Friday, July 18, 2014

Memahami Kontroversi Pernyataan Quraish Shihab Tentang Amal Baik Dan Musabab Umat Masuk Surga

- 0 komentar
Dalam sebuah tayangan Tafsir Al Misbah beberapa waktu lalu di Metro TV, Ulama Quraish Shihab sempat melontarkan wacana yang membingungkan, sekaligus menjadi kontroversi bagi sebagian umat islam. Dalam penjelasannya tentang amal baik manusia, Quraish Shihab menjelaskan bahwa belum tentu amal baik manusia itu bisa mengantarkannya masuk surga. Karena itu adalah hak prerogatif Allah semata. Penjelasan Quraish Shihab selengkapnya adalah sebagai berikut:

"Uraian tersebut dalam konteks penjelasan bahwa amal bukanlah sebab masuk surga, walau saya sampaikan juga bahwa kita yakin bahwa Rasulullah akan begini (masuk surga).

Penjelasan saya berdasar hadist a.l.
لا يدخل احدكم الجنة بعمله قيل حتى انت يا رسول الله قال حتى
انا الا ان يتغمدني الله برحمنه
"Tidak seorang pun masuk surga k
arena amalnya. Sahabat bertanya 'Engkau pun tidak?', Beliau menjawab 'Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku'"

Ini karena amal baik bukan sebab masuk surga tapi itu hak prerogatif Allah.

Uraian di atas bukan berarti tidak ada jaminan dari Allah bahwa Rasul masuk surga. Saya jelaskan juga di TV episode yang sama bahwa Allah menjamin dengan sumpah-Nya bahwa Rasulullah SAW akan diberikan anugerah-Nya sampai beliau puas, yang kita pahami sebagai Surga dan apapun yang Beliau kehendaki. Wa la sawfa yu'thika rabbuka fa tharda."


Sayangnya, penjelasan Qurasih Shihab malah memunculkan pertanyaan baru bagi orang awam. Jika amal baik tidak menjamin masuk surga, untuk apa kemudian umat manusia diwajibkan berbuat kebajikan? Penjelasan  Quraish Shihab, yang hanya menyandarkan pada satu hadist saja juga menimbulkan pertanyaan, apakah hadist itu tidak bertentangan dengan beberapa ayat Al Quran yang menekankan pentingnya amal baik agar bisa masuk surga? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak penulis.

Untunglah ada seorang kawan yang memposting sebuah penjelasan yang sangat memuaskan. Diambil dari sebuah buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab", berikut penjelasan lengkap atas ketidakmengertian penulis tentang pernyataan Quraish Shihab diatas:

Pertanyaan:
Saya pernah mendengar seorang khatib dalam khotbah Jum'at berkata bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah. Namun ada pula para mubalig yang berkata bahwa seseorang bisa masuk surga karena amal ibadahnya. Mohon penjelasan, bagaimanakah sebenarnya?
-

Jawaban:
Mengenai masalah ini, terjadi Ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama disebabkan adanya dua dalil, yaitu Al-Qur'an dan Hadis yang secara sepintas kelihatannya bertentangan.
Menurut zhahir nash Al-Qur'an, bahwa seseorang masuk surga karena amal ibadahnya. Hal ini dapat kita temukan pada beberapa ayat dalam Al-Qur'an, antara lain:

Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS An-Nahl:32)

Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (QS Al-A'raaf:43)

Menurut zhahir nash Hadis Nabi Saw., bahwa amal ibadah itu tidak dapat memasukkan seseorang ke dalam surga, bahkan tidak pula menjauhkan seseorang dari azab api neraka, melainkan karena rahmat Allah semata.
Dalam kitab Shahih Muslim terdapat hadis yang menyebutkan:

Dari jabir, ia berkata: saya pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: "Amal saleh seseotang diantara kamu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga dan tidak dapat menjauhkannya dari azab api neraka dan tidak pula aku, kecuali dengan rahmat Allah." (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Dalam riwayat lain bunyinya begini:

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda: "Amal saleh seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga." Mereka (para sahabat) bertanya, "Hai Rasulullah, tidak pula engkau?" Rasulullah menjawab, "Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku." (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Mengenai hadis yang menyatakan bahwa seseorang masuk surga bukan karena amalnya, tetapi rahmat Allah dan karuia-Nya, kemi telah menemukan dalam kitab Shahih Muslim, lebih dari empat buah hadis banyaknya.
Sebenarnya bila dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi tersebut dianalisis agak mendalam, tidaklah terdapat pertentangan (ta'arudh), melainkan dapat kita kompromikan.
Untuk lebih jelasnya perhatikan komentar dua tokoh ulama. Yang satu terkenal sebagai pakar dalam bidang tafsir, sedangkan yang kedua terkenal pakar dalam bidang Fikih dan Hadis, yaitu:

Imam Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki, dalam kitab tafsirnya Ash-Shawi; ketika mengompromikan kedua dalil tersebut, beliau berkata:

Jika engkau berkata, telah terdapat keterangan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "Seseorang sekali-kali tidak masuk surga dengan sebab amalnya." Rasulullah ditanya, "Dan tidak pula engkau, hai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Dan aku pun tidak, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya."
Lalu Imam Ash-Shawi menjawab, "Bahwasanya amal yang tersebut dalam ayat Al-Qur'an itu ialah amal yang disertai dengan fadhal (karunia Allah), sedangkan amal yang dimaksud dalam hadis Nabi itu ialah amal yang tidak disertai karunia Allah."(Tafsir Shawi II:75)

Imam Muhyiddin An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim; ketika mengompromikan kedua dalik tersebut diatas beliau menjelaskan:

Dan dalam kenyataan hadis-hadis ini ada petunjuk bagi ahli haq, bahwasanya seseorang tidak berhak mendapat pahala dan surga karena amal ibadahnya. Adapun firman Allah Ta'ala: "Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan," dan "Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan," dan seumpama keduanya dari beberapa ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bahwasanya amal ibadah itu dapat memasukkan ke dalam surga, maka firman Allah itu tidak bertentangan dengan beberapa hadis ini.
Akan tetapi, ayat-ayat itu berarti bahwasanya masuknya seseorang ke dalam surga karena amal ibadahnya, kemudian mendapat taufik untuk melakukan amal ibadah itu dan mendapat hidayah untuk ikhlas dalam ibadah sehingga diterima di sisi Allah, adalah berkat rahmat Allah dan karunia-Nya. (Kitab Syarah Shahih Muslim, juz XVII, halaman 160-161)

Jadi tidak benar kalau ada seorang khatib dalam khotbah Jum'atnya itu berkata bahwa seseorang itu masuk surga karena rahmat Allah Swt. semata, sebab tidak sesuai dengan bunyi nash ayat-ayat Al-Qur'an.
Begitu pula tidak tepat kalau ada seorang mubalig dalam pidatonya berkata bahwa seseorang masuk surga karena amal ibadahnya semata sebab menyalahi bunyi nash Hadis-hadis Nabi Saw. yang sahih.
Yang benar ialah seseorang masuk surga berkat amal ibadahnya dan dengan adanya rahmat Allah serta karunia-Nya; ia diberi taufik untuk beramal dan diberi hidayah agar ia ikhlas dalam beramal.

Diambil dari buku "Umat Bertanya Ulama Menjawab" tulisan dari KH.Drs.Ahmad Dimyathi Badruzzaman, dosen Fakultas Dakwah STIDA Al-Hamidiyah
[Continue reading...]

Monday, July 14, 2014

8 Mutiara Hikmah Ali Bin Abi Thalib

- 0 komentar
1.* Janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya. Sebab barangkali dosanya telah diampuni. Dan janganlah engkau merasa aman akan dirimu karena suatu dosa kecil. Sebab, barangkali engkau akan diazab karena dosa kecilmu itu.

2.* Jauhilah olehmu posisi mengemukakan alasan. Sebab, ada kalanya alasan justru menetapkan kesalahan terhadap orang yang berdalih itu, meskipun dia bersih dari dosa itu.

3.* Barangsiapa yang telah kehilangan keutamaan kejujuran dalam pembicaraannya, maka dia telah kehilangan akhlaknya yang termulia.

4.* Buruk sangka melayukan hati, mencurigai orang yang terpercaya, menjadikan asing kawan yang ramah, dan merusak kecintaan saudara.

5.* Janganlah engkau merasa senang dengan banyaknya teman, selama mereka bukan orang yang baik-baik. Sebab, kedudukan teman seperti api, sedikitnya adalah kenikmatan, sedangkan banyaknya adalah kebinasaan.

6.* Sebaik-baik teman, jika engkau tidak membutuhkannya, dia akan bertambah dalam kecintaannya kepadamu, dan jika engkau membutuhkannya, dia tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu.

7.* Ada kalanya perang terjadi karena satu kalimat, dan ada kalanya pula cinta tertanam karena pandangan sekilas.

8.* Perbuatan buruk yang menjadikanmu bersedih karenanya lebih baik di sisi Allah dari pada perbutan baik yang membuatmu bangga. Siapa yang memandang dirinya buruk maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk.


[Continue reading...]

Sunday, July 6, 2014

Ramadhan dan 114 Surat Cinta Allah

- 0 komentar
Ada 114 SURAT CINTA yang telah dititipkan kepada kita saat ini sampai akhir hayat kita nanti…..

Ketika kita masih kanak-kanak, Surat Cinta itu laksana kawan sejati kita
Dengan wudhlu, kita sentuh Surat Cinta itu dalam keadaan suci…
Kita pegang, kita junjung tinggi dan kita pelajari…
Surat Cinta itu kita baca dengan suara lirih dan indah setiap hari
Setelah usai kita pun mencium Surat Cinta itu dengan mesra, mesra sekali…

Sekarang kita telah dewasa…
Nampaknya kita tidak berminat lagi membaca Surat Cinta itu...?
Apakah Surat Cinta itu tinggal sejarah...?
mungkin menurut kita Surat Cinta itu tidak dapat menambah ilmu dan pengetahuan kita
Atau mungkin Surat Cinta itu hanya cocok untuk anak kecil saja….

Sekarang Surat Cinta itu, kita simpan dengan rapinya, rapi….. sekali
hingga kadang kita lupa dimana menyimpannya… sampai debu tebal membalutnya
Surat Cinta itu sudah kita anggap sebagai perhiasan rumah kita belaka
Seringkali kita jadikan maskimpoi agar kita dianggap bertaqwa
Atau kita buat penangkal untuk menakuti Jin dan setan yang selalu menggoda

Kini Surat Cinta itu lebih banyak tersingkir, kita biarkan dalam kesendirian, dalam kesepian
di atas lemari, didalam laci, padam dan tak menggairahkan lagi

Dulu ..pagi pagi..di rumah-rumah, kita bacakan beberapa halaman Surat Cinta itu …
Sore harinya, kita baca beramai-ramai bersama teman-teman kita di surau….
Sekarang pagi-pagi sambil minum kopi…
Kita baca koran pagi atau nonton berita tv...

Waktu senggang kita sempatkan membaca buku dan novel yang terbit terkini
Sedangkan Surat Cinta yang dikirim dari Allah yang menghidupkan dan memberi penghidupan kepada kita , Kita campakkan, kita lupakan…

Waktu berangkat kerjapun kadang kita lupa baca pembukaan Surat Cinta itu
sepanjang perjalanan kita lebih asik menikmati musik dan berita terkini
Tidak ada kaset atau CD berisi Surat Cinta itu yang terdapat dalam laci mobil kita
Di meja kerja kita tidak ada Surat Cinta itu untuk kita baca sebelum kita mulai kerja
E-mail teman kita yang ada Surat Cinta itu pun kadang kita abaikan
Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia kita…
Akankah kita benar-benar melupakan Surat Cinta itu ?

Bila malam tiba kita tahan nongkrong berjam-jam di depan tv
Menonton pertandingan liga inggris, italia, Timnas, musik, film atau sinetron laga

Waktupun cepat berlalu…. Surat Cinta itu semakin kusam dalam lemari
Mengepul debu, dilapisi abu, dan mungkin dimakan kutu…
mungkin hanya awal bulan ramadhan kita membaca kembali Surat Cinta itu
Itupun hanya beberapa lembar saja…
Dengan suara dan lafadl yang sudah kaku dan tidak semerdu dulu…

Mungkin Surat Cinta itu sudah tergantikan dengan Surat Cinta yang baru,
Dari pacar atau selingkuhan kita
Mungkin juga buku rekening, sertifikat, saham dan surat-berharga lainnya telah menjadi Surat Cinta yang baru dalm hidup kita.
Padahal…..
Surat Cinta itulah tiket satu-satunya untuk dapat kembali kepada CINTANYA
Dengan Surat Cinta itu kehidupan kita saat ini akan lebih mudah dan indah
Dengan Surat Cinta itu kita bisa memasuki SorgaNYA
Dengan Surat Cinta itu kita akan bisa bercinta dengan para Bidadari-BidadaraNYA
Dengan Surat Cinta itu kita akan selalu dalam Dekapan CintaNYA

Adakah yang lebih tinggi diatas CintaNYA
Dengan CintaNYA, mata kita akan menjadi MataNYA ketika kita melihat
Dengan CintaNYA, Telinga kita akan menjadi TelingaNYa ketika kita mendengar
Dengan CintaNYA, kaki kita akan menjadi KakiNYA ketika kita berjalan
Dengan CintaNYA, tangan kita akan menjadi TanganNYA ketika kita melempar

Masih ragukah kita dengan Surat CintaNYA ?
114 Surat CintaNYA telah dikirimkan kepada kita
Sudah berapa halaman yang kita baca hari ini ?
Sudah berapa surat yang sudah kita pahami ?
Masih berapa surat yang belum kita mengerti ?
Ataukah kita hanya berdiam diri ?
Ingat ! tanpa Cinta dariNYA, hidup kita ini tak akan pernah ada arti apapun

Ya….. Surat Cinta itu adalah Kitab Suci dari Allah Yang Maha Tinggi…
Adalah Al-Qur’an sumber segala inspirasi …….
Dialah Allah yang sangat rindu melihat kita membaca kembali Surat CintaNYA
Tidak rindukah kita kepadaNYA ataukah kita sudah tidak mengenaliNYA ?

Bagaimana mungkin kita mampu mengenalNYA dengan baik,
sementara dengan Surat CintaNYA kita lalai
kalau demikian halnya, mungkinkah ratapan kita akan didengarNYA ?

Allah telah berfirman:
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang diacuhkan". (QS. Al Furqan : 30).

[Continue reading...]

Saturday, July 5, 2014

Doa Yang Dianjurkan Di Bulan Ramadhan

- 0 komentar
Kata ‘Ramadhan Karim’ sering diucapkan masyarakat Arab sebagai penghormatan atas datangnya bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan Ramadhan dijuluki Karim karena bulan ini adalah bulan yang istimewa dan menyimpan banyak anugrah Allah yang dihususkan bagi umat Nabi Muhammad Saw, berupa terbuka luasnya pintu taubat dan ampunan serta di lipatgandakannya pahala-pahala kebaikan, disamping rahasia agung yang tersimpan dalam Lailatul qadar-Nya.

Jika seseorang diberi kehormatan oleh orang lain dengan ucapan ‘Ramadhan Karim’ maka hendaknya orang tersebut membalasnya dengan ucapan ‘ Allahu Akram’ -Allah maha dermawan/pemurah-. Jawaban ini patut diucapkan agar kita sadar bahwa Allah adalah dzat yang maha pemurah lagi maha darmawan atas segala anugrah yang tak terhitung selama kita hidup di dunia.

Kata ‘Karim’ yang memiliki arti darmawan dan maha pemberi ampunan seringkali diucapkan dalam doa disaat menjelang adzan magrib dan setelah sholat tarawih. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi baik yang patut dilestarikan tidak melulu pada bulan Ramadhan, tapi disetiap waktu, baik pagi, siang, sore maupun malam.

Doa yang sangat dianjurkan oleh Nabi terkait rahasia dibalik makna ‘Karim’ adalah sebagai berikut:

Allahumma Innaka Afuwwun Karim Tuhibbul Afwa Fa’fuanna Ya Karim.

Sering-seringlah berdoa dengan doa ini, khususnya di bulan suci Ramadhan. Semoga segala dosa dan khilaf kita diampuni Allah, sehingga kelak kita termasuk golngan orang yang benar-benar kembali fitrah. Amin
[Continue reading...]

Tiga Nasehat Rasulullah

- 0 komentar
Rasulullah SAW pernah memberikan tiga buah nasehat kepada kedua sehabatnya Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman bin Jabal:

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji.” HR. Tirmidzi
Tiga pesan Rasulullah SAW tersebut layak untuk kita perhatikan karena sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

1- BERTAQWA DIMANA SAJA
Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar dan Ubay bin Ka’ab ra. Suatu ketika sahabat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”
Sedang menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.
Kalau ada suatu iklan minuman ringan: “Dimana saja dan kapan saja …”, maka nasehat Nabi SAW ini menunjukkan bahwa kita harus bertaqwa dimana saja. Sedang perintah taqwa kapan saja terdapat dalam surat Ali Imron 102:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”
Jadi dimanapun dan kapanpun kita harus menjaga ketaqwaan kita. Taqwa dimana saja memang sulit untuk dilakukan dan harus usaha yang dilakukan harus ekstra keras. Akan sangat mudah ketaqwaan itu diraih ketika kita bersama orang lain, tetapi bila tidak ada orang lain maka maksiyat dapat dilaksanakan. Sebagai contoh, ketika kita berkumpul di dalam suatu majelis zikir, pikiran dan pandangan kita akan terjaga dengan baik. Tetapi ketika kita berjalan sendirian di suatu tempat perbelanjaan, maka pikiran dan pandangan kita bisa tidak terjaga. Untuk menjaga ketaqwaan kita dimanapun saja, maka perlunya kita menyadari akan pengawasan Allah SWT baik secara langsung maupun melalui malaikat-Nya.

2 KEBAIKAN YANG MENGHAPUSKAN KESALAHAN
Setiap orang selalu melakukan kesalahan. Hari ini mungkin kita sudah melakukan kesalahan baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Oleh sebab itu, segera setelah kita melaksanakan kesalahan, lakukan kebaikan. Kebaikan tersebut dapat menghapuskan kesalahan yang telah dilakukan.
Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda “sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Maka ada orang yang ketika dia sakit maka dia akan memberikan sedekah agar penyakitnya segera sembuh. Hal ini dikarenakan segala penyakit yang kita miliki itu adalah karena kesalahan yang kita pernah lakukan.
Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain maka yang perlu dilakukan adalah memohon maaf yang bagi beberapa orang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasulullah SAW selalu minta maaf ketika bersalah bahkan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau memeluknya dengan hangat seraya berkata “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah… (QS. Abasa)”. Setelah minta maaf kemudian bawalah sesuatu hadiah atau makanan kepada orang tersebut, maka kesalahan tersebut insya Allah akan dihapuskan.

3- AKHLAQ YANG TERPUJI
Akhlaq terpuji adalah keharusan dari setiap muslim. Tidak memiliki akhlaq tersebut akan dapat mendekatkan seseorang dalam siksaan api neraka. Dari beberapa jenis akhlaq kita terhadap orang lain, yang perlu diperhatikan adalah akhlaq terhadap tetangga.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya: “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
Dari hadits tersebut, peringatan Allah sangat keras sampai diulangi tiga kali yaitu tidak termasuk golongan orang beriman bagi tetangganya yang tidak aman dari gangguannya. Maka terkadang kita perlu instropeksi dengan menanyakan kepada tetangga apakah kita mengganggu mereka.
Wallahua’lam bish showab.

sumber
[Continue reading...]

Friday, July 4, 2014

Fokus Pada Kelebihan Kita, Bukan Pada Kekurangan Kita

- 0 komentar
"Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu," kata seorang Guru yang hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang Guru kemudian bersuara keras : "Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo." Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, "Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan."

Penuh rasa penasaran, sang Guru bertanya kepadanya : "Kenapa tulisnya kadang-kadang?". Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata : "Emang cuma kadang-kadang, Guru."

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang Guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : "Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu."

Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : "Tiga saja, Guru?". "Ya, tiga saja!" jawab Guru. Anak tadi langsung menyambung : "Guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!".

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari.

Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, di sebuah televisi swasta ada pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata, "Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi."

Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : "Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita."

Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.
[Continue reading...]

Wednesday, July 2, 2014

1000 Poin Untuk Masuk Surga

- 0 komentar
Seorang bapak memiliki kehidupan rohani yang baik. Suatu hari karena kecelakaan, ia meninggal dunia.
Di surga ia bertemu dengan penjaga gerbang. Ia kemudian ditanya Malaikat dan terjadilah dialog keduanya: "Anda mau masuk?"
"Iya"
"Untuk masuk anda butuh 1000 poin perbuatan baik".
"Saya pernah menolong orang jatuh".
"0.5 poin untuk anda."
"Baik, dulu saya pernah menyumbang pengemis".
"Bagus, 1 poin untuk anda".
"Saya memberi uang 50 juta secara cuma-cuma".
"Bagus 2 poin tambahan".
"Saya pernah mendonorkan ginjal saya".
"Lumayan 3 poin lagi".

Bapak itu kemudian menjadi sedikit grogi melihat poinnya masih sedikit. Lantas dia pun menambahkan berbagai amalan kebaikannya:

"Saya rajin beribadah sejak umur 5 tahun".
"Wah hebat tambahan 5 poin".
"Saya hampir terbunuh ketika menyelamatkan seorang bocah dari kebakaran".
"Pengorbanan bagus, 10 poin".

Melihat betapa segala amal kebaikannya tidak mampu menutupi syarat poin untuk masuk surga, bapak itu menjadi lesu, dan akhirnya ia berkata:

"Kalau begini caranya, hanya dengan kebaikan Tuhanlah saya bisa masuk surga".

Dengan tersenyum, Malaikat kemudian berkata:
"Bagus, anda memperoleh 1000 poin, silahkan masuk...."

Kisah diatas mengajarkan pada kita, bahwa kita tidak akan pernah tahu, apakah amal kebajikan yang kita perbuat selama di dunia bisa mendapatkan manfaat kelak di akhirat. Kita tidak akan pernah tahu, apakah Tuhan memberi nilai yang besar pada amal ibadah kita. Pada akhirnya, hanya keikhlasan kita kepada Tuhanlah yang bisa membawa kita menuju surganya. Karenanya, jangan pernah menghitung berapa banyak amal baik yang sudah kita lakukan. Tapi, hitunglah selalu keburukan kita, karena kita tidak tahu apakah amal baik kita tersebut bisa menutup segala keburukan yang pernah kita perbuat.
[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger