Thursday, November 21, 2013

Pelatih Asing Indonesia, Dari Choo Seng Quee Hingga Jacksen F Tiago

Orang Singapura Choo Seng Quee membuka parade pelatih asing yang melatih tim nasional Indonesia. Paman Choo mengawali perjalanan timnas dengan sebuah kekalahan 0-3 dari India di pesta olahraga Asia, Asian Games 1951. Selepas Choo, tahun 1954 masuk pelatih yang kemudian hari menjadi legenda di Indonesia, namanya Antun “Tony” Puganick orang Yugoslavia, didatangkan berkat lobi kuat Soekarno dan Josef Broz Tito sang Presiden Yugoslavia kala itu. Tugas pertama Tony adalah menyatukan bakat pemain Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Maluku, Tony pun melakukan blusukan ke beberapa daerah untuk mencari pemain yang pantas untuk timnas.

Tugas pertama Tony yaitu Asian Games 1954, pertai pertama timnas mengalahkan Samurai Biru (Jepang) 5-3. Selanjutnya India dikalahkan 4-0. Sayangnya di semifinal timnas kalah dari Rep. China (Taiwan) yang waktu itu merupakan macan Asia. Di perebutan perunggu timnas lagi-lagi kalah dari Burma 4-5. Dua tahun setelah hasil kurang bagus, timnas melakukan tour Eropa untuk sebuah ujicoba menjelang Olimpiade Melbourne 1956. Timnas bermain gagah walau akhirnya kalah dari Yugoslavia 2-4, Kroasia 2-5, Jerman Barat 1-3 dan Cekoslowakia 1-5. Sepulang dari Eropa, timnas berlaga di Olimpiade, setelah menang WO dari Vietnam, Garuda melawan Beruang Merah Uni Sovyet.

Sadar akan kekuatan lawan Tony Puganick berujar ke pemainnya “Kalian ingin bermain bola atau mengubah sejarah?”. Sebuah ucapan yang menjadi pembakar laskar Garuda menahan imbang para Kamerad 0-0 di hari pertama. Timnas memang gagal mengalahkan tim terkuat di dunia saat itu tapi dunia memberi hormat kepada perjuangan Garuda. Jejak Tony di timnas diakhiri dengan sebuah medali perunggu Asian Games 1958. Raihan tersebut merupakan yang terbaik sampai hari ini.

Selepas Tony Puganick, pelatih asing berikutnya adalah Wiel Coerver. Wiel Coerver merupakan pelatih klub top Belanda, Feyenoord. Dia nyaris membawa timnas lolos ke olimpiade Montreal  1976, sebuah tendangan penalti dari Anjasmara yang melayang mengubur mimpi timnas ke olimpiade. Setelah sukses bersama Hongkong Frans Van Balkom ditarik menjadi juru taktik Garuda. Pelatih Belanda hanya setahun bersama Garuda dan sebuah Perak Sea Games 1979 adalah karya pelatih Belanda ini.

Tongkat estafet Allenatore PSSI diteruskan oleh Marek Janota dari Polandia dan selanjutnya Bernd Fischer dari Jerman, keduanya hanya setahun di kursi panas PSSI pulang dengan prestasi yang kurang bagus. Setelah masa Fisher, PSSI selama tujuh tahun lebih percaya kepada pelatih domestik dan lebih mempercayakan pelatih asing di level junior.
Tahun 1987 Indonesia kedatangan Anatoli Polosin dari Rusia. Wajahnya yang dingin mengsiyaratkan pribadi yang tak kenal kompromi. Diawal-awal melatihnya timnas kurang maksimal. Gagal di Piala Kemerdekaan dan Perunggu Sea Games 1989 adalah pencapaiannya. Ciri melatih yang mengutamakan kekuatan fisik sempat di cemooh oleh banyak pihak termasuk para pemain tapi Polosin tidak menggubris. Gaya melatihnya dikenal dengan istilah “shadow football”. Tempaan fisik dan disiplin yang kemudian hari membawa garuda terbang tinggi dengan sebuah Emas Sea Games 1991 di Manila. Anatoli Polosin dianggap salah satu pelatih asing yang sukses melatih di Indonesia.

Gaya pelatih Eropa tImur yang disiplin membuat PSSI kembali mencari pelatih dari sana. Maka terpilih lah Ivan Toplak. Pelatih ini sukses membawa Yugoslavia meraih perunggu di olimpiade Los Angeles 1984. Asa tinggi digantung ke “Orang tua” dari Yugoslavia ini. Sayangnya ekspektasi tersebut jauh dari harapan. Timnas yang beranggotakan banyak pemain tua gagal total di Sea Games 1993 dan Pra Piala Dunia 1994, Ivan Toplak yang bergaji Rp. 300 juta setahun didepak.

Penggantinya adalah Romano Matte dari Italia yang pernah bersama klub Sampdoria. Berbeda dengan Toplak yang gemar memakai tenaga tua, Romano Matte lebih percaya kepada anak muda alumni Primavera. Sempat memberi harapan dengan permainan energik,sayangnya gagal di Sea Games 1995. Romano Matte meninggalkan kursi panas PSSI tanpa trofi. Dua tahun kemudian PSSI memilih Henk Wullems yang sukses bersama Klub Bandung Raya. Meneer Wullems merupakan allenatore asing ke-10. Bermain bagus dan atraktif dengan pemain yang hebat di posisinya, timnas yang selangkah lagi terbang tinggi pupus ditangan Thailand di final Sea Games 1997. Henk Wullems hanya setahun memimpin Garuda. Sekali lagi sayap garuda dipatahkan Gajah Putih.

Setelah memecat Bernard Schumm yang gagal di Sea Games 1999. Pelatih asing berikutnya Ivan Kolev dari Bulgaria. Kolev memimpin timnas meraih runner up di Tiger Cup dan penyisihan Piala Asia 2004. Usai piala Asia 2004 Kolev digantikan pelatih dari Inggris yang sukses bersama Thailand, Peter Withe. Cerita sukses bersama Gajah Putih gagal ditularkan bersama Garuda. Sempat memberi harapan dengan hasil bagus di penyisihan dan semifinal AFF Cup 2004, garuda melempem di partai puncak dikalahkan negeri Singa Singapura. Menurut Withe salah satu kelemahan pemain timnas saat itu adalah panik ketika ditekan pemain lain. Menjelang piala Asia 2007 Withe digantikan oleh Kolev.

Era Kolev hanya sebentar di piala Asia 2007. Pelatih asing berikutnya adalah Alfred Riedl, PSSI kepincut dengan prestasi si Opa dari Austria yang sukses membawa Vietnam runner up di Piala AFF 1998, Sea Games 2003 dan 2005. Riedl dengan sekumpulan pemain berbakatnya tampil dominan di Piala AFF 2010 hingga semifinal. Sebuah kekalahan telak dari musuh bubuyutan serumpun Malaysia mengubur mimpi kita meraih juara, lagi-lagi Riedl hanya mampu meraih posisi ke-2 di level ASEAN.

Setelah itu PSSI menunjuk Wim Rijsbergen dari Belanda berhasil memimpin garuda ke babak ketiga Pra Piala Dunia 2014. Prestasi lain dari Wim adalah bisa menahan imbang 0-0 Arab Saudi di partai Ujicoba. Tidak lama Wim membesuk timnas, pasca kritikan kerasnya kepada pemain PSSI mendepaknya. Padahal kritikan dari pelatih adalah hal wajar seharusnya menjadi cambuk untuk berprestasi. Luis Manuel Blanco dari Argentina sempat beberapa saat memimpin latihan timnas. Masa kepelatihan yang singkat tanpa sebuah partai, Blanco meninggalkan Indonesia.

Suksesor berikutnya Jacksen F. Tiago orang Brasil yang lama diatmosfer sepakbola Indonesia. Jacksen memimpian timnas di kualifikasi piala Asia 2015, walau gagal (hanya sekali seri lawan China), sentuhan Jacksen membawa perubahan bagi permainan timnas.
Meski sudah mampu membawa perubahan, JFT hanya bertahan beberapa bulan saja. Dengan berbagai manuver dan alasan, PSSI akhirnya memanggil kembali Alfred Riedl. Pemanggilan ini tak pelak menuai kontroversi. Mengingat, Alfred Riedl pernah memimpin "timnas tandingan", padahal dia tahu sudah ada timnas yang resmi dan legal. Pun, ditambah dengan fakta, setelah memimpin "timnas TRG", Alfred Riedl praktis menjadi pengangguran. Tak ada timnas ataupun klub yang dilatihnya. Seolah Alfred Riedl memang sengaja menunggu panggilan dari PSSI.

sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger