Saturday, January 18, 2014

Keparat Kamu Hai Usamah!........


Dua tahun sebelum Rasulullah SAW wafat, beliau mengirim pasukan besar dalam sebuah ekspedisi untuk menghadapi sebagian orang-orang musyrik yang menentang islam dan menyerang kaum muslimin. Dalam ekspedisi ini, pasukan kaum muslimin meraih kemenangan, dan beritanya terlebih dulu sudah diterima oleh Rasulullah, hingga menyebabkan beliau gembira dan bahagia. Dengan penuh kebanggaan, pimpinan pasukan tersebut menghadap Rasulullah dan Nabi kemudian berkata, ” Cobalah ceritakan kepadaku……”

Pimpinan pasukan kemudian bercerita, “Saya katakan pada Rasulullah, bahwa tatkala orang-orang itu mengalami kekalahan, saya menemui seorang laki-laki dan kepadanya saya acungkan tombak. Ia mengucapkan La Ilaha Illallah, maka saya tusuk ia hingga tewas…………”

Wajah Rasulullah tiba-tiba berubah, ujarnya, “Keparat kamu hai Usamah………….! Betapa tindakanmu terhadap orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah?”
Rasulullah selalu mengulangi ucapannya tersebut pada sang kepala pasukan, hingga ia serasa ingin mengakhiri semua perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya. Lalu, mulai saat itu, sang kepala pasukan memulai lembaran baru kehidupan islamnya. “Maka demi Allah ! Tidak………! Saya takkan membunuh lagi seorang yang mengucapkan La ilaha Illallah, setelah mendengar kata-kata Rasulullah tersebut…………..”

Siapakah pimpinan pasukan yang dinasehati secara keras oleh Rasulullah tadi. Dialah Usamah bin Zaid, putera dari Zaid  bin Haritsah, pelayan Rasulullah.

Suatu ketika, Umar bin Khattab, diprotes oleh puteranya Abdullah bin Umar terkait pembagian uang perbendaharaan negara kepada para sahabat Nabi. Ketika dilihat bagiannya lebih kecil daripada bagian Usamah, Ibnu Umar kemudian bertanya pada ayahnya, “Kenapa ayahanda lebih mengutamakan Usamah daripada ananda, padahal ananda mengikuti Rasulullah dalam peperangan yang tidak diikuti oleh Usamah?” Jawab Umar, ” Usamah lebih dicintai Rasulullah daripadamu,…….sebagaimana ayahnya dulu lebih disayanginya daripada ayahmu………….!” Itulah penggambaran Umar, untuk menghormati sosok Usamah bin Zaid.
Pelajaran yang berharga dari Rasulullah itulah yang kemudian menjadi pegangan Usamah, tatkala terjadi keributan besar antara Imam Ali dan anak buahnya di satu pihak, dengan Mu’awiyah serta pengikutnya di pihak yang lain. Usamah mengambil sikap tidak memihak secara mutlak. Masih tergambar secara jelas di benak Usamah, betapa Rasulullah sangat marah terhadap tindakannya, yang terlanjur membunuh seseorang yang sudah mengucapkan La Ilaha Illallah, padahal mungkin saja orang itu mengucapkannya sebagai siasat semata. Pelajaran inilah yang dipegang oleh Usamah sampai titik terakhir.

Nah, bila seseorang yang dalam keadaan demikian saja Rasulullah melarang untuk membunuhnya, bagaimana terhadap orang-orang yang betul-betul beriman dan betul-betul beragama Islam?


sumber : buku Rijal Haular Rasul: Khalid Muhammad Khalid

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger