Friday, July 18, 2014

Memahami Kontroversi Pernyataan Quraish Shihab Tentang Amal Baik Dan Musabab Umat Masuk Surga

Dalam sebuah tayangan Tafsir Al Misbah beberapa waktu lalu di Metro TV, Ulama Quraish Shihab sempat melontarkan wacana yang membingungkan, sekaligus menjadi kontroversi bagi sebagian umat islam. Dalam penjelasannya tentang amal baik manusia, Quraish Shihab menjelaskan bahwa belum tentu amal baik manusia itu bisa mengantarkannya masuk surga. Karena itu adalah hak prerogatif Allah semata. Penjelasan Quraish Shihab selengkapnya adalah sebagai berikut:

"Uraian tersebut dalam konteks penjelasan bahwa amal bukanlah sebab masuk surga, walau saya sampaikan juga bahwa kita yakin bahwa Rasulullah akan begini (masuk surga).

Penjelasan saya berdasar hadist a.l.
لا يدخل احدكم الجنة بعمله قيل حتى انت يا رسول الله قال حتى
انا الا ان يتغمدني الله برحمنه
"Tidak seorang pun masuk surga k
arena amalnya. Sahabat bertanya 'Engkau pun tidak?', Beliau menjawab 'Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku'"

Ini karena amal baik bukan sebab masuk surga tapi itu hak prerogatif Allah.

Uraian di atas bukan berarti tidak ada jaminan dari Allah bahwa Rasul masuk surga. Saya jelaskan juga di TV episode yang sama bahwa Allah menjamin dengan sumpah-Nya bahwa Rasulullah SAW akan diberikan anugerah-Nya sampai beliau puas, yang kita pahami sebagai Surga dan apapun yang Beliau kehendaki. Wa la sawfa yu'thika rabbuka fa tharda."


Sayangnya, penjelasan Qurasih Shihab malah memunculkan pertanyaan baru bagi orang awam. Jika amal baik tidak menjamin masuk surga, untuk apa kemudian umat manusia diwajibkan berbuat kebajikan? Penjelasan  Quraish Shihab, yang hanya menyandarkan pada satu hadist saja juga menimbulkan pertanyaan, apakah hadist itu tidak bertentangan dengan beberapa ayat Al Quran yang menekankan pentingnya amal baik agar bisa masuk surga? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak penulis.

Untunglah ada seorang kawan yang memposting sebuah penjelasan yang sangat memuaskan. Diambil dari sebuah buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab", berikut penjelasan lengkap atas ketidakmengertian penulis tentang pernyataan Quraish Shihab diatas:

Pertanyaan:
Saya pernah mendengar seorang khatib dalam khotbah Jum'at berkata bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah. Namun ada pula para mubalig yang berkata bahwa seseorang bisa masuk surga karena amal ibadahnya. Mohon penjelasan, bagaimanakah sebenarnya?
-

Jawaban:
Mengenai masalah ini, terjadi Ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama disebabkan adanya dua dalil, yaitu Al-Qur'an dan Hadis yang secara sepintas kelihatannya bertentangan.
Menurut zhahir nash Al-Qur'an, bahwa seseorang masuk surga karena amal ibadahnya. Hal ini dapat kita temukan pada beberapa ayat dalam Al-Qur'an, antara lain:

Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS An-Nahl:32)

Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS Al-A'raaf:43)

Menurut zhahir nash Hadis Nabi Saw., bahwa amal ibadah itu tidak dapat memasukkan seseorang ke dalam surga, bahkan tidak pula menjauhkan seseorang dari azab api neraka, melainkan karena rahmat Allah semata.
Dalam kitab Shahih Muslim terdapat hadis yang menyebutkan:

Dari jabir, ia berkata: saya pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: "Amal saleh seseotang diantara kamu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga dan tidak dapat menjauhkannya dari azab api neraka dan tidak pula aku, kecuali dengan rahmat Allah." (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Dalam riwayat lain bunyinya begini:

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: "Amal saleh seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga." Mereka (para sahabat) bertanya, "Hai Rasulullah, tidak pula engkau?" Rasulullah menjawab, "Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku." (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Mengenai hadis yang menyatakan bahwa seseorang masuk surga bukan karena amalnya, tetapi rahmat Allah dan karuia-Nya, kemi telah menemukan dalam kitab Shahih Muslim, lebih dari empat buah hadis banyaknya.
Sebenarnya bila dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi tersebut dianalisis agak mendalam, tidaklah terdapat pertentangan (ta'arudh), melainkan dapat kita kompromikan.
Untuk lebih jelasnya perhatikan komentar dua tokoh ulama. Yang satu terkenal sebagai pakar dalam bidang tafsir, sedangkan yang kedua terkenal pakar dalam bidang Fikih dan Hadis, yaitu:

Imam Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki, dalam kitab tafsirnya Ash-Shawi; ketika mengompromikan kedua dalil tersebut, beliau berkata:

Jika engkau berkata, telah terdapat keterangan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "Seseorang sekali-kali tidak masuk surga dengan sebab amalnya." Rasulullah ditanya, "Dan tidak pula engkau, hai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Dan aku pun tidak, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya."
Lalu Imam Ash-Shawi menjawab, "Bahwasanya amal yang tersebut dalam ayat Al-Qur'an itu ialah amal yang disertai dengan fadhal (karunia Allah), sedangkan amal yang dimaksud dalam hadis Nabi itu ialah amal yang tidak disertai karunia Allah."(Tafsir Shawi II:75)

Imam Muhyiddin An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim; ketika mengompromikan kedua dalik tersebut diatas beliau menjelaskan:

Dan dalam kenyataan hadis-hadis ini ada petunjuk bagi ahli haq, bahwasanya seseorang tidak berhak mendapat pahala dan surga karena amal ibadahnya. Adapun firman Allah Ta'ala: "Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan," dan "Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan," dan seumpama keduanya dari beberapa ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bahwasanya amal ibadah itu dapat memasukkan ke dalam surga, maka firman Allah itu tidak bertentangan dengan beberapa hadis ini.
Akan tetapi, ayat-ayat itu berarti bahwasanya masuknya seseorang ke dalam surga karena amal ibadahnya, kemudian mendapat taufik untuk melakukan amal ibadah itu dan mendapat hidayah untuk ikhlas dalam ibadah sehingga diterima di sisi Allah, adalah berkat rahmat Allah dan karunia-Nya. (Kitab Syarah Shahih Muslim, juz XVII, halaman 160-161)

Jadi tidak benar kalau ada seorang khatib dalam khotbah Jum'atnya itu berkata bahwa seseorang itu masuk surga karena rahmat Allah Swt. semata, sebab tidak sesuai dengan bunyi nash ayat-ayat Al-Qur'an.
Begitu pula tidak tepat kalau ada seorang mubalig dalam pidatonya berkata bahwa seseorang masuk surga karena amal ibadahnya semata sebab menyalahi bunyi nash Hadis-hadis Nabi Saw. yang sahih.
Yang benar ialah seseorang masuk surga berkat amal ibadahnya dan dengan adanya rahmat Allah serta karunia-Nya; ia diberi taufik untuk beramal dan diberi hidayah agar ia ikhlas dalam beramal.

Diambil dari buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab" tulisan dari KH.Drs.Ahmad Dimyathi Badruzzaman, dosen Fakultas Dakwah STIDA Al-Hamidiyah

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger