Thursday, October 6, 2016

Ghirah Dan Jiwa Kaum Muslim Yang Hilang

“Sangat awaslah kalau harta bendanya tersinggung tetapi tak ada perasaannya apabila agamanya kena musibah”
~ Ali bin Abi Thalib, karomallohu wajhah ~

Pernah mendengar kisah pengepungan dan pengusiran kaum Bani Qainuqa' dari bumi Madinah?
Menurut ahli tafsir dan sejarah islam, salah satu penyebab dari peperangan yang terjadi setelah perang Badar ini adalah ketika salah seorang Yahudi Madinah mengganggu seorang Muslimah dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakang Muslimah tersebut ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika sang wanita itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Dia pun berteriak meminta tolong kepada kaum Muslimin. Salah seorang kaum Muslimin yang mendengar teriakan ini, bergegas datang menolongnya dan berhasil membunuh si Yahudi jahil tersebut. Melihat temannya diserang, serta merta kaum Yahudi menyerbu lelaki Muslim itu sehingga meninggal juga. Kaum Muslimin yang menyaksikan peristiwa ini meminta tolong kepada kaum Muslimin lainnya untuk melawan kaum Yahudi, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan antara kaum Muslimin dengan kaum yahudi, Bani Qainuqa’ yang berujung pada perintah Rasulullah untuk mengepung kaum Bani Qainuqa' hingga mereka terusir dari Madinah.

Dalam bukunya Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Buya Hamka menuturkan kisah ini secara khusus dan gamblang. Peristiwa penghinaan seorang muslimah dalam fakta sejarah diatas disebut Buya Hamka sebagai sebuah Ghirah (cemburu; menjaga syaraf diri).

Menurut Buya, Ghirah adalah simbol masih hidupnya jiwa seseorang, utamanya seorang muslim. Artinya, jika sudah tak ada lagi ghirah ini, mengutip pernyataan Buya Hamka, “Ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan.” (hal. 8) Demi menegaskan, Buya Hamka sengaja menyatakan kalimat serupa makna dengan ini di beberapa tempat. Ghirah inilah tanda bahwa kita masih hidup, begitu penulis Tafsir Al-Azhar ini hendak berpesan kepada kita.

Ghirah terhadap agama, sebagaimana dikatakan oleh Ali r.a. di atas adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga tidak bisa kita menegasikan dengan ketentuan bahwa agama Allah akan menang dengan sendirinya walaupun tidak kita bela. Bukankah Mahakaya, Mahaperkasa, dan tidak membutuhkan makhluk-Nya? Allah ialah Al-Qayyuum, Maha Berdiri Sendiri. Kuasa Allah memelihara Islam sebagai undang-undang-Nya tidak boleh diragukan. Namun, ketahuilah bahwa janji Allah memenangkan Islam ialah satu hal, sedangkan kewajiban kita membelanya adalah hal lain. Ghirah terhadap Islam ini adalah kebutuhan kita sendiri, bukan untuk Allah. Maka, sudah sepantasnya kita bereaksi tatkala Islam dilecehkan.

Bahkan seorang Mahatma Gandhi, yang toleran, tidak fanatik, dan selalu menghargai perbedaan, ternyata dalam beberapa kesempatan ia juga tidak bisa menafikan perlunya ghirah terhadap agamanya, Hindu. Apakah ini salah? Tentu tidak. Asalkan perwujudan kecemburuan seseorang terhadap agamanya masih dalam koridor yang bisa diterima. Sekali lagi, karena ghirah itu adalah nyawa dan jiwa. Raga kita tiada berguna manakala ia telah tiada.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger