Friday, March 9, 2018

Tak Perlu Khawatir Kehilangan Momen Berharga Karena Ada Nokia 2

- 1 komentar


Liburan tanpa mengabadikan setiap momennya seperti sayur tanpa garam. Terasa hambar dan tidak bisa dinikmati. Betul kan? Apalagi jika ketika kita berlibur tiba-tiba smartphone yang kita bawa baterainya habis. Akhirnya gak bisa selfie, wefie, sampai update status di media sosial yang kita punya terutama Instagram nih.

Pengalaman saat Baterai Smartphone habis

Bicara tentang smartphone yang low bat alias kehabisan baterai, saya pernah mengalaminya ketika mengajak keluarga berlibur di bumi perkemahan Bedengan, Dau, Malang. Karena persiapannya mendadak, saya tidak memperhatikan kondisi baterai smartphone. Ditambah saat perjalanan berlibur tersebut smartphone saya dipakai anak-anak bermain game online.

Setelah tiba di lokasi, saya baru sadar baterai smartphone tinggal sedikit. Alhasil, banyak momen-momen seru yang semestinya bisa saya abadikan jadi terlewatkan. Padahal foto-foto itu bisa melengkapi tulisan tentang wisata kemping yang bisa saya unggah di blog pribadi. Sambil mengomel dalam hati, saya membayangkan coba ada smartphone yang punya baterai dengan daya tahan lama.

Daya tahan Baterai jadi pertimbangan saat membeli Smartphone

Selain kamera dan procesor, kapasitas baterai selalu jadi pertimbangan utama saya jika hendak membeli smartphone. Memang sih, sekarang sudah ada power bank sebagai sumber tenaga listrik yang bisa dibawa kemana saja. Tapi, saya merasa agak ribet jika harus membawa power bank. Lebih baik pilih smartphone yang punya kapasitas baterai besar sehingga awet dipakai seharian.
Saya dulu pernah punya smartphone Nokia 520 yang saat itu masih memakai Operating System Windows Phone. Ini adalah smartphone pertama yang saya punya. Baterainya handal, dan kameranya pun jernih. Sayang sekali, ketika asyik mengawasi anak-anak yang sedang berenang di wisata Sumber Maron, Malang, saya gak sadar di saku celana masih ada Nokia. Ketika harus menolong anak saya yang terseret arus sungai, Nokia dalam saku celana itu pun terpaksa ikut berenang. Tamat sudah riwayatnya.

Nokia 2 dengan Baterai yang mampu bertahan sampai 2 hari

nokia 2, harga nokia 2, fitur nokia 2,keunggulan nokia 2,spesifikasi nokia 2,ulasan nokia 2
lakukan lebih banyak hal tanpa khawatir karena ada Nokia 2 (sumber gambar: https://www.nokia.com/id_id/phones/nokia-2)

Sejak dulu Nokia dikenal sebagai produsen telepon seluler yang handal. Semua produknya terbukti awet. Ketika Nokia meluncurkan seri smartphone android, saya pun mengikuti berbagai ulasannya. Kali aja ada smartphone Nokia yang handal tapi tidak menguras kantong. Lebih baik lagi jika ada yang berbaik hati memberinya sebagai hadiah, hehehe.
Salah satu smartphone android Nokia yang saya kira memenuhi persyaratan tersebut adalah Nokia 2. Fitur andalan dari Nokia 2 adalah kapasitas baterainya yang besar, 41000 mAh. Dengan daya sebesar itu, Nokia mampu bertahan selama 2 hari hanya dengan satu kali pengisian baterai.[1] Tak salah kiranya jika Nokia memberi slogan smartphone ini dengan kalimat:
"Lakukan lebih banyak hal tanpa khawatir"
Yup, dengan Nokia 2 kita bisa melakukan hal apapun memakai smartphone tersebut tanpa khawatir kehabisan baterai. Jarang sekali ada smartphone yang mempunyai kapasitas baterai sebesar itu, rata-rata hanya mempunyai daya 3000 mAh. Kalaupun ada yang sama atau lebih besar, harganya bisa menguras kantong.

Layar Jernih dengan Prosesor Mumpuni

nokia 2,harga nokia 2,keunggulan nokia 2,fitur nokia 2,ulasan nokia 2,blog competition nokia 2
Layar LCD LTPS yang terang dan responsif menawarkan warna dan gambar yang luar biasa di mana pun kita berada (sumber gambar: https://www.nokia.com/id_id/phones/nokia-2)

Nokia2 tak hanya mengandalkan baterai sebagai fitur andalannya. Layarnya juga mempunyai kualitas gambar yang sempurna dan hemat energi. Dengan layar LCD LTPS yang terang dan responsif, kita bisa bermain game atau nonton video tanpa khawatir baterai akan terkuras habis. Bicara mengenai game, banyak pengembang game android yang mensyaratkan procesor kuat supaya game yang dimainkan bisa berjalan lancar. Nah, Nokia 2 dilengkapi dengan salah satu chipset terpercaya. Prosesor Quad-core Qualcomm® Snapdragon™ 212 yang hemat daya dan dapat diandalkan membuat permainan game di smartphone berjalan tanpa mengorbankan masa pakai baterai.

Terintegrasi dengan Cloud Storage tanpa batas

nokia 2, harga nokia 2, fitur nokia 2,keunggulan nokia 2,spesifikasi nokia 2,ulasan nokia 2
terintegrasi dengan Google Photos membuat kita bisa menyimpan foto tanpa batas (sumber gambar: https://www.nokia.com/id_id/phones/nokia-2)

Satu lagi yang saya suka dari Nokia adalah integrasi antara foto yang disimpan dengan ruang penyimpanan awan (cloud storage). Ketika memakai Windows Phone, semua foto yang diambil dari smartphone Nokia akan tersimpan secara otomatis ke akun Onedrive milik kita. Ini berguna sekali lho. Karena kita bisa menyimpan foto sebanyak mungkin. Selain itu, jika sewaktu-waktu smartphone kita hilang atau kartu penyimpanan external rusak, kita masih punya cadangan file foto atau file lainnya.
nokia 2, harga nokia 2, fitur nokia 2,keunggulan nokia 2,spesifikasi nokia 2,ulasan nokia 2
dilengkapi dengan Google Asistant, membuat semuanya menjadi mudah (sumber gambar: https://www.nokia.com/id_id/phones/nokia-2)


Nah, Nokia 2 ini dilengkapi dengan Android Nougat 7.1.1 serta berbagai macam aplikasi terpopuler Google, tanpa aplikasi tambahan yang tidak perlu. Salah satu aplikasi Google yang terbaru dan canggih adalah Google Asistant dan Google Photos. Jadi, ketika kita memotret, foto akan terunggah secara gratis disertai pengklasifikasian foto secara otomatis. Lagipula, belum lama ini Google meluncurkan fitur Google Lens. Fitur ini memungkinkan kita untuk mengenali sebuah obyek yang kita foto. Misalnya kita memotret sebuah bunga, Google Lens akan memindai kemudian menyampaikan informasi jenis bunga apa yang kita potret tersebut. Canggih kan? Sayangnya fitur ini untuk sementara hanya tersedia di Amerika Serikat saja. Untuk Indonesia masih akan menyusul kemudian.

Kualitas Foto Jernih tanpa noda

Mengenai kualitas foto dari Nokia 2 kita juga tidak perlu khawatir. Meski cuma berkekuatan 8 MP (kamera belakang), foto yang dihasilkan sudah sangat jernih. Begitu pula jika kita ingin selfie, kamera depan Nokia 2 mempunyai resolusi 5 MP. Tak perlu segala macam aplikasi tambahan, foto selfie kita akan terlihat memukau. Ketika masih memakai Nokia 520 Windows Phone, foto yang dihasilkan bisa dilihat seperti dibawah ini:

nokia 2, harga nokia 2, keunggulan nokia 2, ulasan nokia 2, fitur nokia 2
hasil foto saat masih menggunakan Nokia 520 Windows Phone


Jernih kan? Itulah keunggulan kamera smartphone Nokia. Apalagi dengan teknologi terbarunya yang sekarang ada di Nokia 2.
Harganya gimana? Sekali lagi tak perlu khawatir. Dengan semua fitur unggulan diatas, Nokia 2 harganya cuma Rp. 1.499.000. Udah lah buruan beli. Kalau saya sih nunggu hadiah dari Nokia aja, hehehe.

Sebagai tambahan informasi, berikut spesifikasi lengkap dari Nokia 2

Tersedia dalam kotak
Nokia 2 
Pengisi daya
Kabel data/pengisi daya
Panduan cepat
Headset

Desain
Warna Pewter / Black, Pewter / White, Copper / Black
Ukuran 143,5 x 71,3 x 9,30 mm
Jaringan dan konektivitas
Kecepatan jaringan Kategori LTE 4, 150Mbps DL/50Mbps UL
Konektivitas 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.1, GPS/AGPS/GLONASS/Beidou, FM/(RDS)
Kinerja
Sistem operasi Android™ 7.0 Nougat
CPU Qualcomm™ Snapdragon® 212, Quad-core hingga 1,3Ghz
RAM 1 GB LPPDDR 3

Penyimpanan
Penyimpanan internal 8 GB2
Slot MicroSD Hingga 128 GB

Audio
Konektor Jack headphone 3,5 mm
Speaker Single speaker

Layar
Ukuran dan tipe 5.0” HD LTPS LCD In-Cell Touch
Resolusi 1280 x 720
Rasio kontras 1:1300
Bahan Corning® Gorilla® Glass 3

Kamera
Kamera utama 8MP AF, LED flash
Kamera depan 5MP FF

Konektor dan sensor
Tipe kabel MicroUSB (USB 2.0)
SIM Slot kartu 2 Nano-SIM + 1 MicroSD (DualSIM) / Slot kartu Nano-SIM + 1 MicroSD (SingleSIM)
Sensor Sensor cahaya sekitar, Sensor jarak, Accelerometer (G-sensor), E-compass

Baterai
Tipe baterai Integrated 4100 mAh battery3

Lainnya
Perlindungan anti air (IP52)


  



[1] Pengujian masa pakai baterai selama 2 hari dilakukan dengan uji penggunaan yang sesungguhnya oleh HMD Global. Pengujian ini termasuk penggunaan perangkat secara aktif selama 5 jam per hari dengan menggunakan baterai baru. Penggunaan termasuk misalnya, bermain game, video streaming, melakukan panggilan, mengirim sms, browsing, dan menggunakan berbagai aplikasi (seperti media sosial, berita, navigasi, dan musik). Pengujian dilakukan dengan pengaturan perangkat yang normal di dalam ruangan yang terang. Perangkat dibiarkan dalam kondisi siaga semalaman.
[2] Perangkat lunak sistem dan aplikasi yang terinstal sebelumnya banyak menggunakan ruang penyimpanan
[3] Baterai memiliki siklus pengisian ulang daya yang terbatas dan kapasitas baterai menurun seiring waktu. Pada akhirnya, baterai akan harus diganti.
Android, Google, dan Google Photos adalah merek dagang dari Google Inc. Qualcomm Snapdragon adalah produk dari Qualcomm Technologies. Hak semua merek dagang lain merupakan milik dari pemiliknya masing-masing. Variasi penawaran mungkin saja berlaku. Periksa ketersediaan di wilayah setempat. Gambar hanya untuk tujuan ilustrasi.



[Continue reading...]

Friday, March 2, 2018

Melihat Potret Sepakbola Kota Malang Era Kolonial

- 0 komentar

Kota Malang adalah kota yang penuh dengan kenangan sejarah. Dari sejak jaman kerajaan kuno seperti Tumapel, Singosari, Kanjuruhan hingga pada era kolonial dan berlanjut jaman pendudukan Jepang, jejak sejarah tersebut masih ada. Sumber-sumber sejarah baik itu berbentuk literatur atau bangunan fisik bisa dengan mudah didapatkan.

Sayang sekali, dari sekian banyak literatur sejarah yang membahas Malang, belum ada yang meneliti potret olahraga, terutama sepakbola di masyarakat. Terutama pada era kolonial ketika sepakbola pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Pada umumnya, sejarawan lebih senang membahas aspek sosial, seni budaya politik dan ekonomi masyarakat Malang. Padahal, olahraga dan sepakbola bisa dikatakan termasuk salah satu aspek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat lokal.

Sejarah sepakbola di Kota Malang dimulai pada akhir abad 19, tepatnya ketika terbentuk sebuah klub lokal bernama Go Ahead pada tahun 1898. Nama ini merujuk pada klub sepakbola yang ikut kompetisi KNVB di Belanda. Keberadaan klub sepakbola Go Ahead di Malang ini terdapat dalam sebuah cuplikan berita yang dimuat di beberapa surat kabar saat itu, seperti De Locomotive dan Soerabaijasch handelsblad. Dalam surat kabar De Locomotive bertanggal 22 Juli 1898, Go Ahead diberitakan bertanding melawan klub E.C.A dari Surabaya yang akhirnya berkesudahan seri 2-2.[1]

Nama Go Ahead ternyata tidak hanya digunakan di Malang saja. Tercatat, Go Ahead juga menjadi cikal bakal sepakbola di Semarang, dengan tahun pendirian yang sama. Setelah Go Ahead, menyusul kemudian terbentuk klub Voorwaarts (1902), M.O.T ( Moed Overwint Tegenspoed, tahun 1904) dan klub sepakbola militer pertama, Wilhelmina pada tahun 1909. Nama-nama tersebut adalah klub sepakbola yang dibentuk oleh orang-orang Belanda di Malang.

Sebagai kawasan perkebunan dan garnisun militer, Malang memang banyak dihuni orang-orang Belanda. Letak geografis Malang yang dikelilingi pegunungan juga menjadikannya sebagai tempat favorit untuk berwisata atau membangun rumah peristirahatan. Di era kolonial, sebagaimana di semua koloni Belanda, komposisi penduduk kota Malang terbagi dalam kelas: yaitu kelas paling atas adalah kulit putih ( Eropa, Amerika, Jepang ), kelas kedua adalah Timur Asing ( Arab, India, Cina ), dan kelas ketiga adalah pribumi ( masyarakat asli Indonesia ). Ini adalah konsekuensi dari kebijakan Regering Regleement yaitu peraturan pemerintah yang membedakan kelompok masyarakat menjadi tiga kelas di Hindia Belanda. Peraturan ini juga diikuti dengan kebijakan Exhorbitante Rechten yakni hak bagi Gubernur Jenderal untuk menentukan tempat tinggal bagi golongan-golongan penduduk Hindia Belanda atau pribadi sendiri. [2]

Meski saat itu sepakbola identik dengan permainan orang Eropa, bukan berarti tidak ada klub non orang Eropa di Malang. Kam Soe Twie and Tjoe Kian Hwee adalah klub sepakbola dari masyarakat Tionghoa pertama yang terbentuk di Malang, tepatnya pada tahun 1913, menyusul kemudian klub Hak Sing Hwee di tahun 1914. Ketiga klub ini kemudian melebur menjadi klub H.C.T.N.H pada tahun 1930. Hak Sing Hwee sendiri adalah klub paling sukses di Malang dengan empat kali berturut-turut menjuarai kompetisi lokal. Tradisi juara ini kemudian dilanjutkan H.C.T.N.H yang berhasil menjadi juara sebanyak 7 kali berturut-turut, dari tahun 1933-1940. Salah satu pemainnya, Bing Mo Heng terpilih sebagai penjaga gawang pada kesebelasan NIVB/NIVU yang berlaga di Piala Dunia 1938.

Kota Malang mengalami perkembangan pesat usai resmi menjadi Gemeente/kotapraja pada 1 April 1914. Jika di tahun 1890 penduduk kota Malang berjumlah 12.040 jiwa, jumlah ini melonjak drastis pada tahun 1940 menjadi 169.316 jiwa. Dari total jumlah penduduk sebanyak itu, penduduk Eropa berjumlah 13. 867 jiwa.[3] Kondisi ini tentu juga berpengaruh terhadap perkembangan sepakbola di Kota Malang. Klub-klub sepakbola mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan. Tak hanya penduduk Eropa dan Tionghoa, penduduk pribumi juga tidak ketinggalan membentuk klub sepakbola. Nama-nama klub seperti Ardjoeno, Garoeda, Anoman, Tjehaja Oetama dan Minahasa menghiasi sepakbola kota Malang.  Tidak ketinggalan klub dari etnis Arab bernama Albad’r.[4]

Dilihat dari penamaan klub, ada dua faktor yang melandasi terbentuknya klub-klub sepakbola di Malang. Pertama adalah berdasarkan etnis/kesukuan, dan kedua adalah berdasarkan profesi. Klub-klub yang dibentuk penduduk pribumi berlatar belakang etnis, seperti Ardjoeno yang mewakili etnis Jawa dan Minahasa yang mewakili etnis Sulawesi, serta klub-klub Tionghoa. Sementara klub-klub yang dibentuk orang Eropa adalah berdasarkan profesi. Klub seperti Wilhelmina dan Sparta dibentuk oleh anggota militer Belanda dan Politie S.V beranggotakan aparat kepolisian pemerintah Hindia Belanda. Ada pula klub yang dibentuk oleh perusahaan-perusahaan di Malang. Seperti klub sepakbola Faroka yang merupakan pabrik rokok yang didirikan oleh orang Belgia.

Jika nama Go Ahead muncul pula di kompetisi kota Semarang, nama klub Sparta muncul pula di kompetisi sepakbola kota Bandung. Sementara nama klub Voorwaarts muncul di kompetisi kota Medan. Nama-nama klub dari orang Eropa lainnya banyak merujuk pada klub yang berkompetisi di KNVB seperti PSV (tanpa Eindhoven), dan Vitesse (tanpa Arnheim). Ada pula yang mengambil nama dari klub sepakbola Brazil, yakni The Corinthians serta beberapa nama merujuk pada mitologi Yunani seperti Xerxes.

Menjamurnya klub-klub sepakbola di Kota Malang akhirnya menjadi pemicu dibentuknya federasi klub sepakbola lokal. Tujuan pembentukan asosiasi klub sepakbola ini adalah untuk mengorganisir dan menyelenggarakan kompetisi antar klub di Malang. Sayangnya, federasi yang mewadahi klub sepakbola di Malang tidak hanya satu. Tahun 1917, terbentuklah Malangsche Voetbal Bond (MVB) yang beranggotakan 4 klub, satu diantaranya klub Tionghoa. MVB kemudian mengajukan permintaan untuk menjadi anggota NIVB, federasi sepakbola Hindia Belanda, pada tahun 1919 namun ditolak. Pada tahun 1922, muncul federasi sepakbola dengan nama yang sama (MVB) dan pada tahun 1926 berhasil berafiliasi dengan NIVB. Keberhasilan MVB menjadi anggota NIVB mengalahkan dua federasi lain yang kebetulan bernama sama, yakni Unitas Voetbal Bond (yang pertama didirikan dan dibubarkan pada tahun 1926, yang kedua berlangsung dari tahun 1928 sampai 1929). Hingga tahun 1930, klub sepakbola di Malang berjumlah 150 klub dengan 6 federasi sepakbola. [5]

sejarah sepakbola,sepakbola kota malang,sepakbola malang,persema,malangsche voetbal bond


MVB kemudian dibubarkan pada tahun 1933 dan digantikan oleh V.M.O. (Voetbalbond Malang en Omstreken). Satu tahun kemudian, tiga klub lokal mengundurkan diri dari V.M.O. dan membentuk O.J.V.B. (Obligasi Oost Java Voetbal). Semua klub disatukan lagi di bawah M.V.U. (Malangsche Voetbal Unie), yang didirikan 11 Juli 1935.

Pertandingan sepakbola klub-klub di Malang lebih banyak digelar di daerah Rampal. Di tempat ini memang ada sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh barak-barak militer. Pada tahun 1925 dewan kota praja malang mulai membangun stadion (sekarang Stadion Gajayana) di sebelah barat kawasan Bergenburt (kawasan rumpun jalan gunung). Sebenarnya lebih tepat disebut taman olahraga karena didalamnya ada kolam renang (Zwembad), lapangan hockey, lapangan tenis serta lapangan sepakbola. Stadion multiguna ini mulai digunakan pada tahun 1926 oleh Malangsche Zwembad, klub renang yang saat itu menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sementara lapangan sepakbolanya mulai digunakan sejak tahun 1928 ketika MVB memutar kompetisi antar klub sepakbola kota Malang.[6]

Meski pembentukan klub sepakbola lebih banyak didasari oleh persamaan etnis, tapi itu tidak berlaku 
ketika federasi sepakbola Malang ikut kompetisi sepakbola antar kota. 
Mulai tahun 1914, pemerintah Hindia Belanda menyelenggarakan kompetisi antar kota di Jawa (Stedenwedstrijden). 
Kompetisi ini pertama kali diselenggarakan di Semarang, dengan nama Koloniale Tentoonstellin yang diorganisir oleh 
sebuah komite ad hoc (Sport-comité der Koloniale Tentoonstelling) dari 4 kota besar yakni Batavia, Surabaya, Semarang dan Bandung. 
Ketika NIVB terbentuk pada tahun 1919, penyelenggaraan stedenwedstrijden mulai diambil alih NIVB. 
Kompetisi ini menggunakan sistem satu putaran, dengan tuan rumah bergantian antara 4 kota tersebut.[7]

Malang sendiri mulai ikut  Stedenwedstrijden sejak tahun 1926 ketika kompetisi memberlakukan babak kualifikasi. Hal ini dilakukan NIVB karena banyak federasi sepakbola kota-kota di Jawa yang ingin ikut serta. Dalam keikutsertaannya tersebut, Malang harus mengakui keunggulan tuan rumah Surabaya dengan skor 3-1.[8]

Berturut-turut kemudian kesebelasan Malang selalu gagal lolos melaju ke putaran final. Mereka baru berhasil melaju ke putaran final pada kompetisi tahun 1939 yang diselenggarakan di Jogja. Namun, mereka harus menempati posisi juru kunci setelah tidak berhasil memenangkan satu pun pertandingan melawan Bandung, Batavia, Semarang dan Surabaya. Satu tahun kemudian, Malang kembali lolos ke putaran final. Tapi sayangnya mereka juga harus kembali menempati posisi juru kunci. Pada tahun ini kompetisi sudah diorganisir oleh NIVU, sebagai pengganti NIVB yang didirikan pada 9 Juni 1935. Stedenwedstrijden masih digelar hingga tahun 1942 sampai kemudian berhenti ketika Jepang mulai menginvasi Indonesia.

Sementara itu Federasi "asli pribumi" pertama di Malang nampaknya didirikan pada tahun 1933 dengan nama P.S.I.M. (Persatoean Sepakbola Indonesia Malang), atau dalam bahasa Belandanya disebut Districselftal van den Inlandschen Voetbalbond.[9] Nama ini kemudian berganti menjadi P.S.T (Persatoean Sepakraga Toemapel pada tanggal 8 Oktober 1934. P.S.T saat itu diberitakan sudah berafiliasi dengan PSSI. Susunan pengurusnya adalah: Ketua R Soedarno; Sekretaris 1 R. Abdoel Rachman; Sekretaris 2 R. Soewarno; Bendahara R. Soedomo dan komisioner R. Koesno, Takim dan Soekaswati.[10] Pada bulan Juni 1938, P.S.T mengutus bendahara R. Soedomo dan sejumlah komisaris untuk mengikuti Kongres PSSI di Solo. Ketika itu PSSI memutuskan untuk membatalkan perjanjian kerjasamanya dengan NIVU.[11]

Perjalanan P.S.T kemudian tidak banyak diberitakan, kecuali permintaan mereka pada Dewan Kota untuk menggunakan stadion, bergantian dengan M.V.U. Setelah itu, situasi Indonesia sudah mulai bergolak seiring masuknya Jepang dan kemudian peristiwa Agresi Militer Belanda. Nama federasi sepakbola pribumi kembali diberitakan dengan nama Persema pada bulan Agustus 1951. Pemberitaan ini seakan meluruskan sejarah yang mengatakan Persema lahir pada 20 Juni 1953. Atau jika dirunut lebih mundur, seharusnya hari jadi Persema adalah 8 Oktober 1934, saat P.S.T sebagai federasi sepakbola pribumi pertama di Malang terbentuk dan sudah menjadi anggota PSSI.



 Referensi:
[1] De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22 Juli 1898, diakses dari Delpher.nl
[2] 1Purnawan Basundoro, Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang sejak Zaman Kolonial sampai Kemerdekaan, (Yogyakarta: Ombak, 2009), hlm. 34  
[3] Dr. A. van Schaik. Malang beeld van een stad.  Purmerend Asia Maior. 1996

[4] Soerabaijasch handelsblad 03-08-1938

 [5] Dr. A. van Schaik, op cit
[6] Dr. A. van Schaik, op cit
[7] Armstrong, Gerry. Football Cultures and Identities. Macmillan Press Ltd. 1999. Diakses dari Google Books

[8] Bataviaasch nieuwsblad 24-03-1926

 [9] Soerabaijasch handelsblad 24-10-1933
 [10] De Indische courant 08-10-1934
 [11] Soerabaijasch handelsblad 13-06-1938





[Continue reading...]

Tuesday, February 6, 2018

Membandingkan Ali Topan, Lupus Dan Dilan

- 1 komentar
Setiap jaman punya idola masing-masing. Setiap jaman juga selalu mampu menciptakan tokoh idola baru. Entah itu tokoh nyata atau hanya rekaan fiksi belaka. Yang menarik dalam khasanah pengidolaan di Indonesia, mereka didominasi oleh tokoh fiktif. Dan entah kenapa, dalam khasanah pengidolaan khususnya di Indonesia, sebagian besar didominasi oleh tokoh fiktif. Tahun 70-80 an, kita punya Ali Topan milik Teguh Esha, Arjuna yang dimunculkan Yudhistira ANM Masardi, sampai Joki Tobing yang diciptakan Ashadi Siregar. Tahun 90-2000 an Hilman sukses membuat remaja kita mengelu-elukan nama Lupus, yang mencoba diimbangi oleh Roy Boy Harris lewat avonturirnya di Balada Si Roy milik  Gola Gong.

Era milenial juga tak luput dari kemunculan tokoh fiktif yang menjadi idola anak-anak muda. Lihatlah ketika anak-anak muda terpesona dengan religiusitasnya Fahri bin Abdullah Shiddik dalam Ayat-Ayat cinta. Yang berumur lebih muda terbius dengan karakter Boy di sinetron Anak Jalanan. Sampai kemudian muncullah Dilan.

Dari sekian banyak tokoh fiktif yang jadi idola tadi, cuma ada tiga yang mampu menimbulkan histeria dan menciptakan trend tersendiri. Ali Topan, Lupus dan Dilan. Maka membandingkan ketiganya adalah wajar karena sebanding.


dilan,dilan1990,ali topan,lupus,tokoh idola,novel,pidi baiq



Ali Topan, Lupus serta Dilan tercipta dan besar melalui novel yang kemudian mengalami proses ekranisasi (adaptasi buku ke film). Persamaan karakter ketiga tokoh fiksi tersebut yang utama adalah mempunyai tipikal “Bad Boy”. Ali Topan dengan gaya Crossboy dan pemberontak, Lupus yang slengekan, serta Dilan yang digambarkan jadi ketua geng motor. Remaja laki-laki dengan sosok nakal, jahil, urakan, dan suka melanggar peraturan memang seringkali terlihat lebih mencolok dan mampu menghipnotis penggemar daripada yang sekadar patuh dan tunduk. Fahri mungkin perkecualian.

Ali Topan mampu menjadi idola karena penggambaran karakternya yang pas banget mewakili semangat generasi muda di jamannya. Akhir tahun 70an, kota Jakarta yang menjadi latar belakang novel Ali Topan sedang giat-giatnya melakukan pembangunan ikonik seperti Monas dan Pekan Raya Jakarta. Hal ini memunculkan banyak wajah-wajah baru, pembaruan sosial yang baru. Dan diiringi dengan derasnya arus keterbukaan saat itu, remaja Jakarta tak pelak merasa di persimpangan jalan dan mengalami culture shock. Implikasi dari keterkejutan sosial inilah yang kemudian memicu pemberontakan identitas dan semangat crossboy, yang oleh Teguh Esha diartikan sebagai “kebebasan dengan keliaran”.

Remaja Jakarta menemukan semangat crossboy dalam sosok Ali Topan yang digambarkan urakan, tidak betah di rumah, korban broken home, dan cenderung memberontak pada pihak-pihak yang punya kuasa. Lihatlah ketika Ali Topan tidak terima ditegur saat ketahuan merokok di kantin sekolah, atau sikap kalemnya tanpa rasa takut saat diinterogasi polisi karena dianggap melarikan Anna Karenina.

 Begitu pula dengan Lupus. Dia lahir dan besar ketika pemerintahan Orde Baru mencapai masa keemasannya. Lupus, anak rumahan dari kelas menengah sangat pas mewakili dan menggambarkan keadaan saat itu. Karakternya yang santai, humoris, mewakili situasi saat dimana  Orde Baru sudah kelewat mapan sehingga kelas menengah terlena dengan keadaan ekonominya.

Tapi berbeda dengan Ali Topan yang sikap ugal-ugalannya lebih serius, karakter urakan Lupus hanya ditunjukkan pada masalah-masalah sepele seperti sering terlambat sekolah, menghindari razia rambut gondrong, dan kenakalan anak-anak sekolah umumnya. 

Ali Topan dan Lupus, keduanya lahir dan besar tepat di jamannya masing-masing. Tapi tidak untuk Dilan. Tokoh dalam tulisan-tulisan Pidi Baiq ini seolah anomali tersendiri. Dia digambarkan remaja 90an, tapi besar berpuluh tahun kedepan. 

Dilan juga seolah hibrida dari beberapa tokoh fiktif yang pernah jadi idola sebelumnya. Meskipun Pidi Baiq mengklaim Dilan adalah sosok nyata, tapi kesan pencampuran watak itu sangat kentara. Sebagai anak geng motor yang cerdas, karakter ini akan mengingatkan kita dengan Ali Topan. Sementara sifatnya yang selengekan dan sering mengejutkan, membuat pembaca menemukan sosok Lupus di dalam tokoh itu. Disisi lain, gaya bicaranya dengan Ejaan Yang Disempurnakan dan suka baca karya sastra lama mirip dengan Rangga dalam AADC.

Walaupun diciptakan dengan mewakili karakter tahun 90an, Dilan tidak mampu membawa visualisasi jamannya. Hal ini karena Dilan lahir dan besar di tahun yang salah. 

Berbeda dengan Ali Topan dan Lupus, yang bisa membawa situasi jamannya dengan sempurna. Saat membaca ulang Ali Topan atau Lupus, kita yang lahir di era 70-90an seolah terbawa mesin waktu dan kembali ke masa remaja.

Lalu mengapa Dilan bisa menjadi Idola? Faktor utamanya adalah karena Dilan menjual sisi romantisme. Tak heran jika kemudian merebak meme-meme berisi kata-kata rayuan puitis ala Dilanisme. Sesuatu yang digandrungi remaja sekarang, sama halnya ketika mereka terpesona dengan romantisme ala Fahri atau Rangga. Bedakan dengan sisi romantis Ali Topan atau Lupus, yang mendapat porsi kecil. Dua pertiga cerita Ali Topan dan Lupus mengisahkan kehidupan sehari-hari mereka. 

Pengidolaan pada tokoh-tokoh fiksi macam Ali Topan, Lupus dan Dilan pada akhirnya memunculkan sebuah konklusi. Jika ingin mencari tahu anak muda macam apa yang diidamkan bangsa ini, carilah petunjuknya pada karya fiksi yang hadir ditengah-tengah mereka.

sumber: kopibromo

[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger