Friday, November 15, 2013

Sepakbola Indonesia: Menikmati Peran Sebagai Pecundang

Timnas Indonesia Senior dikalahkan China 0-1 sekaligus hampir pasti tersingkir dari Piala Asia 2015 di Australia. Indonesia dengan gigih dikalahkan oleh China. Energi Timnas U-19 ternyata tak menular ke Timnas Senior sama sekali. Namun yang penting dicatat justru peran penting Indonesia di FIFA. Dan juga, yang menghibur adalah Timnas Indonesia bermain luar biasa bagus terutama di babak kedua. Kenapa hasilnya selalu buruk dan hanya mendapatkan hasil bermain baik tapi seri atau kalah? Apa yang salah? Tak ada. Takdir mungkin. Mari kita renungkan hakikat sepakbola, khususnya Timnas Indonesia.
Itulah sepakbola. Setiap negara anggota FIFA memiliki peran masing-masing - seperti juga kehidupan. Spanyol sebelum menjuarai Piala Dunia 2010 tercatat sebagai negara yang ‘dikutuk’ dan tak mampu keluar dari kutukan ‘tak berprestasi’ meskipun memiliki talenta. Sebaliknya Jerman menjadi negara yang dengan tenang selalu ‘ditakdirkan’ lolos ke minimal ‘perempat final’ di Piala Dunia dan Piala Eropa sampai mendapat julukan negara Spesialis Turnamen.
Inggris pun mendapatkan julukan ‘negara dengan prestasi Piala Dunia dan Piala Eropa hanya dalam bentuk sumbangan pemain dunia dan spesialis meramaikan dan diramaikan media’ dengan catatan hanya sekali Juara Dunia 1966 yang hasilnya merupakan catatan ‘kecelakaan’ menjadi Juara Piala Dunia.
Nah, Indonesia tampaknya memiliki peran dalam FIFA sebagai ‘Timnas yang bermain bagus dan nyaris menang’ seperti Spanyol yang ‘terkutuk’. Bukti terkutuknya adalah Indonesia selalu ‘nyaris dan hampir’ menang, hampir lolos, hampir juara. Buktinya: Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia 1982 hanya kalah oleh Korea. Indonesia nyaris masuk ke Final Asian Games 1984 hanya kalah melawan Arab Saudi. Indonesia nyaris menjuarai Piala AFF 2010 hanya kalah oleh Malaysia. Bahkan untuk urusan pertandingan pun demikian: nyaris menceploskan bola, nyaris dan nyaris. Apa penyebabnya? Takdir.
Nah, untuk menghapus ‘kutukan nyaris’, maka sebaiknya dilakukan pertobatan. Pertobatan sepakbola nasional disertai usaha. Bukankah Allah tak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu sendiri tak mengubahnya? Contohnya. Australia yang dikutuk selalu gagal lolos ke Piala Dunia dan kekalahan menyesakkan melawan Argentina di babak play off 1998 memaksa Australia bergabung dengan Asia, AFC - karena Oseania dinilai tak kompetitif dan selalu di-play-off kan dengan Amerika Latin. Upaya itu berhasil dan Australia menjadi kekuatan sepakbola Asia yang hebat.
Jadi, kalau Timnas Indonesia selalu bermain baik namun hasilnya kalah atau seri, maka itu namanya pecundang. Nah, menjalani peran kalah atau seri melulu pun merupakan sumbangan bagi dunia sepakbola dunia. Kan dalam sepakbola seperti kehidupan harus ada yang menjadi pemenang, peseri, pekalah. Dan…peran seperti itu juga mulia. Tanpa ada yang menjadi pecundang, maka tak akan ada pemenang. Tanpa ada yang menang tak akan ada yang kalah.
Oleh sebab itu, maka sebenarnya dari segi kehidupan filosofis sepakbola, Indonesia telah berbuat dan berperan baik yakni menjadi: pecundang dan pekalah. Demikian pula, Indonesia juga berperan dan menyumbangkan diri - sesuai kemampuannya dan takdirnya - menjadi pecundang. Ini luar biasa. Tak semua negara mau dan mampu menjadi pecundang. Indonesia sebagai negara besar menampilkan kebesaran hati, jiwa dan raga dan mau berkorban demi kemajuan sepakbola dunia: menjadi pecundang. Ini yang wajib diapresiasi. Membanggakan.
Bahkan negara sekelas Singapura pun tak mau berperan menjadi pecundang dan pernah memenangi Piala AFF. Australia tak mau berperan menjadi terkutuk dan pindah konfederasi. Spanyol tak mau berperan menjadi terkutuk sehingga mengubah gaya permainan ‘tiki-taka’ yang membuat sepakbola tak menarik dan membosankan: hasilnya Spanyol juara Piala Dunia dan Eropa.
Bermain bagus adalah biasa dan selalu dilakukan oleh Timnas Indonesia. Yang jarang dilakukan adalah bermain menang. Dalam catatan prestasi di FIFA atau catatan sepakbola mana pun yang dicatat hanya hasil pertandingan. Tak pernah ada catatan misalnya: Indonesia 0-1 China dengan catatan Indonesia bermain bagus di babak kedua. Mexico 5-1 New Zealand dengan catatan New Zealand bermain penuh semangat dan seharusnya lebih baik hasilnya. Tidak demikian. Dalam sepakbola yang dicatat bukan cara bermainnnya, namun hasilnya: menang, kalah, seri. Itu saja.
Namun catatan penting adalah Indonesia mendapatkan pahala dari perannya sebagai Timnas yang berbesar hati mau menjalani peran sebagai pecundang: suatu peran yang sangat terhormat dan membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati dan jiwa karena tak semua negara mau menerima peran tersebut. Dan, Indonesia dengan bangga menyambut baik peran tersebut di kancah sepakbola Asia Tenggara - tak pernah Juara AFF, Asia - tak pernah Juara Asia dan FIFA - tak pernah lolos Piala Dunia. Jadi penyebab kekalahan lawan China dan Indonesia tersingkir adalah peran Indonesia secara alamiah takdir dari sononya.


Tulisan oleh : Ninoy N Karundeng
Sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger