Monday, December 2, 2013

Mengembalikan Jati Diri Sepakbola Indonesia Sebagai National Character Building

Sepakbola Indonesia memang tidak bisa lepas dari politik. Sejak awal pembentukannya, PSSI yang didirikan oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo di Solo pada 19 April 1930 diharapkan menjadi alat perjuangan Bangsa Indonesia, sebagai upaya politik untuk menentang penjajah Belanda dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.

Selepas kemerdekaan, oleh presiden Soekarno, sepakbola kemudian dijadikan alat perjuangan pembentukan karakter bangsa (National Character Building). Presiden Soekarno lalu meminta sahabatnya, presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito untuk mengirimkan salah satu pelatih terbaik Eropa, Tony Pogacknik agar bisa melatih para pemuda Indonesia. Lewat tangan dingin Tony Pogacknik inilah sepakbola Indonesia mengalami masa keemasan. Menjadi yang terkuat di Asia Tenggara, dan disegani di kawasan Asia.

Setelah melihat bentuk fisik dan karakter pemain Indonesia, Tony Pogacknik menemukan kehebatan para pemain Indonesia ada pada kemampuan sprint pendek, sehingga dia mengembangkannya sebagai sebuah taktik penyerangan merayap, dengan umpan-umpan tik-tak cepat sejak dari belakang mendekati kotak penalti lawan. Sebagai orang Eropa, Tony sudah sangat hapal tentunya kelemahan para pemain belakang yang berfisik tinggi besar ada pada kekakuan tubuh, tak lentur dalam membalikkan badan manakala penyerang lawan berhasil menembus tembok pemain belakang. Nah sebaliknya para pemain belakang Indonesia memiliki kemampuan fisik yang lentur, sehingga mereka akan mudah membalikkan badan untuk mengejar pemain depan lawan yang mencoba lolos.Di masa itu, kebugaran pemain Indonesia masih sangat bagus, dan mental spirit mereka masih tinggi terbawa euforia kemerdekaan bangsa yang baru diraih.

Dengan potensi yang dimiliki serta kejeniusan melatih, Tony Pogacknik berhasil membawa Indonesia menembus perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956. Sebelum akhirnya dihentikan langkahnya oleh Uni Soviet lewat pertandingan yang dramatis. Bahkan seorang kolumnis senior, Bill Fleming, menggambarkan pertandingan itu sebagai representasi atas daya juang bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang gagah berani, bukan bangsa yang lembek yang mudah ditaklukkan. “If there was an Olympic Medal awarded for courage, tenacity and refusal to admit inferiority, the INDONESIAN SOCCER TEAM would have won it hands down yesterday at Olympic Park. They confounded experts, amazed the spectators and worried the Russian team a scoreless draw, even after extra time had been ordered. It was the most fantastic soccer match I have ever seen”.(Bill Fleming, senior soccer writer at the Argus newspaper, Australia, 30 November 1956).

Tak berhenti disitu, Tony Pogacknik juga berhasil mengantarkan Indonesia menjadi kesebelasan yang ditakuti di level Asia, lewat beberapa prestasi yang dibawa tim asuhannya. Menutup periode 1950an Indonesia memenangi medali perunggu Asian Games 1958, di Tokyo, Jepang. Kemudian pada Asian Games 1962 di Jakarta, kesebelasan Indonesia memperoleh medali perak. Indonesia juga menjuarai berbagai turnamen internasional bergengsi seperti Merdeka Games (Malaysia), King’s Cup (Thailand), Queen’s Cup (Thailand), Agha Khan Gold Cup (Pakistan), President Cup (Korea Selatan), Pesta Sukan (Singapura) dan Jakarta Anniversary Cup (Indonesia) pada era 1960-an sampai 1970-an. Sementara untuk level kesebelasan yunior, Indonesia juga merajai kejuaraan resmi Asia.
Bukan saja prestasi yang mentereng dan nama baik Indonesia di Asia, Tony Pogacknik juga berhasil mengorbitkan beberapa pemain Indonesia yang berkarakter kuat seperti pada diri Aang Witarsa (Persib), Fatah Hidayat (Persib), Soetjipto Soentoro (Persija), Anwar Ujang (PSMS), Iswadi Idris (Persija), Djunaedi Abdillah (Persebaya), Ronny Patti (PSM) yang berturut-turut kesemuanya adalah para kapten tim nasional Indonesia yang sangat berwibawa. Tak heran, dengan kualitas timnas Indonesia yang cemerlang, berbagai klub elite dunia seakan berebut ingin mengadakan pertandingan persahabatan. Maka berdatanganlah ke Jakarta kesebelasan-kesebelasan kelas dunia seperti Dynamo Kiev dengan kapten penjaga gawang legendaris Lev Yashin dan Dynamo Tiblisi (Uni Soviet), Csepel (Hongaria), Hajduk Split dan Red Star Belgrade (Yugoslavia), Spartac (Cekoslowakia), Santos, Cruzeiro, Corinthians dan Flamengo (Brazil), serta Independentie (Argentina). Dan di tahun 1965, Timnas Indonesia pun melakukan “Tour Eropa” menghadapi beberapa Timnas negara-negara kuat Eropa serta klub-klub dari Eropa Barat.

Apa yang dicapai oleh Tony Pogacknik dan anak didiknya saat itu, tak lepas dari sistem pembinaan PSSI pada kompetisi Perserikatan yang mengedepankan “High Politic”, sehingga menghasilkan Timnas yang “High Product”,  serta suasana kondusif yang diciptakan oleh pihak Pemerintah yang memang menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan membangun karakter bangsa.

“High Politic” dalam arti tujuan dari kompetisi serta Timnas adalah alat pemersatu bangsa, pembentukan karakter bangsa yang kuat yang bisa membuat rakyat Indonesia memiliki kebanggaan dan harga diri tinggi di jajaran bangsa-bangsa di dunia karena memiliki kesebelasan nasional yang berprestasi tinggi di level Asia bahkan dunia. Tak heran, meski kompetisi Perserikatan itu masih bersifat chauvanistis, dimana tim-tim Perserikatan adalah representasi dari daerah masing-masing, namun ketika berbicara Timnas, semua melupakan asal daerahnya dan bersatu mendukung Timnas.

Sulit rasanya membayangkan prestasi gemilang sepakbola Indonesia saat itu bisa terulang kembali masa kini. Bukan sekedar pesimis, tapi melihat apa yang telah dilakukan oleh PSSI dan Pemerintah sekarang telah melenceng jauh dari cita-cita para pendiri PSSI.
PSSI, dan juga pemerintah telah menjadikan sepakbola Indonesia alat perjuangan “low politic” alias politik ecek-ecek para pejabat atau politisi untuk meraih kekuasaan dan kemudian melanggengkan kekuasaannya sementara prestasi sepakbolanya sendiri jeblog. Apa yang dipertontonkan ketika Ketua Umum PSSI Nurdin Halid menggiring pemain Timnas ke rumah Ketua Umum Golkar adalah bukti nyata sepakbola hanya dijadikan “public relations” partai politik. Apalagi masih belum diterapkannya Permendagri tentang larangan penggunaan dana APBD bagi klub sepakbola secara penuh. Kalangan anti korupsi menenggarai dana tersebut hanya menjadi amunisi para Bupati/Walikota incumbent untuk melakukan “low politic” ecek-ecek dalam mempertahankan kekuasaan dengan aktif menjadi pengurus klub sepakbola di tingkat klub amatir.

Tak heran jika saat ini sepakbola Indonesia dipandang remeh oleh semua bangsa. Jangankan berpikir ke Piala Dunia, untuk level Asia Tenggara saja sudah mulai ketinggalan. Malaysia, Thailand, dan Singapura yang dulu pernah diremehkan dan dianggap tidak selevel, perlahan berkembang pesat dengan mengedepankan para pemain mudanya. Bahkan Timor Leste dan Brunei Darussalam, negara yang cuma “seuprit” itu kini bisa mengalahkan Timnas kita.
Yang bisa kita harapkan hanyalah kesadaran dari pengurus PSSI dan pemerintah, agar sepakbola Indonesia dikembalikan lagi menjadi sepakbola High Politic, yang bisa membuat rakyat Indonesia menjadi bangga dan mempunyai harga diri sebagai sebuah negara yang besar.

1 komentar:

  1. Bandung, Aktual.com — Sepakbola harus tetap dipertahankan sebagai alat perjuangan rakyat Indonesia, mempererat persatuan dan kesatuan sekaligus alat diplomasi ke dunia internasional.

    “Awal berdirinya PSSI jauh sebelum Kemerdekaan RI itu tujuannya sebagai alat perjuangan, menyatukan bahasa sepak bola untuk persatuan dan kesatuan. Semangat ini harus dipertahankan untuk menuju masa depan yang lebih baik,” kata tokoh olahraga nasional Agum Gumelar di Bandung, Kamis (6/8).


    BACA SELENGKAPNYA DI :
    Tokoh Olahraga: Sepakbola Alat Perjuangan Rakyat Indonesia

    ReplyDelete

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger