Saturday, May 31, 2014

3 Rahasia Allah

- 0 komentar
Allah itu merahasiakan 3 hal dibalik 3 hal lainnya:
1. Allah merahasiakan ridhoNya pada ketaatanNya.
Jangan pernah menyepelekan perintah Allah yang paling sederhana. Siapa tahu, dibalik perintahNya yang paling kecil pun, tersimpan keridhoan Allah yang paling besar kepada kita.
2. Allah merahasiakan murkaNya pada kemaksiatan terhadapNya.
Jangan pernah menyepelekan sebuah kemungkaran/kemaksiatan, sekecil apapun. Karena siapa tahu, dibalik kemaksiatan kecil yang kita lakukan, tersimpan kemurkaan Allah yang paling besar kepada kita.
3. Allah merahasiakan kekuasaanNya pada hambaNya.
Jangan pernah menyepelekan dan meremehkan seseorang. Karena siapa tahu, dibalik kesederhanaan seseorang, tersimpan kekuasaan Allah yang mutlak.

(Imam Ja'far Shodiq).
[Continue reading...]

Ketika Kita Disapa Allah

- 0 komentar
Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yg lagi bekerja di bawah...

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor...

Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, ALLAH selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.

Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada NYA

Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang,
Bahkan kita selalu bilang ••• kita lagi "HOKI!"

Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik Allah.

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah ...! agar kita mau menoleh kepada-NYA.

Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada NYA sebelum Allah melemparkan batu kecil.

Semoga Bermanfaat ...
[Continue reading...]

60 Sahabat Nabi: Amr Ibnul Jamuh, "Dengan Cacat Pincangku Ini, Aku Bertekad Merebut Surga

- 0 komentar

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Amr bin Haram, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun binti ‘Amara Ibnul Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah ….

Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Agabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah per­wira….

Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madi­nah, menyediakan di rumah masing-masing duplikat berhala­ berhala besar yang terdapat di tempat-tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan ke­dudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin, Amr bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.

Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka menyelinap ke dalam rumah, lalu meng­ambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lobang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya. Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempatnya yang biasa, maka dicarinyalah berhala itu dan akhirnya ditemu­kannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, lalu bentaknya:
“Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kita malam tadi?
Kemudian dicuci dan dibersihkannya berhala itu dan diberinya wangi-wangian.

Malam berikutnya, berdua Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti pada malam se­belumnya. Demikianlah pula pada malam-malam selanjutnya. Dan akhirnya setelah merasa bosan, Amar mengambil pedangnya lalu menaruhnya di leher Manaf, sambil berkata: “Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Amr tidak menemukan berhala­nya di tempat biasa … tetapi ditemukannya kali ini di tempat pembuangan hajat itu tidak sendirian, berhala itu terikat bersama bangkai seekor anjing dengan tali yang kuat. Dan selagi ia dalam keheranan, kekecewaan serta amarah, tiba-tiba datanglah ke tempatnya itu beberapa orang bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka meng­ajak akal budi dan hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguh­nya, Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi, yang tidak satupun yang menyamai-Nya. Begitupun tentang Muhammad saw. orang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan ini untuk memberi bukan untuk menerima, untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Dan mengenai Agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari belenggu,  segala macam belenggu  dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.

Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya . . . . Beberapa saat kemudian ia pergi, dibersihkan­nya pakaian dan badannya lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri, kemudian dengan kening tegak dan jiwa bersinar ia pergi untuk bai’at kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa orang-orang seperti Amr ibnul Jamuh, yang merupakan pemimpin dan bangsawan di kalangan suku bangsanya, kenapa mereka sampai mempercayai berhala-berhala itu sedemikian rupa . . . ? Kenapa akal fikiran mereka tak dapat menghindarkan diri dari kekebalan dan ke­tololan itu . . . ? Dan kenapa sekarang ini . . . setelah mereka menganut Islam dan memberikan pengorbanan . . . kita meng­anggap mereka sebagai orang-orang besar . . . ?

Di masa sekarang ini, pertanyaan seperti itu mudah saja timbul, karena bagi anak kecil sekalipun tak masuk dalam akal­nya akan mendirikan di rumahnya barang yang terbuat dari kayu lalu disembahnya . . . , walaupun masih ada para ilmuwan yang menyembah patung.
Tetapi di zaman yang silam, kecenderungan-kecenderungan manusia terbuka luas untuk menerima perbuatan-perbuatan aneh seperti itu di mana kecerdasan dan daya fikir mereka tiada berdaya menghadapi arus tradisi kuno tersebut ….

Sebagai contoh dapat kita kemukakan di sini, Athena. Yakni Athena di masa Perikles, Pythagoras dan Socrates! Athena yang telah mencapai tingkat berfikir yang menakjubkan, tetapi seluruh penduduknya, baik para filosof, tokoh-tokoh pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat, dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan! Sebabnya ialah karena rasa keagamaan di masa-masa yang telah jauh berselang itu tidak mencapai garis yang sejajar dengan ketinggian alam fikiran mereka ….

Amr ibnul Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah Rabbul-Alamin. Dan walaupun dari semula ia telah berbai’at pemurah dan dermawan, tetapi Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh harta kakayaannya diserahkannya untuk Agama dan kawan-kawan seperjuangannya.

Pernah Rasulullah saw. menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya: “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?” Ujar mereka: “Al-Jaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir ……. Maka sabda Rasulullah Pula: “Apa lagi penyakit yang lebih parah dari kikir! Kalau begitu pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh … ! “

Demikianlah kesaksian dari Rasulullah saw. ini merupakan penghormatan besar bagi Amr . – . ! Dan mengenai ini seorang penyair Anshar pernah berpantun:
“Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya meraja­lela, Dan memang wajar, bila ia dibiarkan berkuasa, Jika datang permintaan, dilepasnya kendali hartanya, Silakan ambil, ujarnya, karena esok ia akan kembali berlipat ganda!”

Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya . . . ! Tetapi. bagaimana caranya … ? Kakinya yang pincang menjadi penghalang baginya untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putra, semuanya beragama Islam dan semuanya ksatria bagaikan singa, dan ikut bersama Nabi saw. dalam setiap pepe­rangan Serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan ….

Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan per­alatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebas­kan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidak mampu­an disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diidzinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Sekarang datanglah saatnya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw. memohon kepadanya agar diidzinkan turut, katanya: “Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga .. . !”
Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi saw. mem­berinya idzin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku . . . !”

Dan kedua pasukan pun bertemulah di hari Uhud itu …Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan me­nebaskan pedangnya kepada tentara penyebar kesesatan dan pasukan syirik . . . .
Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat dan berjingkat, dan sekali lompat pedangnya me­nyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. la terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga.

Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid, dan ia yakin bahwa Allah swt. pastilah akan mengabul­kannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw. itu tahu bagai­mana caranya memilih shahabat dan bagaimana Pula mendidik dan menempa manusia ….
Dan saat yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat  . . , memaklumkan datangnya saat keberangkatan . . . , yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi … !

Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka,Rasulullah saw. mengeluarkan perintah yang telah kita dengar dulu, yaitu:
“Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan bersayang-sayangan … !”
Kedua shahabat yang bersayang-sayangan dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pang­kuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci, setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

Dan setelah berlalu masa selama 46 tahun di pemakaman dan penyatuan mereka, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan, disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Mu’awiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada. Kiranya mereka sebagai dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: “Jasad mereka menjadi lembut, dan ujung-ujung anggota tubuh mereka jadi melengkung … !”

Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia pergi memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh …. Kiranya mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak . . . . Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridla dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu….
Apakah anda sekalian merasa heran . . . ? Tidak, jangan tuan-tuan merasa heran . . . ! Karena jiwa-jiwa besar yang suci lagi bertaqwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediam­annya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab-sebab kelapukan dan mengatasi bencana-bencana tanah….


[Continue reading...]

Friday, May 30, 2014

Dari Hujung Galuh Sampai Ke Surabaya

- 0 komentar
Dengan perasaan tak menentu, Meng Khi (ada yang menulis, Meng Qi) pulang kembali ke negerinya. Utusan kaisar Kubilai khan ini merasa harga diri dan bangsanya seakan ditampar, dicampakkan, dihina, direndahkan dan diinjak-injak oleh Kertanegara, raja Singashari. Dengan muka penuh luka dan daun telinga terpotong, Meng Khi melaporkan kegagalan misinya di Jawadwipa. Pesan yang dibawa Meng Khi untuk Kubilai Khan sangat jelas, Singashari menolak untuk tunduk dan patuh kepada kekaisaran Mongol ! Melihat utusannya diperlakukan dengan begitu keji oleh Kertanegara, amarah Kubilai Khan langsung memuncak. Segera dia memerintahkan ekspedisi besar-besaran untuk kembali ke Jawadwipa. Tujuan ekspedisi ini juga sangat jelas, memberi palajaran, menghukum dan menaklukkan Kertanegara !

Kubilai Khan mengutus tiga panglima perangnya sekaligus untuk memimpin ekspedisi besarnya ini, Shih Pi (ada yang menulis, Shin Bi), Ike Mese (ada yang menulis, Yikomusu) dan Kau Hsing (ada yang menulis, Gao Xing). Awal tahun 1293, armada prajurit Mongol merapat di palabuhan Tuban (ada yang menulis, sempat merapat di Rembang). Dari Tuban, prajurit Mongol berpencar. Ada yang masuk ke Singshari lewat darat, ada yang lewat pelabuhan Ujung Galuh (ada yang menulis, Hujung Galuh).
Ketika pasukan Mongol dalam perjalanan menuju Jawadwipa, di Singashari terjadi perebutan kekuasaan. Kertanegara ditaklukkan oleh Jayakatwang dan mengangkat dirinya sebagai raja baru Singashari. Raden Wijaya, salah satu menantu Kertanegara, mengungsi ke hutan Tarik (sekarang daerah Trowulan, Mojokerto) untuk menyusun kekuatan merebut singgasana Jayakatwang. Meskipun penguasa Singashari sudah berpindah dari Kertanegara ke Jayakatwang, hal ini tidak menyurutkan niat pasukan Mongol untuk memberi pelajaran raja Singashari, siapa pun dia. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya mengajak pasukan Mongol “berkoalisi” untuk menyerang Jayakatwang, dengan imbalan -jika berhasil- Raden Wijaya akan tunduk kepada kekaisaran Mongol. Pasukan Mongol setuju dengan ajakan Raden Wijaya. Akhirnya pasukan koalisi dengan cepat dapat mengalahkan Jayakatwang. Merasa tujuan misinya ke Jawadwipa telah berhasil, pasukan Mongol merayakan kemenangannya di Ujung Galuh. Di tengah kemeriahan pesta kemenangan tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh serangan mendadak dari pasukan Raden Wijaya. Serangan mendadak ini membuat pasukan Mongol kocar-kacir dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Mongol. Dengan perginya pasukan Mongol, Raden Wijaya muncul sebagai penguasa baru Jawadwipa dan mendirikan kerajaan Majapahit.

Menurut G. Coedes dalam bukunya “The Indianized State of South East Asia”, pengusiran pasukan Mongol ini terjadi pada tanggal 31 Mei 1293. Mungkin catatan inilah yang dijadikan dasar penentuan hari jadi kota Surabaya. Lalu dari mana asalnya nama Ujung Galuh berubah menjadi Surabaya ?

Beragam versi mengenai asal usul nama Surabaya ini. Dalam bukunya yang berjudul “Asal Usul Surabaya”, (penerbit Bintang Indonesia, Jakarta) MB Rahimsyah AR menulis, antara lain :

Surabaya berasal dari binatang hiu Sura dan buaya Baya yang memperebutkan wilayah kekuasaan masing-masing. Hiu menginginkan berkuasa di air dan buaya berkuasa di darat. Perebutan kekuasaan terjadi di sungai. Hiu menganggap sungai merupakan wilayah kekuasaannya karena sungai sama dengan air, sedangkan buaya menganggap sungai ada di daratan. Karena sama-sama tidak mau mengalah, maka terjadilah pertarungan yang sangat seru antara hiu dan buaya. Pertarungan diakhiri dengan kembalinya hiu ke laut lepas.
Sura berarti jaya atau selamat, sedangkan baya berarti bahaya. Selamat dari bahaya. Hal ini didasarkan pada peristiwa Ujung Galuh di atas. Raden Wijaya berhasil menyelamatkan tanah Jawadwipa dari bahaya penjajahan bangsa Mongol.
Terkait dengan nomor 2 di atas. Sura (ikan hiu) dilambangkan sebagai bahaya dari laut (pasukan Mongol) dan baya (buaya) dilambangkan sebagai prajurit Raden Wijaya yang berhasil mengusir pasukan Mongol.
Konon pada saat peperangan melawan pasukan Mongol tersebut terdapat dua orang prajurit Raden Wijaya yang bernama Jaka Sura dan Jaka Baya. Kedua prajurit tersebut sangat sakti dan beranggapan berkat kontribusi mereka berdualah pasukan Mongol berhasil diusir keluar Jawadwipa. Baik Jaka Sura dan Jaka Baya menganggap dirinya yang paling kuat dan sakti. Karena kesombongannya, oleh seorang tua yang sakti mereka berdua dikutuk, Jaka Sura berubah jadi ikan hiu dan Jaka Baya berubah jadi buaya. Hiu dan buaya itu akhirnya berkelahi sampai akhirnya keduanya mati.
Selain beberapa versi di atas, ada juga yang mengatakan bahwa kata Surabaya itu berasal dari gabungan kata Sura dan Baya, yang diartikan secara bebas sebagai Sura ing Baya (baca Suro ing Boyo) atau “berani menghadapi bahaya atau tantangan”.

Dalam bukunya yang berjudul “Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia : Mitos Cura-Bhaya” (Balai Pustaka, 1983), Soenarto Timoer menuliskan bahwa nama Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama Hujung Galuh, karena perubahan nama menunjukkan suatu motif. Motif dapat pula menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujung Galuh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.

Dilihat dari nama “Hujung” atau ujung tanah yang menjorok ke laut atau tanjung. Dapat dipastikan wilayah ini berada di tepi laut atau pantai. “Galuh” artinya emas. Dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak disebut “Wong Anggaluh” atau “Kemasan”. Dalam purbacaraka “Galuh” sama artinya dengan perak. Hujung Galuh atau Hujung Emas bisa juga disebut dengan Hujung Perak yang kemudian menjadi “Tanjung Perak” yang terletak di muara sungai atau kali emas (Kalimas). Kemungkinan besar Tanjung Perak sekarang itulah yang dulunya bernama Hujung Galuh. Prasasti Klagen juga menyebutkan bahwa Hujung Galuh sebagai jalabuhan atau tempat bertemunya pedagang antar pulau yang melakukan bongkar muat barang dengan perahu.

Sejak kapan nama Hujung Galuh berubah menjadi Surabaya ? Tidak ada yang bisa memastikan karena sampai sekarang belum ditemukan prasasti atau data otentik yang menyebutkan perubahan nama Hujung Galuh menjadi Surabaya. Mitos dan mistis sudah sejak lama berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Maka mitos cura-bhaya yang dikaitkan dengan nama Surabaya sekarang tentunya dapat dihubungkan pula dengan mitologi dalam mencari hari jadi kota Surabaya.

Bencana alam meletusnya gunung Kelud tahun 1334 membawa korban cukup banyak. Peristiwa ini mengakibatkan terjadinya perubahan di muara Sungai Brantas dan anak sungainya, Kalimas. Garis pantai Hujung Galuh bergeser ke utara. Kemudian timbul pikiran mistis yang mengingatkan kembali pada pertarungan penguasa lautan melawan penguasa daratan, hiu cura melawan buaya (bhaya). Dalam dunia mistis untuk mengakhiri pertarungan antara penguasa lautan dengan penguasa daratan, maka digabungkan namanya dalam satu kata Cura-bhaya atau Surabaya.

Bagaimana pun juga, mitos ikan hiu dan buaya yang sekarang menjadi lambang kota Surabaya, hanyalah merupakan sepercik versi lokal. Jadi mitos cura-bhaya hanya berlaku di Hujung Galuh. Cura-bhaya adalah nama baru pengganti Hujung Galuh sebagai wujud pujian kepada sang Cura mwang Bhaya, yang menguasai lautan dan daratan. Demikian tulis Soenarto Timoer.

Terlepas dari versi mana yang dianggap betul, yang jelas hari ini kota Surabaya merayakan hari jadinya.

“Selamat Merayakan Hari Jadi Yang ke 721, Surabaya. Semoga Dirgahayu”

sumber: kompasiana
[Continue reading...]

Wednesday, May 28, 2014

60 Sahabat Nabi: Abu Jabir, Abdullah bin Amr bin Haram, Seorang Yang Dinaungi Oleh Malaikat

- 0 komentar

Sewaktu orang-orang Anshar yang 70 orang banyaknya itu, mengangkat bai’at kepada Rasulullah saw. pada bai’at ‘Aqa­bah II, maka Abdullah bin Amr bin Haram, (Abu Jabir bin Abdullah) termasuk salah seorang di antara mereka ….
Dan tatkala Rasulullah saw. memilih di antara perutusan itu beberapa orang wakil, juga Abdullah bin Amr terpilih sebagai salah seorang di antara wakil-wakil mereka . . . , ia diangkat oleh Rasulullah sebagai wakil dari kaum Bani Salamah.

Dan setelah ia kembali ke Madinah, maka jiwa raga, harta benda dan keluarganya, dipersembahkannya sebagai baktinya terhadap Agama Islam. Apalagi setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, maka Abu Jabir menemukan nasib bahagianya dengan selalu bertemankan Nabi, baik siang maupun malam ….

Di perang Badar, ia turut menjadi  pejuang dan bertempur sebagai layaknya kesatria. Dan di perang Uhud sebelum Kaum Muslimin berangkat perang, telah terbayang-bayang juga di ruang matanya bahwa ia akan jatuh sebagai korban. Suatu perasaan kuat meliputi dirinya bahwa ia takkan kembali, me­nyebabkannya bagaikan terbang karena suka cita. Maka dipanggil­nya putranya Jabir bin Abdullah, seorang shahabat Nabi yang mulia, lalu pesannya: “Ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini . . . . bahkan mungkin menjadi syahid pertama di antara Kaum Muslimin. Dan demi Allah, ayahanda takkan rela mencintai seorang pun selain Rasulullah lebih besar dari anakanda . . . ! Selain itu sebetulnya ayahanda ini mempunyai utang, maka bayarkanlah oleh anakanda, dan pesankanlah kepada saudara-saudara anakanda, agar mereka suka berbuat baik … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Kaum Muslimin berangkat hendak menghadapi orang-orang Quraisy, yakni orang-orang Quraisy yang datang dengan pasukan besar, dengan tujuan hendak menyerang kota mereka yang aman tenteram.
Pertempuran sengit pun terjadilah. Pada mulanya Kaum Muslimin memperoleh kemenangan kilat, yang sedianya akan dapat meningkat menjadi kemenangan telak, seandainya pasukan panah yang diperintahkan Nabi agar tetap berada di tempat dan tidak meninggalkannya selama peperangan masih berlang­sung, terpedaya melihat kemenangan terhadap Quraisy ini, hingga mereka meninggalkan kedudukan mereka di atas bukit, lalu berlomba-lomba mengumpulkan harta rampasan dan me­rebutnya dari musuh yang kalah ….

Tetapi demi dilihat musuh bahwa garis pertahanan Kaum Muslimin terbuka lebar, musuh yang mulanya mengalami ke­kalahan itu, segera menghimpun siaa-siaa kekuatan mereka, kemudian secara tidak terduga menyerang Kaum Muslimin dari belakang, hingga kemenangan mereka sebelumnya sekarang berubah menjadi kekalahan ….
Dalam pertempuran yang amat dahsyat ini, Abdullah ber­tempur dengan gagah berani, ia menghabiskan segala kemam­puannya dalam membela Agama Allah. Pertempuran ini bagi Abdullah merupakan pertempuran terakhir dalam mencapai syahidnya . . . . Tatkala perang telah usai dan Kaum Muslimin meninjau para syuhada, Jabir bin Abdullah pergi mencari ayah­nya, hingga ditemukannya di antara para syuhada itu. Dan sebagai dislami oleh pahlawan-pahlawan lain, mayatnya telah dicincang oleh orang-orang musyrik ….

Jabir dan sebagian keluarganya berdiri menangisi syahid Islam Abdullah bin Amr bin Haram. Dan sementara mereka menangisinya itu lewatlah Rasulullah saw. maka sabdanya: Kalian tangisi ataupun tidak … !, para Malaikat akan tetap menaunginya dengan sayap-sayapnya …

Keimanan Abu Jabir merupakan keimanan yang teguh dan cemerlang . . . . Kecintaan  bahkan kegemarannya … terhadap mati di jalan Allah, adalah puncak keinginan dan cita-citanya.
Setelah Abu Jabir wafat, Rasulullah saw. pernah men­ceritakan suatu berita penting yang melukiskan kegemaran Abu Jabir untuk mati syahid ini. Kata Rasulullah pada suatu hari kepada putranya, bernama Jabir: “Hai Jabir! Tidak seorang pun yang dibawa berbicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir. Tapi Allah telah berbicara secara langsung dengan bapakmu ….
“Firman-Nya kepadanya: “Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberi . . . !”Maka ujarnya: “Ya Tuhan­ku! kumohon kepada-Mu agar aku dikembalikan ke dunia, agar aku dapat mati syahid sekali lagi … !” Firman Allah padanya: “Telah terdahulu ketentuan daripada-Ku, bahwa mereka tidak akan dikembalikan lagi . . . !” “Kalau begitu oh Tuhan” “mohon sampaikan kepada orang-orang di belakangku, ni’mat karunia yang Engkau limpahkah kepada karni… !”Hadits Qudsi. 
Maka Allah Ta’ala pun menurunkan ayat:  “Dan janganlah halian mengira bahwa orang-orang yanggugur di jalan Allah itu mati, tetapi sesungguhnya mereka itu hidup dan diberi rizqi di sisi Tuhan mereka. Merekabersuka ria dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka dan menyampaikan berita gembira kepada orang­orang di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa mereka tidah merasa takut dan tidah pula berdukacita!”(Q.S. 3 Ali Imran: 169 — 170)

Tatkala Kaum Muslimin berusaha mengenali syuhada mereka yang budiman setelah usainya perang Uhud . .. , dan tatkala keluarga Abdullah bin Amr telah mengenali mayatnya, maka isterinya menaikkannya ke atas untanya berikut dengan mayat saudaranya yang juga menemui syahid, dengan maksud akan membawanya ke Madinah untuk dimakamkan di sana. Demikian pula dilakukan oleh sebagian Kaum Muslimin terhadap keluarga­keluarga mereka yang tewas.

Tetapi seorang juru bicara Rasulullah saw. menghubungi mereka dan menyampaikan perintahnya: “ Makamkan oleh kalian para korban di tempat mereka tewas!”
Maka kembalilah mereka dengan membawa syahid masing­-masing, dan Nabi saw. pun berdiri mengawasi pemakaman para shahabatnya yang telah syahid, yang telah memenuhi apa yang mereka janjikan kepada Allah dan mengorbankan nyawa mereka yang berharga demi bakti mereka kepada Allah dan Rasul­Nya….

Dan tatkala datanglah giliran pemakarnan Abdullah bin Haram, Rasulullah saw. pun menyerukan: “Kuburkan Abdullah bin Amir ibnul jarah di satu liang! Selagi di dunia mereka adalah dua orang sahabat yang saling sayang menyayangi.
Dan . . . sekarang sementara orang menyiapkan makam keramat untuk menyambut kedua syuhadah yang mulia itu, marilah kita layangkan pandangan kepada syahid yang ke dua yaitu Amr Ibnul Jarah.


[Continue reading...]

Tuesday, May 27, 2014

10 Cara Menikmati Sholat

- 2 komentar
Bila kau anggap sholat itu hanya sebagai penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.
Bila kau anggap sholat itu hanya sebatas kewajiban, maka kau tak akan menikmati kehadiran Allah Swt saat kau mengerjakannya.
Jika kau ingin menikmati sholat dengan sesungguhnya:
1. Anggaplah sholat itu pertemuan yang kau nanti-nanti dengan Tuhanmu
2. Anggaplah sholat itu sebagai cara yang terbaik kau bercerita kepada Tuhanmu
3. Anggaplah sholat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Tuhanmu
4. Anggaplah sholat itu sebagai seriusnya kau dalam bermimpi
5. Bayangkan ketika suara adzan berkumandang, "tangan" Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat denganNya
6. Bayangkan ketika kau takbir, Allah melihatmu, Allah senyum untukmu, dan Allah bangga terhadapmu.
7. Bayangkan ketika kau ruku', Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhanNya
8. Bayangkan ketika kau sujud, Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu, "Aku mencintaimu hambaKu".
9. Bayangkan ketika kau duduk diantara dua sujud, Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan," Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu".
10. Bayangkan ketika kau mengucap salam, Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah usai sholat.

Semoga 10 cara menikmati sholat ini bisa memotivasi kita, khususnya penulis pribadi, dalam kekhusyukan dan kebaikan beribadah. Amin
[Continue reading...]

60 Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Apa Sebabnya Anda Menangis, Hai Abu Muhammad?

- 0 komentar

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal­-gumpal hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan raya.

Orang banyak menyangka ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.
Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan meng­himbau menyaksikan keramaian ini Serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu . . .

Ummul Mu’minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: “Apakah yang telah terjadi di kota Ma­dinah . . . ?” Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagang­annya . . . . Kata Ummul Mu’minin lagi: “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’- minin .. . karena ada 700 kendaraan … !”

Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandang­nya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadi­an yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Kemudian katanya: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: —
“Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahanl”

Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. . . ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul . . . ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah ke­padanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya. Kemudian ulasnya lagi: “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla !” Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai per­buatan baik yang maka besar ….

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurrahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah . . . ! Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang mem­baktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pem­berian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela …

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing .. .. Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah saw. memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang­orang Mu’min . . .

Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam …. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Aw­wam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu­raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui Rasulullah saw. menyata­kan bai’at dan memikul bendera Islam . . . .

Dan semenjak keIslamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuh puluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

Dan Umar r.a. mengangkatnya pula sebagai anggota kelom­pok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: “Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!”

Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menderitakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy . . . . Dan sewaktu Nabi saw., memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Habsyi, Ibnu ‘Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah . . . . ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya . . . .

Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya:
“Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niacaya kutemukan di bawahnya emas dan perak … !”
Perniagaan bagi Abdurrahman bin ‘Auf r.a. bukan berarti rakus dan loba . . . . Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya ….

Dan Abdurrahman bin ‘Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya …. Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilah­nya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan.

Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah …. Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.

Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin . . . , sampai-sampai soal rumah tangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk memperisteri saudaranya … !
Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ . . . Dan marilah kita dengarkan shahabat yang mulia Anas bin Malik r.a. meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi:

” . . . dan berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman: “Saudara­ku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhati­an anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memper­isterinya … !”
Jawab Abdurrahman bin ‘Auf: “Moga-moga Allah member­kati anda, istri dan harta anda! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga . . . !”
Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana … ia pun beroleh keuntungan … !

Kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf di Madinah baik semasa Rasulullah saw. maupun sesudah wafatnya terus meningkat …. Barang apa saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok per­niagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini dituju­kan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak … !

Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat …. Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri . . . tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat­tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyedia­kan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam ….

Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin ‘Auf itu dapat diperkirakan apabila kita memperhatikan nilai dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul’alamin! Pada suatu hari ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:—
“Wahai Ibnu ‘Auf! anda termasuk golongan orang kaya … dan anda akan masuk surge secara perlahan-lahan . . . ! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda … !

Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyedia­kan bagi Allah pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.
Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, ke­mudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para istri Nabi dan untuk kaum fakir miakin.

Diserahkannya pada suatu hari lima ratus ekor kuda untuk perlengkapan bala tentara Islam . . . dan di hari yang lain seribu lima ratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat limapuluh ribu dinar untuk jalan Allah, lalu diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan r.a. yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya:
“Harta Abdurrahman bin ‘Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat”.

Ibnu ‘Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya . . .. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpul­kannya dan tidak pula dengan menyimpannya . . . . Bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal …. Kemudian ia tidak menikmati sendirian . . . . tapi ikut menik­matinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudara­-saudaranya dan masyarakat seluruhnya. 

Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang:
“Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin ‘Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka . . . . Sepertiga lagi dipergunakannya untuk mem­bayar hutang-hutang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka”.Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela Agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu . . . !

Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum – . . . Sewaktu pan­dangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makan­nya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh:
“Mush’ab bin Umeir telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka ke­palanya!
Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihampar­kan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami … !”

Pada suatu peristiwa lain sebagian shahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis karena itu mereka bertanya: “Apa sebabnya anda menangis, wahai Abu Muhammad . .. ?”
Ujarnya: “Rasulullah saw. telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita … ?”

Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikit pun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya, Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya: “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-­pelayannya, niacaya ia tak akan sanggup membedakannya diantara mereka!”

Tetapi bila orang asing itu mengenal satu segi saja dari per­juangan Ibnu ‘Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahui bahwa di badannya terdapat duapuluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacad pincang yang tidak sembuh-sembuh pada salah satu kakinya . . . sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya . . . . Di waktu itulah orang baru akan me­nyadari bahwa laki-laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang Serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf . . . ! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah . . . !

Sudah menjadi kebiasaan pada tabi’at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan . . . artinya bahwa orang­orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakan, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan me­mentingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkit­kan oleh kekayaan . . . !

Tetapi bila kita melihat Abdurrahman bin ‘Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi’at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik … !

Peristiwa ini terjadi sewaktu Umar bin Khatthab hendak berpisah dengan ruhnya yang suci dan ia memilih enam orang tokoh dari para shahabat Rasulullah saw. sebagai formateur agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru ….

Jari-jari tangan sama-sama menunjuk dan mengarah ke Ibnu ‘Auf . . . . Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak dengan khalifah di antara yang enam itu, maka ujarnya: “Demi Allah, daripada aku me­nerima jabatan tersebut, lebih baik ambil pisau lalu taruh ke atas leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus ke se­belah . . . !”

Demikianlah, baru saja kelompok Enam formateur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan al ­Faruk, Umar bin Khatthab maka kepada kawan-kawannya yang lima dinyatakannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai salah seorang dari enam orang colon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dan adalah kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas di antara mereka yang berlima saja ….

Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin ‘Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara. Imam Ali mengatakan:
“Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi . . . !” Oleh Ibnu ‘Auf dipilihlah Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya.

Nah, inilah hakikat seorang laki-laki yang kaya raya dalam Islam! Apakah sudah anda perhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya itu dan bagaimana ia menempa kepribadian­nya dengan sebaik-baiknya?

Dan pada tahun ketigapuluh dua Hijrah, tubuhnya berpisah dengan ruhnya …. Ummul Mu’minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain, maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring di ranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di pe­karangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. . ..

Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut . . . !
Dahulu ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Madh’un, yakni bila salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain maka hendaklah ia dikubur­kan di dekat shahabatnya itu …Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak meng­ucapkan kata-kata:
“Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari shahabat­ shahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah … !”

Tetapi sakinah dari Allah segera menyelimutinya, lalu satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan sukacita yang memberi cahaya Serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa .. . . Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu . . . . seolah-olah ada suara yang lembut merdu yang datang men­dekat ….

Ia sedang mengenangkan kebenaran sabda Rasulullah saw. yang pernah beliau ucapkan: “Abdurrahman bin ‘Auf dalam surga!”, lagi pula ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya:
“Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niacaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita … !”

(Q.S. 2 al-Baqarah: 262)
[Continue reading...]

Monday, May 26, 2014

60 Sahabat Nabi: Usaid Bin Hudhair, Pahlawan Hari Saqifah

- 0 komentar

Ia mewarisi akhlaq mulia dari nenek moyangnya turun­ temurun . . . . Ayahnya Hudlairul Kata’ib adalah seorang pe­mimpin Aus dan termasuk salah seorang bangsawan Arab di zaman jahiliyah, dan salah seorang hulubalang mereka yang perkasa . . . .Seorang penyair pernah berpantun mengenai ayahnya ini:
“Andainya maut mau menghindar dari orang perkasa niscaya ia akan membiarkan Hudlair ketika ini menutupkan pintunya Ia hanya akan berkeliling, sampai malam datang menjelma Lalu mengambil tempat duduk dan berdendang dengan asyiknya”.

Usaid mewarisi ketinggian martabat ayahnya; ia adalah salah seorang pemimpin Madinah dan bangsawan Arab dan pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya. Sewaktu Islam telah memilih dirinya dan ia ditunjuki ke jalan yang mulia lagi terpuji bertambah memuncaklah kemuliaannya, dan bertambah tinggi martabatnya, yakni di kala ia mengambil kedudukan menjadi salah seorang pelopor penganut Agama Islam dan pembela Allah serta pembela Rasul-Nya .. .

Sewaktu Rasulullah mengirim Mush’ab bin Umeir ke Madinah untuk mengajari orang-orang Muslimin Anshar yang telah meng­angkat bai’at kepada Nabi untuk membela Islam di Baitul Aqabah yang pertama, dan untuk menyeru orang-orang lain kepada Agama Allah .. pada waktu itu Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Muadz, kedua-duanya adalah pemimpin kaum­nya  duduk merundingkan tentang perantau asing yang datang dari Mekah mengenyampingkan agama mereka serta menyeru kepada Agama baru yang belum mereka kenal ….

Di majlis Mush’ab dan As’ad bin Zurarah ini, Usaid melihat banyak orang yang dengan penuh minat dan perhatian men­dengarkan kalimat-kalimat petunjuk yang mengajak mereka kepada Allah yang diserukan Mush’ab bin Umeir . . . . Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Usaid yang melampiaskan segala kemarahan dengan berangnya …. Mush’ab lalu berkata: “Sudikah anda duduk mendengarkannya? Bila ada sesuatu yang menyenangkan anda, anda dapat menerimanya, dan jika anda tidak menyukainya, kami hentikan apa yang tidak anda sukai itu … !”

Usaid adalah seorang yang cemerlang otaknya, tenang hati­nya, sehingga digelari oleh penduduk Madinah dengan al-Kamil, si “sempurna” . . . yakni gelar yang dimiliki ayahnya dulu  . . . Maka tatkala diperhatikannya Mush’ab mengandalkan hukum logika dan akal itu, ditancapkannya tombaknya ke tanah, lalu berkata kepada Mush’ab:  “Benar kata anda itu! Nah, cobalah anda kemukakan apa yang ada pada anda!”

Mush’ab lalu membacakan ayat-ayat al-Quran dan men­jelaskan seruan Agama baru ini . . . , Agama yang haq, dan Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk menyampaikan dan mengibarkan benderanya. Orang-orang yang menghadiri majlis ini sama mengatakan: “Demi Allah sebelum mengucapkannya telah terlihat pada wajah Usaid sikap keislamannya …… Kita mengenalnya pada cahaya muka dan sikap lunaknya … !”

Belum lagi selesai Mush’ab dengan pembicaraannya, Usaid pun berseru dengan amat terkesan: “Alangkah baiknya kata­-kata ini dan alangkah indahnya . .. ! Apa yang kalian lakukan bila kalian hendak masuk Agama ini . . . !’ Jawab Mush’ab:
“Anda bersihkan badan, pakaian, dan ucapkan syahadat yang haq, kemudian anda shalat . . . !”

Sesungguhnya kepribadian Usaid, benar-benar kepribadian yang lurus, kuat dan murni, begitu ia mengenal jalannya, ia tidak ragu-ragu lagi maju melangkah menyambutnya dengan kebulatan hati …. Usaid tegak berdiri untuk menerima Agama yang telah membuka pintu hatinya dan menyinari dasar jiwanya, lalu ia mandi dan membersihkan diri, kemudian sujud kepada Allah Tuhan semesta alam, menyatakan keislamannya dan menyampaikan perpisahan kepada masa-masa kemusyrikan dan jahiliyah . . . !

Kewajiban Usaid sekarang ini ialah segera kembali kepada Sa’ad bin Mu’adz, untuk menyampaikan laporan dari tugas yang dibebankan kepadanya semula . . . yaitu untuk mengancam Mush’ab bin Umeir dan mengusirnya . . . . Dan iapun kembalilah kepada Sa’ad .. .. Belum lagi Usaid sampai ke dekat mereka, Sa’ad mengatakan kepada orang-orang sekelilingnya: “Aku ber­sumpah, sungguh Usaid telah datang sekarang ini, tetapi dengan air muka yang berlainan dari sewaktu ia pergi tadi … !” Benar . . . ia pergi dengan muka yang masam berkerut dengan rasa amarah dan permusuhan, dan kembali dengan wajah yang di­liputi rahmat dan nur, sakinah kedamaian … !

Usaid memutuskan akan mempergunakan kecerdikannya. . .la tahu benar bahwa Sa’ad bin Mu’adz sama betul dengan dirinya tentang kebersihan jiwa, kekerasan kemauan, ketenangan berfikir dan ketepatan penilaian …. Dan ia mengetahui bahwa tak akan ada penghalang antaranya dengan Islam sesudah men­dengar sendiri apa yang telah didengarnya tadi tentang kalam Allah, yang begitu baik dibacakan dan diuraikan kepada mereka oleh utusan Rasulullah, Mush’ab bin Umeir . .  .

Tetapi seandainya dikatakannya kepada Sa’ad: “Sebenarnya aku telah masuk Islam, pergilah pula kamu masuk Islam”, niscaya akan mengundang pertentangan yang menimbulkan akibat yang tidak diharapkan .. . . Kalau begitu, baiklah dibangkitkannya semangat keberanian Sa’ad sebagai suatu cara untuk mendorongnya pergi ke majlis Mush’ab sampai ia mendengar dan menyaksikannya sendiri . . . . Maka bagaimana jalan selanjutnya untuk mencapai ini … ?

Sebagaimana telah kita sebutkan dahulu, Mush’ab menjadi tamu di rumah As’ad bin Zurarah …sedang As’ad bin Zurarah adalah anak bibi dari Sa’ad bin Mu’adz  . . . Maka kata Usaid kepada Sa’ad: “Sungguh, aku telah mendapat berita bahwa Bani Haritsah telah berangkat ke rumah As’ad bin Zurarah hendak membunuhnya, padahal mereka tahu bahwa ia adalah anak bibinya … !”

Didorong oleh rasa amarah dan semangat pembelaan, Sa’ad bangkit langsung mengambil tombaknya dan dengan bergegas pergi ke tempat As’ad dan Mush’ab yang ketika itu sedang berkumpul bersama Kaum Muslimin lainnya . . . . Sewaktu ia sampai ke dekat majlis, ia tidak menemukan keributan ataupun kegaduhan, yang ada malah sakinah atau ketenangan yang meliputi seluruh jama’ah, sedang di tengah-tengah mereka berada Mush’ab bin Umeir membacakan ayat-ayat Allah dengan penuh khusyu’, sementara yang lain menyimakkannya dengan penuh perhatian . . . .

Ketika itu mengertilah Sa’ad akan siasat yang telah diatur Usaid untuk menjebaknya, yaitu agar ia datang ke majlis ini dan dapat mendengarkan sendiri pembicaraan Mush’ab bin Umeir sebagai utusan Islam. Dan tidak salah firasat Usaid mengenai shahabatnya! Tak lama setelah Sa’ad mendengarkan­nya, maka dibukakan Allah lah dadanya untuk menerima Islam, dan secepat kilat iapun telah mengambil kedudukannya di barisan orang-orang beriman yang mula pertama …

Dalam hati serta akal Usaid bersinar cahaya iman yang kuat …. Keimanan memberinya bekal sifat hati-hati, penyantun dan penilaian yang tepat yang menjadikannya sebagai orang kepercayaan ….

Dalam peperangan Bani Musthaliq meledaklah dendam yang terpendam di dada Abdullah bin Ubai tokoh munafiqin maka katanya kepada orang-orang sekitarnya dari penduduk Madinah: “Kalian telah menempatkan mereka di negeri kalian, dan kamu berbagi harta dengan mereka …. Ketahuilah, demi Allah, seandainya kalian tak memberikan lagi apa yang ada di tangan kalian kepada mereka niscaya mereka akan berpindah ke lain negeri, bukan negeri kalian ini! Ingat demi Allah, kalau nanti kita kembali ke Madinah, niscaya orang-orang mulia akan mengusir orang-orang yang hina dari sana . . . !”

Seorang shahabat yang mulia Zaid bin Arqam mendengar kalimat-kalimat, bahkan racun kemunafikan yang membakar ini. Karenanya menjadi kewajibannya untuk memberitahukannya kepada Rasulullah saw. Perasaan Rasul sangat tertusuk kebetulan Usaid menemui kalian, Nabi saw. pun bertanya kepadanya:
Belum sampaikah kepadamu apa yang diucapkan oleh shahabatmu?
Shahabat yang mana ya Rasulallah? Ujar Usaid.
Abdullah bin Ubai.
Ucapan apa yang anda dengar?
Katanya, seandainya ia kembali ke Madinah, maka yang mulia akan mengeluarkan yang hina daripadanya!
Demi Allah, andalah yang akan mengeluarkannya dari Madinah insya Allah . .. ! Demi Allah dialah yang rendah, dan andalah yang mulia … !

Kemudian kata Usaid pula: “Ya Rasulallah, kasihanilah dia, demi Allah, ketika Allah membawa anda kepada kami, kaumnya sedang menyiapkan mahkota untuk ditaruh di atas kepalanya karena ia akan mereka angkat menjadi raja di kota Madinah; ia memandang Islam telah merenggut kerajaan itu dari tangannya . . . !”
Dengan daya pikir yang mendalam, sikap yang tenang dan ucapan yang jelas, Usaid senantiasa berhasil memecahkan per­soalan-persoalan dengan analisa-analisanya yang nyata, tepat dan tajam ….

Di hari Saqifah, tak lama setelah wafatnya Rasulullah saw, segolongan orang Anshar yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang khilafah. Sewaktu debat dan tukar fikiran semakin panas, maka pendirian Usaid   sebagaimana kita ketahui ia adalah seorang tokoh Anshar mempunyai pengaruh besar dalam menjernihkan suasana, dan kalimat-kalimat yang diucapkannya laksana cahaya fajar di waktu subuh dalam menentukan arah ….

Usaid berdiri mengucapkan pidato yang ditujukan kepada kaumnya dari golongan Anshar, katanya:  “Tuan-tuan me­ngetahui bahwa Rasulullah saw. adalah dari golongan Muhajirin . . . ? Karenanya khalifah juga sewajarnyalah dari golongan Muhajirin! Dan sesungguhnya kita, adalah pembela Rasulullah . . . maka kewajiban kita sekarang untuk membela khalifah­nya . . . Ternyata kata-kata itu menjadi si tawar dan si dingin . . .

Usaid bin Hudlair r.a. hidup sebagai seorang ahli ibadah dan yang taat, yang mengurbankan jiwa dan hartanya di jalan kebaikan dan menjadikan wasiat Rasulullah saw. terhadap orang Anshar sebagai pedoman dan sikap hidupnya:
“Shabar dan tabahlah kalian . . . . sampai kalian men­jumpai aku di telaga surga . . . . “

Oleh karena Agama dan akhlaqnya ia dimuliakan dan dicintai Abu Bakar Shiddiq dan begitu pula la memperoleh kedudukan yang serupa di hati Amirul Mu’minin Umar dan di hati semua shahabat yang lain.

Mendengar alunan suaranya bila ia sedang membaca al­Quran seolah-olah beroleh harta rampasan yang sangat digemari oleh para shahabat. Suaranya khusyu’ mempesona dan menerangi jiwa, hingga menurut Rasulullah saw. Malaikat pernah mendekati pembacanya di suatu malam khusus untuk mendengarkan­nya….


Pada bulan Sya’ban tahun 20 Hijriah, berpulanglah Usaid . . . . Amirul Mu’minin tidak mau ketinggalan turut serta memikul sendiri jenazahnya di atas bahunya dalam mengantarkan ke makamnya. Di bawah tanah Baqi’, di sanalah para shahabat menyimpan tubuh seorang Mu’min besar. Mereka kembali ke kota dengan mengenangkan jasa-jasanya sambil mengulang ­ulang sabda Rasul yang mulia tentang dirinya: “Sebaik-baik laki-laki, Usaid bin Hudlair …
[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger