Friday, November 8, 2013

Merenungi I'tiraf Abu Nawas

Di surau-surau kampung, tiap malam Jumat selepas adzan maghrib, selalu didendangkan i'tiraf,
sebuah pengakuan, puisi karya terakhir Abu Nawas, sebuah puisi religius :

Ilahiy lastu lilfirdausi ahla,
walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi,
fainnaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi….
(Ya Allah … aku bukanlah penghuni surga-Mu
tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka kami mohon taubat dan mohon ampun atas dosaku
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa….)
Dzunubi mitslu a’daadir- rimali,
fahabli taubatan ya Dzal Jalaali,
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi,
wa dzanbi zaaidun kaifa -htimali
(Dosa-dosaku seperti bilangan pasir di pantai,
maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan
Dan umur hamba berkurang setiap hari,
sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, apalah dayaku menanggungnya)
Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka,
muqirran bi dzunubi wa qad da’aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahla,
wain tadrud faman narju siwaaka
(Ya Allah… hamba-Mu yang penuh maksiat,
datang kepada-Mu bersimpuh memohon ampunan,
Jika Engkau ampuni memang Engkau adalah Pemilik Ampunan,
Tetapi jika Engkau menolak taubatku, maka kepada siapa lagi aku berharap?)

Tujuannya, hanya sekedar mengingatkan umat untuk selalu memintai taubat dan ampunan dari Allah SWT. 
Meski sering didendangkan dan diperdengarkan syair Abu Nawas tersebut, banyak yang belum tahu, atau meragukan, siapa sebenarnya sosok Abu Nawas tersebut. Tokoh nyata, atau hanya sekedar fiksi untuk melengkapi cerita 1001 malam yang terkenal itu?
Adalah seorang Abu Ali al-Hasan ibnu Hani-al hakami. Ternyata dialah si pembuat syair tersebut dengan nick name Abu nuwas (arabic), abu novas (persia/iran). Tapi lidah Indonesia kita lebih nyaman menyebutnya dengan Abu Nawas.
Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan. Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam.
Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Kembali ke al i’tiraf …..

Puisi pengakuan ini sangat menggelitik dan nakal… coba lihat, kira-kira apa yang ada di benak Tuhan ketika pertama-tama mendengar syair ini; “Ya Tuhanku… aku tidak pantas masuk surga, tapi aku tidak kuat dengan panasnya api neraka”. Tuhan mungkin berkata, berani-beraninya kamu bicara seperti itu, bukankah aku ciptakan neraka bagi hamba-hambaku yang pendosa? Supaya kamu tidak masuk neraka, maka janganlah melakukan perbuatan dosa.

Atau mungkin saja Tuhan berkata, Ya sudah… kamu nggak masuk surga, karena kamu sendiri mengakui tidak pantas kalau dirimu masuk surga. Dan kamu juga nggak usah masuk neraka karena kamu tidak kuat. Tapi sayangnya…. Di akhirat tidak ada lagi tempat lain selain surga dan neraka, lalu Kamu mau Aku taruh dimana?
Karena tahu Tuhan pasti bimbang, lalu Abu nawas melanjutkan syairnya dengan menghiba dan sedikit pujian; “Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun segala dosa.

Apakah Tuhan akan luluh dengan hibaan ini? Bukankah Tuhan memang sudah menuliskan sendiri dalam al-Qur’an bahwa Tuhan memang Maha Pengampun????
Si Abu Nawas ini melanjutkan pengakuannya; “Dosaku seperti bilangan pasir di pantai.” Banyak benar dosa si Abu, ada yang bisa menghitung bilangan pasir di pantai? Apakah kali ini Tuhan tidak bimbang lagi untuk menceplsokan si Abu ke dalam neraka? Untuk mengampuni satu dosa saja Tuhan tentu masih banyak pertimbangan lain, tapi kalau sudah seperti bilangan pasir??? bukankah itu merupakan jumlah yang sangat banyak? Apakah kali ini Tuhan tidak bakal mau mendengar pengakuan yang sangat terus terang itu lalu menempatkan si Abu ke tempat seharusnya yaitu neraka?

Tapi Abu Nawas penyair hebat ini sungguh pandai mengambil hati Tuhan, dia menutup syairnya dengan negosiasi tingkat tinggi, “Jika Engkau ampuni dosaku memang Engkau adalah Pemilik Ampunan, Tetapi jika Engkau menolak taubatku, maka kepada siapa lagi aku berharap?”
Itulah penutup syair yang sampai sekarang aku masih terus bertanya-tanya, apakah Abu Nawas masuk sorga atau neraka? Wallahu a’lam.
Marilah kita sering-sering mendendangkan syair ini, walau kita banyak dosa seperti si Abu, siapa tahu Tuhan akan mengampuni dosa kita karena keindahan syairnya lalu Tuhan menempatkan kita di surga bersama baginda nabi, para sahabat, tabi tabiin, dan orang-orang yang diridhai-Nya.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger