Results for hikmah ramadan

Jalan Termudah Menuju Surga

May 04, 2022

 

jalan termudah menuju surga
Menurut Rasulullah () ada 4 jalan termudah menuju surga

Islam agama yang memudahkan pemeluknya dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Seluruh perintah dalam syariat Islam adalah demi kemaslahatan (kebaikan), sedangkan seluruh larangannya adalah untuk menghindari kemudharatan (keburukan).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah () pernah ditanya seseorang, apa jalan termudah menuju surga. Beliau () menjawab,

: أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا الليل وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

"Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, sholatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai". (HR Ahmad, sahih).

1.  Menebarkan Salam

Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan salam tidak sekadar kata-kata, namun mengandung arti menebarkan perdamaian , kasih sayang dan kerukunan terhadap sesama, baik kepada keluarga, tetangga, maupun terhadap sesama Muslim.

2. Memberi Makan (Bersedekah)

Nabi menganjurkan kepada kita untuk memberi makan (bersedekah), terutama bagi orang-orang yang membutuhkan. Rasulullah () bersabda,

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ

“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.” (HR Tirmidzi)

3. Menyambung Silaturahim

Rasulullah () bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ قَالُوا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ» قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ، فَمَا لِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تُحَاسَبَ حِسَابًا يَسِيرًا وَيُدْخِلَكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ

"Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah dan akan dimasukkan ke surga dengan Rahmat-Nya."

Sahabat bertanya, “Bagi siapa itu wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “Engkau memberi (kepada) orang yang menghalangimu, engkau memaafkan orang yang mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang memutuskan silaturrahim denganmu.”

Sahabat bertanya, “jika saya melakukannya, apa yang saya dapat wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “engkau akan dihisab dengan hisab yang ringan dan Allah akan memasukkanmu ke surga dengan rahmat-Nya."

4. Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Nabi () bersabda:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Jalan Termudah Menuju Surga Jalan Termudah Menuju Surga Reviewed by Himam Miladi on May 04, 2022 Rating: 5

Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar

May 04, 2022

 

kewajiban berdakwah,pendakwah
Bersemangatlah menjadi pendakwah, sekalipun minimalis. Sekalipun hanya menyampaikan satu potongan ayat Al-Quran atau hadis Rasulullah

Berdakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dasarnya adalah hadis Rasulullah ():

 

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ "‏بلغوا عني ولو آية

Dari Abdullah bin Amr bin Ash (Radhiallahu anhuma) melaporkan bahwa Rasulullah () bersabda, “Sampaikan dariku bahkan satu ayat (dari Al-Quran).” (HR Bukhari)

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman mengenai kewajiban dakwah (menyeru pada agama),

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS At-Tahrim, 66: 6).

Ayat ini menerangkan kewajiban kita untuk memelihara diri sendiri (terlebih dahulu) dan keluarga dari siksa api neraka. Dengan kata lain, ayat ini menerangkan kewajiban berdakwah bagi setiap muslim, terutama laki-laki sebagai keluarga.

Mengenai tafsir ayat ini, Imam Qatadah berkata: "Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!"

Imam Ibnu Jarir juga berkata: "Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!"

Sedangkan Ibnu Umar berkata: "Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu."

Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ke-6 dari QS. At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas kepada seorang muslim untuk berdakwah agar dapat menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan tindak-tanduk mereka. Karena sebuah kewajiban, maka bila perintah tersebut tidak dipatuhi atau tidak dijalankan dengan baik oleh seorang muslim, maka tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.

Dakwah, menurut terminologi syariatnya adalah: mengajak keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Ada 4 (empat) macam kegelapan yang mana kita harus mengajak orang keluar darinya:

·         Kegelapan syirik menuju cahaya Tauhid

·         Kegelapan kejahilan menuju ilmu

·         Kegelapan kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

·         Kegelapan bidah (amalan di luar syariat) menuju sunnah Rasulullah ()

 

Allah sangat menghargai orang-orang yang berdakwah atau mengajak kebaikan. Allah berfirman,

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fusshilat, 41: 33).

Menurut kebanyakan ahli tafsir, penghargaan Allah ini ditujukan kepada setiap orang yang mengajarkan atau mengajak kepada kebaikan. Sekalipun hanya dengan satu kata kebaikan, dan dia sendiri menjadi teladan dalam kebaikan tersebut.

Dari ayat ini kita juga dapat memahami bahwa sesuatu yang paling utama dikerjakan oleh seorang muslim ialah memperbaiki diri lebih dahulu, dengan memperkuat iman di dada, menaati segala perintah Allah, dan menghentikan segala larangan-Nya. Setelah diri diperbaiki, serulah orang lain mengikuti agama Allah. Orang yang bersih jiwanya, kuat imannya, dan selalu mengerjakan amal yang saleh, ajakannya lebih diperhatikan orang, karena ia menyeru orang lain dengan keyakinan yang kuat dan dengan suara yang mantap, tidak ragu-ragu.

Tentu, semua ini hanya bisa kita lakukan apabila kita punya ilmu. Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada iman yang kokoh kecuali dengan ilmu.”

Rasulullah () memberi apresiasi yang besar kepada siapapun yang menyampaikan kebaikan. Sebagaimana yang pernah beliau () katakan kepada Ali bin Abi Thalib (radhiallahu anhu), “Wahai Ali, usahamu untuk membimbing satu orang ke jalan yang benar lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya.” (HR Bukhari, Muslim dan Al-Hakim).

Bersemangatlah menjadi pendakwah, sekalipun minimalis. Sekalipun hanya menyampaikan satu potongan ayat Al-Quran atau hadis Rasulullah ().

Jangan patah semangat untuk berdakwah. Sebab, setiap tetes keringat kita saat mengajak kebaikan kepada orang lain akan menjadi cahaya di liang lahat kita nanti. Sebab pahala kebaikan akan terus mengalir ke buku catatan perbuatan baik kita.

Nabi () bersabda,

“Barangsiapa mengajarkan atau merintis kebaikan, lalu kebaikan itu diikuti orang, maka ia mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebaikan tersebut, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang merintis kejelekan, lalu kejelekan itu diikuti orang, amak ia mendapat dosa dari yang mengikuti kejelekan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim).

Dakwah minimalis, dengan satu kata kebaikan sudah mendatangkan pahala yang besar. Apalagi jika yang kita sampaikan lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, jadilah pendakwah yang terpelajar dan pembelajar. Artinya, sembari kita giat mengajarkan kebaikan, kita juga tiada henti menuntut ilmu kebaikan. Pahamilah, bahwa masyarakat di sekitar kita sudah berkembang pesat pengetahuan dan wawasannya.

Dari Abu Hurairah (radhiallahu anhu), mengatakan bahwa Rasulullah () bersabda, “Semua isi dunia ini terkutuk, kecuali dzikrullah, orang yang taat kepada-Nya, orang terpelajar dan pembelajar (pencari ilmu).” (HR Tirmidhi)

Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar Reviewed by Himam Miladi on May 04, 2022 Rating: 5

Hikmah di Dalam Sunnah Melewati Jalan yang Berbeda Saat Idulfitri

May 01, 2022

 

setidaknya ada 20 alasan mengapa Nabi () melewati jalan yang berbeda dengan saat berangkat ketika salat Id

Salah satu sunnah Rasulullah ketika salat Hari Raya (Idulfitri & Iduladha) yang sering kita lupakan adalah mengambil jalan yang berbeda ketika pulang dari tempat salat.

 

 عَنْ جَابِرٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ‏.‏ تَابَعَهُ يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ فُلَيْحٍ‏.‏ وَحَدِيثُ جَابِرٍ أَصَحُّ‏.‏

 

Dikisahkan oleh Jabir bin `Abdullah: Pada Hari Idul Fitri Nabi () biasa kembali (setelah melakukan shalat Id) melalui jalan yang berbeda dari jalan yang dilaluinya (ketika berangkat). (Sahih Bukhari)

Apa sebenarnya tujuan dari sunnah tersebut? Mengapa Nabi () mengambil rute jalan yang berbeda ketika pulang dari salat Id?

Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.

Namun, bukan berarti kita tidak boleh menginterpretasikan hadis atau sunnah tersebut. Imam Hafiz Ibnu Hajar (rahimahullah), dalam kitabnya Fathul Bari, mengemukakan setidaknya ada 20 alasan mengapa Nabi () melakukan hal tersebut, yakni pulang dari tempat salat Id melewati jalan yang berbeda dengan saat berangkat.

Hikmah dari sunnah ini, menurut Imam Hafiz Ibnu Hajar di antaranya adalah:

  • ·         Ketika kita melewati dua jalan yang berbeda, maka para Malaikat, penghuni dan segala makhluk yang ada di kedua jalan itu akan bersaksi atas nama kita di hadapan Allah kelak pada hari kiamat, bahwa kita telah melakukan ibadah salat Id. Dengan melewati dua jalan yang berbeda, maka jumlah kesaksian yang akan kita dapatkan pun menjadi lebih banyak.
  • ·         Nabi () pulang melalui jalan yang berbeda dimaksudkan agar lebih banyak orang (yang ada di sepanjang kedua jalan) mendapat manfaat atau syafaat dari kehadiran beliau.
  • ·         Nabi () selalu memercikkan wewangian sebelum berangkat salat Id. Dengan begitu, aroma minyak musk dari badan beliau bisa menyebar di kedua jalan yang berbeda. Nabi () sendiri dikenal memancarkan aroma tubuh yang indah, tidak memabukkan namun menyenangkan siapa saja yang menghirup aroma tubuhnya.
  • ·         Demi keselamatan. Pada jaman Nabi (), masih banyak musuh-musuh Islam, baik yang terlihat secara terang-terangan (kaum kafir) maupun yang bersembunyi di balik keislamannya (kaum munafik). Dengan melewati jalan yang berbeda, Nabi () ingin meminimalkan risiko untuk melindungi dirinya dari rencana apa pun yang bisa direncanakan oleh orang-orang kafir terhadapnya saat dia kembali, seandainya beliau kembali menggunakan rute yang sama.
  • ·         Menonjolkan fitur-fitur Islam. Dengan melewati jalan yang berbeda, Nabi () ingin lebih banyak orang bisa melihat fitur-fitur Islam sehingga tertarik untuk masuk Islam.
  • ·         Mensosialisasikan Dzikrullah (Dzikir kepada Allah) kepada lebih banyak orang.
  • ·         Nabi () juga ingin lebih banyak orang bisa mengamati dan menanamkan sunnah dari dirinya.
  • ·         Melewati jalur yang berbeda juga dimaksudkan Nabi () agar lebih banyak orang bisa mengambil kesempatan untuk belajar darinya.
  • ·         Nabi () juga ingin mendapat kesempatan menjawab lebih banyak pertanyaan yang akan dimiliki orang-orang di setiap jalan yang dilaluinya.
  • ·         Nabi () ingin membantu memenuhi kebutuhan lebih banyak orang dengan melewati lebih banyak daerah.
  • ·         Dengan melewati jalan yang berbeda, Rasulullah () ingin menyapa lebih banyak umatnya, mengunjungi lebih banyak kerabatnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, bergabung dan memelihara ikatan persaudaraan di antara umat Islam.
  • ·         Dengan melewati jalan yang berbeda,  Rasulullah () ingin menjadikannya pertanda bahwa setelah menjalankan kewajiban ibadah puasa Ramadan, Allah mengubah dosa dan kondisi kita dengan memaafkan kita dan menjadi ridha dengan kita.

Mari kita terapkan Sunnah yang mulia ini pada Idul Fitri ini dan setiap Idul Fitri lainnya sesudahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 


Hikmah di Dalam Sunnah Melewati Jalan yang Berbeda Saat Idulfitri Hikmah di Dalam Sunnah Melewati Jalan yang Berbeda Saat Idulfitri Reviewed by Himam Miladi on May 01, 2022 Rating: 5

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran

April 28, 2022

 

salat mencegah kemungkaran
Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (unsplash.com)

Katanya salat itu mencegah kemungkaran, tapi mengapa masih banyak orang yang terlihat rajin salat, masih juga mengerjakan maksiat, perbuatan keji dan dosa-dosa lainnya?

Memang betul, Allah berfirman,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Ankabut, 29: 45)

Salat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar apabila dikerjakan dengan baik dan sempurna. Apabila ada seorang muslim mengaku sudah salat, tapi masih juga melakukan maksiat, maka salatnya belum sempurna. Orang tersebut hanya sekedar melakukan gerakan salat, tapi inti dari ibadah salatnya tidak sampai masuk ke hatinya. 

Kesempurnaan Salat Berawal Dari Kesempurnaan Wudhu

Kesempurnaan salat dimulai ketika kita berwudhu. Salat baru dapat dikatakan sah apabila kita sudah bersuci. Jika wudhu kita belum sempurna, maka salat kita juga dikatakan tidak sah karena kita masih belum menyucikan diri dari hadas.

Rasulullah () bersabda,

" لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak ada salat yang diterima tanpa wudhu (bersuci) (HR Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah () bersabda,

 "‏ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ‏"‏ ‏.

“Jika waktu untuk salat (wajib) telah tiba, dan seorang Muslim melakukan wudhu dengan benar, (dan kemudian shalat) dengan kerendahan hati dan rukuk (kepada Allah), itu akan menghapus dosa-dosanya yang lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar; dan ini berlaku untuk semua waktu.” (HR Muslim)

Ini baru perkara wudhu, belum lagi ibadah salat itu sendiri. Entah kita sadari atau memang belum kita ketahui, dalam melakukan salat kita banyak melakukan kesalahan yang membuat salat kita tidak sempurna.

Kesempurnaan Salat Mencegah Kemungkaran

Kesalahan umum yang sering dan banyak dilakukan umat Islam adalah melakukan salat dengan terburu-buru. Padahal, salah satu rukun salat adalah tuma’ninah atau berdiam diri sebentar setiap kali selesai melakukan satu gerakan salat. Sebagian ulama mengartikan tuma'ninah adalah menempatkan setiap bagian tubuh kita dengan benar ketika berada dalam posisi salat. Artinya, ketika ruku' maka kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita ikut berada dalam posisi ruku. Ketika sujud, kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita berada dalam posisi sujud.

Seperti yang disampaikan Rasulullah () dalam hadis di atas, kita yang melakukan salat dengan kerendahan hati dan rukuk (tunduk) kepada Allah, maka dosa-dosa kita akan terhapuskan, selama kita tidak melakukan dosa besar.

Ketika kita salat dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh perhatian, tunduk, murni, mengarahkannya kepada Allah, dan membaca takbir (mengucapkan 'Allahu Akbar': Allah Maha Besar) untuk memulai salat, hakikatnya kita menyatakan bahwa Allah lebih besar dari siapapun dan apapun.

Kemudian, kita memulai salat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala dengan mengucapkan doa istiftah. Perhatikan makna salah satu doa iftitah: Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawati wal ardhi (Aku menghadapkan wajahku kepada Pencipta Langit dan Bumi, dan seterusnya). 

Kemudian, kita mencari perlindungan kepada Allah dari godaan setan (membaca ta’awudz/A’udzubillah) dan membaca Al-Fatihah, yang dikenal sebagai Umm Al-Kitab (induk Al-Quran), karena menggabungkan semua makna iman dan tauhid.

Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Quran) karena memuat pujian kepada Allah, mengungkapkan rasa syukur, mengagungkan, mengakui Hari Pembalasan dan bahwa Allah adalah Tuannya , menyembah dan memohon kepada-Nya, serta meminta petunjuk kepada Tuhannya dan tidak ada kecualinya. Petunjuk di sini mengacu pada petunjuk jalan para nabi, dan orang-orang yang beriman.

Kemudian, kita yang sedang salat memohon kepada Allah  agar melindungi kita dari jalan orang-orang yang menimbulkan kemarahan [Nya] dan orang-orang yang sesat.

Kemudian ketika ruku' dan sujud, kita mengucapkan puji-pujian kepada Allah, menyampaikan salam kepada Nabi (), dan ditutup dengan salam yang diniatkan/ditujukan kepada imam, orang-orang di sekeliling kita, dan para malaikat yang ikut menyaksikan salat kita.

Jika kita memahami sepenuhnya apa artinya ini, akankah kita melakukan dosa dengan sengaja?

Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (lebih baik) dengan cahaya batin yang lebih terang. Kita akan memperbaharui kepatuhan kita kepada Allah dan tidak akan pernah berani melanggar larangan-Nya.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah bahwa salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Mari kita perbarui dan sempurnakan salat kita, dan memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan salat dengan sempurna.

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Reviewed by Himam Miladi on April 28, 2022 Rating: 5

Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani

April 25, 2022

 

madrasah rohani
Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu

Puasa Ramadan hendaknya tidak hanya sekedar dilakukan/dilaksanakan, namun juga harus dimaknai. Kalau puasa hanya dilaksanakan, itu berarti kita hanya sekedar mengugurkan kewajiban. Tak ada bekasnya di dalam diri kita setelah bulan Ramadan berlalu. Kalau puasa hanya dilaksanakan, kambing pun bisa melakukannya. Cukup kita kurung kambing itu di dalam kandang, tanpa kita beri makan dan minum, maka dia akan berpuasa.

Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu, atau setelah kita berpuasa. Syekh Rasyid Ridho dalam tafsir Al-Manan mengatakan, puasa hakikatnya adalah pendidikan untuk kemauan. Selama bulan puasa, kita dididik untuk mengekang/membatasi segala kemauan atau keinginan kita.

Imam Ghozali berpendapat, puasa Ramadan adalah Madrasah Rohani. Menurut Imam Ghozali, ada 4 unsur rohani yang mendapat pendidikan selama kita berpuasa.

1. Pendidikan Hati

Orang yang berpuasa diharapkan memiliki Qolbun Saliim, hati yang selamat.

Rasulullah () bersabda,

أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati adalah pusat pergerakan jasad insan. Jika hati seseorang itu sehat, maka seluruh anggota tubuh akan sehat dan sejahtera. Sebaliknya, jika hatinya kotor, maka amal perbuatan anggota tubuh juga akan rusak dan kotor, tiada guna dan tiada berpahala.

Maulana Muhammad Zakariya Al-Khandhlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal menyatakan hati diibaratkan seperti cermin.  Semakin kotor cermin tersebut, semakin kurang cahaya yang dipantulkannya. Sebaliknya, apabila cermin itu semakin bersih, maka semakin terang pula pantulan cahaya marifatnya. Di antara tanda hati yang kotor dan berpenyakit adalah:

·         Sering gelisah dan tidak tenteram

·         Selalu membanggakan diri sendiri

·         Memandang rendah dan hina terhadap orang lain

·         Menganggap diri lebih daripada orang lain

·         Tidak amanah dan ingkar janji

·         Sering mencari aib orang lain dan disebarkan

·         Suka mengumpat dan menyakiti orang lain

·         Mudah berburuk sangka terhadap orang lain

·         Cinta dunia melebihi kecintaan pada akhirat

·         Sering mengabaikan ibadah

Puasa Ramadan diharapkan dapat mendidik hati kita menjadi hati yang bersih dari kotoran hati, dan hati yang sehat bebas dari penyakit hati (amrotul qulub).

Orang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan hati, maka dia bisa menghadap Allah dalam keadaan hati yang bersih (Qolbun Saliim).

Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ  ٨٩

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy-Syuura, 26: 88-89)

2.   Pendidikan Nafsu

Madrasah Ramadan mendidik jiwa kita agar menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah).

Ciri-ciri jiwa yang tenang adalah:

Memiliki sumber keinginan yang baik, dicapai dengan cara yang baik, dan istiqomah dalam kebaikan (selalu kembali kepada jalan kebenaran apabila sekali waktu tergelincir dalam kesalahan).

Seseorang yang memiliki jiwa yang tenang, bisa dikatakan otomatis khusnul khatimah. Allah sendiri yang berkenan memanggil jiwa-jiwa yang tenang, dan memasukkannya ke dalam surga.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ -٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ -٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ -٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ٣٠

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr, 89: 27-30)

Orang yang memiliki jiwa yang tenang juga akan dimudahkan Allah kelak pada Yaumul Hisab.

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ

maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (QS Al-Insyiqaq, 84: 8)

3.   Pendidikan Akal Pikiran

Puasa Ramadan juga menjadi sekolah bagi akal pikiran. Dalam teori psikologi, orang yang berpuasa dapat mencapai tingkat ketenangan yang luar biasa. Saat berpuasa, gelombang otak kita berada dalam posisi theta yang dihubungkan dengan memori atau daya ingat serta tingkat kesadaran yang tinggi.

Itu sebabnya, orang yang berpuasa bisa fokus pada hal-hal positif karena segala hal negatif terbuang dari pikirannya. Itu sebabnya pula, bulan Ramadan adalah bulan terbaik untuk menghafal Al-Quran karena dalam keadaan puasa, memori atau daya ingat kita berada dalam kondisi puncak.

Seseorang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan Akal Pikiran, dialah yang berhak disebut sebagai Ulul Albab.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ - الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran, 3: 190-191)

4.   Pendidikan Rasa

Puasa Ramadan adalah sekolah yang memberikan pendidikan rasa. Hakikatnya, puasa mendidik kita untuk dapat merasakan penderitaan orang-orang fakir dan miskin, yang karena kekurangannya sering merasa kelaparan.

Rasulullah sering mengingatkan kita, bahwa ukuran keimanan seseorang terletak dari empatinya terhadap penderitaan orang lain.

“Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangganya di sampingnya kelaparan” (HR Bukhari)

Maka, orang yang berhasil mendapat Pendidikan Rasa di bulan Ramadan adalah orang yang memiliki karakter Ta’awuun, orang yang ringan tangan, suka menolong sesama.


Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Reviewed by Himam Miladi on April 25, 2022 Rating: 5

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik

April 24, 2022

 

infak,sedekah,infak dengan harta terbaik
Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik (pixabay)

Mungkin ini jarang terjadi, namun kali ini benar-benar terjadi!

Setelah shalat Ashar, seorang ibu mendatangi kantor takmir, lalu tanpa pikir panjang ibu ini mengeluarkan sebuah kalung emas dan berkata, Saya ingin menginfakkan kalung emas ini!

Masyaallah! Biasanya, orang berinfak dengan uang tunai. Tapi kali ini seorang ibu muda menginfakkan perhiasan emasnya. Kami yang saat itu sedang berada di kantor takmir sampai bengong sejenak, tidak bisa berkata apa-apa.

Kebanyakan kita enggan melepaskan barang-barang yang kita sayangi. Coba lihat dan pikirkan, betapa banyak barang-barang di rumah yang kita biarkan tidak terpakai, dengan alasan barang-barang tersebut adalah barang-barang kesayangan, dengan beribu alasan!

Ini masih muat kok!

Aduh, ini kan baju kenangan!

Sepatu model ini kan masih tren!

Jangan dong, tupperware beli mahal-mahal kok mau dikasihkan orang!

Ingat, simpanan-simpanan itu akan ada hisabnya di hari kemudian.

Simpanan sarung yang tidak terpakai, baju-baju yang mulai kekecilan, celana yang sudah tidak muat lagi di pinggang. Simpanan toples tupperware yang menumpuk di kardus, masih terbungkus plastik, tak pernah dipakai dan tak ada rencana dipakai.

Ada lagi sajadah-sajadah yang teronggok begitu saja di dasar lemari.  Ada beberapa set piring dan gelas hadiah pernikahan, yang sampai sekarang pun masih belum pernah digunakan.

Ada ini ada itu, daftarnya bisa sangat panjang.

Yah, manusia memang tak bisa lepas dari nafsu. Semua yang kita miliki, kita beli dan kita simpan ini berawal dari nafsu. Ingin punya ini, tak mau kalah dengan tetangga atau saudara yang sudah punya barang itu, begitu seterusnya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS Ali Imran, 3: 14)

Padahal, apa yang kita miliki di dunia ini tak bisa kita bawa pulang ke kampung abadi. Yang kita pakai sekarang dan kita sedekahkan itulah harta kita yang sebenarnya, yang bermanfaat.

Yang simpanan dan koleksi-koleksi, mereka semua akan dihisab, diminta pertanggung jawabannya. Dari mana kita memperoleh, dan untuk apa barang koleksi itu kita gunakan.

يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam. Lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah, 9: 35)

Dalam berinfak atau bersedekah, Allah menganjurkan kita untuk berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit (ketika kaya maupun miskin).

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit (QS Ali Imran, 3: 134)

Begitu pula dengan harta yang kita infakkan, Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah, 2: 267)

Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir menyatakan bahwa tema ayat ini adalah kewajiban memilih harta yang baik ketika hendak berinfak di jalan Allah, baik infak tersebut berupa zakat wajib maupun sedekah sunnah. Karena tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan menabung pahala dengan beramal baik. Tujuan ini tidak bisa diraih kecuali jika harta yang diinfakkan adalah harta yang baik pula.

Sekarang, mari kita pikirkan kembali, seberapa sering kita menginfakkan harta kita yang terbaik?

Yang sering adalah, kita menginfakkan harta-harta tersisa. Kalau ada pengumpulan sumbangan untuk korban bencana alam misalnya, yang kita sumbangkan adalah baju-baju bekas! Sekalipun itu masih layak pakai, namun tetap saja bekas kita pakai!

Sebab kita enggan berinfak yang terbaik adalah karena setan terus membisikkan ke dalam hati kita akan kemiskinan.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah, 2: 268)

Jangan takut berinfak dengan harta terbaik. Allah menjanjikan kepada kita, bahwa setiap harta yang kita infakkan hakikatnya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Dan kita tidak akan rugi karenanya.

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (QS Al-Baqarah, 2: 272).

Ingatlah, sedekah menghapuskan dosa, sebagaimana air mematikan api.

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Reviewed by Himam Miladi on April 24, 2022 Rating: 5
Powered by Blogger.