Sunday, November 24, 2013

Bonek: Legenda Suporter Pertama Dan Terbesar Di Indonesia

“Apa yang menjadi misi kita? Apa?”, teriaknya keras-keras. “Membalikkan sejarah,” jawab semua pemain dengan serentak. Demikian dialog antara Agil Haji Ali, manajer Persebaya, dan para pemain yang direkam dengan baik oleh Majalah Tempo Edisi 2 April 1988.
Dialog di atas terjadi saat final kompetisi Divisi Utama Perserikatan yang mempertemukan tim Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta. Nyatanya, malam itu Persebaya memang “membalikkan sejarah”. “Green Force”, julukan Persebaya kala itu berhasil menumbangkan Persija dengan skor tipis 3-2.

Malam itu juga, tak hanya Persebaya yang bisa “membalikkan sejarah”, namun suporter sepak bola-pun turut “membalikkan sejarah”. Era baru bagi suporter di Indonesia telah dimulai pada malam itu, meski pada tahun 1986 telah terlihat cikal-bakalnya.

Adalah suporter Persebaya-lah yang berhasil “membalikkan sejarah” dan memulai babak baru dalam soal dukung-mendukung kesebelasan yang menjadi kesayangan. Salah satu berita di Majalah Tempo edisi 2 April 1988 merekam bagaimana Persebaya dan suporternya menjadi titik awal dari perubahan perilaku suporter di Indonesia.

Suporter Persebaya datang ke Jakarta secara berduyun-duyun, dengan dikoordinasi oleh Jawa Pos dalam gerakan “tret…tret…tret”. Mereka hadir lengkap dengan kaos yang seragam, syal berikut spanduk legendaris sepanjang 200 meter yang bertuliskan “Kami Haus Akan Golmu”!. Belakangan Suporter Persebaya itu dikenal dengan sebutan “Bonek”.
Sebelum Bonek “Tret…tret…tret…” ke Jakarta, supoter di Indonesia lebih merupakan suporter yang bersifat traditional. Mereka datang ke stadion hanya sekedar mendukung kesebelasannya. Belum ada atribut seperti kaos, syal dan spanduk yang dibawa oleh supoter secara massif ke tribun stadion. Dari sudut pandang ini, nama Bonek bisa kita sebut mengawali evolusi identitas suporter Indonesia.

Evolusi selanjutnya Bonek terlihat pada logo. Di saat suporter lainnya belum mempunyai logo yang sama, maka Bonek telah seragam dengan logo lengendarisnya, “Wong Mangap” atau “Ndas Mangap”. Logo ini lah yang membuat Bonek beda dengan suporter lainnya.
Selama ini logo suporter identik dengan logo klubnya. Bonek berbeda. Ia tidak memakai “bajul ijo” sebagai logonya, tetapi sosok pria “mangap” berambut panjang tak beraturan dengan ikat kepala bertuliskan Persebaya (kala itu) tengah berteriak lantang. Sosok ciptaan Mister Muchtar itu lah yang akhirnya menjadi ikon dari “Bonek”.

Masih banyak evolusi-evolusi supoter tanah air yang dimulai dari Bonek. Terlalu panjang untuk disebutkan satu-persatu dengan sebuah artikel pendek. Meski demikian hal itu tak mengurangi sama sekali pengakuan terhadap “Bonek”, bahwa Bonek adalah komunitas suporter pertama sekaligus terbesar di Indonesia.


sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger