Wednesday, December 4, 2013

Mengenal Lebih Dekat Bahasa Surabaya

Dialek Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih kasar.

Batas wilayah penggunaan dialek Suroboyoan:

Wilayah Selatan
Perak (Kab. Jombang - bukan Tanjung Perak di Surabaya).

Wilayah Perak Utara masih menggunakan Dialek Surabaya, sementara Perak Selatan telah menggunakan Dialek Kulonan.

Malang (beberapa daerah di wilayah Kabupaten dan Kota Malang juga menggunakan dialek ini)
Wilayah Utara
Madura

Beberapa orang Madura dapat menggunakan Dialek ini secara aktif.

Barat

Wilayah Gresik , Wilayah Lamongan

Timur

Belum diketahui secara pasti, namun di sepanjang pesisir tengah Jawa Timur (Pasuruan, Probolinggo sampai Banyuwangi) Dialek ini juga banyak digunakan.



Orang Surabaya lebih sering menggunakan partikel "rek" sebagai ciri khas mereka. Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel lain adalah "seh" (e dibaca seperti e dalam kata edan), yang dlam bahasa Indonesia setara dengan partikel "sih".

Orang Surabaya juga sering mengucapkan kata "titip" secara /tetep/, dengan i diucapkan seperti /e/ dalam kata "edan"; dan kata "tutup" secara /totop/ dengan u diucapkan seperti /o/ dalam kata "soto".


Beberapa kosa kata khas Suroboyoan:

"Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);

"kathuken" berarti "kedinginan" (bahasa Jawa standar: kademen);

"gurung" berarti "belum" (bahasa Jawa standar: durung);

"gudhuk" berarti "bukan" (bahasa Jawa standar: dudu);

"deleh" berarti "taruh/letak" (delehen=letakkan) (bahasa Jawa standar: dekek);

"kek" berarti "beri" (kek'ono=berilah) (bahasa Jawa standar: wenehi);

"ae" berarti "saja" (bahasa Jawa standar: wae);

"gak" berarti "tidak" (bahasa Jawa standar: ora);

"arek" berarti "anak" (bahasa Jawa standar: bocah);

"kate/kape" berarti "akan" (bahasa Jawa standar: arep);

"lapo" berarti "sedang apa" atau "ngapain" (bahasa Jawa standar: ngopo);

"opo'o" berarti "mengapa" (bahasa Jawa standar: kenopo);

"soale" berarti "karena" (bahasa Jawa standar: kerono);

"atik" (diucapkan "atek") berarti "pakai" atau "boleh" (khusus dalam kalimat"gak atik!" yang artinya "tidak boleh");

"longor/peleh" berarti "tolol" (bahasa Jawa standar: goblok/ndhableg);

"cek" ("e" diucapkan seperti kata "sore") berarti "agar/supaya" (bahasa Jawa standar: ben/supados);

"gocik" berarti "takut/pengecut" (bahasa Jawa standar: jireh);

"mbadok" berarti "makan" (sangat kasar) (bahasa Jawa standar: mangan);

"ciamik soro/mantab jaya" berarti "enak luar biasa" (bahasa Jawa standar: enak pol/enak banget);

"rusuh" berarti "kotor" (bahasa Jawa standar: reged);

"gae" berarti "pakai/untuk/buat" (bahasa Jawa standar: pakai/untuk=kanggo, buat=gawe);

"andhok" berarti "makan di tempat selain rumah" (misal warung);
"cangkruk" berarti "nongkrong";

"babah" berarti "biar/masa bodoh";

"matek" berarti "mati" (bahasa Jawa standar: mati);

"sampek/sampik" berarti "sampai" (bahasa Jawa standar: nganti);

"barekan" berarti "lagipula";

"masiyo" berarti "walaupun";

"nang/nak" berarti "ke" atau terkadang juga "di" (bahasa Jawa standar: menyang);

"mari" berarti "selesai";(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan "wis mari tah?" yang berarti "sudah selesai kah?"
Pengertian ini sangat berbeda dengan "mari" dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, "mari" berarti "sembuh"

"mene" berarti "besok" (bahasa Jawa standar: sesuk);

"maeng" berarti tadi.

"koen" (diucapkan "kon") berarti "kamu" (bahasa Jawa standar: kowe). Kadangkala sebagai pengganti "koen", kata "awakmu" juga digunakan. Misalnya "awakmu wis mangan ta?" (Kamu sudah makan kah?") Dalam bahasa Jawa standar, awakmu berarti "badanmu" (awak = badan)

"lading" berarti "pisau" (bahasa Jawa standar: peso);

"lugur" berarti "jatuh" (bahasa Jawa standar: tiba);

"dhukur" berarti "tinggi" (bahasa Jawa standar: dhuwur);

"thithik" berarti "sedikit" (bahasa Jawa standar: sithik);

"temen" berarti "sangat" (bahasa Jawa standar: banget);

"pancet" berarti "tetap sama" ((bahasa Jawa standar: tetep);

"iwak" berarti "lauk" (bahasa Jawa standar: lawuh, "iwak" yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, "mangan karo iwak tempe", artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);

"engkuk" (u diucapkan o) berarti "nanti" (bahasa Jawa standar: mengko);

"ndhek" berarti "di" (bahasa Jawa standar: "ing" atau "ning"; dalam bahasa Jawa standar, kata "ndhek" digunakan untuk makna "pada waktu tadi", seperti dalam kata "ndhek esuk" (=tadi pagi),"ndhek wingi" (=kemarin));

"nontok" lebih banyak dipakai daripada "nonton";

"yok opo" (diucapkan /y@?@p@/) berarti "bagaimana" (bahasa Jawa standar: "piye" atau *"kepiye"; sebenarnya kata "yok opo" berasal dari kata "kaya apa" yang dalam bahasa Jawa standar berarti "seperti apa")

"peno"/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu.

"jancuk" ialah kata makian yang sering dipakai seperti "fuck" dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif "diancuk"; "jancuk" dari kata 'dancuk' dan turunan dari 'diancuk' dan turunan dari 'diencuk' yg artinya 'disetubuhi' ('dientot' bahasa betawinya). variasi yang lebih kasar ialah "mbokmu goblok, makmu kiper, dengkulmu sempal, matamu suwek, koen ancene jancuk'an"; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah.

"waras" ialah sembuh dari sakit (dalam Bahasa Jawa Tengah sembuh dari penyakit jiwa)

"embong" ialah jalan besar / jalan raya

"nyelang" artinya pinjam sesuatu

"parek/carek" artinya dekat

"ndingkik" artinya mengintip

"semlohe" artinya sexy (khusus untuk perempuan)

Orang Jawa (golongan Mataraman) pada umumnya menganggap dialek Suroboyoan adalah yang terkasar, namun sebenarnya itu menujukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan Wong Jawa, tidak berlaku dalam kehidupan Arek Suroboyo. Misalnya dalam berbicara, Wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin, karena dianggap tidak sopan. Tapi dalam budaya Arek Suroboyo, hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut sejatinya pengecut, karena tidak berani memandang mata lawan bicara. Kosakata "jancuk" misalnya. Selain berfungsi untuk menunjukkan sikap marah dan menghina orang lain, juga dapat diartikan sebagai tanda persahabatan. Arek-arek Suroboyo apabila telah lama tidak bertemu dengan sahabatnya jika bertemu kembali pasti ada kata jancuk yang terucap, contoh: "Jancuk piye khabare rek suwi gak ketemu!" Jancuk juga merupakan tanda seberapa dekatnya Arek Suroboyo dengan temannya yang ditandai apabila ketika kata jancuk diucapkan obrolan akan semakin hangat. Contoh: "Yo gak ngunu cuk critane matamu mosok mbalon gak mbayar".

Selain itu, sering pula ada kebiasaan di kalangan penutur dialek Surabaya, dalam mengekspresikan kata 'sangat', mereka menggunakan penekanan pada kata dasarnya tanpa menambahkan kata sangat (bangat atau temen) dengan menambahkan vokal "u", misalnya "sangat panas" sering diucapkan "puanas", "sangat pedas" diucapkan "puedhes", "sangat enak" diucapkan "suedhep". Apabila ingin diberikan penekanan yang lebih lagi, vokal "u" dapat ditambah.

Hawane puanas (udaranya panas sekali)
Sambele iku puuuedhes (sambal itu sangat sangat pedas sekali)

Selain itu. salah satu ciri lain dari bahasa Jawa dialek Surabaya, dalam memberikan perintah menggunakan kata kerja, kata yang bersangkutan direkatkan dengan akhiran -no. Dalam bahasa Jawa standar, biasanya direkatkan akhiran -ke

"Uripno (Jawa standar: urip-ke) lampune!" (Hidupkan lampunya!)
"Tukokno (Jawa standar: tukok-ke) kopi sakbungkus!" (Belikan kopi sebungkus!)


Perbedaan antara bahasa Jawa standar dengan bahasa Jawa Surabaya tampak sangat jelas berbeda dalam beberapa kalimat dan ekspresi seperti berikut :


Bahasa Jawa Surabaya : He yo'opo kabare rek?
Bahasa Jawa standar : Piye kabare cah?
Bahasa Indonesia : Apa kabar kawan?


Bahasa Jawa Surabaya : Rek, koen gak mangan ta?
Bahasa Jawa standar : Cah, kowe ra podho maem to?
Bahasa Indonesia : Kalian tidak makan?


Bahasa Jawa Surabaya : Ton(nama orang), celukno Ida(nama orang) po'o
Bahasa Jawa standar : Ton, undangke Ida
Bahasa Indonesia : Ton, panggilkan Ida dong

Bahasa dan cara bicara orang Surabaya memang terkesan kasar dan kurang ajar, tapi sebenarnya hati orang Surabaya baik dan suka menolong....INSYA ALLAH...

Overall, "DON'T LOOK SURABAYA JUST FROM THE GRAMMAR".......



0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger