Results for kisah ramadan

Jalan Termudah Menuju Surga

May 04, 2022

 

jalan termudah menuju surga
Menurut Rasulullah () ada 4 jalan termudah menuju surga

Islam agama yang memudahkan pemeluknya dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Seluruh perintah dalam syariat Islam adalah demi kemaslahatan (kebaikan), sedangkan seluruh larangannya adalah untuk menghindari kemudharatan (keburukan).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah () pernah ditanya seseorang, apa jalan termudah menuju surga. Beliau () menjawab,

: أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا الليل وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

"Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, sholatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai". (HR Ahmad, sahih).

1.  Menebarkan Salam

Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan salam tidak sekadar kata-kata, namun mengandung arti menebarkan perdamaian , kasih sayang dan kerukunan terhadap sesama, baik kepada keluarga, tetangga, maupun terhadap sesama Muslim.

2. Memberi Makan (Bersedekah)

Nabi menganjurkan kepada kita untuk memberi makan (bersedekah), terutama bagi orang-orang yang membutuhkan. Rasulullah () bersabda,

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ

“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.” (HR Tirmidzi)

3. Menyambung Silaturahim

Rasulullah () bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ قَالُوا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ» قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ، فَمَا لِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تُحَاسَبَ حِسَابًا يَسِيرًا وَيُدْخِلَكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ

"Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah dan akan dimasukkan ke surga dengan Rahmat-Nya."

Sahabat bertanya, “Bagi siapa itu wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “Engkau memberi (kepada) orang yang menghalangimu, engkau memaafkan orang yang mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang memutuskan silaturrahim denganmu.”

Sahabat bertanya, “jika saya melakukannya, apa yang saya dapat wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “engkau akan dihisab dengan hisab yang ringan dan Allah akan memasukkanmu ke surga dengan rahmat-Nya."

4. Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Nabi () bersabda:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Jalan Termudah Menuju Surga Jalan Termudah Menuju Surga Reviewed by Himam Miladi on May 04, 2022 Rating: 5

Hafal Al-Quran di Usia 82 Tahun

April 13, 2022

 

Salah satu keajaiban Al-Quran adalah Kitab Allah ini mudah untuk dihafalkan, bagi siapa pun yang ingin menghafalnya. Tidak memandang usia, jenis kelamin, profesi, maupun tingkat pendidikan.

hafal al-quran di usia 82 tahun,metode menghafal al-quran,cara menghafalkan al-quran
Ummu Shalih berhasil menghafalkan Al-Quran di usia 82 tahun (dok.pri)


Tidak ada satu pun buku, bahkan juga tidak dengan kitab-kitab suci agama lain yang begitu mudahnya dihafalkan.

Mudah untuk membuktikan keajaiban ini. Tanyakan pada siapa pun juga, adakah dia bisa mengingat satu paragraf, atau mungkin satu kalimat utuh dari sebuah buku yang pernah dibacanya?

Hampir tidak ada orang yang bisa mengingat dan menghafalkan buku-buku yang pernah dia baca, apalagi sampai ke detil susunan kalimat dan kata-katanya.

Bandingkan dengan Al-Quran. Ada jutaan muslim di seluruh dunia yang dapat menghafal seluruh firman Allah di dalam Al-Quran. Dari anak-anak yang belum tamat sekolah dasar, hingga nenek berusia 82 tahun!

Ya, salah satu bukti keajaiban Firman Allah ini bisa kita lihat pada diri Ummu Shalih, seorang nenek berusia 82 tahun yang sudah hafal Al-Quran 30 Juz pada usia 82 tahun. Dan yang lebih ajaib lagi adalah, Ummu Shalih berhasil menghafalkan Al-Quran hanya dalam kurun waktu sekitar 12 tahun!

Wawancara dengan Ummu Shalih, nenek berusia 82 yang hafal 30 Juz Al-Quran ini pertama kali dimuat di majalah Ad-Dakwah No. 1552, edisi 17 Rabiul Awwal 1417 Hijriah (1 Agustus 1996). Hingga sekarang, petikan wawancara ini sudah diterbitkan di berbagai situs dan majalah Islam, untuk memotivasi siapa pun yang ingin belajar Al-Quran dan menghafalkan Al-Quran.

Berikut petikan wawancaranya:

Q1: Apa motivasi yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Quran pada usia yang setua ini?

Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Quran sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadi hafizhah Al-Quran seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat – kira-kira 3 juz.

Ketika remaja, aku menikah. Setelah itu aku sibuk dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 orang anak, suamiku wafat. Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.

Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga maka waktuku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah.

Q2: Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?

Aku mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk sekolah menengah. Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku. Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka. Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangan santun, jujur dan mencintai kebaikan.

Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Quran – dan guru-gurunya juga sangat mendorong dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Quran, setiap hari 10 ayat.

Q3: Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?

Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba’da Ashar, kami selalu duduk bersama. Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 kali. Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 kali.

 

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi dan aku mengulanginya hingga 3 kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.

Kami menetapkan hari Jum’at, khusus untuk mengulangi kembali (murajaah) ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Quran dengan cara tersebut.

Q4: Kapan Anda selesai menghafal seluruh Al-Quran?

Kira-kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 juz dengan cara yang saya telah sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.

Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.

Tiga tahun kemudian, putriku disibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya. Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang guru agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku. 

Dengan taufik Allah Azza wa Jalla aku pun telah sempurna menghafal seluruh Al-Quran. Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafidzah Al-Quran. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.

Artikel Lengkap Petikan Wawancara dengan Ummu Shalih bisa didownload dan dibaca di sini
Hafal Al-Quran di Usia 82 Tahun Hafal Al-Quran di Usia 82 Tahun Reviewed by Himam Miladi on April 13, 2022 Rating: 5

Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar

April 09, 2022


kisah penggali kubur,kisah islami,kisah ramadan,hikmah ramadan
Hikmah dari kisah nyata tersebut adalah, pencari ilmu dan orang yang menafkahkan sebagian hartanya untuk membantu seseorang yang mencari ilmu memiliki derajat yang sama


Kisah ini diceritakan oleh Syeikh Hisyam Al-Burhani, seorang ulama kenamaan di Damaskus, Suriah.  

“Kisah berikut ini,” Ujar Syaikh Hisyam Al-Burhani, “adalah kisah nyata. Bukan fiksi seperti dongeng 1001 Malam.”

Suatu hari ada seorang penggali kubur di salah satu kompleks pemakaman masyhur di Damaskus. Pemakaman ini penuh dengan ulama, auliya, serta pahlawan (syuhada). Penggali kubur ini didatangi oleh seorang wanita dan memintanya untuk menggali kubur.

Tak lama setelah menggali kubur, wanita itu beserta beberapa pelayat yang tak banyak jumlahnya datang membawa jenazah. Jenazah ini lalu diturunkan si penggali kubur ke dalam liang lahat. Seketika itu, si penggali kubur seperti melihat taman surga yang indah. Ia juga melihat dua makhluk indah, yang ia yakini adalah malaikat, membawa jenazah itu pergi dari sempitnya liang lahat.

Si penggali kubur lalu pingsan saking terkejutnya. Tatkala siuman, ia ditanya para pelayat, mengapa ia tiba-tiba pingsan. Si penggali kubur lalu menceritakan kejadian itu. Namun, para pelayat tidak percaya dengan ceritanya dan mengira si penggali kubur berhalusinasi.

Beberapa bulan kemudian, masih menurut cerita Syekh Hisyam, wanita itu datang lagi dan meminta si penggali kubur menggali satu liang lahat.

Lalu datanglah si wanita itu bersama pelayat membawa jenazah. Ketika jenazah itu diturunkan ke dalam liang lahat oleh si penggali kubur, seketika terjadi lagi hal yang sama: ia melihat taman surga dan malaikat membawa jenazah itu. Namun kali ini ia tidak sampai pingsan seperti sebelumnya walaupun masih tetap kaget.

Ketika pemakaman sudah selesai dan ia sudah menguasai diri,  si penggali kubur mengejar wanita itu dan menanyakan beberapa hal;  siapa wanita itu dan siapa kedua jenazah itu? Apa yang mereka berdua lakukan sehingga mendapat karamah seperti ini?

Wanita itu menjawab, “Mereka berdua adalah anakku. Yang pertama adalah seorang santri dan yang kedua—yang baru saja meninggal dan dikuburkan, adalah saudaranya yang bekerja sebagai tukang kayu dan menafkahkan hasilnya untuk saudaranya yang seorang santri itu.”

Si penggali kubur tadi merasakan hidayah datang kepadanya. Tanpa menunggu waktu yang lama, ia pergi ke Masjid Jami At-Taubah, Damaskus untuk menimba ilmu, meski ia sadar usianya sudah tidak muda lagi.

Masjid Jami At-Taubah adalah masjid yang memiliki sejarah panjang di Damaskus. Menurut sejarah, Imam Izzuddin bin Abdus Salam (pengarang kitab Qawaidul Ahkam) dan Imam Ibnul Jazari (Ulama qiraah, pengarang kitab An-Nasyr dan Muqaddimah Jazariyah) pernah menjadi khatib dan imam di Masjid Jami’ At-Taubah.

Kembali kepada cerita si penggali kubur, di Masjid Jami At-Taubah, ia menemui kakek Syeh Hisyam yang saat itu menjadi imam Masjid.

“Aku ingin belajar agama,” kata penggali kubur itu kepada kakek Syekh Hisyam.

“Umurmu sudah hampir 50. Apa yang membuatmu ingin mengaji?” tanya kakek Syekh Hisyam.

Si penggali kubur itu kemudian menceritakan kisahnya.

“Baiklah,” ujar kakek Syekh Hisyam, “ambil kitab Jurumiyah. Mari mengaji nahwu mulai dari awal.”

Sejak saat itu si penggali kubur itu mengaji dengan tekun hingga menjadi ulama besar Damaskus. Penggali kubur itu bernama Syekh Abdurrahman Al-Haffar (Haffar berarti tukang gali). Beliau kemudian memiliki keturunan yang juga menjadi ulama dan pecinta ilmu, salah satunya adalah Syekh Abdur Razaq Al-Haffar.

“Siapapun bisa mendapat derajat yang sama,” ujar Syekh Hisyam menutup ceritanya, “asalkan ia menuntut ilmu secara sungguh dan ikhlas.”

Hikmah dari kisah nyata tersebut adalah, pencari ilmu dan orang yang menafkahkan sebagian hartanya untuk membantu seseorang yang mencari ilmu memiliki derajat yang sama, dan mendapat limpahan rahmat Allah yang sama pula.

Yang kita butuhkan adalah keyakinan akan kebesaran dan keluasan rahmat Allah, selanjutnya mencari ilmu untuk Allah dan juga memberikan sebagian harta kita untuk memuliakan agama Allah. Setelah kita pautkan hati kita dengan Allah secara ikhlas, maka Allah lah yang membalas kita dengan memberikan perhatian khusus-Nya kepada kita. 

Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar Reviewed by Himam Miladi on April 09, 2022 Rating: 5
Powered by Blogger.