Sunday, June 1, 2014

Ampuni Kami Ya Rabb, Atas Kekhilafan Kami Menelanjangi Aib Calon Pemimpin Kami

Ya Rabb, kami baru tersadar setelah membaca sebuah tulisan teman kami. Betapa kami selama ini telah berlaku aniaya. Menelanjangi sosok-sosok calon pemimpin kami. Ampuni kami Ya Rabb....

Betapa sulit bagi kami untuk memberi jempol kepada Jokowi begitu sholawat terucap di sela-sela bibirnya.
Betapa hinanya kami, hingga kami selalu menelanjangi seorang Prabowo, dengan memakai kekayaan, kuda dan kedudaannya sebagai sebuah tolok ukur.

Ya Rabb, kami tiba-tiba teringat sebuah sejarah sufistik, sebuah cerita ketika dalam sebuah wilayah telah penuh bisikan fitnah. Moralitas dicibir karena dianggap hanya “katanya”. wibawa diri dijual untuk membully wibawa lainnya. Harga sakit hati tidak laku lagi dalam debat diri. Semua dalam keberingasan kata dan langkah. Maka terperanjatlah malaikat-Mu ketika Engkau perintahkan untuk membumi-hanguskan kawasan itu. Dalam riwayat itu, Engkau sudah tidak peduli lagi meski dalam wilayah itu ada sosok ahli ibadah, alim, dan khusu’. Engkau Maha Tahu apa yang ada, hancur leburlah wilayah itu, menyisakan puing-puing sejarah kehinaan anak manusia. Maha Benar segala firman-Mu, penuh hikmah segala takdir dari-Mu.

Rabb, telah Engkau sepakatkan dua sosok calon pemimpin bangsa
Adakah memang sedang Engkau diamkan untuk ditelanjangkan penuh hina?
Kebaikan jelas ada dikeduanya, seiring umur jiwa semasa yang ada
Keburukan tidaklah niscaya, toh mereka hanyalah manusia
Rabb,
Maafkan calon pemimpin kami hingga berwajah sebegitu nistanya
Semoga kursi-Mu mampu meneduhkan emosi mereka
Negeri ini masih melihat bukanlah singgasana yang ada dalam otaknya
Bukan pula gila kuasa yang membanjiri mimpinya
Rabb,
Sangat teryakini potret ini hanyalah bentuk kekerdilan diri
Dari mereka yang luka dengan intuisi untuk menghamba
Lebih percaya jika hidup tersambung dari keduanya
Menempatkan segala gerak diri mempeta rasa
Melupakan sejenak, jika Engkau
ada
Hiruk pikuk kehinaan ini hanya anasir dari yang tidak berdaya
Menghembuskan bara, menaiki dengan suka cita
Ini hanyalah kelicikan dari secuil keisengan
Bukan jati diri warna hati negeri
Ampuni beliau Rabb,
Tokoh calon pemimpin negeri
Karena aku masih bisa meresakan
Getaran iman dalam nafas perjuangan
Maka tangguhkan turunnya malaikat-Mu
Untuk bergegas meratakan persada ini



(Akhmad Fauzi)
Sumber: kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger