Monday, December 23, 2013

Nasihat Seorang Ibu Untuk Anak Lelakinya Yang Mencari Jodoh

- 0 komentar
Rasanya ibu tidak percaya menulis surat ini untuk kalian. Seperti baru kemarin ibu menimang kalian dalam gendongan, dan sekarang kalian sudah dewasa. Membesarkan kalian adalah masa terindah dalam hidup ibu, sekalipun ibu harus melepas karir yang cukup menjanjikan saat itu. Ibu lebih bahagia dengan pilihan menjadi ibu rumah tangga dan melihat kalian tumbuh. Tidak ada penyesalan sama sekali dengan keputusan itu.

Tibalah waktunya ibu harus membicarakan hal yang penting, yaitu masalah memilih jodoh untuk kalian. Ibu tahu, selama ini banyak perempuan yang menyukai kalian, karena kalian memang pria-pria yang berkualitas.Kalian harus bangga telah dibesarkan dalam cinta, oleh orang tua yang hebat.

Tidak perlu panjang lebar, jika bicara soal memilih jodoh atau perempuan sebagai istri, contohlah ayah kalian.

Mengenai pilih-pilih perempuan, ibu sangat mengerti jika kalian bingung, ada banyak perempuan cantik, cerdas, punya karakter, inner beauty dan perempuan hebat lainnya. Yang manakah yang harus dipilih?

Ibu akan jawab dengan jujur, inner beauty memang penting, namun harus dibungkus dengan kecantikan luar yang juga baik. Sebagai seorang pria, kamu pasti ingin mengenalkan istrimu dengan bangga pada orang lain dan keluarga, sehingga inner beauty juga harus dibarengi penampilan luar yang juga baik. Jangan sampai kamu malu karena penampilan istrimu.

Mengenai status perempuan, dalam hal materi, dari dulu ibu tidak pernah membatasi kalian boleh berteman dengan siapa, yang penting dia baik dan sopan. Apapun status sosialnya, pastikan dia baik dan sopan.

Mungkin ibu sama seperti para ibu lain yang memiliki anak laki-laki, ibu akan sangat cerewet. Bukan berarti ibu ingin mengatur masa depan kalian, namun ibu ingin yang terbaik untuk kalian. Mungkin ibu tidak bisa objektif saat menilai perempuan yang akan kalian kenalkan, namun ibu berjanji untuk bersikap adil semampu ibu.

Dan jika boleh menilai, tidak akan ada perempuan lain yang cukup pantas untuk mendapatkan kalian. Mungkin ini berlebih, tapi setinggi itulah kebanggan seorang ibu pada anak laki-lakinya. Kalian juga akan merasakannya jika kelak memiliki seorang anak.

Satu hal penting, pilihlah istri dengan bijak. Ketika kamu menikahinya, kamu menikahinya untuk seumur hidup. Lalu seperti apa saat ayah kalian jatuh cinta dulu?



* Pilihlah perempuan yang memiliki pesona kuat dalam dirinya, dan itu tidak dibuat-buat. Dulu ibu berpikir bahwa ayah kalian tidak akan suka dengan ibu, karena banyak perempuan lemah lembut dan feminin lainnya. Nyatanya, ayah kalian jatuh cinta dengan ibu, karena ibu tidak takut memanjat pohon dan berkelahi saat masih muda dulu.

Ternyata yang dibutuhkan adalah chemistry, ketika kalian merasa nyaman dan jatuh cinta dengan perempuan yang menjadi dirinya sendiri. Tanyakan pada ayah kalian, ibu tidak pernah bosan mendengar ceritanya bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu.




* Pilih perempuan yang bisa menertawakan dirinya sendiri dan bisa melihat sisi lucu dari segala sesuatu, bukan menertawakan orang lain. Pada akhirnya, cinta akan tumbuh menjadi sesuatu yang stabil. Saat tidak ada lagi getaran dan detak jantung berdebar ketika menatap matanya, perekat cinta yang paling awet adalah tertawa. Saling tertawa dan tidak terlalu kaku mengarungi bahtera rumah tangga. Kalian akan tetap merasakan cinta, kenyamanan dan menikmati serunya hidup bersama.




* Menikahlah dengan perempuan yang memiliki prinsip dalam hidupnya, dan bagaimana dia menghormati prinsip yang sudah dia buat. Kalian memang akan jadi pemimpin dan kepala keluarga, namun dia tidak harus setuju dengan semua pemikiran dan kemauan kalian. Untuk apa menikah dengan wanita yang selalu setuju dan hanya bisa mengatakan "Ya". When two partners always agree, one of them is not necessary.




* Pilihlah perempuan yang bijak menyikapi perbedaan, mau menghargai perbedaan selera dan dalam hal apapun secara adil. Dia harus mampu berkompromi. Menikahlah dengan wanita yang bicara jujur, ini untuk kebaikan kalian.




* Yang terakhir, mungkin bukan yang paling penting.. namun.. menikahlah dengan dengan perempuan yang menghormati kalian. Ibu akan sangat marah jika ada orang yang menyakiti kalian atau berbuat kasar pada kalian, terutama di depan umum. Jangan pernah membiarkan perempuan menyakiti kalian.

Kenapa ibu menulis poin terakhir dengan tegas? Karena ibu juga ingin kalian menghargai dan menghormati perempuan yang kalian cintai. Sama besarnya seperti rasa hormat kalian pada ibu. Ingatlah, cinta tanpa rasa hormat seperti mobil tanpa setir, tidak ada gunanya.

Surat ini sangat panjang dan terkesan cerewet, namun inilah bukti cinta ibu untuk kalian, anak-anak yang sangat ibu banggakan. Semoga kalian bisa mendapatkan perempuan terbaik, perempuan yang kalian cintai, perempuan yang mau hidup senang dan susah bersama, hingga hanya maut yang memisahkan.
[Continue reading...]

Saturday, December 21, 2013

Menjadi Ibu, Pekerjaan Terbaik Di Dunia

- 0 komentar

Ibu.. Ya, seorang wanita luar biasa dalam hidup Kita.
Wanita yang ikhlas membawa kita bersamanya dalam perut mereka. Tidak tanggung-tanggung, 9 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk membawa kita dalam perut mereka.
Setelah tiba waktunya pun, keikhlasan seorang ibu diuji. Rasa sakit luar biasa bahkan kematian bisa menjadi resiko mereka saat melahirkan kita.

Perjuangan mereka tak hanya berhenti sampai di situ.
Dengan penuh kasih sayang, rasa sabar, dan keikhlasan hati mereka membesarkan kita.
Mereka rela bangun di tengah malam hanya demi mengganti popok kita. Mereka rela menjaga kita ketika kita terbaring lemah saat sakit.

Tak ada kata yang lebih indah untuk menggambarkan sesosok ibu.
Membesarkan anak tak semudah yang kita bayangkan, banyak hal yang harus kita perhitungkan.
Dengan cara apa pula kita mendidik si anak.
Sebuah video iklan mengisahkan perjuangan beberapa orang ibu membawa anak mereka ke gerbang kesuksesan.





Mereka siap sedia membangunkan si anak sejak fajar masih malu-malu menampakkan dirinya. Menyiapkan sarapan hingga mengantar anak-anak mereka ke sekolah.

Para ibu ini juga dengan ikhlas hati menemani si buah hati mengikuti latihan di luar sekolah. Begitu seharusnya menjadi orang tua. Kebanyakan orang tua hanya memaksakan kehendak mereka. Mereka memaksa si anak untuk berprestasi secara akademik. Padahal sebenarnya anak mereka bisa jauh berprestasi pada bidang yang lainnya.

Video ini juga memberi teladan bagi para ibu atau para calon ibu untuk terus mengarahkan bakat mereka. Memang bukan pekerjaan yang mudah mencari tahu apa bakat si anak. Tetapi ketika Anda menemukan tambang emas dalam diri si anak, prestasi dan kebanggaan adalah milik Anda.

Pada akhir video dituliskan 
'The hardest job in the world is the best job in the world'. 
Memang, pekerjaan tersulit yang Anda lakukan adalah pekerjaan terbaik untuk Anda. Menjadi seorang ibu itu sulit, tetapi menjadi ibu adalah pekerjaan terbaik yang pernah ada.
Thank you, mom. You're my everything.

[Continue reading...]

Friday, December 20, 2013

3 Cerita Untuk Ibu

- 0 komentar
Cerita 1


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

“Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.

Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita 2


Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(Diadaptasi dari: Rose for Mama – C.W. McCall)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita 3


Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang kusayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat,sebelum Aku mati.

Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung. Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng Gereja berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis ,meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan. “Tuhan, Ampunilah Anak Hamba.Biarlah HambaMu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah . Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng Gereja belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng di Gereja. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi, suara dentangnya tidak ada.

Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah. , darah tersebut datangnya dari atas,berasal dari tempat di mana Lonceng diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata . Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
[Continue reading...]

Islam Madzhab "GOOGLE"

- 0 komentar
Siapa yang tidak kenal dengan “Google”? Sebuah mesin pencarian data di internet yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Bin, yang hari ini telah berkembang sedemikian besarnya mempengaruhi kehidupan manusia. Hanya dengan mengetikkan sebuah kata kunci tertentu, seseorang dengan sangat mudah akan mendapatkan informasi yang ia inginkan. Dari informasi bisnis, politik, infortainment, kajian ilmiah, hingga agama.

Kemudahan mendapatkan informasi instan melalui internet ini tentu saja memiliki sisi positif yang sangat berguna bagi umat manusia. Tanpa perlu banyak bersusah-payah dan membuang banyak waktu seperti dengan membaca literatur buku di perpustakaan misalnya, seseorang bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan dengan lebih cepat. Tapi tentu saja, kemudahan ini bukannya tanpa efek buruk. Apalagi jika informasi yang dimaksud berupa informasi yang bertema cukup sensitif seperti agama.

Agama, sebagai sebuah ideologi yang diyakini oleh seseorang sebagai sebuah kebenaran merupakan sesuatu yang sangat prinsipil, dan karenanya amat sensitif bagi sebagian orang. Seseorang yang hanya mengandalkan “Mbah Google” untuk mengetahui ‘kebenaran’ sebuah keyakinan, meski pun bisa-bisa saja, sangat mungkin ia akan terjebak dalam apa yang bisa kita sebut ‘the dark side of internet’.

Sisi Gelap Internet

Sebagai sebuah media bebas, di mana setiap orang -dengan motif-motif dan kepentingan-kepentingan tertentu yang ditujunya- bisa mengemukakan pendapatnya mengenai suatu masalah tertentu. Baik ia memang kompeten dalam bidang tersebut mau pun tidak. Baik ia memang berniat memberikan informasi yang benar, mau pun sebaliknya, hendak mendistorsi fakta tertentu demi kepentingan tertentu.

Agama, sebagai sebuah ‘sacred item’ yang banyak diagungkan oleh seseorang, dan bahkan mereka sampai berani mati untuk membelanya dalam hal ini merupakan sebuah objek yang sangat berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung-jawab. Kita bisa mengecek dengan mudah, betapa banyak informasi-informasi tentang agama beserta aliran-alirannya di internet yang sebagian besar didominasi oleh jenis-jenis informasi sampah yang isinya hanya hasutan, provokasi, menebar kebencian, arogansi, dan semangat jihad yang salah arah. Di sinilah, bahaya besar yang mengancam semangat persatuan umat mengintai kita. Nyawa bisa melayang karenanya. Anak-anak bisa diyatimkan, dan istri-istri bisa dijandakan olehnya.

Di luar negeri seperti Suriah, Irak, Pakistan, juga di negeri-negeri Barat seperti Amerika dan Perancis, kita mendengar berita-berita yang mempertegas hal ini. Betapa isu-isu sektarian sangat efektif digunakan oleh pihak-pihak yang berniat buruk untuk mengadu domba umat beragama. Begitu juga di tanah air tercinta, kasus Ahmadiyah, Gereja Yasmin, dan yang paling baru, pembakaran rumah, pesantren, dan masjid 300 warga Syi’ah Sampang.

Selain memang karena pemerintah yang lalai dan munculnya tokoh-tokoh berjiwa setan namun memakai jubah ulama yang memperkeruh suasana, hal yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan adalah peran penyebaran informasi-informasi negatif, provokatif, dan penebar kebencian di internet yang begitu mudah kita dapatkan dengan mengetik kata kunci tertentu di ‘Mbah Google’..

Tentu saja, mengvonis ‘Mbah Google’ itu buruk adalah kenaifan, tetapi jika seseorang yang berusaha mencari kebenaran hanya dengan bermodal mengetik “kata kunci” yang bersesuaian dengan opini awalnya, itu artinya ia sedang menciptakan dirinya sebagai individu yang kehilangan semangat berfikir dan semangat kritis karena menginginkan segala sesuatu dengan instan. Padahal sangat bolah jadi, informasi atau analisis yang ia telan ini tak lebih dari gundukan sampah pemikiran yang diramu dari fanatisme buta, kepicikan paradigma, dan kebencian tak terkendali pihak-pihak tertentu yang mengorkestrakannya dari menara gading di negeri antah barantah sana.

Anda mau menjelek-jelekkan “kelemahan” Kristen? Ada banyak di internet. Tapi jangan lupa, bukti-bukti tentang “keburukan” Islam juga bejibun. Kalau anda benci Syiah misalnya, Anda bisa memperolah ratusan ribu bahkan jutaan halaman yang menyediakan informasi instan bahkan manipulatif dengan mengetik “Kesesatan Syiah”. jutaan jumlahnya. atau ingin mencaci maki Sunni atau NU? anda bisa dengan mudah memperolehnya juga dengan mengetik kata “Kesesatan Sunni”, "bid'ah NU", etc...

Semua itu dapat Anda peroleh dengan mudah, terutama jika Anda tidak kritis dengan yang anda baca dan mulai berasumsi bahwa semua yang anda baca adalah kebenaran yang mutlak (apalagi jika sesuai pendapat awal anda). Lalu dengan sangat ceroboh mengetukkan palu vonis sesat-kafir-halal darahnya pada mereka yang berbeda dengan Anda.

Inilah Islam madzhab “Google”.



[Continue reading...]

Jangan Ikuti Alasanku Ini Untuk Menunda Sholat!

- 0 komentar
Waktu usiaku 7 tahun, aku merasa tidak berkewajiban untuk menunaikan ibadah shalat. Karena dulu, aku percaya kalau katanya dosa anak yang belum baligh (dewasa) itu ditanggung oleh orang tua. Pasalnya, orang tua lah yang
berkewajiban mendidik anaknya. Ya, sesekali aku shalat karena cinta pada orang tua. Takut kalau mereka harus masuk neraka karena aku tidak shalat. Padahal hakikatnya kalimat “dosa ditanggung oleh orang tua” itu adalah agar anak jadi rajin beribadah, karena biasanya anak-anak akan mencintai orang tuanya dan tidak mau kalau orang tuanya masuk neraka.



Menginjak usia 13 tahun, aku juga belum shalat. Lah, kan aku belum baligh. Jadi belum menanggung dosa sendiri. Masih ada orang tua yang bisa dijadikan tameng dari dosa-dosa. Lagipula di usia itu adalah saat yang paling enak untuk bermain dengan teman sebaya. Bermain sepak bola, kejar-kejaran



Di usia 17 tahun, aku tahu aku sudah menanggung dosa sendiri. Karena sudah baligh, sudah mimpi “naik ke bulan”. Sebuah istilah yang aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku baru “naik ke bulan” selama dua tahun. Jadi dosaku masih dua tahun, masih sedikit. Jadi, umur 20 tahun nanti lah aku akan mengganti shalat yang tertinggal itu



Di usia 20 tahun, aku mulai mempertanyakan agamaku. Aku sudah masuk kuliah dan harus kritis. Jadi aku bertanya tentang tuhan, tentang kitab suci, tentang nabi dan tentang kebenaran dari semuanya. Aku tidak mungkin shalat dalam keadaan labil. Aku harus menemukan jati diriku



Di usia 24 tahun, aku selesai kuliah. Agamaku telah mulai kuyakini. Tapi kini aku tengah sibuk mencari kerja.
Jadi aku sibuk kesana kemari. Mencari lowongan, menyiapkan berkas lamaran. dan itu melelahkan sekali. Aku tidak memiliki waktu untuk shalat. Shalat sih sebentar saja, tapi kadang terlalu sering menginterupsi



Di usia 25 tahun, Aku belum mendapat kerja. Aku menggugat tuhan. Aku telah berusaha, tapi aku tidak mendapatkan. Aku jadi tidak mau shalat



Di usia 27 tahun, Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama. Posisiku juga lumayan. Tapi, sibuknya bukan main. Sebentar-sebentar HP berdering. Lagi pula aku tengah pedekate dengan seorang gadis pujaan. Dengan seabrek
kesibukan itu, mana sempat aku shalat



Usiaku beranjak 30, ketika anak pertamaku lahir. Duh senangnya, karirku juga makin mapan. Namun, kesibukan makin merajai. Aku harus mengejar setiap kesempatan untuk masa depan keluargaku. Pertumbuhan anakku juga menyita perhatian yang besar, aku juga harus menyekolahkan anakku ke sekolah umum dan agama agar kelak ia berguna bagi bangsa dan agamanya



Di usia 35, anak keduaku lahir. Dia wanita, cantik sekali. Bahkan sering aku memandikan dan menggantikan popoknya. Hidupku serasa lengkap sekali. Tapi, biaya hidup makin meningkat. Orang tuaku juga sudah mulai sakit-sakitan dan butuh biaya berobat. Aku harus makin rajin bekerja untuk menafkahi mereka. Sholat masih bisa kumulai di usia 40 nanti, pikirku



Di usia 40, entah kenapa anakku tak seperti yang kuharapkan. Aku tak menyangka mereka bisa senakal itu. Bahkan anak pertamaku pernah tertangkap karena menghisap daun ganja. Daun surga katanya. Aku tak bisa konsentrasi untuk shalat. Ada saja yang membuat aku tak pernah melakukan ibadah utama itu



45 tahun kujalani. Aku semakin lemah, tak sekuat dulu. Batuk sesekali mengeluarkan darah. Istriku mulai rajin berdandan, sayangnya dia berdandan saat keluar rumah saja. Di rumah, wajahnya tak pernah dipupur bedak sedikitpun. Aku merutuk, dosa apa yang telah aku lakukan hingga hidupku jadi begini?



Usiaku menginjak 55, aku berpikir kalau usia 60 nanti adalah waktu yang tepat untuk memulai shalat. Saat aku sudah pensiun dan aku akan tinggal di rumah saja. Saat itu adalah saat yang tepat sekali untuk menghabiskan hari tua dan beribadah sepenuhnya kepada tuhan.
Tapi aku sudah lupa bagaimana cara shalat. Aku lupa bacaannya. Aduh, aku harus mendatangkan seorang ustadz ke rumah seminggu 3 kali. Tapi aku tak kuat lagi untuk mengingat. Ingatanku tak setajam ketika dulu aku kerap juara lomba di kampus atau sekolah. Atau ketika manajer perusahaan salut pada tingkat kecerdasanku. Kali ini semua telah pudar. Jadi, apa yang diajarkan ustadz itu sering membal dari telingaku. Lagipula, badanku sudah tak begitu kuat untuk duduk lama-lama.
Kalau tidak salah, kali itu usiaku 59 tahun ketika istriku minta cerai. Alasannya tak lagi jelas kuingat, salah satunya katanya karena lututku tak kencang lagi bergoyang. Lucu ya? Entah kenapa juga dulu aku menikahinya, umurnya 20 tahun lebih muda dariku. Dia memang istri keduaku. Istri pertamaku dulu hilang, dibawa sahabatku.



Tak sampai usiaku 60, aku masih berusaha untuk shalat. Tapi serangan jantung membuat rumah mewahku ramai. Mereka terlihat menangis. Bahkan anak pertamaku yang membangkrutkan satu perusahaan keluargaku terlihat begitu tertekan. Ada kata yang sepertinya ingin dia ucap.Terakhir aku akhirnya bisa shalat juga, sayangnya aku tidak shalat dengan gerakku sendiri. Aku hanya terbaring atau terbujur tepatnya. dan orang-orang menyalatkanku
[Continue reading...]

Monday, December 16, 2013

Jadilah Pasien Yang Cerdas

- 0 komentar
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti 

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
[Continue reading...]

Lambang Negara Indonesia Ternyata Berasal Dari Koin Uang Asing

- 0 komentar
Pada tanggal 11 Agustus 1999, Turiman membuktikan kebenaran Sultan Syarif Muhammad Alkadrie atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak sebagai pencipta lambang Negara Burung Garuda dalam tesis S-2 di Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia yang berjudul Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia, Suatu Analisis Yuridis tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Perundang-undangan. Sultan Hamid II dikenal cerdas dan sekaligus sebagai orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan AkademiMiliter Belanda (KMA) di Breda Belanda dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal saat menjadi ajudan Ratu Juliana.
Dalam mencari ide untuk membuat lambang Negara, Sultan Hamid II mendapat inspirasi dengan meminjam lambang burung Garuda yang menjadi lambang kerajaan Sintang pada tahun 1948 yang dibawa ke Pontianak. Menurut Gusti Djamadin, Lambang kerajaan Sintang sendiri, kini masih tersimpan di Istana Al Muqqaromah Sintang. Ada berupa patung yang memang sama dengan lambang Negara kita saat ini. Patung-patung itu sendiri menurut Gusti Djamadin dibuat oleh seorang putra Dayak yaitu Sutha Manggala di masa kerajaan Sultan Abdurrahman. Patung tersebut disyahkan sebagai lambang kerajaan Sintang tahun 1887 (Sumber : Kalimantan-news.com).
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara yang bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang Negara untuk dipilih dan diajukan kepada Pemerintah. Dalam pelaksanaannya terpilih dua rancangan lambang Negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M.Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Sedangkan karya M.Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang. Setelah dilakukan penyempurnaan – penyempurnaan oleh Sultan Hamid II, Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang Negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang Negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Selain adanya pengaruh dari lambang Kerajaan Sintang, bentuk perubahan lambang Garuda lebih banyak terinspirasi dari lambang Kerajaan Samudera Pasai. Menurut Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara, lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi. Gambar dimaksud sebagaimana dibawah ini :
13871037982072740424
Sumber : www.beritasatu.com
Ibrahim menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai.
Persoalannya, seberapa besar pengaruh lambang kerajaan Sintang dalam menginspirasi pembuatan lambang Garuda oleh Sultan Hamid II ?
Menurut penulis, pengaruhnya sangat besar namun tidak seberapa banyak. Selain pengaruh-pengaruh diatas, inspirasi pembuatan lambang Negara oleh Sultan Hamid II termasuk diantaranya Muhammad Yamin juga Soekarno lebih banyak terinspirasi dari koin mata uang Negara asing sebagaimana gambar-gambar berikut dibawah ini:
13871039121056776981
13871039751507576199
1387104019463491797
1387104049276388346
13871040801617748747
1387104116641388933
1387104158992705051
Hipotesa penulis, adanya pengaruh latarbelakang pendidikan para tokoh tersebut, juga adanya pengaruh situasi global pada waktu itu, yaitu perang dunia II, pengaruh Amerika Serikat dalam konferensi Meja Bundar, Komunis di Uni Soviet , kemerdekaan India merupakan penyebab didapatkannya inspirasi dari koin mata uang asing dengan tingkat pengaruh terbanyak dalam proses pembuatan lambang Negara.Intinya, adakah fakta tersembunyi dibalik keterangan sejarah yang ditutupi melalui ungkapan lukisan dinding arca dalam wujud garuda Wisnu atas nama pandangan hidup bangsa? Apakah para Pahlawan pada waktu itu teramat sungkan untuk membicarakannya? Wallahu’alam. Tampaknya penelitian tentang asal mula Pancasila sebagai lambang Negara tidak berakhir pada diakuinya Sultan Hamid II sebagai pencipta lambang negara Indonesia.

sumber : Kompasiana
[Continue reading...]

Saturday, December 14, 2013

Ketika Toleransi Itu Berbunyi "Surga Buat Gue, Neraka Buat Elu!

- 0 komentar
Menjelang perayaan natal, topik ‘perbedaan’ dan ‘toleransi’ mulai menghangat. Mulai dari persoalan ucapan selamat Natal yang mengundang pro kontra, sampai menyoal toleransi antar umat beragama dalam konteks yang lebih luas. Saya harap topik semacam ini jangan sampai memperuncing hubungan lintas agama di antara masyarakat. Sebagaimana konsep Bhineka Tunggal Ika di negara kita.

Seringkali saya heran dengan sikap beberapa pemeluk agama, saya sebut saja ‘oknum’ yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain. Hal ini tidak hanya dilakukan kepada kelompok yang berbeda agama, tapi terkadang juga kepada saudara seimannya hanya karena perbedaan aliran/keyakinan. Dikotomi kafir-iman seakan mudah saja terucap dari lisan, sebagaimana judul saya: Surga buat gue, neraka buat elu! (?)

Dari sini kita mulai bisa bertanya-tanya, apakah pantas kita sebagai manusia dengan mudahnya mengatakan seseorang itu kafir hanya karena berbeda agama/tidak sepaham dengan keyakinan kita? Apakah kita bisa menjamin bahwa orang yang kita anggap kafir akan selamanya kafir dan tiada pernah beroleh hidayah dari Tuhan? Terlebih, darimana kita bisa menyimpulkan balasan surga dan neraka yang itu merupakan hak prerogatif mutlak milik Tuhan semata? Bukankah arogan sekali bila kita demikian mudahnya mengatakan si A bakal masuk surga karena dia orang mukmin yang baik, atau si B bakal masuk neraka karena dia kafir dan tidak pernah beramal. Dari mana kita bisa menyimpulkan hal semacam itu?

Sikap mengkafirkan segolongan manusia seringkali membawa sikap konfrontatif, merasa agama atau keyakinannya yang paing benar. Merasa bahwa surga hanya diperuntukkan bagi agama/alirannya semata. Paham-paham semacam itu saya rasa merupakan biang di balik peperangan besar dan konflik yang tak kunjung berakhir. Agama telah beralih fungsi dari sebuah ajaran pembawa pesan damai dari Tuhan menjadi sebuah komoditas politik yang dipelintir untuk kepentingan-kepentingan materi semata. Tak terhitung berapa korban jiwa akibat perang yang dilatarbelakangi masalah agama. Tak terhitung berapa banyak kasus bom bunuh diri dikarenakan pemahaman agama yang picik dan sempit.

Saya sempat risih juga ketika dalam sebuah forum kajian, sang pembicara dengan gamblangnya menyinggung persoalan kafir-mukmin (orang-orang beriman) dengan mengerucutkan bahwa yang kafir adalah mereka yang berbeda agama dan keyakinan dengan kelompoknya. Parahnya, entah sadar atau tidak, si pembicara ini menggunakan pengeras suara dan di sekitar lokasi acara tersebut terdapat beberapa keluarga yang beragama minoritas. Seandainya saya jadi para minoritas ini, saya pun ‘nyesek’ ketika dikatain kafir. Seolah-olah mendengar proklamasi: surga buat gue, neraka buat elu.

Sungguh, keangkuhan dalam beragama bukanlah sesuatu yang bijak untuk dilestarikan. Yang terpenting dari agamanya bukan soal sisi eksklusivitasnya semata, tapi lebih dari itu agama harus ditempatkan sebagai bentuk rahmat dari Tuhan bagi semesta alam. Sekali lagi, agama adalah pesan damai. Tidak ada ajaran agama yang menyuruh umatnya untuk saling menyakiti. Kalau pun pada akhirnya timbul konflik, boleh jadi hal itu hanya karena pemahaman agamanya saja yang belum benar, atau ulah oknum tak bertanggung jawab yang sengaja menyulut bara di tengah masyarakat yang mejemuk dengan isu agama.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Kontekstualisasinya berbeda karena di sini saya hanya menekankan pentingnya toleransi, bukan sedang mencari agama mana yang paling benar dan baik di sisi Tuhan. Tapi setidaknya kita harus membuka mata bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan kehendak Tuhan. Saya pribadi seringkali bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak menjadikan agama ini satu umat saja? Sungguh, hanya Tuhan semata yang tahu alasan kenapa agama dan keyakinan 7 milyar umat manusia saat ini berbeda-beda.

Karena itu,tidaklah pantas apabila seseorang mempersoalkan masalah agama, toleransi, dan perbedaan keyakinan dengan dikotomi kafir-mukmin, lebih-lebih dalam suatu pembicaraan publik yang didengar orang banyak. Bukankah hanya Tuhan yang tahu persoalan hati manusia? Bukankah hanya Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia? Bukankah sangat mungkin Tuhan berkuasa mengubah orang yang tadinya kafir menjadi mukmin, begitu juga sebaliknya?

Maka sudilah kita menerima perbedaan ini dengan ikhlas tanpa mempersoalkannya hingga memecah belah persatuan dan memanaskan hubungan persaudaraan. Biarlah setiap pemeluk agama melakukan ritual peribadahannya sendiri dengan tenang, selama tidak mengganggu ketertiban bersama. Karena hanya dengan memandang agama sebagai pesan damai lah, kita akan mengerti hakikat agama dalam hidup ini. Dan cukuplah Tuhan yang tahu pasti siapa saja hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman dan berbuat baik serta siapa saja hamba-hamba-Nya yang mengaku beriman namun perilakunya jauh dari keimanan itu sendiri. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

sumber : kompasiana
[Continue reading...]

Wednesday, December 4, 2013

Mengenal Lebih Dekat Bahasa Surabaya

- 0 komentar
Dialek Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih kasar.

Batas wilayah penggunaan dialek Suroboyoan:

Wilayah Selatan
Perak (Kab. Jombang - bukan Tanjung Perak di Surabaya).

Wilayah Perak Utara masih menggunakan Dialek Surabaya, sementara Perak Selatan telah menggunakan Dialek Kulonan.

Malang (beberapa daerah di wilayah Kabupaten dan Kota Malang juga menggunakan dialek ini)
Wilayah Utara
Madura

Beberapa orang Madura dapat menggunakan Dialek ini secara aktif.

Barat

Wilayah Gresik , Wilayah Lamongan

Timur

Belum diketahui secara pasti, namun di sepanjang pesisir tengah Jawa Timur (Pasuruan, Probolinggo sampai Banyuwangi) Dialek ini juga banyak digunakan.



Orang Surabaya lebih sering menggunakan partikel "rek" sebagai ciri khas mereka. Partikel ini berasal dari kata "arek", yang dalam dialek Surabaya menggantikan kata "bocah" (anak) dalam bahasa Jawa standar. Partikel lain adalah "seh" (e dibaca seperti e dalam kata edan), yang dlam bahasa Indonesia setara dengan partikel "sih".

Orang Surabaya juga sering mengucapkan kata "titip" secara /tetep/, dengan i diucapkan seperti /e/ dalam kata "edan"; dan kata "tutup" secara /totop/ dengan u diucapkan seperti /o/ dalam kata "soto".


Beberapa kosa kata khas Suroboyoan:

"Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);

"kathuken" berarti "kedinginan" (bahasa Jawa standar: kademen);

"gurung" berarti "belum" (bahasa Jawa standar: durung);

"gudhuk" berarti "bukan" (bahasa Jawa standar: dudu);

"deleh" berarti "taruh/letak" (delehen=letakkan) (bahasa Jawa standar: dekek);

"kek" berarti "beri" (kek'ono=berilah) (bahasa Jawa standar: wenehi);

"ae" berarti "saja" (bahasa Jawa standar: wae);

"gak" berarti "tidak" (bahasa Jawa standar: ora);

"arek" berarti "anak" (bahasa Jawa standar: bocah);

"kate/kape" berarti "akan" (bahasa Jawa standar: arep);

"lapo" berarti "sedang apa" atau "ngapain" (bahasa Jawa standar: ngopo);

"opo'o" berarti "mengapa" (bahasa Jawa standar: kenopo);

"soale" berarti "karena" (bahasa Jawa standar: kerono);

"atik" (diucapkan "atek") berarti "pakai" atau "boleh" (khusus dalam kalimat"gak atik!" yang artinya "tidak boleh");

"longor/peleh" berarti "tolol" (bahasa Jawa standar: goblok/ndhableg);

"cek" ("e" diucapkan seperti kata "sore") berarti "agar/supaya" (bahasa Jawa standar: ben/supados);

"gocik" berarti "takut/pengecut" (bahasa Jawa standar: jireh);

"mbadok" berarti "makan" (sangat kasar) (bahasa Jawa standar: mangan);

"ciamik soro/mantab jaya" berarti "enak luar biasa" (bahasa Jawa standar: enak pol/enak banget);

"rusuh" berarti "kotor" (bahasa Jawa standar: reged);

"gae" berarti "pakai/untuk/buat" (bahasa Jawa standar: pakai/untuk=kanggo, buat=gawe);

"andhok" berarti "makan di tempat selain rumah" (misal warung);
"cangkruk" berarti "nongkrong";

"babah" berarti "biar/masa bodoh";

"matek" berarti "mati" (bahasa Jawa standar: mati);

"sampek/sampik" berarti "sampai" (bahasa Jawa standar: nganti);

"barekan" berarti "lagipula";

"masiyo" berarti "walaupun";

"nang/nak" berarti "ke" atau terkadang juga "di" (bahasa Jawa standar: menyang);

"mari" berarti "selesai";(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan "wis mari tah?" yang berarti "sudah selesai kah?"
Pengertian ini sangat berbeda dengan "mari" dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, "mari" berarti "sembuh"

"mene" berarti "besok" (bahasa Jawa standar: sesuk);

"maeng" berarti tadi.

"koen" (diucapkan "kon") berarti "kamu" (bahasa Jawa standar: kowe). Kadangkala sebagai pengganti "koen", kata "awakmu" juga digunakan. Misalnya "awakmu wis mangan ta?" (Kamu sudah makan kah?") Dalam bahasa Jawa standar, awakmu berarti "badanmu" (awak = badan)

"lading" berarti "pisau" (bahasa Jawa standar: peso);

"lugur" berarti "jatuh" (bahasa Jawa standar: tiba);

"dhukur" berarti "tinggi" (bahasa Jawa standar: dhuwur);

"thithik" berarti "sedikit" (bahasa Jawa standar: sithik);

"temen" berarti "sangat" (bahasa Jawa standar: banget);

"pancet" berarti "tetap sama" ((bahasa Jawa standar: tetep);

"iwak" berarti "lauk" (bahasa Jawa standar: lawuh, "iwak" yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, "mangan karo iwak tempe", artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);

"engkuk" (u diucapkan o) berarti "nanti" (bahasa Jawa standar: mengko);

"ndhek" berarti "di" (bahasa Jawa standar: "ing" atau "ning"; dalam bahasa Jawa standar, kata "ndhek" digunakan untuk makna "pada waktu tadi", seperti dalam kata "ndhek esuk" (=tadi pagi),"ndhek wingi" (=kemarin));

"nontok" lebih banyak dipakai daripada "nonton";

"yok opo" (diucapkan /y@?@p@/) berarti "bagaimana" (bahasa Jawa standar: "piye" atau *"kepiye"; sebenarnya kata "yok opo" berasal dari kata "kaya apa" yang dalam bahasa Jawa standar berarti "seperti apa")

"peno"/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu.

"jancuk" ialah kata makian yang sering dipakai seperti "fuck" dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif "diancuk"; "jancuk" dari kata 'dancuk' dan turunan dari 'diancuk' dan turunan dari 'diencuk' yg artinya 'disetubuhi' ('dientot' bahasa betawinya). variasi yang lebih kasar ialah "mbokmu goblok, makmu kiper, dengkulmu sempal, matamu suwek, koen ancene jancuk'an"; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah.

"waras" ialah sembuh dari sakit (dalam Bahasa Jawa Tengah sembuh dari penyakit jiwa)

"embong" ialah jalan besar / jalan raya

"nyelang" artinya pinjam sesuatu

"parek/carek" artinya dekat

"ndingkik" artinya mengintip

"semlohe" artinya sexy (khusus untuk perempuan)

Orang Jawa (golongan Mataraman) pada umumnya menganggap dialek Suroboyoan adalah yang terkasar, namun sebenarnya itu menujukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan Wong Jawa, tidak berlaku dalam kehidupan Arek Suroboyo. Misalnya dalam berbicara, Wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin, karena dianggap tidak sopan. Tapi dalam budaya Arek Suroboyo, hal tersebut menandakan bahwa orang tersebut sejatinya pengecut, karena tidak berani memandang mata lawan bicara. Kosakata "jancuk" misalnya. Selain berfungsi untuk menunjukkan sikap marah dan menghina orang lain, juga dapat diartikan sebagai tanda persahabatan. Arek-arek Suroboyo apabila telah lama tidak bertemu dengan sahabatnya jika bertemu kembali pasti ada kata jancuk yang terucap, contoh: "Jancuk piye khabare rek suwi gak ketemu!" Jancuk juga merupakan tanda seberapa dekatnya Arek Suroboyo dengan temannya yang ditandai apabila ketika kata jancuk diucapkan obrolan akan semakin hangat. Contoh: "Yo gak ngunu cuk critane matamu mosok mbalon gak mbayar".

Selain itu, sering pula ada kebiasaan di kalangan penutur dialek Surabaya, dalam mengekspresikan kata 'sangat', mereka menggunakan penekanan pada kata dasarnya tanpa menambahkan kata sangat (bangat atau temen) dengan menambahkan vokal "u", misalnya "sangat panas" sering diucapkan "puanas", "sangat pedas" diucapkan "puedhes", "sangat enak" diucapkan "suedhep". Apabila ingin diberikan penekanan yang lebih lagi, vokal "u" dapat ditambah.

Hawane puanas (udaranya panas sekali)
Sambele iku puuuedhes (sambal itu sangat sangat pedas sekali)

Selain itu. salah satu ciri lain dari bahasa Jawa dialek Surabaya, dalam memberikan perintah menggunakan kata kerja, kata yang bersangkutan direkatkan dengan akhiran -no. Dalam bahasa Jawa standar, biasanya direkatkan akhiran -ke

"Uripno (Jawa standar: urip-ke) lampune!" (Hidupkan lampunya!)
"Tukokno (Jawa standar: tukok-ke) kopi sakbungkus!" (Belikan kopi sebungkus!)


Perbedaan antara bahasa Jawa standar dengan bahasa Jawa Surabaya tampak sangat jelas berbeda dalam beberapa kalimat dan ekspresi seperti berikut :


Bahasa Jawa Surabaya : He yo'opo kabare rek?
Bahasa Jawa standar : Piye kabare cah?
Bahasa Indonesia : Apa kabar kawan?


Bahasa Jawa Surabaya : Rek, koen gak mangan ta?
Bahasa Jawa standar : Cah, kowe ra podho maem to?
Bahasa Indonesia : Kalian tidak makan?


Bahasa Jawa Surabaya : Ton(nama orang), celukno Ida(nama orang) po'o
Bahasa Jawa standar : Ton, undangke Ida
Bahasa Indonesia : Ton, panggilkan Ida dong

Bahasa dan cara bicara orang Surabaya memang terkesan kasar dan kurang ajar, tapi sebenarnya hati orang Surabaya baik dan suka menolong....INSYA ALLAH...

Overall, "DON'T LOOK SURABAYA JUST FROM THE GRAMMAR".......



[Continue reading...]

Tuesday, December 3, 2013

Merindukan Shalawat Tarkhim

- 0 komentar
Jika anda tinggal di kampung, atau di lingkungan dimana banyak jamaah NU, pastilah anda akan terbiasa mendengar suara bacaan shalawat yang dikumandangkan menjelang adzan subuh. Itulah shalawat tarkhim. Lantunan suara yang merdu, dengan nada yang mendayu-dayu memang sangat pas jika diputar di awal fajar. Mengingatkan orang untuk segera bangun, mengambil air wudhu dan bergegas ke Masjid atau musholla untuk menunaikan shalat subuh.

Yang tak banyak diketahui orang adalah, sholawat tarkhim bukanlah made in Arab, apalagi made in Indonesia. Justru, shalawat tarkhim bermula dari kebiasaan orang Mesir, dan yang membawanya ke Indonesia juga ulama dari negeri Fir’aun tersebut. Shalawat ini pertama kali dipopulerkan di Indonesia melalui Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat), Surabaya pada akhir tahun 1960′an. Penciptanya adalah Shaikh Mahmoud Khalil Al Hussary, ketua Jam’iyyatul Qurro’ di Kairo, Mesir. Bagaimana asal mula ceritanya shalawat tarhim ini akhirnya bisa sampai ke Indonesia? Menurut Cak Nun (Emha Ainun Najib), Syaikh Al Hussary pernah berkunjung ke Indonesia—misi belum diketahui, mungkin dalam rangka study tour—dan beliau ‘dibajak’ di Lokananta, Solo untuk rekaman shalawat tarhim ini.

Syaikh Mahmoud Al-Hussary (1917-1980, ?) adalah ulama lulusan Universitas Al-Azhar dan merupakan salah satu Qâri’  (pembaca Quran) paling ternama di jamannya, sampai-sampai ia digelari Shaykh al-Maqâri (yang ahli qiroah). Syaikh Al-Hussary dikenal karena kepiawaiannya dalam membaca Qur’an secara tartîl. Ia mengatakan bahwa membaca Qur’an bukan semata-mata tentang irama (lagu) atau seni bacaannya, yang paling penting adalah tartîl: memahami bacaan Qur’an dengan baik dan benar, yaitu melalui studi kebahasaan (linguistik) dan dialek Arab kuno, serta penguasaan teknik pelafalan huruf maupun kata-perkata dalam Quran. Dengan begitu bisa dicapai tingkat kemurnian (keaslian makna) yang tinggi dalam membaca Al-Qur’an.

Lantas, mengapa dinamakan “Sholawat Tarkhim”? Padahal, setahu saya arti kata tarkhim menurut ilmu nahwu adalah “merendahkan suara”. Sampai saat ini saya masih belum dapat jawabannya. Pun kalau dilihat dari isi sholawat tersebut.

“Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk, Yâ Imâmal Mujâhidîn Yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk, Yâ Nâshiral Hudâ Yâ Khayra Khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk, Yâ Nâshiral Haqqi Yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk, Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan
Nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ
Kullu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa sami’ta nidâ-an ‘alaykas salâm
Yâ Karîmal Akhlâq Yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka Wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în”

“Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu,
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulallah.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu,
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu,
duhai penolong kebenaran, ya Rasulallah.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu,
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi.
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur.
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam. Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemuliaanmu.
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu.
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah.
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu,
atas keluargamu dan sahabatmu”.

Isi dari shalawat tarkhim adalah puji-pujian bagi Nabi Muhammad, yang sudah diperjalankan oleh Allah ke Sidratul Muntaha. Dan yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Isra’ Mi’raj.
Saya tidak tahu, apakah ada maksud tertentu dari sang ulama Syaikh Al-Hussary atau Radio Yasmara untuk memperdengarkan sholawat ini menjelang adzan subuh. Terlepas dari apakah ini bid’ah atau bukan. Karena bagi saya, apa salahnya mensyiarkan puji-pujian atas Rasullullah, dan apa salahnya mengingatkan sesama muslim akan peristiwa Isra’ Mi’raj ini.

Bagi yang belum pernah mendengar lantunan sholawat tarkhim, cobalah untuk mendengarnya. Apalagi jika anda mendengarnya di waktu menjelang adzan subuh.  Niscaya, anda akan terhanyut dalam desir kenikmatan iman dan islam. Teringat akan kezuhudan, serta kemulian akhlak Rasullullah. Serta tak lupa untuk selalu mengingatkan anda akan peristiwa Isra’ Mi’raj.

[Continue reading...]
 
Copyright © . # - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger