Tuesday, March 25, 2014

Cinta Dalam Diam

Sejak awal, keluarga sang gadis ini keberatan jika dia menjalin hubungan dengan pria itu. Dengan alasan perbedaan latar belakang keluarga, (ada yag bilang) sang gadis itu akan menderita selama sisa hidupnya jika tetap bersamanya.
Walaupun sang gadis sangat mencintai pacarnya itu, sang gadis selalu saja bertanya padanya: "Seberapa dalam cintamu padaku?"

Karena pacarnya itu bukan tipe orang yang suka bicara, maka setiap jawabannya membuat sang gadis sering sakit hati. Disebabkan oleh hal itu dan tekanan dari pihak keluarga, sang gadis menjadi sering marah-marah kepada pacarnya itu. Sedangkan sang pacar hanya bisa diam saja.

Setelah beberapa tahun, sang pacar akhirnya lulus dan melanjutkan studi ke luar negeri. Sebelum pergi, dia melamar sang gadis: "Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang kutahu hanyalah bahwa aku mencintaimu. Jika kamu memperbolehkanku, aku ingin menjagamu selama sisa hidupku. Dan mengenai keluargamu, aku akan mencoba untuk berbicara dengan mereka. Maukah kau menikahiku?"

Sang gadis bersedia menikahinya dan dengan tekad sang pacar, akhirnya keluarga sang gadis menyerah dan menyetujui penikahan mereka. Jadi sebelum sang pacar pergi, mereka bertunangan.

Suatu hari, ketika gadis itu sedang dalam perjalanan ke tempat kerja, dia tertabrak oleh mobil yang kehilangan kendali. Ketika dia terbangun, dia melihat orang tuanya di samping tempat tidurnya. Dia menyadari bahwa dia terluka parah. Melihat ibunya menangis, dia ingin menghiburnya. Tapi dia menyadari bahwa semua yang bisa keluar dari mulutnya hanya suara yang mendesau. Dia telah kehilangan suaranya.

Dokter mengatakan bahwa benturan pada otaknya telah menyebabkan dia kehilangan suaranya. Orangtuanya menghiburnya, tapi dengan keadaannya yang tanpa suara, dia patah semangat.

Selama tinggal di rumah sakit, hanya tangisan dalam diam yg menemaninya. Sesampainya di rumah, segala sesuatu tampak sama, kecuali nada dering telepon yg menusuk hatinya setiap kali berdering. Dia tidak ingin tunangannya tahu dan tidak ingin menjadi beban baginya, sang gadis menulis surat pada tunangannya bahwa dia tidak ingin menunggunya lagi.

Dengan suratnya itu, dia mengirim cincinnya. Sebagai balasannya, sang tunangan mengirimkan jutaan surat dan menelponnya berkali-kali hingga tak terhitung jumlahnya. Dan yang sang gadis bisa lakukan hanyalah menangis dan menangis.

Orang tua sang gadis memutuskan untuk pindah, berharap jika anak mereka dapat melupakannya dan menjadi bahagia.

Di lingkungannya yang baru, sang gadis belajar bahasa isyarat dan memulai hidup baru. Dia meyakinkan pada dirinya bahwa dia harus melupakan tunangannya. Pada suatu hari, temannya datang dan memberitahukan bahwa tunangannya telah kembali. Sang gadis meminta pada temannya itu agar dia tidak menceritakan apa yg telah terjadi padanya. Sejak saat itu, tak ada lagi kabar tentang tunangannya itu.

Setahun telah berlalu dan temannya datang dengan sebuah amplop, berisikan surat undangan pernikahan mantan tunangannya itu. Sang gadis itu hancur hatinya, ketika dia membuka suratnya, dia melihat namanya disebutkan di dalamnya.

Ketika dia akan bertanya pada temannya apa yg sedang terjadi, dia melihat tunangannya berdiri di depannya. Dengan bahasa isyarat dia berkata "Aku telah menghabiskan 1 tahun untuk belajar bahasa isyarat untuk memberitahumu bahwa aku tidak melupakan janji kita. Biarkan aku menjadi suaramu. Aku mencintaimu." Dengan itu, dia menyelipkan cincin ke jari sang gadis. Akhirnya sang gadis bisa tersenyum.

Sumber : Indowebster

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger