Friday, November 22, 2013

Kisah Nenek Pemungut Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh.
Usai jualan, ia pergi ke masjid agung di kota itu. Ia berwudhu dan melakukan shalat Zuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang terlihat berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak ada satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersikan halaman masjid dengan cara itu.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Hingga suatu hari pengurus masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan sebab mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”
Singkat cerita nenek itu dibiarkan untuk mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu, mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat; pertama, hanya kiai yang boleh mengetahuinya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan anda dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya ini perempuan bodoh, pak kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada haru akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya memungut selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membaca shalawat kepadanya.”

Kisah itu diceritakan kembali oleh Jalalluddin Rahmat, dalam bukunya Rindu Rasul.

Dalam kisah itu, perempuan tua bukan saja mengungkapkan cinta Rassul dalam bentuknya yang tulus, namun ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Tuhan. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung kepada rahmat Allah. Dan -dalam Islam- siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?.
Perempuan tua itu adalah gambaran dari mayoritas masyarakat Indonesia. Mereka yang menjalankan agamanya dengan penuh keterbatasan ilmu. Mereka tidak mengetahui dalil-dalil dari Alquran dan Hadis. Namun mereka mencintai Nabi-nya. Dengan segala keterbatasan itu mereka hendak menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.


sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger