Saturday, March 11, 2017

Tiga Selimut Do'a

Hampir setiap muslim membutuhkan doa sebagai fasiltas untuk berkomunikasi kepada Allah ta’ala. Doa adalah senjatanya kaum muslimin. Dan doa adalah keterampilan hidup yang tak boleh luput untuk dimiliki. . Dengan doa, seseorang akan kuat menghadapi segala hal dalam hidup ini. Dengan doa, seseorang akan lebih optimis melalui kehidupan. Dan dengan doa, seorang hamba sebenarnya membuka pintu keterlibatan Allah dalam hidupnya. . Tak banyak yang kemudian menyadari, bahwa ayat 186 pada surah Al Baqarah memiliki kekayaan makna dalam menuntun seorang hamba yang ingin berdoa kepada Rabbnya.
.وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (Al Baqarah : 186) ***
Ayat tersebut setidaknya menuntun kita untuk menemukan tiga selimut doa:
*****
Selimut Pertama : Falyas tajibulii (maka taatilah aku)
Doa yang dikabulkan oleh Allah biasa disebut sebagai doa yang diijabah. Namun ternyata, seorang hamba pun dituntut untuk “mengijabah” Allah ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai “ijabah dua arah”.
Kalimat falyastajibulii dalam bahasa arab dapat diartikan secara langsung dengan artian “maka ijabahlah aku”. Lalu apa yang harus kita ijabah dari Allah ta’ala. Tentu Allah tidak membutuhkan makhluknya, tentu Allah tidak bergantung pada makhluknya. Yang Allah tuntun kepada seorang hamba adalah ketaatannya dalam mengijabah perintah Allah, yang sudah Allah turunkan dalam Al Qur’an.
Ayat 186 tidak lepas dari ayat sebelumnya di 185. Allah telah menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk, pembeda, serta penjelas dalam menjalani kehidupan. Setiap doa-doa yang kita panjatkan tentu merupakan permohonan kebaikan dalam menjalani hidup di dunia dan di akhirat. Lalu bagaimana mungkin doa yang baik terselimuti dengan ketidak taatan kepada Allah. Tentu hal itu bertentangan.
Adab berdoa yang harus kita tanamkan didalam hati kita adalah berdoa untuk kemudian taat kepada apa yang Allah perintahkan.
Hal ini kemudian senada dengan potongan akhir dari surah At Talaq ayat 2, . وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . "Dan barang siapa yang bertaqwa, baginya jalan keluar". Taat berarti bertaqwa kepada Allah. Dan ketaqwaan mengundang pertolongan dari Allah. . ***** . Selimut kedua : wal yu’minubii (maka berimanlah kepadaku) . Adab kedua yang harus kita tanam pada doa kita adalah beriman kepada Allah ta’ala. Makna beriman yang paling dalam adalah meyakini dengan seyakin yakinnya hingga hati seorang mukmin berada titik yang tergoyahkan. . Doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba harus doa yang diselimuti energi iman. Saat memohon kepada Allah, seorang hamba tidak layak untuk meragukan kekuasaan Allah, atau bersangka buruk kepada Allah. . Saat berdoa, seorang hamba haruslah meyakini bahwa Allah mampu melakukan apa saja, kekuasaannya mutlak, dan tidak berbatas dengan akal dan capaian logika manusia. . Dalam surah Ali Imron ayat 26 dan 27 Allah berfirman, . قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26) . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ . Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas). (QS Ali Imron : 27) . Segelap apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Mencahayai. Seberat apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allahlah yang Maha Meringankan. Sesakit apapun penyakit yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Menyembuhkan. Sepelik apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Peretas Jalan Keluar. . Keyakinan tak tergoyahkan ini, dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dalam surat Asy Syu’ara ayat 62 dan 63. .فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. . قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ . Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. . Seperti itulah harusnya keyakinan kita terhadap Allah ta’ala. Walaupun Nabi Musa melihat pasukam Fir’aun yang memburunya dengan segenap kekuatan, dan disaat yang sama lautan membentang menghalangi jalan, seorang Musa ‘alaihissalam tidak kehilangan keyakinan. . ***** . Selimut Ketiga : La’allahum Yarsyudun (semoga engkau diberi petunjuk). . Dalam terjemah Depag RI, la’allahum yarsyudun diterjemahkan dengan makna semoga mereka selalu dalam kebenaran. Tidak ada yang salah dengan terjemahan ini, karena kata rusydah yang artinya petunjuk berarti kebenaran dari Allah ta’ala. . Jika kita merujuk pada akar kata dari Ro Syin Dal yang membentukan kata Rusydah, maka, akar kata yang sama juga kita temukan dalam surah Al Kahfi ayat 10 : . إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا . (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. . Maka makna lain yang kita dapat tarik dari kalimat la’allahum yarsyudun, dapat pula kita artikan sebagai “semoga mereka mendapatkan petunjuk” . Mari kita lihat kesinambungan ayat Al Baqarah 186, pertama-tama, Allah memberikan informasi bahwa Allah sangatlah dekat dengan hambanya, dan Allah membuka ruang fasilitas komunikasi dengan hambanya. Berdoalah, sesiapa yang meminta, akan Aku ijabah. . Lalu Allah meminta kita untuk taat dan beriman. Namun di akhir Ayat, Allah tidak menutup dengan kalimat “semoga tercapai kehendak”, namun Allah menutupnya dengan kalimat “semoga mereka mendapatkan petunjuk”. . Kalimat penutup di ayat ini seakan memberikan informasi kepada kita sebagai hamba Allah, manakala Allah ingin mengabulkan doa hambanya, maka Allah akan memberikan petunjuk. Maka selanjutnya, pilihan ada pada seorang hamba, apakah seorang hamba akan mengikuti petunjuk tersebut atau menyia-nyiakannya. . Kembali ke kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam keyakinan dan doanya, Nabi Musa meyakini bahwa Allah bersamanya dan akan memberikan dia jalan keluar dari masalahnya. Dengan bahasa yang indah, Nabi Musa ‘alaihissalam menggunakan kalimat Sayahdiin, yang artinya : kelak Allah akan memberiku petunjuk. . Dan mari kita lihat di surah Asy Syuara ayat ke 63, . فَأَوْحَيْنَا إِل َىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ . Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. . Di ayat tersebut, Allah ta’ala mengawali dengan kalimat “dan kami wahyukan kepada Musa”, atau Fa-awhayna ilaa Musa. Allah menuntun Musa ‘alaihissalam untuk memukulkan tongkatnya. Dan selanjutnya adalah pilihan dari Nabi Musa, apakah akan mengikuti petunjuk, atau menyiakan petunjuk. . Al Qur’an merekam pilihan Nabi Musa, Nabi Musa ‘alaihissalam memilih untuk mengikuti petunjuk Allah ta’ala. . Dari kisah tersebut, kita kemudian belajar bagaimana Allah mengabulkan doa seorang Hamba. Allah tidak serta merta mengijabah permohonan seorang hamba tanpa diuji terlebih dahulu. Allah tetap menuntut seorang hamba untuk berikhtiar. Dan itu pulalah yang Allah dididikkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. . Maka marilah kita tengok kedalam diri, bagaimana kita menindaklanjuti doa-doa kita. Apakah kita hanya sekedar berdoa tanpa berbuat. Ataukah kita berdoa dan terus sensitif dengan tanda-tanda petunjuk yang Allah hadirkan? . Disinilah terlihat, bahwa Islam adalah agama amaliyat. Islam adalah agama berbuat. Islam bukanlah agama dalam dimensi angan dan fikiran, namun jauh daripada itu, Islam menuntut gerak dari seorang Hamba. . Konsepsi dasar ibadah : mulai dari wudhu, shalat, zakat, thawaf, sai, wukuf, dan jumroh, hampir kesemuanya adalah ibadah yang membutuhkan gerak. Maka seyogyanyalah, kita kemudian tidak berhenti pada beriman dan taat, namun juga mengikuti Rusydah. . Seperti doa dalam surah al kahfi, . إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا . (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
*** Semoga bermanfaat #TadabburAlQuran

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger