Sunday, March 26, 2017

Mencontoh Cara Berjualan Rasulullah SAW dan Para Sahabat

- 0 komentar


Dulu, dimasa mudanya, Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam termasuk pedagang yg sukses. Beberapa sahabat radhiyallohu anhu juga tergolong pengusaha besar. Harta mereka, jika dikonversikan sekarang mencapai milyaran rupiah.
Ini Harta lho, bukan Omzet.
Padahal yang dijual juga nggak macam-macam.
Ada yang cuma jual kain, ada yang cuma jual madu, ada yang cuma jual hewan ternak, ada yang jual hasil kebun.
Menariknya, mereka dulu nggak pakai ilmu Copywriting, Hipnowriting, covert Selling, cross selling dan ing ing lainnya.
Kok bisa begitu?
Ya, mungkin mereka nggak pakai ilmu itu karena mereka nggak jualan Online.....
Tapi serius. . . .Pencapaian bisnis Rasulullah dan Para Sahabat itu bukan pencapaian yang biasa.
Makin luar biasa lagi ketika mereka juga mencetak pencapaian Akhirat.
Di dunia lapang, di akhirat menang.
Siapa sih yang nggak ingin seperti itu?
Justru aneh kalau ada yang nggak pengin itu semua.
Apapun terjadi semua karena ijin Allah.
Lama saya merenungi, apakah strateginya, apakah amalnya, apakah managemen bisnisnya, apakah apakah. . . .
Akan banyak teori yang menjelaskan hal-hal di atas, dan mungkin setiap orang berbeda-beda penafsirannya.
Tapi karena keterbatasan ilmu, saya hanya bisa sampai di satu kesimpulan.
Ada yang dimiliki Rasul dan para sahabat yang tidak dimiliki banyak penjual sekarang.
Apakah itu?
Itu adalah "Akhlak"
Saat berbisnis, Rasulullah akhlaknya terpuji, sampai digelari Al-Amin.
Para sahabat pun begitu.
Bisnis bukan hanya tentang strategi. Bisnis bukan hanya tentang jual beli. Bisnis juga butuh akhlak.
Siapa sih pembeli yang tidak suka, jika sikap penjualnya terpuji?
Sebaliknya, tidak ada pembeli yang suka jika sikap penjual seenaknya.
Kita jualan, yang butuh pembeli itu adalah kita. Jadi janganlah jadi penjual yang ketus, sombong, angkuh, pamer. Allah nggak suka.
Beli nggak beli, ramah ke semua orang itu harus menjadi sikap kita.
Sekarang coba lihat. Ada orang berjualan, yang broadcast sembarangan, ada juga yang nyulik-nyulik grup semaunya, dan hal-hal keji lainnya.
Promosi via Broadcast boleh, tapi ada aturannya. Mau masukin orang ke grup boleh, via UNDANGAN, bukan langsung dijebloskan.
Ngetag ke dagangan kita juga harus ijin orangnya dulu, jangan sampai dia jadi terganggu.
Sekali lagi, bisnis perlu akhlak.
Jika jalankan bisnis kecil saja nggak pakai akhlak, nggak pantas jalankan bisnis yang lebih besar.
Janganlah kita katakan pembeli itu PHP, bisa jadi cara jualan kita yang masih salah.
Janganlah kita caci orang yang telat transfer, bisa jadi mereka ada keperluan.
Janganlah kita hina-hina calon pembeli di status-status postingan.
Buat apa? Belum tentu mereka baca 
:)
Sudahlah, bagaimana cara mereka memperlakukan kita itu urusan mereka dengan Allah.Tapi kita juga punya urusan dengan Allah. Kita akan dimintai pertanggung-jawaban tentang bagaimana kita memperlakukan pembeli.
Boleh punya ribuan strategi untuk jualan. Tapi pastikan terselip akhlak yang mulia disana.
Omzet hanya angka. Ada yang lebih bernilai dari itu. Yakni pahala.
Kita lebih butuh pahala dibanding jualan kita laris. Dan lebih enak jika jualan kita laris juga berbuah pahala.
Maka, Jadilah penjual yang punya akhlak.
Ini juga jadi pengingat diri sendiri.

(Copy paste, dengan edit seperlunya).
[Continue reading...]

Friday, March 24, 2017

Cara Menarik Rejeki Dengan Tepat

- 0 komentar


Jika tiba-tiba usaha lagi sepi dan kondisi ekonomi "down", saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.
Mendengar ini, Abdurrahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal.

Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.
 
Semuanya bersyukur. Alhamdulillah, kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf.
Sahabat gembira. Abdurrahman bin Auf r.a pun gembira. Semua happy!
Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab...berharap jatuh miskin!

MasyaAllah..hebat.
Coba kalau kita? Usaha goyang dikit, udah teriak tak tentu arah.
Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab insyaallah akan bakal masuk surga lebih awal sebab sudah miskin.
Namun...Rencana Allah itu memang terbaik.. Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.
Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang bisa menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK !
Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahuakbar..Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal.
Benarlah firman Allah:
"Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 ).

Jadi, yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?
ALLAH Swt lah yang Memberi Rezeki.

Ibroh dari kisah ini sangat special buat kita, sebab ini membuat kita harus YAKIN bahwa rezeki itu totally dari Allah. Bukan hanya karena usaha kita itu sudah cukup bagus atau produk kita yang terbaik yang akan memberi kita omzet yang banyak.
Kadang-kadang, KEYAKINAN dalam hati kita itu yang belum cukup kuat dan bulat...
Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita.
[Continue reading...]

Saturday, March 11, 2017

Tiga Selimut Do'a

- 0 komentar
Hampir setiap muslim membutuhkan doa sebagai fasiltas untuk berkomunikasi kepada Allah ta’ala. Doa adalah senjatanya kaum muslimin. Dan doa adalah keterampilan hidup yang tak boleh luput untuk dimiliki. . Dengan doa, seseorang akan kuat menghadapi segala hal dalam hidup ini. Dengan doa, seseorang akan lebih optimis melalui kehidupan. Dan dengan doa, seorang hamba sebenarnya membuka pintu keterlibatan Allah dalam hidupnya. . Tak banyak yang kemudian menyadari, bahwa ayat 186 pada surah Al Baqarah memiliki kekayaan makna dalam menuntun seorang hamba yang ingin berdoa kepada Rabbnya.
.وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (Al Baqarah : 186) ***
Ayat tersebut setidaknya menuntun kita untuk menemukan tiga selimut doa:
*****
Selimut Pertama : Falyas tajibulii (maka taatilah aku)
Doa yang dikabulkan oleh Allah biasa disebut sebagai doa yang diijabah. Namun ternyata, seorang hamba pun dituntut untuk “mengijabah” Allah ta’ala. Para ulama menyebutnya sebagai “ijabah dua arah”.
Kalimat falyastajibulii dalam bahasa arab dapat diartikan secara langsung dengan artian “maka ijabahlah aku”. Lalu apa yang harus kita ijabah dari Allah ta’ala. Tentu Allah tidak membutuhkan makhluknya, tentu Allah tidak bergantung pada makhluknya. Yang Allah tuntun kepada seorang hamba adalah ketaatannya dalam mengijabah perintah Allah, yang sudah Allah turunkan dalam Al Qur’an.
Ayat 186 tidak lepas dari ayat sebelumnya di 185. Allah telah menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk, pembeda, serta penjelas dalam menjalani kehidupan. Setiap doa-doa yang kita panjatkan tentu merupakan permohonan kebaikan dalam menjalani hidup di dunia dan di akhirat. Lalu bagaimana mungkin doa yang baik terselimuti dengan ketidak taatan kepada Allah. Tentu hal itu bertentangan.
Adab berdoa yang harus kita tanamkan didalam hati kita adalah berdoa untuk kemudian taat kepada apa yang Allah perintahkan.
Hal ini kemudian senada dengan potongan akhir dari surah At Talaq ayat 2, . وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . "Dan barang siapa yang bertaqwa, baginya jalan keluar". Taat berarti bertaqwa kepada Allah. Dan ketaqwaan mengundang pertolongan dari Allah. . ***** . Selimut kedua : wal yu’minubii (maka berimanlah kepadaku) . Adab kedua yang harus kita tanam pada doa kita adalah beriman kepada Allah ta’ala. Makna beriman yang paling dalam adalah meyakini dengan seyakin yakinnya hingga hati seorang mukmin berada titik yang tergoyahkan. . Doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba harus doa yang diselimuti energi iman. Saat memohon kepada Allah, seorang hamba tidak layak untuk meragukan kekuasaan Allah, atau bersangka buruk kepada Allah. . Saat berdoa, seorang hamba haruslah meyakini bahwa Allah mampu melakukan apa saja, kekuasaannya mutlak, dan tidak berbatas dengan akal dan capaian logika manusia. . Dalam surah Ali Imron ayat 26 dan 27 Allah berfirman, . قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron : 26) . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ . Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas). (QS Ali Imron : 27) . Segelap apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Mencahayai. Seberat apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allahlah yang Maha Meringankan. Sesakit apapun penyakit yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Menyembuhkan. Sepelik apapun masalah yang dihadapi, seorang hamba harus meyakini bahwa Allah Maha Peretas Jalan Keluar. . Keyakinan tak tergoyahkan ini, dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dalam surat Asy Syu’ara ayat 62 dan 63. .فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. . قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ . Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. . Seperti itulah harusnya keyakinan kita terhadap Allah ta’ala. Walaupun Nabi Musa melihat pasukam Fir’aun yang memburunya dengan segenap kekuatan, dan disaat yang sama lautan membentang menghalangi jalan, seorang Musa ‘alaihissalam tidak kehilangan keyakinan. . ***** . Selimut Ketiga : La’allahum Yarsyudun (semoga engkau diberi petunjuk). . Dalam terjemah Depag RI, la’allahum yarsyudun diterjemahkan dengan makna semoga mereka selalu dalam kebenaran. Tidak ada yang salah dengan terjemahan ini, karena kata rusydah yang artinya petunjuk berarti kebenaran dari Allah ta’ala. . Jika kita merujuk pada akar kata dari Ro Syin Dal yang membentukan kata Rusydah, maka, akar kata yang sama juga kita temukan dalam surah Al Kahfi ayat 10 : . إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا . (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. . Maka makna lain yang kita dapat tarik dari kalimat la’allahum yarsyudun, dapat pula kita artikan sebagai “semoga mereka mendapatkan petunjuk” . Mari kita lihat kesinambungan ayat Al Baqarah 186, pertama-tama, Allah memberikan informasi bahwa Allah sangatlah dekat dengan hambanya, dan Allah membuka ruang fasilitas komunikasi dengan hambanya. Berdoalah, sesiapa yang meminta, akan Aku ijabah. . Lalu Allah meminta kita untuk taat dan beriman. Namun di akhir Ayat, Allah tidak menutup dengan kalimat “semoga tercapai kehendak”, namun Allah menutupnya dengan kalimat “semoga mereka mendapatkan petunjuk”. . Kalimat penutup di ayat ini seakan memberikan informasi kepada kita sebagai hamba Allah, manakala Allah ingin mengabulkan doa hambanya, maka Allah akan memberikan petunjuk. Maka selanjutnya, pilihan ada pada seorang hamba, apakah seorang hamba akan mengikuti petunjuk tersebut atau menyia-nyiakannya. . Kembali ke kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam keyakinan dan doanya, Nabi Musa meyakini bahwa Allah bersamanya dan akan memberikan dia jalan keluar dari masalahnya. Dengan bahasa yang indah, Nabi Musa ‘alaihissalam menggunakan kalimat Sayahdiin, yang artinya : kelak Allah akan memberiku petunjuk. . Dan mari kita lihat di surah Asy Syuara ayat ke 63, . فَأَوْحَيْنَا إِل َىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ . Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. . Di ayat tersebut, Allah ta’ala mengawali dengan kalimat “dan kami wahyukan kepada Musa”, atau Fa-awhayna ilaa Musa. Allah menuntun Musa ‘alaihissalam untuk memukulkan tongkatnya. Dan selanjutnya adalah pilihan dari Nabi Musa, apakah akan mengikuti petunjuk, atau menyiakan petunjuk. . Al Qur’an merekam pilihan Nabi Musa, Nabi Musa ‘alaihissalam memilih untuk mengikuti petunjuk Allah ta’ala. . Dari kisah tersebut, kita kemudian belajar bagaimana Allah mengabulkan doa seorang Hamba. Allah tidak serta merta mengijabah permohonan seorang hamba tanpa diuji terlebih dahulu. Allah tetap menuntut seorang hamba untuk berikhtiar. Dan itu pulalah yang Allah dididikkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. . Maka marilah kita tengok kedalam diri, bagaimana kita menindaklanjuti doa-doa kita. Apakah kita hanya sekedar berdoa tanpa berbuat. Ataukah kita berdoa dan terus sensitif dengan tanda-tanda petunjuk yang Allah hadirkan? . Disinilah terlihat, bahwa Islam adalah agama amaliyat. Islam adalah agama berbuat. Islam bukanlah agama dalam dimensi angan dan fikiran, namun jauh daripada itu, Islam menuntut gerak dari seorang Hamba. . Konsepsi dasar ibadah : mulai dari wudhu, shalat, zakat, thawaf, sai, wukuf, dan jumroh, hampir kesemuanya adalah ibadah yang membutuhkan gerak. Maka seyogyanyalah, kita kemudian tidak berhenti pada beriman dan taat, namun juga mengikuti Rusydah. . Seperti doa dalam surah al kahfi, . إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا . (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
*** Semoga bermanfaat #TadabburAlQuran
[Continue reading...]
 
Copyright © . Catatan Pikiran Manusia - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger