Thursday, August 31, 2017

Hakekat Qurban: Menyembelih Hawa Nafsu

- 0 komentar



Sang Guru mendatangi muridnya yang sedang memberi makan kambing untuk korban idhul adha, lalu berkata, “ Kamu kuban berapa Hari Raya Idul Adha sekarang...?”
Murid tersebut menjawab, “ Alhamdulillah tahun ini saya menyembelih empat kambing, lebih banyak dari tahun kemarin.”
“Suda berapa tahun kamu rutin berkurban dalam idul adha.” Tanya Sang Guru.
Murid tersebut menjawab, “ Alhamdulillah lima tahun ini saya bisa qurban kambing, berkat doa guru usaha semakin lancar.”
Lalu guru tersebut menimpali, “ Aneh sekali, sudah lima tahun, setiap Idul Adha berkurban, tetapi dirimu tidak berubah sama sekali, astagfirullah...?!”
Murid tersebut bertanya, “ Saya kurang faham, mohon Guru jelaskan apa maksudnya...?”
Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu kalbiyah yaitu Sifat anjing yang suka mencela dan menghina orang lain...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab sang guru.
Lalu Guru tersebut berkata kembali, “ Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan dalam dirimu untuk menyembelih Nafsu himariyah jiwa keledai yaitu sifat yang pintar bicara tetapi tidak memiliki ilmu alias bodoh....?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu sabu'iyah: jiwa serigala yang suka menyakiti orang lain dengan fitnah dan adu domba...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu fa'riyah yaitu jiwa tikus yang suka korupsi dan menilep uang orang lain yang diamanahkan kepada dirimu....?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi, yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking. Senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan semacamnya...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu khinziriyah: sifat babi yang suka melakukan perbuatan dosa dna maksiat...?
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu thusiyah: nafsu Burung merak, yaitu sifat yang suka menyombongkan diri, suka pamer, berlagak-lagu, busung dada...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu jamaliyah: nafsu unta yaitu sifat tidak mempunyai sopan santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu dubbiyah: jiwa beruang, biarpun kuat dan gagah, tapi akalnya dungu....?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Lalu Guru berkata, “Ketika kamu berqurban dan menyembelih, apakah kamu meniatkan untuk menyembelih Nafsu qirdiyah: jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng...?”
Murid tersebut menjawab, “ Tidak Guru.”
“ Berarti kamu belum berqurban.” Jawab Sang Guru.

Kemudian Sang Guru berkata, “ Bangsiapa yang telah bisa “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan di dalam dirinya, maka berarti dia telah bisa mengalahkan hawa nafsunya, maka dialah orang yang telah memahami hakekat qurban.
Jika hawa nafsunya sudah dikalahkan, maka hatinya selalu diputari dan dikelilingi oleh Dzikrullah, baik dalam kondisi duduk, berdiri, bergerak dan bekerja. Mereka itulah orang-orang yang layak di lantik di hadapan ka’bah dengan memakai baju ihram, pertanda mereka adalah orang-orang yang telah mensucikan jiwanya.”
(copas dari grup WA)

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
-Surat Al-Hajj, Ayat 37-
Selamat Idul Adha

https://cerpenislam.id/2017/09/01/hakikat-qurban-menyembelih-hawa-nafsu/
[Continue reading...]

Thursday, June 22, 2017

Idul Fitri Itu Hari Raya Makanan, Bukan Hari Kemenangan Atau Kembali Ke Fitrah!

- 0 komentar
Selama ini, orang memaknai kata Lebaran itu sama dengan Idul Fitri. Padahal jelas berbeda! Lebaran itu bisa dirayakan oleh siapa saja, baik umat muslim maupun non muslim. Coba kita tengok di sekitar kita. Bukankah banyak pula rekan, tetangga, atau bahkan saudara kita yang non muslim juga ikut merayakan lebaran? Entah itu sekedar mengucapkan Selamat Idul Fitri, saling beranjang sana, kumpul-kumpul reuni saat di awal-awal bulan Lebaran, dan perayaan “lebaran” lainnya.
Itulah penjelasan tentang makna perayaan lebaran. Sedangkan Idul Fitri, hanya bisa dirayakan dan dirasakan oleh umat muslim saja. Lebih spesifik lagi, Idul Fitri (kalau dalam versi penulisan asli bahasa arab: Iedul Fitr) hanya bisa dirasakan dan dirayakan oleh umat islam yang menjalankan puasa Ramadhan. Jadi, meski dia muslim, tapi tidak menjalankan perintah puasa Ramadhan dengan sebenarnya, dia tidak bisa merasakan Idul Fitri.
Mengapa? Hal ini terkait dengan makna asli Iedul Fitri yang selama ini sudah terbiaskan dengan pemaknaan yang berbeda. Kata ‘Ied’ (عيد) dalam Iedul Fithri sama sekali bukan kembali. Dalam bahasa Arab, Ied (عيد) berarti hari raya. Maka, setiap agama punya “Ied”, punya hari raya sendiri-sendiri. Dalam bahasa Arab, hari Natal yang dirayakan umat Nasrani disebut dengan Iedul Milad (عيد الميلاد), yang artinya hari raya kelahiran. Maksudnya kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Mereka merayakan hari itu sebagai hari raya resmi agama mereka. Hari-hari kemerdekaan suatu negeri dalam bahasa Arab sering disebut dengan Iedul Wathan (عيد الوطن). Memang tidak harus selalu hari kemerdekaan, tetapi maksudnya itu adalah hari besar alias hari raya untuk negara tersebut.
idul fitri
Makna asli dari kata “Iedul Fitri” bahkan sesungguhnya melenceng jauh dari yang selama ini kita kenal. Bukan sebagai “Hari Kemenangan”, atau bermakna “Kembali ke Fitrah”. Tapi justru makna asli “Iedul Fitri” adalah Hari Raya Makanan! Yang mana berasal dari susunan dua kata “Ied” (عيد) yang berarti Hari Raya serta kata “Fithr” (فطر) bermakna makan atau makanan dan bukan suci ataupun keislaman. Bukan berasal dari dua kata “‘aada”(عاد) yang berarti “kembali” dan  fithrah (فطرة) yang berarti suci/islam.
Karena jika kata “Ied” diartikan “kembali”, kita tentu akan rancu dan kacau ketika memaknai pengertian “Iedul Adha”, yang menjadi “kembali ke hewan qurban. Karena makna “Iedul Adha” adalah Hari Raya Kurban.
Makna asli Iedul Fitri sebagai Hari Raya Makanan sudah pasti tepat karena di hari tersebut, tanggal 1 Syawal umat muslim diwajibkan untuk makan dan diharamkan untuk berpuasa. Dan sunnahnya, makan yang menjadi ritual itu dilakukan justru sebelum kita melaksanakan shalat Idul Fithri. Dan oleh karena itulah kita mengenal syariat memberi zakat al-fithr, yang maknanya adalah zakat dalam bentuk makanan. Tujuannya sudah jelas, agar tidak ada yang tersisa dari orang miskin yang berpuasa hari itu dengan alasan tidak punya makanan. Dengan adanya zakat al-fithr, maka semua orang bisa makan di hari itu.
Pada akhirnya, makna Iedul Fitri pun akhirnya bersinggungan dengan makna Lebaran, yakni ketika menjelang dan saat Iedul Fitri tiba, umat muslim, khususnya di Indonesia ingin merayakannya bersama keluarga. Lebaran, yang dalam terminologi bahasa berasal dari tradisi Hindu yang berarti “sudah selesai”, dimaknai sebagai “usainya masa puasa”, atau jika lebih luas lagi “usainya masa kerja selama setahun, dan akhirnya kembali ke keluarga”. Mereka yang sebelumnya ada di kota/negeri lain, berbondong-bondong pulang kampung dalam sebuah tradisi bernama “mudik” lantaran ingin merayakan Iedul Fitri bersama keluarga di kampung halaman. Dan pada akhirnya pula, tak jarang orang-orang non muslim pun jadi ikut terseret dalam ritual lebaran tersebut.


sumber : https://cerpenislam.id/?p=257
[Continue reading...]

Thursday, June 15, 2017

Makna Do'a Malam Lailatul Qadr

- 0 komentar



Di antara nama-nama Allah yang indah (asma’ al-husna), ada tiga nama yang saling berdekatan maknanya, yaitu al-Ghaffar, al-Ghafur, dan al-Afuwwu.

Allah bersifat al-Ghaffar dan al-Ghafur, yang keduanya artinya mengampuni, meskipun berbeda pada penekanannya.

Allah disebut al-Ghaffar karena ia sering mengampuni kesalahan kita setiap kali kita melakukan kesalahan. Sifat ini menekankan pada kuantitas pengampunan.
Allah disebut al-Ghafur karena ia dapat memberikan pengampunan dengan pengampunan yang sempurna, sampai pada batas pengampunan yang paling tinggi. Sifat ini menekankan pada kualitas pengampunan. Dengan begitu, sifat Allah al-Ghafur lebih tinggi dari sifat al-Ghaffar.

Begitu komentar Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna.

Namun, menurut al-Ghazali, al-Afuwwu (pemaafan) lebih tinggi dari pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur). Menurutnya, pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur) hanya sebatas ‘menutupi’ kesalahan kita, sehingga kesalahan itu tidak menimbulkan efek negatif terhadap diri kita. Namun, pada hakikatnya, kesalahan itu tetap ada.

Makna a-Ghaffar dan al-Ghafur adalah as-sitru, yang artinya ‘menutupi’. Dengan begitu, kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan dibuka kembali oleh Allah di saat kita berhadapan satu-persatu di hadapan-Nya, kelak pada hari kiamat.

Sedangkan makna al-Afuwwu adalah al-mahwu wa izalat al-atsari (menghapus dan menghilangkan bekas). Persis seperti kita men-delete secara permanen file komputer kita, yang tidak bisa kita recycle bin.

Ketika Allah memaafkan kita, maka kesalahan kita itu terhapus dari buku catatan amal kita, bahkan malaikat yang mencatat pun tidak mengetahuinya. Allahu Akbar!

Pantaslah, pada bulan Ramadhan yang mulia, lebih-lebih pada sepuluh akhir, Rasulullah mengajarkan kita agar senantiasa berdoa, ‘Allahumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa, fa’fu anna, ya karim (Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pemberi Maaf. Engkau menyukai sikap pemaaf. Maka, maafkanlah kami, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah)’.

(Copas Bang Aziem)



sumber: https://cerpenislam.id/2017/06/15/makna-doa-malam-lailatul-qadr/
[Continue reading...]

Saturday, April 29, 2017

Dua Orang Tamak Yang Tidak Akan Pernah Kenyang

- 0 komentar
“Ada dua jenis orang yang tamak dan masing-masing tidak akan pernah kenyang. Pertama, orang
tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta,
dia tidak akan kenyang.”
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas r.a di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.
Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.
Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti
ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk
meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan
sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji
Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah.

Sabda Rasulullah S.A.W , “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya,
di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas r.a).
Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana
serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya.
Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha.
Firman Allah SWT: “Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan
rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut
menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS. Al Isra’: 100).
Rasulullah S.A.W bersabda, “Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’,
padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai
habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai
kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan
orang lain,” (HR Muslim).
Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya. Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.
Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan dan dihabiskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

https://cerpenislam.id/2017/04/29/dua-orang-tamak-yang-tidak-akan-pernah-kenyang/
[Continue reading...]

Friday, April 28, 2017

Biarkan Allah Yang Menghibur Kita

- 0 komentar
Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya. Untuk setiap musibah dan cobaan yang kita alami, biarkan Allah yang menghibur diri kita. Bagaimana sebenarnya hiburan dari Allah tersebut?

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdo’a: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… “(QS 2: 286)
Do’a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke “orang pintar” agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke “kursi” yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sodaqoh.

Al-Qur’an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang – orang yang sabar.” (QS 2: 155)
Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah… .tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, “yah..sabar kan ada batasnya… ” Atau lidah kita berseru, “sabar sih sabar… saya sih kuat tidak makan  enak, tapi anak dan isteri saya?” Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.


Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (Qs 2: 156).
Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat “Inna lillahi… .” Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur’an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dan diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar
baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah… . Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam
Al-Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 2:157)
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
“Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha”
Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia kecuali mereka mampu menanggungnya. Untuk itu tak usah buru-buru meratapi kondisi kita yang miskin, sakit-sakitan, ditimpa bencana Seakan hanya kita yang mendapat cobaan yang berat dari Allah.
Innallaha maashobirin
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Biarkan Allah yang menghibur diri kita atas setiap ujian dan cobaan.

sumber: CerpenIslam.id
[Continue reading...]

Saturday, April 8, 2017

☀ "Ayah, Apakah Umar Sudah Meninggal?" ☀

- 0 komentar
Ketika istriku membukakan pintu untukku, di waktu zhuhur siang ini, aku melihat dia menutup wajahnya. Aku bertanya: “Apa yang terjadi?”. “Si kecil.” Jawabnya pelan dan lirih. 

Aku segera menuju kamar anak-anak. Kudapati si kecil menyendiri di atas ranjang. Aku pun memeluknya dan kembali mengulang pertanyaan kepada istriku yang berdiri disamping tempat tidur. “Apa yang terjadi?” Istriku tidak menjawab. 

Aku lalu meletakkan tanganku di kening si kecil. Tak ada tanda-tanda dia sakit. “Apa yang terjadi?” Kembali aku bertanya kepada istri. Istriku hanya memberi isyarat untuk memintaku keluar sebentar. Ternyata dia tak mau menjawab pertanyaanku di hadapan si kecil. 

Aku lalu mengajak istriku menuju kamar kami. Sambil mengelus perlahan perutnya yang membuncit karena hamil anak keempat kami, mulailah dia bercerita apa yang terjadi pada si kecil. Pagi hari tadi, si kecil keluar bersama ibunya. Di jalan, mereka berdua bertemu dengan seorang pengemis wanita yang tengah meletakkan anak kecilnya di punggungnya. Wanitu itu sedang meminta-minta makanan kepada orang yang lewat agar anaknya bisa makan. . . Si kecil pun mendekat pada pengemis, kemudian berkata: "Ibu, jangan sedih ya. Umar bin Khatthab akan datang membawa makanan untuk ibu dan anak ibu.” 

Orang-orang sekitar yang lalulang tampak memperhatikan sikap dan perkataan si kecil. Supaya tidak menjadi perhatian lebih jauh, Istriku kemudian memberikan beberapa uang sedekah kepada pengemis wanita itu. . . 

Istri dan anakku lalu melanjutkan jalan kaki mereka, hingga kemudian mendapati seorang pemuda berotot menantang lelaki lemah dengan pukulan.
Sambil tangannya masih berpegangan pada tangan ibunya, si kecil tiba-tiba berteriak di hadapan orang-orang agar mereka mendatangkan Umar bin Khatthab untuk melerai kedzhaliman tersebut.

Istriku terheran-heran dengan apa yang terjadi karena orang-orang menoleh ke arah mereka berdua. Istriku memutuskan untuk segera kembali ke rumah. 
Menjelang tiba di rumah, kembali di jalan ada seorang pengemis dengan roman muka sedih dan meminta bantuan. Istriku pun memberinya sejumlah uang. Dekat pintu rumah, istri satpam komplek perumahan mendatangi istriku dan mengabarkan bahwa suaminya sedang terbaring di rumah sakit dan membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja si kecil berkata agak keras: “Apakah Umar bin Khatthab meninggal?” Sambil meminta maaf pada istri satpam dan berjanji akan membicarakan keperluannya nanti, istriku pun mengajak si kecil masuk rumah.

Istriku kemudian berusaha menghibur hati si kecil dengan menghidupkan televisi untuk menyetel film kartun kesayangannya. Namun, stasiun televisi yang biasa menayangkan kartun saat itu sedang menyiarkan berita, tentang pemblokiran tentara Yahudi pada Masjid al Aqsha. Tiba-tiba si kecil mendekati televisi dan memandang gambar para tentara bersenjata yang sedang memukul orang-orang yang shalat lalu menembak mereka dengan timah panas. 
Lalu ia berkata kepada ibunya: “Jadi Umar bin Khatthab telah meninggal?!!!!!!” Si kecil menangis sejadi-jadinya. . . “Umar bin Khatthab telah meninggal, Umar bin Khatthab telah meninggal, Umar bin Khatthab telah meninggal.” Dia berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya itu. Ibunya terdiam.

***
Aku hanya bisa diam dan termenung mendengar cerita istriku tersebut. Istriku bertanya, mengapa si kecil seakan terobsesi pada sosok Umar bin Khattab? Sembari menghela nafas sejenak, aku pun bercerita pada istriku perihal sikap dan perilaku si kecil tersebut.

Suatu ketika, saat itu, aku begitu ingin tidur bersama ketiga anak-anakku: Asma, Aisyah, dan si kecil. Aku sering kabur dari kamarku menuju kamar mereka dan merebahkan badanku yang tinggi di ranjang mereka. Mereka begitu senang dengan sikapku ini. Terhadap apa yang aku lakukan ini, sebenarnya aku lebih bahagia dibanding mereka. Tentu saja, ketika di kamar mereka, mesti ada kisah yang kukisahkan untuk mereka. 

 Asma, usianya 9 tahun, biasanya memintaku untuk menceritakan kisah Yusuf ‘alaihissalam. Sedang Aisyah begitu senang jika dituturkan kisah Musa 'alaihissalam dan Fir’aun atau “seorang tokoh yang baik dan tokoh jahat”, istilah ini sering dipakai Aisyah untuk menyebut Musa dan Fir’aun. Adapun anakku yang paling kecil, ia selalu mendengar ksiah-kisah yang kututurkan baik tentang Yusuf 'alaihissalam atau Musa ‘alaihissalam. 

Suatu malam, aku bertanya kepada mereka: “Kisah Yusuf atau Musa?” Asma dan Aisyah menjawab dengan sosok yang mereka sukai. Sementara si kecil tiba-tiba ingin dikisahkan tentang Umar bin Khattab. Aku pun kagum dengan permintaannya yang asing ini karena aku tak pernah menyebut nama Umar dan mengisahkannya untuk si kecil. Bagaimana dia tahu? Aku pun memulai kisah Umar dengan ringkas.

Aku mengisahkan pada si kecil saat Umar keluar di malam hari untuk mempatroli keadaan rakyatnya. Umar mendengar suara tangisan anak kecil. Sang ibu meletakkan periuk air di atas tungku api. Sang ibu mengabarkan anak-anaknya itu bahwa makanan sebentar lagi akan segera matang, untuk menghilang lapar mereka malam itu. . . 

Lalu aku kisahkan pula pada si kecil bagaimana Umar menangis malam itu lalu Umar segera keluar. Dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa keranjang besar dan berat di punggungnya. Umar sendiri yang memasak untuk anak-anak itu. Umar tidak meninggalkan mereka kecuali setelah mereka kenyang dan tertidur. . . 

Si kecil tertidur bahagia dan senang setelah mendengar kisah Umar. . . Di malam berikutnya, aku terkaget dengan si kecil karena dia memberitahukan kami bahwa dia akan mengisahkan kami kisah Umar. “Kamu tahu kisahnya, nak?”, “Iya.” Jawabnya. 
Aku tak mampu mengungkapkan kekagumanku pada si kecil saat dia mengisahkan kisah tentang Umar. . . 

Lalu di malam setelahnya, aku mengisahkan si kecil tentang kisah kedua dari Umar. Aku ceritakan tentang anak kecil Ibnu al-Qithbiy yang dipukul ‘Amr bin al-‘Ash. Lalu Umar memberikan cambuk kepada Ibnu al-Qithbiy untuk membalas ‘Amr bin al-‘Ash. . . 
Pada malam berikutnya, aku menceritakan si kecil tentang ketakwaan, kekuatan dalam kebenaran, keadilan dan kelebihan lainnya yang dimiliki sahabat Umar bin Khatthab. Setiap malam berlalu, si kecil pasti menghafal dan mengisahkan kembali cerita tentang Umar dan ini hampir berlalu satu bulan. . . 

Hingga pada suatu malam, aku terkejut dengan pertanyaan si kecil: “Ayah, apakah Umar bin Khatthab meninggal?” . . 
Aku hampir menjawab pertanyaannya tetapi aku memilih terdiam beberapa saat. Terpahamilah olehku bahwa anakku ini terkagum-kagum dengan Umar.
Aku tahu bahwa dia akan sedih mendalam dan jiwanya akan terguncang jika Umar-nya telah meninggal. Dan aku memilih tak menjawab pertanyaannnya. . . Si kecil kembali bertanya di malam selanjutnya: “Ayah, apakah Umar meninggal?” dan kembali aku memilih diam dan menghindar.

Di malam-malam selanjutnya aku memilih berada di kamarku saja agar si kecil tidak bertanya dengan pertanyaan yang sama. . . 

 *****
Usai bercerita pada istriku, pintu kamar kami mendadak terbuka. Tampak si kecil ada di balik pintu, kemudian mendatangiku dengan langkah pelan dan penuh kesedihan. Aku memeluk dan mendekapnya lalu mengangkatnya sehingga matanya sejajar dengan mataku. 
Aku tersenyum dan berkata: “Nak, mengapa kamu bersedih dan bilang Umar bin Khattab meninggal? Padahal ibumu sedang hamil dan dua bulan lagi akan melahirkan Umar.” 
“Umar bin Khatthab?” Tanya si kecil sambil matanya menatap tajam wajahku
“Iya. Umar bin Khatthab.” Jawabku, sembari hatiku menjerit berdo'a "Ya Rabb, semoga anak yang akan Engkau amanahkan ini, sifat dan perilakunya bisa mendekati Umar bin Khattab, sungguhpun kami tahu tidak akan ada lagi manusia seperti Umar bin Khattab"
Si kecil pun mulai tersenyum dan merebahkan dirinya kembali dalam pelukanku sambil menyebut sebuah nama: “Umar bin Khatthab, Umar bin Khatthab.” 
Aah, air mataku pun mengalir dan aku mendoakan rahmat untuk sahabat Umar bin Khatthab.

Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, namun umat Islam yang akan melahirkan Umar-Umar lainnya tak akan mati. . . 
Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, namun al-Qur’an yang diamalkan Umar bin al-Khatthab akan selalu ada.
Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, tetapi tak akan mati semangat, keberanian, dan azzam yang Umar wariskan kepada umat Islam. . . 


~ Diterjemahkan dari halaman Kunna Jibaalan oleh Yani Fahriansyah, dengan editan untuk penyesuaian cerita oleh saya sendiri ~
[Continue reading...]

Sunday, March 26, 2017

Mencontoh Cara Berjualan Rasulullah SAW dan Para Sahabat

- 0 komentar


Dulu, dimasa mudanya, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam termasuk pedagang yg sukses. Beberapa sahabat radhiyallohu anhu juga tergolong pengusaha besar. Harta mereka, jika dikonversikan sekarang mencapai milyaran rupiah.
Ini Harta lho, bukan Omzet.
Padahal yang dijual juga nggak macam-macam.
Ada yang cuma jual kain, ada yang cuma jual madu, ada yang cuma jual hewan ternak, ada yang jual hasil kebun.
Menariknya, mereka dulu nggak pakai ilmu Copywriting, Hipnowriting, covert Selling, cross selling dan ing ing lainnya.
Kok bisa begitu?
Ya, mungkin mereka nggak pakai ilmu itu karena mereka nggak jualan Online.....
Tapi serius. . . .Pencapaian bisnis Rasulullah dan Para Sahabat itu bukan pencapaian yang biasa.
Makin luar biasa lagi ketika mereka juga mencetak pencapaian Akhirat.
Di dunia lapang, di akhirat menang.
Siapa sih yang nggak ingin seperti itu?
Justru aneh kalau ada yang nggak pengin itu semua.
Apapun terjadi semua karena ijin Allah.
Lama saya merenungi, apakah strateginya, apakah amalnya, apakah managemen bisnisnya, apakah apakah. . . .
Akan banyak teori yang menjelaskan hal-hal di atas, dan mungkin setiap orang berbeda-beda penafsirannya.
Tapi karena keterbatasan ilmu, saya hanya bisa sampai di satu kesimpulan.
Ada yang dimiliki Rasul dan para sahabat yang tidak dimiliki banyak penjual sekarang.
Apakah itu?
Itu adalah "Akhlak"
Saat berbisnis, Rasulullah akhlaknya terpuji, sampai digelari Al-Amin.
Para sahabat pun begitu.
Bisnis bukan hanya tentang strategi. Bisnis bukan hanya tentang jual beli. Bisnis juga butuh akhlak.
Siapa sih pembeli yang tidak suka, jika sikap penjualnya terpuji?
Sebaliknya, tidak ada pembeli yang suka jika sikap penjual seenaknya.
Kita jualan, yang butuh pembeli itu adalah kita. Jadi janganlah jadi penjual yang ketus, sombong, angkuh, pamer. Allah nggak suka.
Beli nggak beli, ramah ke semua orang itu harus menjadi sikap kita.
Sekarang coba lihat. Ada orang berjualan, yang broadcast sembarangan, ada juga yang nyulik-nyulik grup semaunya, dan hal-hal keji lainnya.
Promosi via Broadcast boleh, tapi ada aturannya. Mau masukin orang ke grup boleh, via UNDANGAN, bukan langsung dijebloskan.
Ngetag ke dagangan kita juga harus ijin orangnya dulu, jangan sampai dia jadi terganggu.
Sekali lagi, bisnis perlu akhlak.
Jika jalankan bisnis kecil saja nggak pakai akhlak, nggak pantas jalankan bisnis yang lebih besar.
Janganlah kita katakan pembeli itu PHP, bisa jadi cara jualan kita yang masih salah.
Janganlah kita caci orang yang telat transfer, bisa jadi mereka ada keperluan.
Janganlah kita hina-hina calon pembeli di status-status postingan.
Buat apa? Belum tentu mereka baca 
:)
Sudahlah, bagaimana cara mereka memperlakukan kita itu urusan mereka dengan Allah.Tapi kita juga punya urusan dengan Allah. Kita akan dimintai pertanggung-jawaban tentang bagaimana kita memperlakukan pembeli.
Boleh punya ribuan strategi untuk jualan. Tapi pastikan terselip akhlak yang mulia disana.
Omzet hanya angka. Ada yang lebih bernilai dari itu. Yakni pahala.
Kita lebih butuh pahala dibanding jualan kita laris. Dan lebih enak jika jualan kita laris juga berbuah pahala.
Maka, Jadilah penjual yang punya akhlak.
Ini juga jadi pengingat diri sendiri.

(Copy paste, dengan edit seperlunya).
[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger