Results for mozaik islam

Benarkah Ayat Kursi Dapat Mengusir Setan?

June 05, 2021

 

Ada guyonan di kalangan sebagian besar umat Islam (terutama di Jawa), bahwa apabila kita bertemu makhluk halus (Kuntilanak, Genderuwo, Pocong, Sundel Bolong dan sebangsanya), bacakan ayat Kursi.

Apabila makhluk halus itu tidak pergi meski kita sudah membaca ayat Kursi, maka lemparkan saja kursi ke arahnya, karena itu berarti makhluk yang kita lihat bukan makhluk halus beneran. Melainkan manusia yang menyamar jadi makhluk halus.

Ya, ayat Kursi sering dijadikan senjata untuk mengusir makhluk halus. Dalam film-film horor Indonesia pun, tokoh kyai atau ustaz-nya digambarkan selalu membaca ayat Kursi saat melakukan ritual pengusiran makhluk halus.

Apakah benar ayat Kursi dapat mengusir, atau dengan kata lain melindungi kita dari makhluk halus?

Apakah ada dalilnya?

Hakikatnya, setiap surah atau ayat Al-Quran memiliki keistimewaan masing-masing. Seperti surah Al-Ikhlas, yang menurut hadis Rasulullah Saw apabila kita membacanya maka sama dengan membaca sepertiga Al-Quran. Atau surah Al-Fatihah yang dikatakan induk dari Al-Quran (Ummul Kitab).

Begitu pula dengan ayat Kursi yang tak lain adalah ayat ke-255 surah Al-Baqarah. Ayat ini dinamakan ayat Kursi karena mengandung firman Kursiyyuhu. Sebagian ahli tafsir mengatakan yang dimaksud Kursiyyuhu (Kursi Allah) dalam ayat ini adalah ilmu Allah, dan sebagian mengartikan  kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi.

Mengenai keistimewaan ayat Kursi, ada dalil hadis yang dijadikan dasar mengapa ayat Kursi dianggap dapat mengusir makhluk halus:

Dari Muhammad bin Ubay bin Kaab dari ayahnya: Bahwa dia memiliki sebuah wadah besar yang berisikan kurma, ia menjumpai isinya berkurang.

Pada suatu malam, ia menjaganya, tiba-tiba ia melihat seekor hewan yang bentuknya mirip anak lelaki yang baligh. Lalu aku (Kaab) memberi salam kepadanya dan ia pun menjawab salamku.

Aku bertanya: “Siapakah kamu, jin atau manusia?”

Ia menjawab: “Jin.”

Aku berkata: “Kemarikan tanganmu.”

Maka ia mengulurkan tangannya, ternyata tangannya seperti kaki anjing dan berbulu seperti anjing. Lalu aku bertanya, “Apakah demikian bentuk jin?”

Ia menjawab: “Kamu sekarang telah mengetahui bentuk jin. Di kalangan mereka tidak ada yang lebih kuat dari aku.”

Lalu aku bertanya: “Apa yang mendorongmu berbuat demikian?”

Ia menjawab: “Telah sampai kepadaku, bahwa engkau adalah orang yang suka bersedekah, aku ingin memperoleh sebagian dari makananmu.”

Kemudian aku bertanya: “Amalan apakah yang dapat melindungi kami dari kalian?”

Jin itu menjawab: “Ayat ini yang terdapat di dalam surah Al-Baqarah: Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum (Al-Baqarah: 255).”

“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.”

Pada keesokan harinya aku menemui Nabi Saw lalu aku menceritakan hal itu kepadanya. Beliau bersabda,

“Benarlah apa yang dikatakan oleh si jahat itu.” (HR At-Thabrani).

Hadis tersebut mengabarkan pada kita salah satu keistimewaan ayat Kursi adalah dapat melindungi kita dari gangguan jin (makhluk halus). Apabila kita membacanya ketika sore, maka kita akan terlindung dari gangguan makhluk halus hingga pagi hari. Apabila kita membacanya ketika pagi, kita akan terlindungi dari makhluk halus sampai sore. Dan semua ini tentunya atas ijin Allah Swt.

 

Benarkah Ayat Kursi Dapat Mengusir Setan? Benarkah Ayat Kursi Dapat Mengusir Setan? Reviewed by Himam Miladi on June 05, 2021 Rating: 5

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

May 24, 2021

 

kisah nabi musa menampar malaikat maut


Semasa mudanya, Nabi Musa a.s dikenal temperamental. Meski begitu, Nabi Musa memiliki kebijakan dan keadilan yang melebihi sifat temperamentalnya itu.

Nabi Musa juga memiliki sikap kepemimpinan yang tegas. Sikap yang sangat diperlukan untuk menghadapi kaum Bani Israil yang keras tabiatnya.

Kisah Nabi Musa dan Firaun termasuk kisah utama yang terdapat dalam Al-Quran. Mulai dari beliau lahir, dipungut sebagai anak oleh istri Firaun, hingga pada periode kenabiannya setelah tenggelamnya Firaun di Laut Merah.

Di antara riwayat hidup Nabi Musa yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, ada satu kisah menarik yang hanya terdapat dalam riwayat hadis. Kisah Nabi Musa menampar Malaikat Maut lantaran dianggap lancang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang berkisah:

Malaikat Maut diutus kepada Musa. Ketika dia datang Musa menamparnya. Malaikat Maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang menolak mati.

Lalu Allah mengembalikan matanya (yang rusak karena tamparan Musa).

Allah berfirman kepada Malaikat Maut, Kembalilah kepada Musa. Katakan kepadanya agar ia meletakkan telapak tangannya di punggung sapi jantan. Maka bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya  itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.

Musa berkata, Ya Rabbi setelah ini apa?

Malaikat Maut menjawab, Maut.

Musa berkata, Sekarang aku pasrah.

Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh sepelemparan batu.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, Seandainya aku berada di sana niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian yang berada di sisi jalan di dataran berpasir  merah yang bergelombang.

 

Dalam riwayat Muslim, Malaikat Maut mendatangi Musa dan berkata, Jawablah panggilan Tuhanmu. Rasulullah Saw bersabda, Musa menempeleng mata Malaikat Maut hingga membuatnya rusak. Lalu Malaikat Maut kembali kepada Allah dan berkata, Engkau mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati. Dia telah merusak mataku.

Rasulullah Saw bersabda, Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman kepadanya, Kembalilah kamu kepada hamba-Ku, katakan kepadanya, Apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup maka letakkanlah tanganmu di punggung sapi jantan, rambut yang tertutup oleh tanganmu itulah sisa umurmu. Satu rambut satu tahun.

Musa bertanya, Seterusnya apa?

Malaikat menjawab, Kemudian kamu mati.

Musa berkata, Sekarang ya Rabbi, dari dekat.

Musa berkata, Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu.

Rasulullah Saw bersabda, Demi Allah, seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan pasir merah.

Hadis tentang perjumpaan Musa dengan Malaikat Maut tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Ahadisil Anbiya bab wafatnya Nabi Musa. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Kitabul Fadhail bab keutamaan Musa. 

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

Melalui hadis tersebut, Rasulullah memberitakan kepada kita salah satu kemuliaan atau hak privilige yang dimiliki Nabi dan Rasul adalah mereka diberi pilihan, antara melanjutkan kehidupannya di dunia atau pulang ke sisi Rafiqil Ala.

Dalam kisah Nabi Musa ini, Allah mengutus Malaikat Izroil untuk menemui Nabi Musa dalam wujud manusia. Seperti halnya Malaikat Izroil menemui Rasulullah Saw dalam wujud manusia pula.

Ketika bertemu, Malaikat Maut kemudian meminta Musa menjawab panggilan Tuhannya. Artinya ajal Musa sudah tiba dan waktunya sangat dekat.

Nabi Musa yang memiliki temperamen cukup tinggi, kemudian menampar Malaikat Maut. Entah karena menganggap tidak sopan, atau tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Waallohu alam.

Akibat tamparan Nabi Musa, mata Malaikat Maut (dalam wujud manusia rusak). Seandainya Malaikat Maut mendatangi Nabi Musa dalam wujud aslinya, niscaya Nabi Musa tidak akan mampu menempelengnya. Tidak akan bisa!

Setelah ditempeleng Nabi Musa, Malaikat Maut pun mengadu kepada Allah Swt perihal perlakuan Nabi Musa terhadapnya. Allah kemudian mengembalikan mata (manusia) Malaikat Maut dan mengutusnya kembali kepada Nabi Musa dan meminta Nabi Musa meletakkan telapak tangannya ke punggung sapi jantan. Rambut yang tertutupi tangan itulah yang menjadi tanda sisa usia Nabi Musa.

Akan tetapi, ketika Nabi Musa mendapat jawaban bahwa setelah kehidupan yang sedemikian panjang itu dia akan berjumpa lagi dengan Maut, Nabi Musa memohon kepada Allah agar segera mengambil nyawanya agar bisa berada di sisi-Nya!

Apa yang ada di sisi Allah bagi para Nabi dan Rasul-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang saleh, itu lebih baik dan lebih kekal. 

Kematian itu Pasti

Hadis ini juga mengajarkan pada kita bahwa kematian itu pasti. Sepanjang apa pun usia kita, ujungnya adalah kematian. Tidak ada satu pun makhluk yang bernyawa di dunia ini bisa menghindar dari kedatangan Malaikat Maut. Bahkan seandainya ia bersembunyi di lubang semut, di bunker anti nuklir, di pulau terpencil, di puncak gunung tertinggi, Maut akan mendatanginya.

Kapankah waktunya?

Kita tidak akan tahu. Kita tidak akan pernah tahu kapan Malaikat Maut menyapa kita. Namun, dia sudah memberi tanda-tanda pada kita.

Rambut yang memutih, tubuh yang sudah mulai bongkok. Jalan yang mulai tertatih. Itu semua tanda-tanda dari Malaikat Maut.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, sudah siapkah kita menyambut kedatangan tamu yang pasti itu? Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih abadi nanti?

 

 

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut Reviewed by Himam Miladi on May 24, 2021 Rating: 5

Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi

April 22, 2020


Bagi sebagian umat Islam, Ramadan tahun ini diselimuti banyak kesedihan. Tak ada buka puasa bersama, tak boleh sholat tarawih berjamaah.

Apalagi bagi mereka yang di perantauan. Mereka tak bisa lagi mudik lebaran. Pemerintah sudah memutuskan untuk melarang mudik, demi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Ketika kita sudah terbiasa dengan ritual dan suasana Ramadan yang ceria, keadaan ini sulit untuk kita terima. Namun, alih-alih terjebak dalam lautan kesedihan, kita bisa menjalani Ramadan tahun ini dengan perspektif baru.

Seperti apa?

Coba ingat-ingat, bagaimana pengeluaran kita di Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Jujur saja, setiap kali bulan Ramadan datang, pengeluaran kita mendadak selalu bertambah, betul tidak?

Aneh kan, di bulan yang semestinya kita bisa berhemat karena hanya makan dan minum di malam hari saja, kita malah berlaku boros. Termasuk saya sendiri, yang kadang masih sering tidak tahan untuk membeli makanan yang berlebih, terutama makanan yang memang hanya ada/muncul pas kala bulan Ramadan saja.

Terhadap sikap konsumtif itu, kita selalu mencari pembenaran bahwa berbelanja banyak bahan makanan itu untuk persediaan berbuka puasa atau untuk sahur nanti. Kita tak mau tahu apakah makanan-makanan yang kita beli itu bisa kita habiskan atau kita buang percuma sisanya.

Inilah yang dinamakan paradoks Ramadan. Ada kontradiksi antara praktik fiqh Ramadan dengan praktik konsumtif kita selama menjalankan ibadah puasa. Padahal, hakekat ibadah puasa adalah upaya pembelajaran bagi kita untuk menahan nafsu makan, minum, seksual dan hawa nafsu lainnya.

Kalau hanya sekedar tidak makan, minum dan menahan nafsu seksual saja, kambing juga bisa. Karena kita adalah makhluk yang diciptakan dengan akal pikiran, maka perintah untuk menahan nafsu tersebut juga mencakup nafsu untuk bersikap berlebihan, terutama saat berbelanja dan makan.

Sikap berlebihan ini misalnya muncul dalam wujud keinginan berbelanja makanan yang biasanya tidak muncul di luar bulan Ramadan. Kolak pisang, kurma atau aneka ragam makanan khas Ramadan lainnya. Sikap berlebihan lainnya adalah saat kita berbelanja makanan dalam jumlah banyak, hingga akhirnya mungkin sekali banyak yang terbuang dan mubadzir.

Entah mengapa, kita seakan sulit untuk menghindar dari sikap konsumtif dan gaya hidup hedonis justru saat bulan Ramadan tiba. Ada saja godaan untuk membeli ini atau itu ketika waktu untuk berbuka puasa telah tiba.

Seakan-akan ketika waktu berbuka tiba, kita harus membalas dendam. Jadinya, bulan Ramadan malah kita maknai sebagai ritual menahan lapar dan dahaga belaka. Idealnya, ketika seseorang berpuasa dengan cara yang benar, seharusnya ketika berbuka, dia tidak berlebihan atau balas dendam pada makanan.

Sementara kita tahu, Allah melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Al A’raf ayat 31 mengajarkan pada kita bahwa berlebihan akan menyeret kita pada kemubaziran, dan hal tersebut akan menjadikan kita berkawan dengan syaitan.

Penyebab perilaku boros dan konsumtif yang kita lakukan saat puasa Ramadan salah satunya muncul karena kita terlalu sering menghabiskan waktu diluar. Godaan itu datang ketika mata kita jelalatan melihat berbagai macam barang yang dipajang di toko atau outlet-outlet di pusat perbelanjaan.

Perilaku konsumtif itu juga dapat muncul saat kita – dengan alasan silaturahim- mengadakan acara buka puasa bersama. Sah-sah saja kita mengadakan buka bersama dengan niat untuk menyambung tali silaturahim. Tapi akan lain jadinya jika acara buka bersama itu kita lakukan hampir setiap hari. 

Apalagi acara buka bersamanya di restoran atau cafe mewah. Memangnya pernah kita buka bersama di warteg atau warung makan pinggir jalan?

Puasa mengajarkan umat Islam untuk dapat memilah antara kebutuhan dan keinginan.  Puasa juga mengajarkan kita untuk memiliki empati kepada mereka yang tidak pernah mendapat nikmat makanan berlebih dan sehari-hari bersahabat dengan rasa lapar.

Ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi Covid-19 ini bisa mengembalikan hakekat puasa yang sebenarnya. Tidak adanya pasar takjil bisa menjadi penahan diri kita untuk tidak membeli makanan secara berlebihan. Larangan berbuka puasa bersama juga bisa membantu kita untuk lebih berhemat, apalagi mengingat kondisi perekonomian kita yang nyaris tenggelam diterjang virus corona.

Berbagai batasan yang kita alami saat menunaikan ibadah puasa tahun ini justru membawa kebaikan pada nilai ibadah puasa kita. Kelebihan rejeki yang biasanya kita habiskan untuk membeli makanan berlebih bisa kita sedekahkan pada mereka yang lebih membutuhkan.

Di bulan Ramadan ini, setiap perbuatan baik dihitung sebagai sedekah. Dan, kata Rasulullah SAW, sedekah yang paling baik itu adalah yang dilakukan di bulan Ramadan.

Cara terbaik untuk tetap tenang menjalankan ibadah puasa di tengah kabut kecemasan pandemi Covid-19 adalah fokus pada saat ini. Terima kenyataan apa adanya, sadarilah bahwa diri kita baik-baik saja. Kemudian, maknai hakekat puasa itu dengan sebenarnya.

Memaknai puasa Ramadan secara benar di tengah pandemi Covid-19 tak hanya menghindarkan kita dari perilaku konsumtif, boros dan gaya hidup hedonis. Hal ini juga akan membuat kita lebih menjiwai substansi dari puasa Ramadan itu sendiri, yakni La’allakum Tattaquun, supaya kita lebih bertakwa.






Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi Reviewed by Himam Miladi on April 22, 2020 Rating: 5

Beri Kesempatan pada Enzo Allie, Pemuda Blasteran Yang Memilih Jadi TNI

August 12, 2019
Enzo Allie,Enzo zenz Allie
sumber: Facebook/@titiallie



Enzo Zenz Allie, pemuda blasteran Prancis dan Sumatera ini mendadak viral. Berawal dari postingan akun Salman Farisi di Facebook, Enzo Allie disebut sebagai Taruna Akademi Militer yang bersimpati dengan ideologi khilafah dan organisasi yang sudah dinyatakan terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia.
Dugaan ini muncul setelah akun Salman Faris mencari tahu sosok Enzo lewat akun media sosial taruna Akmil itu.
"Penasaran dengan sosok Enzo Ellie. Remaja blasteran Indonesia-Prancis yang viral karena lolos jadi anggota TNI. Iseng nyari akun FB-nya, wah ngeri-ngeri sedap juga rupanya. Anak ini bersama ibunya yang bernama Hadiati Basjuni Ellie terindikasi kuat sebagai simpatisan HTI. Pendukung khilafah dan anti pemerintah. Kalau ayahnya sendiri yang berkebangsaan Perancis, menurut informasi telah wafat. Bukan apa-apa, sekedar kewaspadaan saja. Jangan sampai TNI memelihara anak ular," demikian tulisan unggahan Salman.
Saat ini, akun media sosial Enzo Faris dan ibunya tidak dapat diakses. Namun, saya sempat mengintip sebentar akun Enzo dan ibunya sebelum dikunci. Menurut pengamatan saya, tuduhan akun Salman Faris tidak mendasar dan tidak punya dasar bukti yang kuat.
Hanya karena ada beberapa foto Enzo Faris tengah mengibarkan bendera tauhid lantas tuduhan sebagai simpatisan HTI langsung menguat. Ingat, sulit membedakan mana bendera tauhid dan bendera HTI.
enzo allie,enzo zenz allie
sumber foto: Facebook/@EnzoAllie

Sementara di akun media sosial ibunya, terlihat beberapa postingan berisi dukungan terhadap gerakan 212, dan beberapa postingan berupa “kritik pedas” kepada pemerintah. Saya tulis kritik pedas dengan tanda kutip karena persepsi “anti pemerintah” seperti yang dituduhkan akun Salman Faris bisa berbeda-beda.
Menanggapi informasi viral ini, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta Enzo Allie diberhentikan jika memang terbukti sebagai simpatisan HTI.
"Kalau benar saya suruh berhentiin," kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/8).

Ryamizard mengatakan saat ini jajaran TNI sedang melakukan pengecekan latar belakang Enzo yang memiliki darah Prancis tersebut. Mantan KSAD itu tak akan menoleransi jika Enzo benar-benar merupakan simpatisan HTI.
Pensiunan jenderal bintang empat itu menyatakan bahwa prajurit TNI yang terindikasi mendukung khilafah pun juga akan langsung dipecat.

"Pecat saja. Orang mendukung Pancasila kok. Itu namanya pengkhianat," tuturnya.
Enzo Zenz Allie adalah putra dari pasangan Jean Paul Francois Allie asal Paris, Prancis dan Siti Hajah Tilaria asal Sumatera Utara. Enzo tinggal di Prancis sejak lahir. Kemudian, dia pindah ke Indonesia di usia 13 tahun usai sang ayah meninggal dunia.Sekalipun berdarah Prancis, Enzo adalah WNI yang sah. Karena itu, dia pun berhak untuk menjadi prajurit TNI dengan mengikuti seleksi calon Taruna Akademi Militer. Sosok Enzo Allie menjadi viral usai video berisi dirinya mengikut pantukhir yang dilakukan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Pantukhir ini adalah ujian terakhir sebelum seseorang masuk Akademi Militer.
Dalam video itu seorang pemuda bertampang bule tampak mahir berbahasa Prancis. Hadi Tjahjanto saat itu sempat bertanya dalam bahasa Prancis kepada pemuda blasteran Prancis-Indonesia itu.
Usai video pantukhir-nya viral itulah kemudian banyak yang penasaran dengan latar belakang Enzo, hingga kemudian akun Salman Faris mengunggah hasil pemantauannya di media sosial Enzo dan ibunya.

Beri Kesempatan pada Enzo Allie

Menanggapi viralnya informasi dugaan Enzo sebagai simpatisan HTI dan ideologi khilafah, TNI sendiri sedang mendalami informasi tersebut.
"Saya terima informasi yang sama dari kawan media. Sedang didalami, dibuktikan dulu dia terpapar atau tidak," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sisriadi saat dihubungi Rabu (7/8/2019).
Jika menyimak pernyataan Menhan Ryamizard Ryacudu yang menyuruh untuk memberhentikan Enzo, kemungkinan besar karir militer Enzo akan langsung terhenti. Namun, sebelum palu keputusan itu diketok, ada baiknya TNI mempertimbangkan dengan matang apakah memang Enzo layak untuk dipecat, atau justru sebaliknya, tetap diberi kesempatan menempuh pendidikan di Akmil sembari mengindoktrinasi balik tentang ke-Pancasilaan.

Belum ada bukti kuat bahwa Enzo memang benar simpatisan HTI atau ideologi khilafah. Seandainya benar Enzo terpapar ideologi khilafah, justru melalui pendidikan taruna di Akmil itulah kesempatan terbaik bagi TNI untuk mengikis habis paparan ideologi Enzo dan menguatkan rasa patriotisme serta Pancasilaisme-nya.

Usia Enzo terbilang masih muda. Secara psikologis, paparan ideologi yang dianut Enzo masih memungkinkan untuk diputarbalikkan. Jadi, alih-alih langsung memecat, TNI semestinya memberi kesempatan pada Enzo untuk membuktikan kesetiaannya pada negara.

Dengan memberi kesempatan pada Enzo, TNI bisa membuktikan pada masyarakat, khususnya pada generasi muda yang masih terpapar ideologi terlarang, bahwa masih ada kesempatan untuk bisa menjadi anggota TNI. Dengan syarat: tanggalkan ideologi terlarang mereka, buktikan kesetiaan pada negara. Dan Enzo adalah contoh kasus terbaik.

sumber: Kompasiana


Beri Kesempatan pada Enzo Allie, Pemuda Blasteran Yang Memilih Jadi TNI Beri Kesempatan pada Enzo Allie, Pemuda Blasteran Yang Memilih Jadi TNI Reviewed by Himam Miladi on August 12, 2019 Rating: 5

Apa Susahnya Mematikan Ponsel Saat Sholat di Masjid?

July 03, 2019
mematikan ponsel saat sholat,khasanah islam,quraish shihab,larangan menyalakan handphone saat sholat,cerpen islam,motivasi islam
ilustrasi



Jengkel nggak rasanya saat kita sholat di masjid, berusaha untuk khusyuk dan konsentrasi pada ibadah kita, tiba-tiba terdengar nada dering ponsel yang berbunyi keras?

Kalau saya sih jengkel banget. Pingin rasanya menegur keras orang yang tidak mematikan nada dering ponsel miliknya, sekalipun orang tersebut mungkin lupa.

Bukan karena saya tidak mau memaafkan kelupaan si pemilik handphone. Tapi dengan membiarkan ponselnya tetap menyala dan berbunyi saat sedang berada di masjid, dia sudah menghalangi hak saya dan Muslim lain yang sedang sholat berjamaah.

Orang yang tidak menghiraukan himbauan untuk mematikan ponsel saat sholat di masjid itu sama dengan menghalangi hak saudara muslimnya untuk bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk di dalam masjid.

Apa susahnya sih mematikan ponsel sebentar saat kita sedang sholat di masjid? Apakah jika ponselnya dimatikan terus jadi khawatir ketinggalan informasi penting tertentu? Lagipula, apakah kita juga bisa khusyuk dan tenang beribadah jika ponsel yang tidak kita matikan tersebut tiba-tiba berdering? Tentu tidak kan?

Sementara Allah memerintahkan kita sholat itu dalam keadaan yang khusyuk, tenang dan sempurna. Hampir semua ayat tentang perintah sholat itu diawali dengan kata aqimu. Menurut Imam Al Qurthuby dikutip dari penjelasan Quraish Shihab, kata aqimu berarti bersinambung dan sempurna. 

Artinya, Allah memerintahkan setiap muslim untuk sholat dan “melaksanakannya  dengan baik, khusyuk dan bersinambung sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya.” Nah, bagaimana kita bisa khusyuk dalam ibadah sholat kita apabila ada bunyi-bunyian yang mengganggu konsentrasi ibadah sholat kita?

Kita memang tidak tahu apa motif orang yang tidak mematikan ponselnya saat sholat di masjid. Padahal, di masjid tidak kurang tertempel stiker himbauan untuk mematikan ponsel yang ditempel di pintu depan atau dinding dan pilar. Tak kurang pula imam sholat selalu mengingatkan jamaahnya untuk menonaktifkan, atau mematikan nada dering ponsel selama sholat.

Toh tetap saja ada yang “bandel”, entah karena lupa atau memang meremehkan himbauan tersebut. Mungkin dipikirannya, “Ah, sholatnya kan cuma sebentar. Lagian juga gak ada yang nelpon kok.”

Bagi orang yang meremehkan himbauan untuk mematikan ponsel selama sholat di masjid, ketahuilah bahwa itu artinya dia meremehkan aturan protokoler yang ditetapkan Allah selaku tuan rumah. Bukankah setiap masjid adalah rumah Allah?

Ibaratnya kita sedang bertamu ke rumah seseorang, dan ada aturan tertentu yang sudah ditetapkan tuan rumah tersebut bagi setiap orang yang berkunjung ke rumahnya. Sebagai tamu yang baik, tentunya kita menghormati aturan dari tuan rumah tersebut bukan?

Ibaratnya lagi, ketika kita hendak menghadiri acara open house presiden di Istana Negara. Ada aturan dan protokoler yang sudah ditetapkan bagi setiap tamu atau pengunjung. Apakah lantas kita berani melanggar aturan dan protokoler tersebut? Bagi tuan rumahnya, tentu saja sangat menjengkelkan apabila ada tamu yang datang menghadap mengabaikan tata krama dan peraturan protokoler.

Begitu pula saat kita beribadah di masjid, bertamu ke rumah Allah. Ada aturan dan protokoler tertentu yang harus kita patuhi. Salah satunya adalah tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah juga di sana. Dan bunyi dari nada dering ponsel kita itu termasuk kategori gangguan.

Lebih dari itu, orang yang tidak mematikan nada dering ponselnya bisa dianggap meremehkan dan menghalangi hak Tuhannya. Iya kan? Adalah hak dari Allah selaku tuan rumah untuk mendapat penghormatan penuh dari setiap hamba-Nya yang sedang beribadah dan meminta sesuatu kepada-Nya.  

Seorang muslim dalam sholatnya menghimpun segala bentuk dan cara pengakuan, penghormatan dan pengagungan yang dikenal umat manusia kepada Tuhannya. Di dalam sholat, ada “isyarat penghormatan dengan tangan, berdiri tegak, menunduk, rukuk, sujud, puji-pujian, doa dan harapan.”

Maka, jangan salahkan Tuhan jika saat kita menghadap, berdoa dan meminta pertolongan kepada-Nya, Tuhan mengabaikan doa dan permintaan kita tersebut. Lha wong kita sendiri yang tidak menghormati Tuhan. Kita sendiri yang mengabaikan protokoler atau tata cara menghadap kepada Tuhan dengan baik, hanya karena kita lebih mementingkan ponsel.

Sumber: Kompasiana


Apa Susahnya Mematikan Ponsel Saat Sholat di Masjid? Apa Susahnya Mematikan Ponsel Saat Sholat di Masjid? Reviewed by Himam Miladi on July 03, 2019 Rating: 5

Awas, Hadis Populer Ini Ternyata Hadis Palsu!

May 28, 2019

hadis palsu,definisi hadis palsu,pemalsu hadis,dosa menyebarkan hadis palsu,larangan menyebarkan hadis palsu
sumber ilustrasi : nu.or.id


Seringkali umat islam mendengar dan mengutip beberapa ungkapan populer dan menganggapnya sebagai hadis yang dinisbatkan (bersumber) pada perkataan Nabi Muhammad SAW. Ungkapan populer tersebut diantaranya adalah:
  • Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina
  • Perbedaan adalah Rahmat
  • Cinta Tanah Air sebagian dari Iman

Meskipun populer dan sering dikutip, belum tentu ungkapan-ungkapan tersebut benar sebuah hadis yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW. Dalam buku Hadis-Hadis Bermasalah (Pustaka Firdaus, 2003), Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub memaparkan penjelasannya perihal banyak hadis yang bermasalah. Artinya, ada hadis yang keliru dalam penempatan syariat pelaksanaannya, dan banyak pula hadis palsu yang dianggap asli. Diantaranya adalah hadis yang akhirnya menjadi ungkapan populer tersebut.

Definisi Hadis Palsu dan Larangan untuk mengutip dan menyebarkannya

Perlu ditekankan disini, definisi hadis palsu (hadis maudhu') adalah perkataan bohong dan mengada-ada yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Informasi ini disampaikan dengan mengatasnamakan Nabi biasanya untuk tujuan/motivasi untuk popularitas, mengajak orang berbuat baik (tapi caranya salah), ingin dekat dengan penguasa, dan tujuan lainnya. 

Sebuah hadis dikatakan maudhu' atau palsu apabila dalam urutan/silsilah sanad (urutan keguruan/sumber hadis) terdapat seorang/beberapa rawi (pencerita/informan hadis) yang dikenal sebagai pendusta/pembohong. Karena sifat pembohongnya itu, maka orang tersebut dianggap tidak kredibel untuk menjadi rawi dan karena itu pula kualitas hadis-nya menjadi sangat lemah, atau dinilai palsu.

Sebagai umat Islam, kita boleh saja mengutip ungkapan tersebut dengan maksud untuk kebaikan, karena pada dasarnya ungkapan populer itu substansinya kadang mengandung nilai-nilai kebaikan. Tapi, dosa besar apabila kita menganggapnya sebagai hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau:

Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka". [HR. Al-Bukhri, no. 1229].

Perihal beberapa ungkapan populer yang dianggap sebagai hadis tapi palsu ini, berikut penjelasan KH. Ali Mustafa Yaqub seperti dinukil dari buku Hadis-Hadis Bermasalah:

1. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina

Dalam pembahasan tentang ungkapan yang dianggap sebagai hadis ini, KH. Ali Mustafa Yaqub menceritakan sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan seorang warga Kebayoran Lama, Jakarta kepada mahasiswi Institut Ilmu Alquran Jakarta yang sedang melakukan KKN disana pada tahun 1994. Warga tersebut bertanya, "Siapakah yang meriwayatkan Hadis 'Carilah ilmu meskipun di negeri Cina', dan mengapa Nabi Saw menyebutkan Cina, bukan Eropa saja?".

Pertanyaan ini - di luar substansinya yang sangat berkualitas karena menyangkut dua hal penting sekaligus, yakni sanad (periwayatan hadis) dan matan (materi hadis) -- sekaligus membuktikan ungkapan ini begitu populer hingga orang awam pun mengetahuinya.

Redaksi lengkap ungkapan yang dianggap hadis ini adalah:
Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Hadis ini oleh para ulama Hadis dikatagorikan sebagai Hadis masyhur yang non-terminologis, yaitu Hadis yang sudah populer di masyarakat meskipun-terkadang-hal itu belum berarti bahwa ia benar-benar Hadis yang berasal dari Nabi Saw. 

Sekalipun hadis ini dalam beberapa riwayat berasal dari Anas bin Malik dengan nisbat dari Nabi Muhammad SAW, ulama hadis menilai kualitas hadis ini sangat lemah (palsu). Hal ini karena ada seorang/beberapa rawi hadis dalam rangkaian sanad-nya adalah rawiyang kontroversial karena dianggap kadzdzab (pendusta) dan sangat tidak kredibel untuk dianggap sebagai perawi.

Ungkapan yang dianggap sebagai hadis tapi palsu disini hanya ada di kalimat pertama, yakni "carilah ilmu meskipun di negeri Cina."Sedangkan kalimat pendukungnya yakni "Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim" merupakan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Imam Tabhrani.

Meskipun ungkapan ini bukan hadis, mengapa yang disebut itu Cina? Mungkin karena konon negeri Cina di masa lalu sudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia sebagai negeri yang memiliki budaya yang tinggi.

Selengkapnya lihat: Ali Mustafa Ya'qub, Hadis-Hadis Bermasalah, Pustaka Firdaus, 2003, h.1-7.

***

2. Perbedaan adalah rahmat.

Ungkapan ini begitu populer hingga kerap dikutip, tak hanya umat Islam saja, namun juga umat lainnya. Bukan hanya diketahui mereka yang selalu bergumul dengan kitab~kitab kuning saja, melainkan juga orang-orang yang terbilang awam juga mengetahuinya.

Redaksi lengkap dari ungkapan yang dianggap hadis ini adalah:
"Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat". 
Dijelaskan oleh KH. Ali Mustafa Yaqub, ungkapan tersebut memiliki dua versi. Versi pertama ungkapan ini berdiri sendiri yang diriwayatkan Imam Baihaqi dalam kitab Ar Risalah Al-Asyariya, tanpa ada sanad. 

Sedangkan versi kedua, menurut al-Sakhawi yang diikuti oleh al-Ajluni, ungkapan itu merupakan penggalan dari "hadis" yang cukup panjang dan sudah mengalami perubahan redaksional. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad. Narasi lengkap dari "hadis" tersebut  berbunyi:

"Selagi kamu telah diberi kitab Allah, maka ia harus diamalkan. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkannya. Apabila tidak ada keterangan dalam kitab Allah, maka (kamu harus memakai) Sunnah dari padaku yang sudah berjalan. Apabila tidak ada keterangan dalam Sunnah, maka (kamu harus memakai) pendapat para shahabatku. Karena sesungguhnya, para Sahabatku itu ibarat bintang-bintang di langit. Mana yang kamu ambil pendapatnya, kamu akan mendapatkan petunjuk. Dan perbedaan (pendapat) para Sahabatku itu merupakan rahmat bagi kamu."

Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub, jika disandarkan pada versi pertama, yakni ungkapan itu bukan penggalan melainkan berdiri sendiri, pernyataan "Perbedaan itu adalah Rahmat" bukan sebuah hadis. Karena, meskipun diriwayatkan oleh Al Baihaqi, tapi tidak disertai sanad. Sedangkan syarat mutlak sebuah hadis itu adalah harus ada sanad dan matan.

Sedangkan versi kedua, meski mempunyai sanad tapi kualitasnya sangat lemah, karena ada beberapa rawi hadis dalam sanad tersebut dianggap lemah bahkan diketahui pendusta (pemalsu). Bahkan rawi terakhir, yakni Ibnu Muzahim Al Hilali dianggap tidak pernah bertemu Ibnu Abbas, yang disebut sebagai sumber pertama hadis tersebut.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ungkapan "Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat" tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah alias hadis palsu.

Terhadap substansi ungkapan ini, KH. Ali Mustafa Yaqub mengutip pendapat Al Khattabi yang memberi solusi dalam menanggapi perbedaan pendapat tentang substansi ungkapan ini diantara para ulama. Dalam masalah-masalah yang prinsip terutama bab Akidah dan Ketauhidan, umat Islam dituntut untuk bersatu dan tidak berbeda pendapat. Dalam hal-hal seperti ini ayat-ayat al-Qur'an yang mengharuskan persatuan itu diterapkan. 

Sementara dalam hal masalah-masalah furu'iyah/khilafiyah (masalah yang tidak prinsip dalam syariat Islam), perbedaan pendapat itu tetap ditolerir selama hal itu timbul sebagai konsekuensi adanya ijtihad, bukan timbul karena kepentingan sempit dan sesaat. Meskipun begitu, Hadis -atau ungkapan yang diklaim sebagai Hadis -- di atas tetap tidak dibenarkan untuk dijadikan justifikasi.

Selengkapnya lihat: Ali Mustafa Ya'qub, Hadis-Hadis Bermasalah, Pustaka Firdaus, 2003, h.8-12.

***

3. Cinta Tanah Air sebagian dari Iman

Ungkapan yang dianggap sebagai hadis ini kerap dimunculkan dalam konteks politik. Narasinya dianggap bisa menggugah dan menumbuhkan semangat patriotisme bagi kalangan umat islam, terutama anak-anak mudanya. Tapi, benarkah ungkapan itu adalah hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW?

Redaksi asli ungkapan ini adalah: 
Mencintai tanah air itu adalah sebagian dari iman.
Sekalipun populer dan sering dikutip untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan kebangsaan, para ulama sepakat bahwa hadis ini adalah palsu!

Imam al~Suyuti dan Imam al Sakhawi ketika mengomentari Hadis itu berkata, "Lam aqif 'alaihi" (saya tidak menemukannya). Dengan kata lain, kedua imam ini mengatakan hadis tersebut adalah palsu.

Para ulama juga mengatakan, tidak ada keterkaitan antara cinta tanah air dengan iman seseorang. Karena menurut Al Qari, dalam Al Quran Allah menggambarkan orang~orang munafik itu mencintai tanah air mereka, dan ternyata mereka tidak beriman (QS. An Nisa: 66).

Selengkapnya lihat: Ali Mustafa Ya'qub, Hadis-Hadis Bermasalah, Pustaka Firdaus, 2003, h.74-76.

***
Selain 3 hadis populer diatas, masih banyak hadis-hadis lain yang populer di telinga umat Islam dan sering dikutip para da'i dalam ceramah agamanya, ternyata kualitasnya palsu. Beberapa yang lain diantaranya adalah:
  • Wanita adalah tiang negara.
  • Tidurnya orang berpuasa itu ibadah.
  • Menyombongi orang sombong adalah sedekah. 

Serta beberapa hadis populer lain yang ternyata hadis palsu.

Terhadap hadis palsu ini, sekalipun substansinya mengandung nilai kebaikan, tapi itu akan bisa mengubah hadis palsu menjadi hadis yang sahih, minimal hasan. Hadis populer yang demikian tetap saja sebagai Hadis palsu apabila dinisbahkan kepada Nabi Muhammad Saw. 

Karena itu, ungkapan-ungkapan yang memiliki substansi kebaikan bila itu memang benar bukan hadis, seyogyanya disebut saja sebagai kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara. Jangan menganggapnya sebagai hadis agar kita selamat dari ancaman masuk neraka.

Sumber: Kompasiana




Awas, Hadis Populer Ini Ternyata Hadis Palsu! Awas, Hadis Populer Ini Ternyata Hadis Palsu! Reviewed by Himam Miladi on May 28, 2019 Rating: 5
Powered by Blogger.