibantu Vladimir Urin dan Danurwindo menerapkan sistem pelatihan yang sebelumnya tidak pernah dikenal para pemain Indonesia. Sebuah pelatihan fisik yang keras, untuk menempa fisik para pemain yang saat itu memang sedikit mengkhawatirkan.

Metode pelatihan Polosin belum-belum sudah membawa korban. Di awal pelatnas, beberapa pemain diantaranya Fachry Husaini, Ansyari Lubis, hingga Eryono Kasiha memilih kabur dari pelatnas karena tidak tahan dengan metode latihan yang benar-benar menguras tenaga dan otak. Bahkan banyak di antara pemain yang muntah-muntah karena beratnya gemblengan fisik ala Polosin. “Kami tidak pernah dilatih bola, cuma gendong-gendongan di pantai & kolam. Main bola tanpa bola. Apaan tuh?” kata pemain yang ikut kabur dalam pelatnas. Namun, setelah memahami manfaat metode pelatihan yang disebut “shadow football”, pemain yang sempat kabur dari pelatnas akhirnya memahami manfaatnya dan ikut kembali dalam pelatnas tersebut.

Pada dasarnya, metode “Shadow Football” adalah pelatihan bola tanpa bola, yang lebih difokuskan pada penempaan fisik, stamina dan insting para pemain. Dalam pelatihan ini, pemain harus fokus pada jari tangan pelatih, yang dianggap sebagai bola. Kemana jari pelatih menunjuk, disitulah pemain harus bergerak. Meski tanpa bola, tim pelatih nyatanya sanggup menghitung berapa sentuhan “bola” yang dilakukan setiap pemainnya. Hampir 3 bulan lamanya para pemain timnas ditempa model pelatihan tanpa bola ini.

Setelah pelatihan fisik, barulah pelatnas memberikan pelatihan full game pada para pemain. Usai latihan game pertama, asisten pelatih Vladimir Urin memberikan catatan tentang hasil pelatihan setiap pemain. Dalam catatannya, Urin menjelaskan jumlah sentuhan bola per pemain selama 90 menit. Para pemain pun kaget, tidak pernah membayangkan bahwa sentuhan bola mereka dicatat dengan rinci oleh tim pelatih. Urin menerangkan, jumlah sentuhan bola (touch ball) pemain masih kurang. Touch ball artinya pemain harus aktif permainan dan pergerakan, meski hanya sekedar menyentuh bola, tidak harus mendriblle / menggiring maupun mengumpan dan menembak bola. Sebagai perbandingan, Urin menerangkan bahwa jumlah touch ball seorang Marco van Basten dalam pola total football selama 90 menit minimal 150 kali. Para pemain diharapkan bisa mendekati angka tersebut. Karena itulah, oleh Polosin latihan strategi dan teknik harus ditunda, dan pemain harus berlatih touch ball kembali. Ditahap latihan touch ball inilah baru para pemain sadar, bahwa latihan shadow football mereka, yang lebih fokus pada fisik benar-benar bermanfaat. Karena untuk terus bergerak aktif mengejar dan menyentuh bola, fisik dan stamina memang harus prima. Dan karena latihan fisik yang ekstrem inilah para pemain timnas mampu berlari 4 km dalam waktu 15 menit. Bahkan standar VO2Max mereka mendekati standar VO2Max para pemain Eropa saat itu.

Di awal pertandingan resmi melawan negara lain dalam laga persahabatan, timnas Indonesia memang menjadi lumbung gol. Maklum, selama pelatnas mereka hampir tidak pernah latihan menggunakan bola. Dalam skema permainan Polosin, dia tidak membutuhkan pemain bintang, tapi lebih mengandalkan pemain yang memiliki fisik prima dan bisa selalu bergerak dan berlari selama 120 menit. Dalam tiga pertandingan persahabatan, timnas tidak pernah berhasil mencetak gol, dan malah kebobolan hampir selusin gol. Lawan Malta timnas dihajar 3-0, lalu digilas Korea Selatan 3-0, dan terakhir dibantai Mesir 6-0. Meski begitu, Polosin mengaku puas dengan performa timnas, terutama pencapaian fisik pemain. Menurut Polosin, tugas pelatih menjadi lebih ringan karena tinggal meramu strategi dan skill pemain.

Hasil metode pelatihan Polosin bisa dilihat di ajang Sea Games Manila 1991. Semua lawan berhasil dilibas. Malaysia dihajar 2-0, Vietnam pun dipukul 1-0. Saat melawan tuan rumah Filipina, Polosin menyimpan beberapa pemain inti, dan tetap saja tim tuan rumah berhasil dikalahkan dengan skor 2-1. Kedigdayaan timnas Indonesia berlanjut saat babak semifinal menghadapi Singapura, yang mereka kalahkan lewat adu penalti. Dan puncak kejayaan timnas pun tercapai usai mengalahkan tim kuat Thailand di babak final dan berhasil meraih medali emas Sea Games.

Sayangnya, metode latihan fisik agaknya dianggap sudah ketinggalan jaman oleh para pemain, dan juga pelatih timnas saat ini. Nama besar dan kebintangan pemain, yang belum tentu diimbangi dengan skill dan fisik yang prima lebih menjadi jaminan untuk mendapatkan tempat utama di timnas Indonesia. Sudah saatnya PSSI lebih memilih pelatih dan pemain, yang mau bekerja keras, rela ditempa latihan dalam bentuk apapun. Daripada pemain yang hanya mengandalkan nama besar belaka. Benar apa yang dikatakan Polosin, yang berhak memakai jersey timnas hanyalah para pekerja keras yang mau mengorbankan segalanya untuk negaranya.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger