Saturday, December 14, 2013

Ketika Toleransi Itu Berbunyi "Surga Buat Gue, Neraka Buat Elu!

Menjelang perayaan natal, topik ‘perbedaan’ dan ‘toleransi’ mulai menghangat. Mulai dari persoalan ucapan selamat Natal yang mengundang pro kontra, sampai menyoal toleransi antar umat beragama dalam konteks yang lebih luas. Saya harap topik semacam ini jangan sampai memperuncing hubungan lintas agama di antara masyarakat. Sebagaimana konsep Bhineka Tunggal Ika di negara kita.

Seringkali saya heran dengan sikap beberapa pemeluk agama, saya sebut saja ‘oknum’ yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain. Hal ini tidak hanya dilakukan kepada kelompok yang berbeda agama, tapi terkadang juga kepada saudara seimannya hanya karena perbedaan aliran/keyakinan. Dikotomi kafir-iman seakan mudah saja terucap dari lisan, sebagaimana judul saya: Surga buat gue, neraka buat elu! (?)

Dari sini kita mulai bisa bertanya-tanya, apakah pantas kita sebagai manusia dengan mudahnya mengatakan seseorang itu kafir hanya karena berbeda agama/tidak sepaham dengan keyakinan kita? Apakah kita bisa menjamin bahwa orang yang kita anggap kafir akan selamanya kafir dan tiada pernah beroleh hidayah dari Tuhan? Terlebih, darimana kita bisa menyimpulkan balasan surga dan neraka yang itu merupakan hak prerogatif mutlak milik Tuhan semata? Bukankah arogan sekali bila kita demikian mudahnya mengatakan si A bakal masuk surga karena dia orang mukmin yang baik, atau si B bakal masuk neraka karena dia kafir dan tidak pernah beramal. Dari mana kita bisa menyimpulkan hal semacam itu?

Sikap mengkafirkan segolongan manusia seringkali membawa sikap konfrontatif, merasa agama atau keyakinannya yang paing benar. Merasa bahwa surga hanya diperuntukkan bagi agama/alirannya semata. Paham-paham semacam itu saya rasa merupakan biang di balik peperangan besar dan konflik yang tak kunjung berakhir. Agama telah beralih fungsi dari sebuah ajaran pembawa pesan damai dari Tuhan menjadi sebuah komoditas politik yang dipelintir untuk kepentingan-kepentingan materi semata. Tak terhitung berapa korban jiwa akibat perang yang dilatarbelakangi masalah agama. Tak terhitung berapa banyak kasus bom bunuh diri dikarenakan pemahaman agama yang picik dan sempit.

Saya sempat risih juga ketika dalam sebuah forum kajian, sang pembicara dengan gamblangnya menyinggung persoalan kafir-mukmin (orang-orang beriman) dengan mengerucutkan bahwa yang kafir adalah mereka yang berbeda agama dan keyakinan dengan kelompoknya. Parahnya, entah sadar atau tidak, si pembicara ini menggunakan pengeras suara dan di sekitar lokasi acara tersebut terdapat beberapa keluarga yang beragama minoritas. Seandainya saya jadi para minoritas ini, saya pun ‘nyesek’ ketika dikatain kafir. Seolah-olah mendengar proklamasi: surga buat gue, neraka buat elu.

Sungguh, keangkuhan dalam beragama bukanlah sesuatu yang bijak untuk dilestarikan. Yang terpenting dari agamanya bukan soal sisi eksklusivitasnya semata, tapi lebih dari itu agama harus ditempatkan sebagai bentuk rahmat dari Tuhan bagi semesta alam. Sekali lagi, agama adalah pesan damai. Tidak ada ajaran agama yang menyuruh umatnya untuk saling menyakiti. Kalau pun pada akhirnya timbul konflik, boleh jadi hal itu hanya karena pemahaman agamanya saja yang belum benar, atau ulah oknum tak bertanggung jawab yang sengaja menyulut bara di tengah masyarakat yang mejemuk dengan isu agama.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Kontekstualisasinya berbeda karena di sini saya hanya menekankan pentingnya toleransi, bukan sedang mencari agama mana yang paling benar dan baik di sisi Tuhan. Tapi setidaknya kita harus membuka mata bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan kehendak Tuhan. Saya pribadi seringkali bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak menjadikan agama ini satu umat saja? Sungguh, hanya Tuhan semata yang tahu alasan kenapa agama dan keyakinan 7 milyar umat manusia saat ini berbeda-beda.

Karena itu,tidaklah pantas apabila seseorang mempersoalkan masalah agama, toleransi, dan perbedaan keyakinan dengan dikotomi kafir-mukmin, lebih-lebih dalam suatu pembicaraan publik yang didengar orang banyak. Bukankah hanya Tuhan yang tahu persoalan hati manusia? Bukankah hanya Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia? Bukankah sangat mungkin Tuhan berkuasa mengubah orang yang tadinya kafir menjadi mukmin, begitu juga sebaliknya?

Maka sudilah kita menerima perbedaan ini dengan ikhlas tanpa mempersoalkannya hingga memecah belah persatuan dan memanaskan hubungan persaudaraan. Biarlah setiap pemeluk agama melakukan ritual peribadahannya sendiri dengan tenang, selama tidak mengganggu ketertiban bersama. Karena hanya dengan memandang agama sebagai pesan damai lah, kita akan mengerti hakikat agama dalam hidup ini. Dan cukuplah Tuhan yang tahu pasti siapa saja hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman dan berbuat baik serta siapa saja hamba-hamba-Nya yang mengaku beriman namun perilakunya jauh dari keimanan itu sendiri. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

sumber : kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger