Results for ramadan 2022

Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat?

April 30, 2022

 

Jadi, apa pun ucapan yang kita sampaikan kepada setiap muslim setelah salat IdulFitri, hukumnya adalah boleh, selama tidak ada keburukan


Ramadan telah berakhir. Waktunya Idulfitri! 

Perasaan kita pasti campur aduk sekarang, antara sedih dan senang. Sedih karena Ramadan, bulan yang penuh keberkahan telah meninggalkan kita. Senang dan bahagia, karena sudah waktunya merayakan Idulfitri.

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, “Mengekspresikan kebahagiaan pada Idulfitri, adalah bagian fitur yang menonjol dari Islam” (Fathul Bari, Hadis: 949)

Hampir setiap Muslim merayakan Idulfitri dengan memberi ucapan selamat satu sama lain. Khusus di negara kita, ucapan selamat Idulfitri biasanya berupa kalimat ‘Minal Aidzin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin’. Sebagian yang lain memilih untuk mengucapkan ‘Taqobbalallohu Minna wa Minkum.’

Bagaimana sebenarnya ucapan untuk Idulfitri? Adakah tuntunan dari Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam)  atau para Sahabat (radhiallahu anhu??

Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ucapan selamat Idulfitri menjawab, 

“Sedangkan untuk ucapan selamat Idulfitri, setelah selesai Idul Fitri bisa saling mengucapkan, Taqabbalallahu Minna wa Minkum, (semoga Allah menerima (ibadah dan amal saleh) dari Anda dan kami) atau A'adahullahu 'Alaika (semoga Allah membuat Anda menyaksikannya (Idulfitri) lagi) dan frasa serupa lainnya." (al-Fataawa al-Kubra)

"Taqaobbalallohu Minna wa Minkum" adalah ucapan yang biasa disampaikan para Sahabat (radhiallahu anhu) satu sama lain usai melaksanakan salat Idulfitri. Imam Al-Hafidz bin Hajar dalam kitab Fathul Bari menyampaikan, 

"Jubair bin Nufair (radhiallahu anhu) berkata: 'Para sahabat Nabi (radhiallahu anhum), biasa mengucapkan Taqabbala Allahu Minna wa Minkum [semoga Allah menerima dari Anda dan kami] ketika mereka bertemu satu sama lainnya pada hari Idulfitri.'"

Sementara Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni, bahwa Muhammad Ibn Ziad (radhiallahu anhu) berkata: “Aku bersama Abu Umamah al-Bahili dan beberapa sahabat Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam). Ketika mereka pulang dari salat Idulfitri, mereka saling mengucapkan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’.”

Dalam Majmu' Fataawa Ibn 'Utsaimin, Syekh Ibnu 'Utsaimin ditanya: Apa hukum mengucapkan salam Idul Fitri dan apakah ada kata-kata tertentu yang digunakan?

Beliau menjawab:

Mengucapkan salam dan selamat pada hari raya Idulfitri diperbolehkan, dan tidak ada salam khusus. Sebaliknya salam yang biasa digunakan orang diperbolehkan selama tidak ada dosa yang terlibat.

Syekh Ibnu 'Utsaimin juga berkata:

Beberapa Sahabat memberikan salam dan ucapan selamat pada kesempatan Idul Fitri. Bahkan jika kita berasumsi bahwa mereka tidak melakukan itu, sekarang sudah menjadi kebiasaan yang biasa dilakukan orang, saling memberi selamat pada hari raya Idulfitri dan menyelesaikan puasa dan qiyam (mendirikan salat).

Beliau juga ditanya: Apa hukum berjabat tangan, berpelukan, dan saling mengucapkan selamat setelah sholat Ied?

Dan beliau menjawab:

Hal-hal tersebut tidak mengapa, karena orang-orang tidak melakukan hal-hal ini sebagai ibadah yang dimaksudkan untuk mendekatkan mereka kepada Allah, tetapi mereka melakukannya karena kebiasaan, dan untuk menghormati dan menghormati satu sama lain. Selama tidak ada dalam syariat yang menunjukkan bahwa suatu kebiasaan dilarang, maka prinsip dasarnya adalah boleh.

Jadi, apa pun ucapan yang kita sampaikan kepada setiap muslim setelah salat IdulFitri, hukumnya adalah boleh, selama tidak ada keburukan atau maksiat di dalam ucapan tersebut. Namun, alangkah baiknya apabila kita meniru kebiasaan para Sahabat Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) dengan mengucapkan: 

 ‘Taqobbalallohu Minna wa Minkum.’

Dan apabila kita menerima ucapan seperti itu, sebagai balasannya kita bisa mengucapkan kalimat yang sama, atau cukup dengan Aamiin atau Khair Mubarak.

Allah berfirman,

“Ketika kamu disapa dengan sapaan, sapalah kembali dengan yang lebih baik darinya atau balaslah. Lihat! Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisa, 4: 86)


Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat? Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat? Reviewed by Himam Miladi on April 30, 2022 Rating: 5

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran

April 28, 2022

 

salat mencegah kemungkaran
Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (unsplash.com)

Katanya salat itu mencegah kemungkaran, tapi mengapa masih banyak orang yang terlihat rajin salat, masih juga mengerjakan maksiat, perbuatan keji dan dosa-dosa lainnya?

Memang betul, Allah berfirman,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Ankabut, 29: 45)

Salat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar apabila dikerjakan dengan baik dan sempurna. Apabila ada seorang muslim mengaku sudah salat, tapi masih juga melakukan maksiat, maka salatnya belum sempurna. Orang tersebut hanya sekedar melakukan gerakan salat, tapi inti dari ibadah salatnya tidak sampai masuk ke hatinya. 

Kesempurnaan Salat Berawal Dari Kesempurnaan Wudhu

Kesempurnaan salat dimulai ketika kita berwudhu. Salat baru dapat dikatakan sah apabila kita sudah bersuci. Jika wudhu kita belum sempurna, maka salat kita juga dikatakan tidak sah karena kita masih belum menyucikan diri dari hadas.

Rasulullah () bersabda,

" لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak ada salat yang diterima tanpa wudhu (bersuci) (HR Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah () bersabda,

 "‏ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ‏"‏ ‏.

“Jika waktu untuk salat (wajib) telah tiba, dan seorang Muslim melakukan wudhu dengan benar, (dan kemudian shalat) dengan kerendahan hati dan rukuk (kepada Allah), itu akan menghapus dosa-dosanya yang lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar; dan ini berlaku untuk semua waktu.” (HR Muslim)

Ini baru perkara wudhu, belum lagi ibadah salat itu sendiri. Entah kita sadari atau memang belum kita ketahui, dalam melakukan salat kita banyak melakukan kesalahan yang membuat salat kita tidak sempurna.

Kesempurnaan Salat Mencegah Kemungkaran

Kesalahan umum yang sering dan banyak dilakukan umat Islam adalah melakukan salat dengan terburu-buru. Padahal, salah satu rukun salat adalah tuma’ninah atau berdiam diri sebentar setiap kali selesai melakukan satu gerakan salat. Sebagian ulama mengartikan tuma'ninah adalah menempatkan setiap bagian tubuh kita dengan benar ketika berada dalam posisi salat. Artinya, ketika ruku' maka kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita ikut berada dalam posisi ruku. Ketika sujud, kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita berada dalam posisi sujud.

Seperti yang disampaikan Rasulullah () dalam hadis di atas, kita yang melakukan salat dengan kerendahan hati dan rukuk (tunduk) kepada Allah, maka dosa-dosa kita akan terhapuskan, selama kita tidak melakukan dosa besar.

Ketika kita salat dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh perhatian, tunduk, murni, mengarahkannya kepada Allah, dan membaca takbir (mengucapkan 'Allahu Akbar': Allah Maha Besar) untuk memulai salat, hakikatnya kita menyatakan bahwa Allah lebih besar dari siapapun dan apapun.

Kemudian, kita memulai salat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala dengan mengucapkan doa istiftah. Perhatikan makna salah satu doa iftitah: Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawati wal ardhi (Aku menghadapkan wajahku kepada Pencipta Langit dan Bumi, dan seterusnya). 

Kemudian, kita mencari perlindungan kepada Allah dari godaan setan (membaca ta’awudz/A’udzubillah) dan membaca Al-Fatihah, yang dikenal sebagai Umm Al-Kitab (induk Al-Quran), karena menggabungkan semua makna iman dan tauhid.

Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Quran) karena memuat pujian kepada Allah, mengungkapkan rasa syukur, mengagungkan, mengakui Hari Pembalasan dan bahwa Allah adalah Tuannya , menyembah dan memohon kepada-Nya, serta meminta petunjuk kepada Tuhannya dan tidak ada kecualinya. Petunjuk di sini mengacu pada petunjuk jalan para nabi, dan orang-orang yang beriman.

Kemudian, kita yang sedang salat memohon kepada Allah  agar melindungi kita dari jalan orang-orang yang menimbulkan kemarahan [Nya] dan orang-orang yang sesat.

Kemudian ketika ruku' dan sujud, kita mengucapkan puji-pujian kepada Allah, menyampaikan salam kepada Nabi (), dan ditutup dengan salam yang diniatkan/ditujukan kepada imam, orang-orang di sekeliling kita, dan para malaikat yang ikut menyaksikan salat kita.

Jika kita memahami sepenuhnya apa artinya ini, akankah kita melakukan dosa dengan sengaja?

Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (lebih baik) dengan cahaya batin yang lebih terang. Kita akan memperbaharui kepatuhan kita kepada Allah dan tidak akan pernah berani melanggar larangan-Nya.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah bahwa salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Mari kita perbarui dan sempurnakan salat kita, dan memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan salat dengan sempurna.

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Reviewed by Himam Miladi on April 28, 2022 Rating: 5

Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar

April 09, 2022


kisah penggali kubur,kisah islami,kisah ramadan,hikmah ramadan
Hikmah dari kisah nyata tersebut adalah, pencari ilmu dan orang yang menafkahkan sebagian hartanya untuk membantu seseorang yang mencari ilmu memiliki derajat yang sama


Kisah ini diceritakan oleh Syeikh Hisyam Al-Burhani, seorang ulama kenamaan di Damaskus, Suriah.  

“Kisah berikut ini,” Ujar Syaikh Hisyam Al-Burhani, “adalah kisah nyata. Bukan fiksi seperti dongeng 1001 Malam.”

Suatu hari ada seorang penggali kubur di salah satu kompleks pemakaman masyhur di Damaskus. Pemakaman ini penuh dengan ulama, auliya, serta pahlawan (syuhada). Penggali kubur ini didatangi oleh seorang wanita dan memintanya untuk menggali kubur.

Tak lama setelah menggali kubur, wanita itu beserta beberapa pelayat yang tak banyak jumlahnya datang membawa jenazah. Jenazah ini lalu diturunkan si penggali kubur ke dalam liang lahat. Seketika itu, si penggali kubur seperti melihat taman surga yang indah. Ia juga melihat dua makhluk indah, yang ia yakini adalah malaikat, membawa jenazah itu pergi dari sempitnya liang lahat.

Si penggali kubur lalu pingsan saking terkejutnya. Tatkala siuman, ia ditanya para pelayat, mengapa ia tiba-tiba pingsan. Si penggali kubur lalu menceritakan kejadian itu. Namun, para pelayat tidak percaya dengan ceritanya dan mengira si penggali kubur berhalusinasi.

Beberapa bulan kemudian, masih menurut cerita Syekh Hisyam, wanita itu datang lagi dan meminta si penggali kubur menggali satu liang lahat.

Lalu datanglah si wanita itu bersama pelayat membawa jenazah. Ketika jenazah itu diturunkan ke dalam liang lahat oleh si penggali kubur, seketika terjadi lagi hal yang sama: ia melihat taman surga dan malaikat membawa jenazah itu. Namun kali ini ia tidak sampai pingsan seperti sebelumnya walaupun masih tetap kaget.

Ketika pemakaman sudah selesai dan ia sudah menguasai diri,  si penggali kubur mengejar wanita itu dan menanyakan beberapa hal;  siapa wanita itu dan siapa kedua jenazah itu? Apa yang mereka berdua lakukan sehingga mendapat karamah seperti ini?

Wanita itu menjawab, “Mereka berdua adalah anakku. Yang pertama adalah seorang santri dan yang kedua—yang baru saja meninggal dan dikuburkan, adalah saudaranya yang bekerja sebagai tukang kayu dan menafkahkan hasilnya untuk saudaranya yang seorang santri itu.”

Si penggali kubur tadi merasakan hidayah datang kepadanya. Tanpa menunggu waktu yang lama, ia pergi ke Masjid Jami At-Taubah, Damaskus untuk menimba ilmu, meski ia sadar usianya sudah tidak muda lagi.

Masjid Jami At-Taubah adalah masjid yang memiliki sejarah panjang di Damaskus. Menurut sejarah, Imam Izzuddin bin Abdus Salam (pengarang kitab Qawaidul Ahkam) dan Imam Ibnul Jazari (Ulama qiraah, pengarang kitab An-Nasyr dan Muqaddimah Jazariyah) pernah menjadi khatib dan imam di Masjid Jami’ At-Taubah.

Kembali kepada cerita si penggali kubur, di Masjid Jami At-Taubah, ia menemui kakek Syeh Hisyam yang saat itu menjadi imam Masjid.

“Aku ingin belajar agama,” kata penggali kubur itu kepada kakek Syekh Hisyam.

“Umurmu sudah hampir 50. Apa yang membuatmu ingin mengaji?” tanya kakek Syekh Hisyam.

Si penggali kubur itu kemudian menceritakan kisahnya.

“Baiklah,” ujar kakek Syekh Hisyam, “ambil kitab Jurumiyah. Mari mengaji nahwu mulai dari awal.”

Sejak saat itu si penggali kubur itu mengaji dengan tekun hingga menjadi ulama besar Damaskus. Penggali kubur itu bernama Syekh Abdurrahman Al-Haffar (Haffar berarti tukang gali). Beliau kemudian memiliki keturunan yang juga menjadi ulama dan pecinta ilmu, salah satunya adalah Syekh Abdur Razaq Al-Haffar.

“Siapapun bisa mendapat derajat yang sama,” ujar Syekh Hisyam menutup ceritanya, “asalkan ia menuntut ilmu secara sungguh dan ikhlas.”

Hikmah dari kisah nyata tersebut adalah, pencari ilmu dan orang yang menafkahkan sebagian hartanya untuk membantu seseorang yang mencari ilmu memiliki derajat yang sama, dan mendapat limpahan rahmat Allah yang sama pula.

Yang kita butuhkan adalah keyakinan akan kebesaran dan keluasan rahmat Allah, selanjutnya mencari ilmu untuk Allah dan juga memberikan sebagian harta kita untuk memuliakan agama Allah. Setelah kita pautkan hati kita dengan Allah secara ikhlas, maka Allah lah yang membalas kita dengan memberikan perhatian khusus-Nya kepada kita. 

Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar Kisah Penggali Kubur yang Menjadi Ulama Besar Reviewed by Himam Miladi on April 09, 2022 Rating: 5

Kumpulan Artikel Ramadan 2022

April 06, 2022

        

kumpulan artikel ramadan 2022,ramadhan 1443
Berikut kumpulan artikel Ramadan 2022 yang bisa memotivasi kita untuk beribadah lebih baik


Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam (Hijriah). Dalam tafsir Ibnu Katsir, kata  Ramadan berarti “membakar”. Penduduk Makkah menamakan Ramadan karena pada bulan ini suhu udara demikian panas dan membara hingga diibaratkan mampu membakar apa saja.

Bulan Ramadan sangat istimewa karena Allah menurunkan kitab suci umat Islam, Al-Quran di bulan ini. Al-Quran adalah pedoman hidup umat Islam yang membimbing kita kepada Allah dan mendapatkan semua kebaikan hidup ini dan akhirat nanti.

Ketaatan kepada Allah dan melakukan kebaikan selama Ramadan memiliki pahala yang besar. Jadi seorang muslim harus bersemangat untuk melakukan semua amal yang diridhai Allah sehingga Allah akan mencintainya dan memberinya pahala yang besar.

        Banyak cara untuk beramal dan beribadah kepada Allah, seperti salat tahajud dan salat tarawih di malam hari, membaca dan belajar Al-Quran, merenungkan (tadabbur) Al-Quran, bersedekah, memberi makan kepada orang miskin untuk berbuka puasa. , bersikap sopan santun dengan semua orang terutama orang tua, belajar dan mengajar orang lain tentang Islam, berusaha mengikuti sunnah Nabi Muhammad () dalam segala hal yang bisa kita lakukan sepanjang hari, banyak mengingat Allah (misalnya dengan membaca SubhanAllahi wa bihamdih, Alhamdulillah dll ), berdo'a dan meminta Allah untuk mengampuni kita. 

    Berikut kumpulan artikel Ramadan 2022 yang bisa memotivasi kita untuk beribadah lebih baik, agar Ramadan kita kali ini bisa menjadi Ramadan yang tanpa cela, lebih baik dari Ramadan-Ramadan sebelumnya.

Memahami Perbedaan Awal Puasa Ramadan dan Hari Raya

    Ramadan tahun ini, umat Islam di Indonesia mengawalinya dengan berbeda. Ada yang sudah mulai berpuasa pada hari Sabtu (2/4/2022), ada yang baru mengawalinya pada Minggu (3/4/2022). 
    Perbedaan ini kerap menjadi sumber perselisihan antar umat Islam. Sangat disayangkan, padahal bila kita bisa belajar dari perbedaan yang timbul di antara para Sahabat pada jaman Rasulullah () masih hidup, perbedaan semacam ini biasa saja. 

Unduh dan Baca Artikel lengkapnya di sini

Menggapai Ramadan Penuh Kenikmatan

    Bulan ini lebih dari sekadar merencanakan pesta buka puasa bersama, menimbun makanan di dapur secara berlebihan, persiapan mudik dan Idulfitri, serta menahan diri dari makan dan minum. Sebaliknya, Ramadan  adalah waktu untuk melatih sekaligus membersihkan jiwa dan tubuh kita secara rohani, psikologis, sosial dan fisik. 

Unduh dan Baca Artikel lengkapnya di sini

Ramadan Bulan untuk Berkata Baik

    Puasa di bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih kebiasaan selalu berkata baik. Islam mengajarkan kita bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus. Orang yang berpuasa harus menghindari sesuatu yang lebih dari sekedar makanan dan minuman. Orang yang berpuasa tidak boleh berperilaku buruk, baik melalui lisannya maupun perbuatannya.

Unduh dan Baca Artikel lengkapnya di sini


Kumpulan Artikel Ramadan 2022 Kumpulan Artikel Ramadan 2022 Reviewed by Himam Miladi on April 06, 2022 Rating: 5
April 03, 2022

 

Ramadan Bulan untuk Berkata Baik

Oleh: Himam Miladi

 


ramadan bulan untuk berkata baik,bahaya lidah manusia
Puasa di bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih kebiasaan selalu berkata baik. Islam mengajarkan kita bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus


Bulan Ramadan yang diberkahi adalah bulan kedermawanan, sedekah dan berlomba-lomba dalam kebaikan, baik lisan maupun amal. Di antara perbuatan baik lisan adalah bertuturkata yang baik yang tidak membahayakan.

Allah memerintahkan hambanya untuk bertuturkata yang baik ketika kita berinteraksi dengan sesama manusa.

 

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ

Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. (QS Al-Baqarah, 2: 83)

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ٥٣

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isra, 17: 53)

Allah juga memperingatkan hambanya bahwa semua ucapan yang keluar dari lisan manusia itu tercatat dan terekam dalam buku amal perbuatan.

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS Qaf, 50: 18)

Ramadan Bulan untuk Berkata Baik

Puasa di bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih kebiasaan selalu berkata baik. Islam mengajarkan kita bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus. Orang yang berpuasa harus menghindari sesuatu yang lebih dari sekedar makanan dan minuman. Orang yang berpuasa tidak boleh berperilaku buruk, baik melalui lisannya maupun perbuatannya.

Nabi () mengajarkan bagaimana seharusnya orang yang berpuasa itu:

Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang sia-sia dan bahasa yang kotor. Jika salah seorang di antara kalian dicaci maki atau disakiti, hendaklah ia berkata: “Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam hal perkataan, Rasulullah () dikenal sangat berhati-hati terhadap lidahnya dan memperingatkan dengan keras kepada sahabat-sahabatnya untuk menjaga lidah, sebab orang bisa tersungkur ke neraka karena lidahnya. 

Ibnu Mas’ud berkata, Aku mendengar Rasulullah () bersabda, Bahwa kebanyakan dosa anak adam itu pada lidahnya. (HR Thabrani dan Baihaqi)

Dalam hadis lain diriwayatkan, pada suatu kali seorang perempuan mendatangi Aisyah r.a hendak menanyakan sesuatu. Ketika perempuan itu pulang, Aisyah berkata, “Alangkah pendeknya perempuan itu.”

Nabi Muhammad () yang mendengar perkataan Aisyah segera menegur, “Ya Aisyah, itu adalah ejekan.”

Aisyah menjawab, “Aku hanya mengatakan yang benar, ya Rasulullah.”

Maka Nabi () pun menjawab, “Oleh karena itu, perkataanmu merupakan ejekan. Kalau engkau mengatakan yang tidak benar, maka engkau termasuk orang yang berdusta, yang lebih besar dosanya.”

Rasulullah () bersabda,

“Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bahaya Lidah Manusia

Lidah termasuk anggota tubuh yang sangat istimewa, nikmat luar biasa yang dikaruniakan Allah kepada kita.  Hakikatnya, lidah termasuk anggota tubuh yang ukurannya kecil. Namun, ketaatan dan kemanfaatan seseorang, juga dosa dan kemudharatan seseorang bisa diukur dari lidahnya. Kufur dan iman seseorang bisa tampak dari kesaksian lidahnya.

Imajinasi, kenyataan, atau dugaan semuanya dapat dicapai dengan lidah. Ilmu pengetahuan juga dicapai dan disampaikan oleh lidah, baik yang benar maupun yang batil. Tiada suatu pun, melainkan ilmu itu menerima untuk lidah. Inilah keistimewaan yang tiada di dapat anggota tubuh lainnya. Mata, tidak akan sampai melainkan kepada warna dan bentuk. Telinga, tidak akan sampai melainkan kepada suara. Tangan, tidak akan sampai kepada yang tidak berwujud padat.

Segala bentuk komunikasi, sejak manusia diciptakan hingga kini masih memakai lidah sebagai media penyampaian. Di dalam lidah pula bersumber kebenaran atau fitnah.

Bahaya yang ditimbulkan oleh lidah jauh lebih besar dosanya dibandingkan yang disebabkan oleh anggota tubuh lainnya. Tangan bisa menganiaya, namun fitnah yang ditimbulkan oleh lidah kita jauh lebih besar dampak dan dosanya.

Kita tidak akan bisa terlepas dari bahaya yang ditimbulkan lidah, selain dengan bertindak diam. Karena itulah, Rasullah () memuji orang yang bertindak diam dan mengajak kita semua untuk menahan lidah.

Rasulullah () bersabda, “Barangsiapa diam, niscaya ia terlepas (dari bahaya).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Keutamaan berbuat diam di antaranya adalah terhindar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat lidah, yang dapat mengantarkan si pemilik lidah ke dalam lubang dosa dan kehinaan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan, ada 15 bahaya yang disebabkan oleh lidah manusia

  1. Membicarakan hal yang tidak perlu
  2. Perkataan yang berlebihan
  3. Berbicara hampa (omong kosong) dalam hal batil
  4. Bertengkar dan berbantah-bantahan
  5. Permusuhan
  6. Kata-kata keji, caci maki dan kekotoran lidah
  7. Mengutuk
  8. Sendau gurau berlebihan
  9. Menghina dan menertawakan orang lain
  10. Membuka rahasia orang lain
  11. Janji palsu
  12. Dusta pada ucapan dan sumpah
  13. Fitnah dan adu domba
  14. Berlidah dua (bermuka dua)
  15. Sanjungan berlebihan

Inilah bahaya yang tidak berat dilakukan oleh lidah kita, dan disukai oleh hati kita. Hati yang sudah tercemar oleh godaan syaitan yang terkutuk. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa, sulit baginya untuk menahan lidah. Dilepaskannya semua yang disukainya melalui lidah, dan ditahannya apa yang tidak disukainya.

Rasulullah () bersabda, “Simpanlah lidahmu, selain untuk kebajikan. Karena yang demikian itu, engkau berarti dapat mengalahkan syetan.” (HR Ibnu Hibban dari Abu Dzar).

Kunci penyelamat dari bahaya-bahaya yang disebabkan lidah tersebut tak lain adalah diam. Selain menyelamatkan kita dari bahaya yang menjerumuskan ke dalam dosa, diam atau menahan lidah juga membawa banyak manfaat bagi kita, di antaranya: penggunaan waktu untuk berpikir, untuk berzikir, untuk beribadah, tetapnya kehormatan diri, dan yang lebih penting, selamatnya kita dari perhitungan amal yang disebabkan oleh kata-kata yang kita ucapkan selama hidup di dunia.

Kata-kata yang baik menyerukan moral yang baik dan perbuatan yang benar. Seseorang yang mampu mengendalikan lidahnya akan mampu pula mengendalikan semua urusannya.

Rasulullah () bersabda, “Berbahagialah orang-orang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan kelebihan dari hartanya.” (HR Baihaqi)

 

Wa’allohu ‘a’lamu bisshowaab

 

Reviewed by Himam Miladi on April 03, 2022 Rating: 5
Powered by Blogger.