Tuesday, November 19, 2013

Ada Ivan Kolev Diantara Peter White Dan Alfred Riedl

Dalam 12 tahun mengikuti perkembangan tim nasional saya mencermati ada tiga orang pelatih asing yang menonjol dengan dua orang membawa perubahan fundamental dari segi pola permainan dan satu orang membawa ketenaran. Peter White, Ivan Kolev dan Alfred Riedl merupakan pelatih yang dulu dipuja di awal namun terpuruk di akhir. Kisah perjalanan tiga orang ini dalam menangani tim nasional disertai juga pendapat Saya mengenai ketiga-tiganya.
1. Peter White
Pria yang lahir pada 30 Agustus 1951 adalah Pahlawan Aston Villa di final Piala Champion tahun 1981. Saat itu gol semata wayang White berhasil mengalahkan Bayern Muenchen di final dengan skor 1-0 untuk keunggulan Aston Villa. Setelah pensiun pada tahun 1990 sebagai pemain, White meneruskan karir nya sebagai pelatih Wimbledon di tahun 1991, di tahun 1998 White mulai melatih tim nasional, Thailand adalah negara pertama yang ditangani pria berkebangsaan Inggris.
Warga negara Indonesia pada tahun 2000 dan 2002 tentu tidak akan melupakan betapa perkasanya tim nasional Thailand, selalu bermain cepat dengan umpan direct football yang membuat repot pemain-pemain kita ketika itu seperti Nur’alim, Aji Santoso dan Sugiantoro. Thailand pada masa tersebut adalah raja asia tenggara, Indonesia hanya spesialis runner-up. Publik juga tidak akan melupakan bagaimana tim nasional harus kalah adu penalti pada final Piala Tiger (AFF Cup) 2002 di Senayan Jakarta, kala itu sistem satu tuan rumah yang berlaku tidak membuat gentar Thailand yang bertindak sebagai tamu, alhasil Peter White berhasil membawa Thailand untuk kedua kalinya menjadi Juara di level Asia Tenggara setelah menang adu penalti.
Prestasinya tersebut ternyata membuat kepincut PSSI yang ketika itu di pimpin oleh Nurdin Halid. PSSI akhirnya menawari kontrak kepada White untuk menangani tim nasional selepas kegagalan lolos ke perempat final Piala Asia 2004 di Cina. White langsung membuat gebrakan, Indonesia di tangannya di ajarkan taktik dan formasi yang dianggap modern oleh dunia yaitu 4-4-2, formasi ini mengundang kritik luar biasa dari Benny Dollo dan Sutan Harhara yang menganggap formasi 4-4-2 tidak berhasil karena pemain Indonesia belum mampu memahaminya, bahkan Benny menyarakan agar kembali ke formasi konservatif 3-5-2 yang dianut hampir seluruh klub Indonesia. White punya pendirian dan menghiraukan seluruh kritik tersebut, selain itu publik juga mengenang White yang berhasil mengangkat mutiara hitam yang paling berkilau ketika itu, Boaz Solossa. White juga membuat publik terkejut dengan meninggalkan pujaan hati pendukung Jack Mania yaitu Bambang Pamungkas, di sisi lain White lebih memilih Ilham Jaya Kesuma (van Nistelroy-nya Persita Tangerang) dan Kurniawan Dwi Yulianto sebagai pelapis IJK. Strategi White ketika itu adalah memaksimalkan serangan dari sisi lapangan  yang diemban oleh Boaz dan Budi dengan bantuan holding midfielder dan deep playmaker yang ketika itu dijalankan oleh Ponaryo Astaman. White yakin tim yang dibentuknya akan membawa tim nasional menjadi juara di level Asia Tenggara sekaligus mencapai perempat final di Piala Asia 2007.
Pada kejuaraan Piala Tiger 2004 yang dihelat di Vietnam dan Malaysia, Indonesia bergabung di grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja dan Laos. Dengan 3 kemenangan (vs Laos 6-0, vs Vietnam 3-0, Kamboja 8-0) 1 seri (vs Singapura 0-0) dan 17 gol tanpa kebobolan, publik Indonesia optimis White dan pasukannya mampu melepas dahaga akan gelar tim senior apalagi saat itu permainan menyerang dan penuh determinasi membuat semua pihak sangat mengunggulkan Indonesia, apalagi seteru beratnya Thailand gagal lolos ke semifinal. Pada semifinal, supporter di Senayan terkejut tatkala Malaysia membungkam Indonesia 2-1, namun White meyakinkan pemainnya  untuk mengalahkan Malaysia di Shah Alam dan mengatakan bahwa tim nasional akan mempersembahkan gelar untuk korban tsunami. Hasilnya Indonesia bermain gila dan ngotot dengan membantai Malaysia 4-1 setelah sebelumnya tertinggal 1-0. Sayangnya, di final taktik kotor Agu Casmir  dkk dengan mencederai Boaz menyebabkan harapan meraih gelar pertama Piala AFF musnah, Indonesia di tekuk Singapura kandang-tandang dengan skor 3-1 dan 2-1.
Setelah kekalahan mengejutkan di Piala AFF 2004, Peter White kembali menargetkan timnas untuk masuk final di Piala AFF 2006 yang digelar di Singapura dan Thailand. Indonesia berada di grup neraka bersama Singapura, Vietnam dan Laos, dengan modal determinasi dan kecepatan yang menjadi ciri khas tim nasional ketika itu, White gagal total. Tim nasional hanya mampu sekali menang (vs Laos) dan dua kali imbang (vs Vietnam dan vs Singapore), hasil ini membuat berang petinggi PSSI dan tentu saja publik, tuntutan agar White segera dipecat sangat tinggi. Pemecatan yang membuat was-was petinggi PSSI karena Piala Asia 2007 sudah di depan mata dan sangat riskan memecat pelatih yang hanya berselang 6 bulan dengan turnamen prestisius. Keputusan pemecatan akhirnya dilakukan oleh Nurdin Halid kepada White. Kini, pahlawan Aston Vila tersebut memilih untuk tinggal di Australia, warisannya berupa formasi 4-4-2 yang dapat bertransformasi menjadi 4-3-3 kini diadopsi oleh tim nasional masa kini dan klub-klub Indonesia, dengan pola permainan menyerang lewat sayap dan direct football.

2. Ivan Venko Kolev
Ivan Venko Kolev atau lebih dikenal dengan Ivan Kolev  adalah pelatih yang malang melintang di Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2011. Kolev ditunjuk sebagai pelatih tim nasional setelah sukses menangani Persija Jakarta, dibawahnya Persija berhasil meraih gelar Piala Invitasi di Brunai Darussalam pada tahun 2000. Tim nasional Indonesia di tangan Kolev mampu lolos ke putaran final Piala Asia 2004 setelah jadi runner-up di bawah Arab Saudi.
Lolosnya Indonesia ke putaran final Piala Asia 2004 yang digelar di Cina menjadikan Kolev populer di mata pers, hal ini dikarenakan Indonesia lolos kualifikasi melalui pertandingan sistem turnamen yang diselenggarakan di luar Indonesia. Di Cina 2004, Kolev menorehkan sejarah saat tim nasional mampu meraih kemenangan pertama di ajang Piala Asia. Ketika itu, Kolev berhasil membawa tim nasional mengalahkan Qatar 2-1 yang lebih diunggulkan, publik tentu masih ingat Philip Trousier, pelatih yang mampu membawa Jepang lolos ke perdelapan final Piala Dunia 2002, langsung dipecat oleh federasi sepakbola Qatar. Tendangan geledek ponaryo astaman memastikan kemenangan bersejarah Indonesia. Namun, kekalahan dari Cina 0-5 dan Bahrain 3-1 membuat mimpi lolos pertama kali ke perempat final gagal. Kegagalan ini disinyalir karena ingkar janjinya Nurdin Halid cs. memberikan bonus atas kemenangan melawan Qatar yang membuat pemain tidak fokus dan konsentrasi saat melawan Cina dan Bahrain.
Usai Piala Asia 2004 Kolev dipecat dan digantikan oleh Peter White, namun Kolev kembali dipanggil oleh PSSI untuk menangani Indonesia di Piala Asia 2007, bertindak sebagai tuan rumah, publik saat itu merasa pesimis tim nasional akan mampu melewati putaran grup yang diselenggarakan di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok dan Ho Chi Minh City. Saat itu, Saya merasakan putus asa bahwa Indonesia akan jadi bulan-bulanan Republik Korea, Arab Saudi dan Bahrain ditambah lagi rekor melawan ketiganya tidak memihak Indonesia. Sebelum penyelenggaraan, kabar buruk menimpa timnas, Boaz Solossa cedera patah kaki saat pertandingan uji coba melawan Hong Kong. Namun, Kolev menyatakan publik jangan khawatir terhadap cedera Boaz, dirinya masih memiliki Budi Sudarsono dan Ellie Aiboy yang mampu menggantikan peran Boaz.
Jakarta, 10 Juli 2007 dihadapan 60.000 pendukung setianya, Indonesia menjawab keraguan publik ketika itu dengan mengalahkan Bahrain 2-1. Dua gol dari Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas membuat publik Indonesia kesurupan ‘Piala Asia’. Ekspektasi tinggi mulai dipasang publik, dukungan mengalir deras, tak kurang Presiden dan Wakil Presiden yang ketika itu dijabat oleh Yudhoyono-Kalla menyaksikan langsung tim nasional berlatih. Saban hari, berita dipenuhi persiapan tim nasional, cerita heroik saat mengalahkan Bahrain dan informasi antrian tiket untuk menyaksikan timnas menghadapi Arab Saudi dan Korea. Namun, cerita kelam di 2004 terulang kembali, Indonesia gagal takluk di tangan Arab Saudi 1-2 dan Rep. Korea 0-1, saat itu tidak ada hujatan dan cacian atas kekalahan Indonesia atas dua langganan Piala Dunia. Publik Indonesia menilai kekalahan tipis tersebut disebabkan keberpihakan wasit saat melawan Saudi dan stamina pemain sudah terkuras ketika melawan Rep. Korea. Ajang Piala Asia 2007 juga mencatat sejarah Irak menjadi Juara Piala Asia dan lolosnya Vietnam ke perempat final di bawah kepelatihan Alfred Riedl. Piala Asia 2007 juga menjadi tonggak sejarah saat seluruh suporter ketika itu meninggalkan warna bendera klub menjadi warna merah putih.
Seusai Piala Asia 2007, supporter mulai berharap tim nasional mampu berbicara banyak di kualifikasi Piala Dunia 2010, sayangnya Kolev gagal mengangkat performa Indonesia di ajang kualifikasi. Indonesia gagal lolos ke babak III, pada babak ini Indonesia dibantai Suriah di kandang dan tandang. Peninggalan Kolev berupa pola satu striker dan dua penyerang sayap bayangan sayangnya tidak diikuti oleh Benny Dolo. Setelah dipecat dari tim nasional Kolev kembali menangani sejumlah klub seperti Mitra Kukar, Sriwijaya dan Persib Bandung.

3. Alfred Riedl
Pria asal Austria ini mulai terkenal saat berhasil menorehkan sejarah lolosnya Vietnam ke perempat final Piala Asia 2007, Vietnam yang bertindak sebagai tuan rumah bersama Indonesia, Thailand dan Malaysia berhasil menyingkirkan Qatar dan Uni Emirat Arab. Ketika itu, Vietnam yang baru dilanda skandal pengaturan skor dan korupsi pesepakbolanya ternyata melewati ekspektasi publiknya sendiri.
Boleh dikatakan Vietnam hanya aji mumpung, mengingat mereka lolos otomatis sebagai tuan rumah dan keberhasilan ke perempat final tidak terlepas dari hasil mengejutkan takluknya Qatar atas Uni Emirat Arab, padahal di pertandingan akhir Vietnam ditaklukkan Jepang 1-4. Setelah berputar-putar di Laos dan Vietnam, Riedl dikontrak oleh Nirwan Bakrie untuk persiapan menghadapi Piala AFF Suzuki Cup 2010.
Riedl pada awalnya mendapat kritik dari pengurus PSSI yang menganggapnya tidak becus mengangkat prestasi timnas, menurut Nurdin Halid (ketua umum) dirinya tidak habis pikir dalam uji coba Indonesia hanya menang 3-0 melawan tim Maladewa. Nurdin juga menganggap prestasi Riedl ketika menangani Vietnam tidak akan menular ke Indonesia. Anggapan Nurdin boleh dikatakan salah, dalam pertandingan pertama di Piala AFF Suzuki 2010 menghadapi musuh sebangsa dan setanah air, yaitu Malaysia, Indonesia menang besar 5-1. Selanjutnya, publik seolah dihipnotis oleh wajah judes dan anti senyum Riedl yang berhasil membawa Indonesia lolos ke final menghadapi Malaysia. Sayangnya, kali ini Riedl harus kalah karena pemainnya sudah mulai sombong, pongah dan merasa jadi juara. Riedl selama turnamen banyak mengeluh dan hanya diam ketika para pemainnya jadi artis dan disibukkan dengan wawancara dari infotainment dan televisi.
Di bawah kepelatihan Riedl, publik menganggap inilah permainan terbaik yang ditampilkan Indonesia sepanjang sejarah, bahkan ada anggapan bahwa Riedl adalah pelatih terbaik sepanjang masa, mungkin publik yang mengelu-elukan Riedl ketika itu belum mengenal nama-nama seperti Polosin, Coever, White atau bahkan Kolev, mungkin juga publik lupa bahwa Kolev pernah melakukan yang lebih hebat dibanding Riedl dengan membawa Indonesia menang di dua pertandingan Piala Asia. Padahal pola permainan yang dilakukan Riedl tidak ada perubahan signifikan dalam pola menyerang, bahkan boleh dikatakan permainan bertahan Indonesia sangat buruk ketika menghadapi serangan balik. Pola menyerang lewat sayap dan mengandalkan deep playmaker dengan satu striker finisher serta satu bomber  dengan strategi direct football boleh dikatakan mewarisi apa yang dilakukan oleh White dan Kolev.
Usai Piala AFF 2010, Riedl menjadi pesakitan, hal ini dikarenakan PSSI tidak bisa menerima kekalahan pada kualifikasi Olimpiade 2012 London dari Turkmenistan. PSSI juga terpaksa memutuskan kontrak dengan Riedl karena dianggap yang bersangkutan tidak memiliki kontrak resmi dengan PSSI. Riedl dikabarkan hanya dikontrak oleh Nirwan Bakrie. Begitulah nasib Alfred Riedl, setelah hanya jadi penasehat teknis di Laos dirinya kembali menangani “tim nasional” La Nyala.
Demikian sekilas pandangan dan sari cerita tentang perjalanan tiga pelatih asing yang pernah menangani PSSI di bawah era Nurdin Halid. Jika ditanya mana yang terbaik diantara ketiganya? Saya tidak ragu mengatakan Peter White, dirinya berhasil menciptakan pondasi permainan tim nasional yang baru (modern) dengan strategi direct football dan memanfaatkan forward winger, determinasi tim nasional di luar kandang pun sangat luar biasa. Namun, Peter tidak seberuntung Alfred yang dicap “pelatih terbaik” sepanjang masa.

sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger