Monday, November 10, 2014

Demokrasi ala Umar Bin Khattab

Khalifah terbesar umat Islam, Umar Bin Khattab, memandang bahwa musyawarah merupakan akar dari demokrasi. Bagi Umar, bermusyawarah itu bukanlah hanya sekedar untuk menguatkan pendapat salah satu pihak saja, tetapi yang lebih penting adalah untuk mencari kebenaran.
"Janganlah tuan-tuan mengemukakan pendapat yang menurut persangkaan tuan-tuan sesuai dengan keinginan saya, tetapi kemukakaknlah buah pikiran menurut perkiraan tuan-tuan sesuai dengan kebenaran".

Bagi Amirul Mukminin, bermusyawarah itu adalah menyetujui suatu pendapat atau menentangnya, tak obahnya bagaikan sepasang sayap dari hukum yang baik, dan merupakan paru-paru dari setiap hukum yang benar. Karena pandangannya yang demikian, maka sewaktu ia menduduki jabatan khilafat dan didengarnya bisik-bisik tentang kekerasan dan ketegasannya, ia pun bersunyi diri dan merenungkan hal itu.

Seorang sahabat, yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman masuk menemuinya, kiranya didapatinya Umar dalam keadaan murung dengan kedua matanya basah oleh airmata. Maka ditanakanlah oleh Hudzaifah:
"Ada apa wahai Amirul Mu'minin?
"Saya takut akan berbuat kesalahan", ujar Umar, "lalu tidak seorang pun di antara tuan-tuan yang menyanggahnya karena rasa segan kepada saya".
"Demi Allah, tidak....! ujar Hudzaifah, "sekiranya kami lihat anda keluar dari garis kebenaran, maka kami akan mengembalikan anda kepadanya!"

Mendengar itu, Umar pun bergembira dan merasa optimis, kemudian katanya:
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi saya sahabat-sahabat yang bersedia meluruskan kesalahan saya jika ternyata saya melakukannya".

Penghargaan akan tantangan dan kecaman terhadap dirinya ini, dapat diperhatikan dari sikap Umar; dimana ia telah menjamin keamanan dan ketentraman bagi setiap penyampainya bahkan diberikan penghormatan terhadap mereka.

Pada suatu hari, ia naik ke atas mimbar, kemudian katanya:
"Apa yang akan tuan-tuan perbuat, seandainya saya memiringkan kepala saya ke dunia, seperti ini.....(maksudnya lebih merasa duniawi. red)".

Dari kumpulan kaum Muslimin itu, menyeruaklah seorang laki-laki sambil mengacungkan tangannya, yang bagaikan pedang terhunus seraya berkata:
"Kalau begitu, pedang kamilah yang akan berbicara".
"Kepada saya kah anda tujukan perkataan itu?" tanya Umar.
"Memang anda lah yang saya tuju dengan ucapan saya itu!"
"Semoga Allah memberi anda rahmat", jawab Umar dengan wajah berseri-seri karena gembiranya, kemudian katanya:
"Segala puji bagi Allah yang telah menyediakan di kalangan tuan-tuan orang yang akan membetulkan kesalahan saya".

1 komentar:

  1. Tidak ada ajaran demokrasi dalam Islam. Apalagi dimasa para sahabat. Mereka patuh dan tunduk hanya dengan syariat Islam. Musyawarah dalam Islam tidak sama dengan musyawarah dalam sistem demokrasi. Kita tahu deokrasi adalah kekuasaan di tangan rakyat/manusia,sehingga mereka membuat hukum sesuai keinginan itu sendiri,sedang dalam Islam kekuasaan adalah di tangan Allah,mereka dalam menetapkan perkara senantiasa mengikuti syariat yang sudah Allah tetapkan.

    ReplyDelete

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger