Sunday, December 1, 2013

Gus Dur, Sang Mahaguru Neuro Linguistic Program

Saat banyak motivator-motivator baru bermunculan, Neuro Lingustic Program (NLP) adalah istilah terkini yang semakin banyak diucapkan orang. Tak hanya mengandalkan keindahan kata-kata, para motivator tersebut juga tak segan untuk merogoh kocek yang dalam demi mempelajari dan mendapatkan sertifikat master dalam NLP.

Sebenarnya apa sih NLP itu? Berhubung saya juga baru mengerti, pembaca silahkan mencari sendiri di google. Saya hanya mencoba menjelaskan secara singkat saja. Meminjam istilah dari kompasianer Teddy Prasetya Yuliawan, secara harfiah dan mudahnya, NLP dapat diterjemahkan sebagai melakukan pemrograman neuro (saraf) menggunakan keahlian berbahasa (linguistik). Tidak hanya sekedar bahasa, sebuah tindakan pun dapat digunakan untuk memprogram saraf. Anda hanya membaca kalimat sederhana atau melihat suatu tindakan sederhana, dan respon tertentu muncul.

Bicara tentang NLP, saya teringat dengan sebuah cerita yang dibawakan oleh seorang motivator, bahwa tanpa disadari banyak orang, almarhum Gus Dur sesungguhnya seorang yang piawai, kalau boleh dibilang Mahaguru dalam bidang NLP. Apakah cerita tersebut nyata atau tidak, entahlah. Hanya si motivator, Gus Dur dan Tuhan yang tahu.

Alkisah, tentunya anda semua masih ingat dengan peristiwa pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan RI? Sebelum resmi dilengserkan, banyak pengikut Gus Dur yang berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk menunjukkan dukungannya pada Gus Dur. Bahkan di beberapa daerah ada yang sampai membentuk sebuah “Pasukan Berani Mati Demi Gus Dur”. Diceritakan pula, ada beberapa faksi dari TNI yang loyal pada Gus Dur, meminta izin untuk menempatkan pasukannya di Istana Negara. Pada hari MPR menggelar sidang istimewa untuk pelengseran Gus Dur, suasana Jakarta katanya sempat mencekam. Pendukung Gus Dur tinggal menunggu perintah dari sang kyai, apakah akan melawan MPR, atau tidak.
Dalam situasi genting tersebut, apa yang dinantikan oleh banyak orang ternyata sangat mengejutkan. Gus Dur dengan santainya keluar dari pintu dengan hanya mengenakan celana pendek sembari melambaikan tangan pada para pendukungnya dan khalayak ramai yang sedang menantikan aksinya. Melihat tindakan Gus Dur, para pendukungnya pun perlahan menarik diri, sembari mengelengkan kepala tidak percaya dengan tindakan sang kyiai itu. Jakarta pun menjadi aman terkendali, dan tak ada gesekan antara pendukung Gus Dur melawan yang kontra.

Dari cerita tersebut menurut sang motivator, Gus Dur sesungguhnya sedang menjalankan NLP. Gus Dur melihat tensi yang tinggi dari para loyalis maupun yang kontra, tak akan sembuh bila dia bersikap “wajar”. Maka, Gus Dur pun memilih tindakan yang “nyleneh”. Dalam persepsi sang motivator, Gus Dur tak peduli bila banyak orang menganggapnya “aneh” asalkan dari tindakan sederhana tersebut Gus Dur bisa menghindari pertumpahan darah yang mungkin akan terjadi jika Gus Dur ngotot melawan.

Lain lagi dengan cerita yang satu ini. Pembaca tentunya juga masih ingat, betapa Gus Dur dulu sering dikritik sebagai presiden RI yang paling banyak pergi ke luar negeri. Sudah begitu, ternyata dalam kunjungan ke luar negeri tersebut, Gus Dur lebih banyak bicara tentang berbagai hal yang tak ada hubungannya dengan masalah kenegaraan. Bahkan terkadang Gus Dur pun lebih menyukai bicara humor dengan lawan bicaranya. Setidaknya itulah yang dilihat oleh para wartawan yang ikut menemani perjalanan dinas Gus Dur. Yang tak banyak diketahui orang adalah, dari sekian banyak kunjungan Gus Dur ke luar negeri tersebut, sang kyiai paling banyak mengunjungi negara-negara pemberi hutang pada Indonesia. Dan dalam kunjungan serta pembicaraan dengan pimpinan negaranya, Gus Dur memang sengaja tidak bicara masalah politik, ekonomi atau masalah kenegaraan lainnya. Gus Dur, yang mendominasi pembicaraan hanya mengajak bercanda lawan bicaranya. Akan tetapi, kunjungan kenegaraan yang nampaknya bersifat non resmi itu menghasilkan dampak yang luar biasa. Hutang luar negeri Indonesia berkurang drastis (untuk yang satu ini, saya belum bisa mendapatkan datanya, hanya berdasarkan cerita si motivator). Apa rahasianya? Ternyata, dalam pembicaraan dengan penuh canda itu, Gus Dur seakan menghipnotis lawan bicaranya. Alhasil, begitu Gus Dur bertanya, “Bagaimana dengan hutang Indonesia?” maka lawan bicara Gus Dur pun menanggapi dengan enteng, “Sudahlah, anggap saja lunas!”

Itulah sisi lain Gus Dur. Sosok negarawan dan guru bangsa, yang mungkin tak akan pernah kita jumpai lagi.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger