Saturday, April 8, 2017

☀ "Ayah, Apakah Umar Sudah Meninggal?" ☀

Ketika istriku membukakan pintu untukku, di waktu zhuhur siang ini, aku melihat dia menutup wajahnya. Aku bertanya: “Apa yang terjadi?”. “Si kecil.” Jawabnya pelan dan lirih. 

Aku segera menuju kamar anak-anak. Kudapati si kecil menyendiri di atas ranjang. Aku pun memeluknya dan kembali mengulang pertanyaan kepada istriku yang berdiri disamping tempat tidur. “Apa yang terjadi?” Istriku tidak menjawab. 

Aku lalu meletakkan tanganku di kening si kecil. Tak ada tanda-tanda dia sakit. “Apa yang terjadi?” Kembali aku bertanya kepada istri. Istriku hanya memberi isyarat untuk memintaku keluar sebentar. Ternyata dia tak mau menjawab pertanyaanku di hadapan si kecil. 

Aku lalu mengajak istriku menuju kamar kami. Sambil mengelus perlahan perutnya yang membuncit karena hamil anak keempat kami, mulailah dia bercerita apa yang terjadi pada si kecil. Pagi hari tadi, si kecil keluar bersama ibunya. Di jalan, mereka berdua bertemu dengan seorang pengemis wanita yang tengah meletakkan anak kecilnya di punggungnya. Wanitu itu sedang meminta-minta makanan kepada orang yang lewat agar anaknya bisa makan. . . Si kecil pun mendekat pada pengemis, kemudian berkata: "Ibu, jangan sedih ya. Umar bin Khatthab akan datang membawa makanan untuk ibu dan anak ibu.” 

Orang-orang sekitar yang lalulang tampak memperhatikan sikap dan perkataan si kecil. Supaya tidak menjadi perhatian lebih jauh, Istriku kemudian memberikan beberapa uang sedekah kepada pengemis wanita itu. . . 

Istri dan anakku lalu melanjutkan jalan kaki mereka, hingga kemudian mendapati seorang pemuda berotot menantang lelaki lemah dengan pukulan.
Sambil tangannya masih berpegangan pada tangan ibunya, si kecil tiba-tiba berteriak di hadapan orang-orang agar mereka mendatangkan Umar bin Khatthab untuk melerai kedzhaliman tersebut.

Istriku terheran-heran dengan apa yang terjadi karena orang-orang menoleh ke arah mereka berdua. Istriku memutuskan untuk segera kembali ke rumah. 
Menjelang tiba di rumah, kembali di jalan ada seorang pengemis dengan roman muka sedih dan meminta bantuan. Istriku pun memberinya sejumlah uang. Dekat pintu rumah, istri satpam komplek perumahan mendatangi istriku dan mengabarkan bahwa suaminya sedang terbaring di rumah sakit dan membutuhkan bantuan. Tiba-tiba saja si kecil berkata agak keras: “Apakah Umar bin Khatthab meninggal?” Sambil meminta maaf pada istri satpam dan berjanji akan membicarakan keperluannya nanti, istriku pun mengajak si kecil masuk rumah.

Istriku kemudian berusaha menghibur hati si kecil dengan menghidupkan televisi untuk menyetel film kartun kesayangannya. Namun, stasiun televisi yang biasa menayangkan kartun saat itu sedang menyiarkan berita, tentang pemblokiran tentara Yahudi pada Masjid al Aqsha. Tiba-tiba si kecil mendekati televisi dan memandang gambar para tentara bersenjata yang sedang memukul orang-orang yang shalat lalu menembak mereka dengan timah panas. 
Lalu ia berkata kepada ibunya: “Jadi Umar bin Khatthab telah meninggal?!!!!!!” Si kecil menangis sejadi-jadinya. . . “Umar bin Khatthab telah meninggal, Umar bin Khatthab telah meninggal, Umar bin Khatthab telah meninggal.” Dia berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya itu. Ibunya terdiam.

***
Aku hanya bisa diam dan termenung mendengar cerita istriku tersebut. Istriku bertanya, mengapa si kecil seakan terobsesi pada sosok Umar bin Khattab? Sembari menghela nafas sejenak, aku pun bercerita pada istriku perihal sikap dan perilaku si kecil tersebut.

Suatu ketika, saat itu, aku begitu ingin tidur bersama ketiga anak-anakku: Asma, Aisyah, dan si kecil. Aku sering kabur dari kamarku menuju kamar mereka dan merebahkan badanku yang tinggi di ranjang mereka. Mereka begitu senang dengan sikapku ini. Terhadap apa yang aku lakukan ini, sebenarnya aku lebih bahagia dibanding mereka. Tentu saja, ketika di kamar mereka, mesti ada kisah yang kukisahkan untuk mereka. 

 Asma, usianya 9 tahun, biasanya memintaku untuk menceritakan kisah Yusuf ‘alaihissalam. Sedang Aisyah begitu senang jika dituturkan kisah Musa 'alaihissalam dan Fir’aun atau “seorang tokoh yang baik dan tokoh jahat”, istilah ini sering dipakai Aisyah untuk menyebut Musa dan Fir’aun. Adapun anakku yang paling kecil, ia selalu mendengar ksiah-kisah yang kututurkan baik tentang Yusuf 'alaihissalam atau Musa ‘alaihissalam. 

Suatu malam, aku bertanya kepada mereka: “Kisah Yusuf atau Musa?” Asma dan Aisyah menjawab dengan sosok yang mereka sukai. Sementara si kecil tiba-tiba ingin dikisahkan tentang Umar bin Khattab. Aku pun kagum dengan permintaannya yang asing ini karena aku tak pernah menyebut nama Umar dan mengisahkannya untuk si kecil. Bagaimana dia tahu? Aku pun memulai kisah Umar dengan ringkas.

Aku mengisahkan pada si kecil saat Umar keluar di malam hari untuk mempatroli keadaan rakyatnya. Umar mendengar suara tangisan anak kecil. Sang ibu meletakkan periuk air di atas tungku api. Sang ibu mengabarkan anak-anaknya itu bahwa makanan sebentar lagi akan segera matang, untuk menghilang lapar mereka malam itu. . . 

Lalu aku kisahkan pula pada si kecil bagaimana Umar menangis malam itu lalu Umar segera keluar. Dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa keranjang besar dan berat di punggungnya. Umar sendiri yang memasak untuk anak-anak itu. Umar tidak meninggalkan mereka kecuali setelah mereka kenyang dan tertidur. . . 

Si kecil tertidur bahagia dan senang setelah mendengar kisah Umar. . . Di malam berikutnya, aku terkaget dengan si kecil karena dia memberitahukan kami bahwa dia akan mengisahkan kami kisah Umar. “Kamu tahu kisahnya, nak?”, “Iya.” Jawabnya. 
Aku tak mampu mengungkapkan kekagumanku pada si kecil saat dia mengisahkan kisah tentang Umar. . . 

Lalu di malam setelahnya, aku mengisahkan si kecil tentang kisah kedua dari Umar. Aku ceritakan tentang anak kecil Ibnu al-Qithbiy yang dipukul ‘Amr bin al-‘Ash. Lalu Umar memberikan cambuk kepada Ibnu al-Qithbiy untuk membalas ‘Amr bin al-‘Ash. . . 
Pada malam berikutnya, aku menceritakan si kecil tentang ketakwaan, kekuatan dalam kebenaran, keadilan dan kelebihan lainnya yang dimiliki sahabat Umar bin Khatthab. Setiap malam berlalu, si kecil pasti menghafal dan mengisahkan kembali cerita tentang Umar dan ini hampir berlalu satu bulan. . . 

Hingga pada suatu malam, aku terkejut dengan pertanyaan si kecil: “Ayah, apakah Umar bin Khatthab meninggal?” . . 
Aku hampir menjawab pertanyaannya tetapi aku memilih terdiam beberapa saat. Terpahamilah olehku bahwa anakku ini terkagum-kagum dengan Umar.
Aku tahu bahwa dia akan sedih mendalam dan jiwanya akan terguncang jika Umar-nya telah meninggal. Dan aku memilih tak menjawab pertanyaannnya. . . Si kecil kembali bertanya di malam selanjutnya: “Ayah, apakah Umar meninggal?” dan kembali aku memilih diam dan menghindar.

Di malam-malam selanjutnya aku memilih berada di kamarku saja agar si kecil tidak bertanya dengan pertanyaan yang sama. . . 

 *****
Usai bercerita pada istriku, pintu kamar kami mendadak terbuka. Tampak si kecil ada di balik pintu, kemudian mendatangiku dengan langkah pelan dan penuh kesedihan. Aku memeluk dan mendekapnya lalu mengangkatnya sehingga matanya sejajar dengan mataku. 
Aku tersenyum dan berkata: “Nak, mengapa kamu bersedih dan bilang Umar bin Khattab meninggal? Padahal ibumu sedang hamil dan dua bulan lagi akan melahirkan Umar.” 
“Umar bin Khatthab?” Tanya si kecil sambil matanya menatap tajam wajahku
“Iya. Umar bin Khatthab.” Jawabku, sembari hatiku menjerit berdo'a "Ya Rabb, semoga anak yang akan Engkau amanahkan ini, sifat dan perilakunya bisa mendekati Umar bin Khattab, sungguhpun kami tahu tidak akan ada lagi manusia seperti Umar bin Khattab"
Si kecil pun mulai tersenyum dan merebahkan dirinya kembali dalam pelukanku sambil menyebut sebuah nama: “Umar bin Khatthab, Umar bin Khatthab.” 
Aah, air mataku pun mengalir dan aku mendoakan rahmat untuk sahabat Umar bin Khatthab.

Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, namun umat Islam yang akan melahirkan Umar-Umar lainnya tak akan mati. . . 
Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, namun al-Qur’an yang diamalkan Umar bin al-Khatthab akan selalu ada.
Ananda, Umar bin Khatthab telah meninggal, tetapi tak akan mati semangat, keberanian, dan azzam yang Umar wariskan kepada umat Islam. . . 


~ Diterjemahkan dari halaman Kunna Jibaalan oleh Yani Fahriansyah, dengan editan untuk penyesuaian cerita oleh saya sendiri ~

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger