Sunday, April 20, 2014

Mengenang Keperkasaan Laksamana Malahayati

Tanggal 21 April, yakni tanggal kelahiran R.A Kartini diperingati sebagai hari emansipasi wanita Indonesia. Satu pertanyaan yang menyeruak adalah, mengapa harus Kartini? Apakah sebelum Kartini tidak ada wanita-wanita yang memulai emansipasinya? 

Ada, dan jauh sebelum Kartini lahir banyak wanita-wanita Indonesia yang memulai emansipasi. Dewi Kartika misalnya, beliau tak hanya berpikir tapi juga bertindak nyata dengan mendirikan sekolah khusus wanita. Dan di abad XVI, tercatat nama seorang wanita tangguh dari Bumi Rencong Aceh, Laksamana Malahayati.
Di era itu, para perempuan di daratan Eropa atau Amerika masih terpinggirkan. Jangankan emansipasi, mereka malah dipingit. Perempuan di Eropa dan Amerika sering menjadi obyek eksploitasi. Sebaliknya, dari daratan Aceh malah seorang perempuan menyandang pangkat Laksamana alias panglima armada laut. Artinya, dimasa itu kaum perempuan di nusantara lebih maju daripada mereka yang tinggal di Eropa.
Kini, siapa yang kenal dengan nama Malahayati? Hampir generasi remaja Indonesia sekarang melupakan dan tak kenal nama tersebut. Sebabnya adalah kehidupan Malahayati tak pernah dipublikasikan secara luas. Sementara Kartini, jika bukan karena jasa Mr. JH Abandanon (Menteri Kebudayaan, Kerajinan dan Agama Hindia Belanda) tidak membukukan surat-surat dari Kartini, barangkali pemikiran dan gagasannya tentang emansipasi untuk perempuan pribumi tidak pernah diketahui orang. Kumpulan surat-suratnya oleh JH Abandanon diberi judul “Door Duisternis to Licht” yang berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya.”
Itulah peran Kartini yang menuliskan gagasannya tentang emansipasi. Lantas, bagaimana dengan Malahayati? Perempuan asal Krueng Raya Aceh Besar itu tidak pernah menuangkan ide dan gagasannya tentang emansipasi dalam sebuah tulisan. Malahayati malah melaksanakan sebuah tugas yang seyogyanya hanya dapat dilakukan oleh seorang laki-laki, yaitu memimpin sebuah armada perang.

Orang yang dikalahkan oleh Malahayati dalam duel laut waktu itu, tergolong bukan sembarang orang. Mereka adalah dua pelaut Belanda yang sangat andal, dikenal dengan de Houtman bersaudara. Bagaimana kisahnya? Pada tanggal 21 Juni 1599, Kerajaan Aceh mendapat kunjungan dua kapal Belanda yang bernama “Deleeuw” dan “Deleeuwin” yang dikapteni oleh Frederick de Houtman dan Cornelis de Houtman. Maksud kedatangan mereka sebenarnya cukup bermanfaat yaitu untuk membuat perjanjian dagang sekaligus meminjamkan dua kapal mereka.

Ternyata, perjanjian dagang dan rencana meminjamkan kapal hanya trik tipuan khas Belanda. Buktinya, ketika para pelaut yang dipimpin Malayati naik ke kapal itu, de Houtman bersaudara melarangnya. Perang terbukapun tak terhindarkan, korban di pihak Belanda cukup banyak. Sampai akhirnya Malahayati berhasil meringkus de Houtman bersaudara. Karena keberanian dan keperkasaan itu, kemudian Sultan Aceh mengangkatnya sebagai Laksamana.

Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis pernah mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Malahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang teridentifikasi terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.

Nama asli Malayahati sebenarnya adalah Keumalahayati. Ayahnya juga ternyata adalah seorang laksamana, bernama Mahmud Syah. Nah, kakeknya dari pihak ayah adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra, yang dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematian Malayahati. Ada beberapa perkiraan, antara lain dikatakan bahwa beliau memiliki masa hidupnya di sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.

Saya membayangkan, bahwa ketika dalam pertempuran hebat melawan Belanda itu, wanita ini dengan gagah berani, berdiri di balik benteng dan didampingi para Laskar Inong Balee menatap tajam serta penuh kemarahan ke arah selat Malaka. Di kejauhan sana, terlihat jelas ribuan kapal Belanda menyemuti lautan, semakin mendekat dan sudah siap-siap untuk menyerang Aceh. Laksamana Malahayati, wanita asal kota rencong ini dengan semangat membara dan tak mengenal takut sudah siap menanti. Darahnya mendidih. Ia seakan tak sudih melihat tanah airnya terancam penjajah. Ia laksana perwira yang siap mati bagi sesuatu yang sangat dicintainya.

Kemudian Malayahati mengangkat tangannya sembari berseru lantang. Dengan nada yang tegas dan pasti. Dilapisi keyakinan yang amat sangat, beliau memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kapal perang. Dengan langkah yang penuh kepastian, dan diiringi teriakan memotivasi, Laksamana Malahayati menaiki kapal perangnya. Rupa-rupanya mereka sudah benar-benar siap beradu kekuatan melawan tentara penjajah di tengah laut. Kita pun sudah tahu akhir ceritanya. Laksamana Malahayati dan pasukannya berhasil memenangkan pertemuran itu, dan De Houtman mati di tangannya.
Malahayati, selain sebagai seorang Laksamana, dia juga diberi tugas sebagai kepala pengawal istana dan ahli diplomasi oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (Sultan Aceh yang berkuasa sejak 1589-1604 sebelum era Iskandar Muda).

Bagaimana sampai seorang perempuan begitu familier dengan samudera? Sejak kecil, Malahayati sudah ditinggal oleh ibunya. Dia seorang piatu. Oleh karena itu, Malahayati diasuh langsung oleh bapaknya yang bernama Laksamana Mahmudsyah.

Setiap melaut dengan armada pimpinan Laksamana Mahmudsyah, Malahayati diikutkan ayahnya mengarungi samudera. Kerasnya kehidupan samudera, akhirnya membentuk watak Malahayati sebagai seorang perempuan pemberani.

Kehebatan Malahayati tidak berakhir atas sukses mengalahkan de Houtman bersaudara. Fantastisnya lagi, atas restu Sultan Aceh, kemudian Malahayati membentuk sebuah pasukan yang semua anggotanya adalah para perempuan. Pasukan itu diberi nama “Pasukan Inong Balee” atau pasukan para janda.

Perempuan yang tergabung dalam pasukan pimpinan Malahayati adalah janda yang suaminya telah tewas di medan tempur. Anggota pasukan inong balee itu konon sangat berani dan militan. Markas pasukan janda itu terletak di Lam Kuta, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar.

Lantas mengapa kisah Laksamana Malahayati tidak disebarluaskan atau tidak dibukukan? Mungkin Belanda malu, karena Laksamana perempuan pertama tersebut berhasil menaklukkan dua orang pelaut andalan mereka yaitu de Houtman bersaudara.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger