Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat?

April 30, 2022

 

Jadi, apa pun ucapan yang kita sampaikan kepada setiap muslim setelah salat IdulFitri, hukumnya adalah boleh, selama tidak ada keburukan


Ramadan telah berakhir. Waktunya Idulfitri! 

Perasaan kita pasti campur aduk sekarang, antara sedih dan senang. Sedih karena Ramadan, bulan yang penuh keberkahan telah meninggalkan kita. Senang dan bahagia, karena sudah waktunya merayakan Idulfitri.

Imam Al-Hafidz ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, “Mengekspresikan kebahagiaan pada Idulfitri, adalah bagian fitur yang menonjol dari Islam” (Fathul Bari, Hadis: 949)

Hampir setiap Muslim merayakan Idulfitri dengan memberi ucapan selamat satu sama lain. Khusus di negara kita, ucapan selamat Idulfitri biasanya berupa kalimat ‘Minal Aidzin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin’. Sebagian yang lain memilih untuk mengucapkan ‘Taqobbalallohu Minna wa Minkum.’

Bagaimana sebenarnya ucapan untuk Idulfitri? Adakah tuntunan dari Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam)  atau para Sahabat (radhiallahu anhu??

Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ucapan selamat Idulfitri menjawab, 

“Sedangkan untuk ucapan selamat Idulfitri, setelah selesai Idul Fitri bisa saling mengucapkan, Taqabbalallahu Minna wa Minkum, (semoga Allah menerima (ibadah dan amal saleh) dari Anda dan kami) atau A'adahullahu 'Alaika (semoga Allah membuat Anda menyaksikannya (Idulfitri) lagi) dan frasa serupa lainnya." (al-Fataawa al-Kubra)

"Taqaobbalallohu Minna wa Minkum" adalah ucapan yang biasa disampaikan para Sahabat (radhiallahu anhu) satu sama lain usai melaksanakan salat Idulfitri. Imam Al-Hafidz bin Hajar dalam kitab Fathul Bari menyampaikan, 

"Jubair bin Nufair (radhiallahu anhu) berkata: 'Para sahabat Nabi (radhiallahu anhum), biasa mengucapkan Taqabbala Allahu Minna wa Minkum [semoga Allah menerima dari Anda dan kami] ketika mereka bertemu satu sama lainnya pada hari Idulfitri.'"

Sementara Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mughni, bahwa Muhammad Ibn Ziad (radhiallahu anhu) berkata: “Aku bersama Abu Umamah al-Bahili dan beberapa sahabat Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam). Ketika mereka pulang dari salat Idulfitri, mereka saling mengucapkan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’.”

Dalam Majmu' Fataawa Ibn 'Utsaimin, Syekh Ibnu 'Utsaimin ditanya: Apa hukum mengucapkan salam Idul Fitri dan apakah ada kata-kata tertentu yang digunakan?

Beliau menjawab:

Mengucapkan salam dan selamat pada hari raya Idulfitri diperbolehkan, dan tidak ada salam khusus. Sebaliknya salam yang biasa digunakan orang diperbolehkan selama tidak ada dosa yang terlibat.

Syekh Ibnu 'Utsaimin juga berkata:

Beberapa Sahabat memberikan salam dan ucapan selamat pada kesempatan Idul Fitri. Bahkan jika kita berasumsi bahwa mereka tidak melakukan itu, sekarang sudah menjadi kebiasaan yang biasa dilakukan orang, saling memberi selamat pada hari raya Idulfitri dan menyelesaikan puasa dan qiyam (mendirikan salat).

Beliau juga ditanya: Apa hukum berjabat tangan, berpelukan, dan saling mengucapkan selamat setelah sholat Ied?

Dan beliau menjawab:

Hal-hal tersebut tidak mengapa, karena orang-orang tidak melakukan hal-hal ini sebagai ibadah yang dimaksudkan untuk mendekatkan mereka kepada Allah, tetapi mereka melakukannya karena kebiasaan, dan untuk menghormati dan menghormati satu sama lain. Selama tidak ada dalam syariat yang menunjukkan bahwa suatu kebiasaan dilarang, maka prinsip dasarnya adalah boleh.

Jadi, apa pun ucapan yang kita sampaikan kepada setiap muslim setelah salat IdulFitri, hukumnya adalah boleh, selama tidak ada keburukan atau maksiat di dalam ucapan tersebut. Namun, alangkah baiknya apabila kita meniru kebiasaan para Sahabat Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) dengan mengucapkan: 

 ‘Taqobbalallohu Minna wa Minkum.’

Dan apabila kita menerima ucapan seperti itu, sebagai balasannya kita bisa mengucapkan kalimat yang sama, atau cukup dengan Aamiin atau Khair Mubarak.

Allah berfirman,

“Ketika kamu disapa dengan sapaan, sapalah kembali dengan yang lebih baik darinya atau balaslah. Lihat! Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisa, 4: 86)


Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat? Bagaimana Mengucapkan Selamat Idulfitri yang Tepat? Reviewed by Himam Miladi on April 30, 2022 Rating: 5

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran

April 28, 2022

 

salat mencegah kemungkaran
Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (unsplash.com)

Katanya salat itu mencegah kemungkaran, tapi mengapa masih banyak orang yang terlihat rajin salat, masih juga mengerjakan maksiat, perbuatan keji dan dosa-dosa lainnya?

Memang betul, Allah berfirman,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Ankabut, 29: 45)

Salat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar apabila dikerjakan dengan baik dan sempurna. Apabila ada seorang muslim mengaku sudah salat, tapi masih juga melakukan maksiat, maka salatnya belum sempurna. Orang tersebut hanya sekedar melakukan gerakan salat, tapi inti dari ibadah salatnya tidak sampai masuk ke hatinya. 

Kesempurnaan Salat Berawal Dari Kesempurnaan Wudhu

Kesempurnaan salat dimulai ketika kita berwudhu. Salat baru dapat dikatakan sah apabila kita sudah bersuci. Jika wudhu kita belum sempurna, maka salat kita juga dikatakan tidak sah karena kita masih belum menyucikan diri dari hadas.

Rasulullah (ﷺ) bersabda,

"‏ لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak ada salat yang diterima tanpa wudhu (bersuci) (HR Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah (ﷺ) bersabda,

 "‏ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ‏"‏ ‏.

“Jika waktu untuk salat (wajib) telah tiba, dan seorang Muslim melakukan wudhu dengan benar, (dan kemudian shalat) dengan kerendahan hati dan rukuk (kepada Allah), itu akan menghapus dosa-dosanya yang lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar; dan ini berlaku untuk semua waktu.” (HR Muslim)

Ini baru perkara wudhu, belum lagi ibadah salat itu sendiri. Entah kita sadari atau memang belum kita ketahui, dalam melakukan salat kita banyak melakukan kesalahan yang membuat salat kita tidak sempurna.

Kesempurnaan Salat Mencegah Kemungkaran

Kesalahan umum yang sering dan banyak dilakukan umat Islam adalah melakukan salat dengan terburu-buru. Padahal, salah satu rukun salat adalah tuma’ninah atau berdiam diri sebentar setiap kali selesai melakukan satu gerakan salat. Sebagian ulama mengartikan tuma'ninah adalah menempatkan setiap bagian tubuh kita dengan benar ketika berada dalam posisi salat. Artinya, ketika ruku' maka kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita ikut berada dalam posisi ruku. Ketika sujud, kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita berada dalam posisi sujud.

Seperti yang disampaikan Rasulullah (ﷺ) dalam hadis di atas, kita yang melakukan salat dengan kerendahan hati dan rukuk (tunduk) kepada Allah, maka dosa-dosa kita akan terhapuskan, selama kita tidak melakukan dosa besar.

Ketika kita salat dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh perhatian, tunduk, murni, mengarahkannya kepada Allah, dan membaca takbir (mengucapkan 'Allahu Akbar': Allah Maha Besar) untuk memulai salat, hakikatnya kita menyatakan bahwa Allah lebih besar dari siapapun dan apapun.

Kemudian, kita memulai salat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala dengan mengucapkan doa istiftah. Perhatikan makna salah satu doa iftitah: Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawati wal ardhi (Aku menghadapkan wajahku kepada Pencipta Langit dan Bumi, dan seterusnya). 

Kemudian, kita mencari perlindungan kepada Allah dari godaan setan (membaca ta’awudz/A’udzubillah) dan membaca Al-Fatihah, yang dikenal sebagai Umm Al-Kitab (induk Al-Quran), karena menggabungkan semua makna iman dan tauhid.

Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Quran) karena memuat pujian kepada Allah, mengungkapkan rasa syukur, mengagungkan, mengakui Hari Pembalasan dan bahwa Allah adalah Tuannya , menyembah dan memohon kepada-Nya, serta meminta petunjuk kepada Tuhannya dan tidak ada kecualinya. Petunjuk di sini mengacu pada petunjuk jalan para nabi, dan orang-orang yang beriman.

Kemudian, kita yang sedang salat memohon kepada Allah  agar melindungi kita dari jalan orang-orang yang menimbulkan kemarahan [Nya] dan orang-orang yang sesat.

Kemudian ketika ruku' dan sujud, kita mengucapkan puji-pujian kepada Allah, menyampaikan salam kepada Nabi (ﷺ), dan ditutup dengan salam yang diniatkan/ditujukan kepada imam, orang-orang di sekeliling kita, dan para malaikat yang ikut menyaksikan salat kita.

Jika kita memahami sepenuhnya apa artinya ini, akankah kita melakukan dosa dengan sengaja?

Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (lebih baik) dengan cahaya batin yang lebih terang. Kita akan memperbaharui kepatuhan kita kepada Allah dan tidak akan pernah berani melanggar larangan-Nya.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah bahwa salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Mari kita perbarui dan sempurnakan salat kita, dan memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan salat dengan sempurna.

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Reviewed by Himam Miladi on April 28, 2022 Rating: 5

Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani

April 25, 2022

 

madrasah rohani
Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu

Puasa Ramadan hendaknya tidak hanya sekedar dilakukan/dilaksanakan, namun juga harus dimaknai. Kalau puasa hanya dilaksanakan, itu berarti kita hanya sekedar mengugurkan kewajiban. Tak ada bekasnya di dalam diri kita setelah bulan Ramadan berlalu. Kalau puasa hanya dilaksanakan, kambing pun bisa melakukannya. Cukup kita kurung kambing itu di dalam kandang, tanpa kita beri makan dan minum, maka dia akan berpuasa.

Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu, atau setelah kita berpuasa. Syekh Rasyid Ridho dalam tafsir Al-Manan mengatakan, puasa hakikatnya adalah pendidikan untuk kemauan. Selama bulan puasa, kita dididik untuk mengekang/membatasi segala kemauan atau keinginan kita.

Imam Ghozali berpendapat, puasa Ramadan adalah Madrasah Rohani. Menurut Imam Ghozali, ada 4 unsur rohani yang mendapat pendidikan selama kita berpuasa.

1. Pendidikan Hati

Orang yang berpuasa diharapkan memiliki Qolbun Saliim, hati yang selamat.

Rasulullah (ﷺ) bersabda,

” أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ.“ رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati adalah pusat pergerakan jasad insan. Jika hati seseorang itu sehat, maka seluruh anggota tubuh akan sehat dan sejahtera. Sebaliknya, jika hatinya kotor, maka amal perbuatan anggota tubuh juga akan rusak dan kotor, tiada guna dan tiada berpahala.

Maulana Muhammad Zakariya Al-Khandhlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal menyatakan hati diibaratkan seperti cermin.  Semakin kotor cermin tersebut, semakin kurang cahaya yang dipantulkannya. Sebaliknya, apabila cermin itu semakin bersih, maka semakin terang pula pantulan cahaya marifatnya. Di antara tanda hati yang kotor dan berpenyakit adalah:

·         Sering gelisah dan tidak tenteram

·         Selalu membanggakan diri sendiri

·         Memandang rendah dan hina terhadap orang lain

·         Menganggap diri lebih daripada orang lain

·         Tidak amanah dan ingkar janji

·         Sering mencari aib orang lain dan disebarkan

·         Suka mengumpat dan menyakiti orang lain

·         Mudah berburuk sangka terhadap orang lain

·         Cinta dunia melebihi kecintaan pada akhirat

·         Sering mengabaikan ibadah

Puasa Ramadan diharapkan dapat mendidik hati kita menjadi hati yang bersih dari kotoran hati, dan hati yang sehat bebas dari penyakit hati (amrotul qulub).

Orang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan hati, maka dia bisa menghadap Allah dalam keadaan hati yang bersih (Qolbun Saliim).

Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ  ٨٩

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy-Syuura, 26: 88-89)

2.   Pendidikan Nafsu

Madrasah Ramadan mendidik jiwa kita agar menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah).

Ciri-ciri jiwa yang tenang adalah:

Memiliki sumber keinginan yang baik, dicapai dengan cara yang baik, dan istiqomah dalam kebaikan (selalu kembali kepada jalan kebenaran apabila sekali waktu tergelincir dalam kesalahan).

Seseorang yang memiliki jiwa yang tenang, bisa dikatakan otomatis khusnul khatimah. Allah sendiri yang berkenan memanggil jiwa-jiwa yang tenang, dan memasukkannya ke dalam surga.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ -٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ -٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ -٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ – ٣٠

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr, 89: 27-30)

Orang yang memiliki jiwa yang tenang juga akan dimudahkan Allah kelak pada Yaumul Hisab.

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ

maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (QS Al-Insyiqaq, 84: 8)

3.   Pendidikan Akal Pikiran

Puasa Ramadan juga menjadi sekolah bagi akal pikiran. Dalam teori psikologi, orang yang berpuasa dapat mencapai tingkat ketenangan yang luar biasa. Saat berpuasa, gelombang otak kita berada dalam posisi theta yang dihubungkan dengan memori atau daya ingat serta tingkat kesadaran yang tinggi.

Itu sebabnya, orang yang berpuasa bisa fokus pada hal-hal positif karena segala hal negatif terbuang dari pikirannya. Itu sebabnya pula, bulan Ramadan adalah bulan terbaik untuk menghafal Al-Quran karena dalam keadaan puasa, memori atau daya ingat kita berada dalam kondisi puncak.

Seseorang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan Akal Pikiran, dialah yang berhak disebut sebagai Ulul Albab.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ - الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran, 3: 190-191)

4.   Pendidikan Rasa

Puasa Ramadan adalah sekolah yang memberikan pendidikan rasa. Hakikatnya, puasa mendidik kita untuk dapat merasakan penderitaan orang-orang fakir dan miskin, yang karena kekurangannya sering merasa kelaparan.

Rasulullah sering mengingatkan kita, bahwa ukuran keimanan seseorang terletak dari empatinya terhadap penderitaan orang lain.

“Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangganya di sampingnya kelaparan” (HR Bukhari)

Maka, orang yang berhasil mendapat Pendidikan Rasa di bulan Ramadan adalah orang yang memiliki karakter Ta’awuun, orang yang ringan tangan, suka menolong sesama.


Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Reviewed by Himam Miladi on April 25, 2022 Rating: 5

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik

April 24, 2022

 

infak,sedekah,infak dengan harta terbaik
Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik (pixabay)

Mungkin ini jarang terjadi, namun kali ini benar-benar terjadi!

Setelah shalat Ashar, seorang ibu mendatangi kantor takmir, lalu tanpa pikir panjang ibu ini mengeluarkan sebuah kalung emas dan berkata, Saya ingin menginfakkan kalung emas ini!

Masyaallah! Biasanya, orang berinfak dengan uang tunai. Tapi kali ini seorang ibu muda menginfakkan perhiasan emasnya. Kami yang saat itu sedang berada di kantor takmir sampai bengong sejenak, tidak bisa berkata apa-apa.

Kebanyakan kita enggan melepaskan barang-barang yang kita sayangi. Coba lihat dan pikirkan, betapa banyak barang-barang di rumah yang kita biarkan tidak terpakai, dengan alasan barang-barang tersebut adalah barang-barang kesayangan, dengan beribu alasan!

Ini masih muat kok!

Aduh, ini kan baju kenangan!

Sepatu model ini kan masih tren!

Jangan dong, tupperware beli mahal-mahal kok mau dikasihkan orang!

Ingat, simpanan-simpanan itu akan ada hisabnya di hari kemudian.

Simpanan sarung yang tidak terpakai, baju-baju yang mulai kekecilan, celana yang sudah tidak muat lagi di pinggang. Simpanan toples tupperware yang menumpuk di kardus, masih terbungkus plastik, tak pernah dipakai dan tak ada rencana dipakai.

Ada lagi sajadah-sajadah yang teronggok begitu saja di dasar lemari.  Ada beberapa set piring dan gelas hadiah pernikahan, yang sampai sekarang pun masih belum pernah digunakan.

Ada ini ada itu, daftarnya bisa sangat panjang.

Yah, manusia memang tak bisa lepas dari nafsu. Semua yang kita miliki, kita beli dan kita simpan ini berawal dari nafsu. Ingin punya ini, tak mau kalah dengan tetangga atau saudara yang sudah punya barang itu, begitu seterusnya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS Ali Imran, 3: 14)

Padahal, apa yang kita miliki di dunia ini tak bisa kita bawa pulang ke kampung abadi. Yang kita pakai sekarang dan kita sedekahkan itulah harta kita yang sebenarnya, yang bermanfaat.

Yang simpanan dan koleksi-koleksi, mereka semua akan dihisab, diminta pertanggung jawabannya. Dari mana kita memperoleh, dan untuk apa barang koleksi itu kita gunakan.

يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam. Lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah, 9: 35)

Dalam berinfak atau bersedekah, Allah menganjurkan kita untuk berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit (ketika kaya maupun miskin).

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit (QS Ali Imran, 3: 134)

Begitu pula dengan harta yang kita infakkan, Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah, 2: 267)

Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir menyatakan bahwa tema ayat ini adalah kewajiban memilih harta yang baik ketika hendak berinfak di jalan Allah, baik infak tersebut berupa zakat wajib maupun sedekah sunnah. Karena tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan menabung pahala dengan beramal baik. Tujuan ini tidak bisa diraih kecuali jika harta yang diinfakkan adalah harta yang baik pula.

Sekarang, mari kita pikirkan kembali, seberapa sering kita menginfakkan harta kita yang terbaik?

Yang sering adalah, kita menginfakkan harta-harta tersisa. Kalau ada pengumpulan sumbangan untuk korban bencana alam misalnya, yang kita sumbangkan adalah baju-baju bekas! Sekalipun itu masih layak pakai, namun tetap saja bekas kita pakai!

Sebab kita enggan berinfak yang terbaik adalah karena setan terus membisikkan ke dalam hati kita akan kemiskinan.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah, 2: 268)

Jangan takut berinfak dengan harta terbaik. Allah menjanjikan kepada kita, bahwa setiap harta yang kita infakkan hakikatnya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Dan kita tidak akan rugi karenanya.

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (QS Al-Baqarah, 2: 272).

Ingatlah, sedekah menghapuskan dosa, sebagaimana air mematikan api.

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Reviewed by Himam Miladi on April 24, 2022 Rating: 5

Keutamaan Tadarus Al-Quran di Masjid

April 16, 2022

tadarus al-quran,tadarus,bulan al-quran
Bulan Ramadan adalah bulan untuk mengoreksi dan memperbaiki bacaan Al-Quran kita (Antarafoto/Yulius Satriya Wijaya)



Bulan Ramadan adalah bulan Al-Quran. Abdullah ibn ‘Abbas (radiyallahu ‘anhuma) meriwayatkan bahwa:

“Rasulullah (ﷺ) adalah orang yang paling dermawan dari semua orang. Dan beliau akan meningkatkan kedermawanannya selama Ramadan, ketika Jibril ('alayhis salam) biasa bertemu dengannya. Jibril ('alayhis salam) akan menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk memeriksa bacaan Al-Qur'an. Rasulullah (ﷺ) bahkan lebih murah hati daripada angin yang adil.” (Sahih Bukhari, Hadis: 6)

Menurut Imam Hafiz Ibnu Hajar dalam komentarnya di kitab Fathul Bari, narasi hadis “memeriksa Al-Quran” maksudnya adalah masing-masing (Rasulullah dan Jibril) membaca satu sama lain seluruh Al-Quran (yang diwahyukan hingga Ramadan tertentu). Dengan kata lain, Rasulullah membacakan Al-Quran kepada Jibril (untuk dikoreksi), dan Rasulullah kemudian mendengarkan bacaan Jibril (untuk diikuti/ditirukan).

Dengan mengambil dasar dari hadis tersebut, maka boleh dibilang bulan Ramadan adalah bulan untuk mengoreksi dan memperbaiki bacaan Al-Quran kita. Dan, tidak ada cara yang paling baik untuk mengoreksi dan memperbaiki bacaan Al-Quran selain daripada dengan Tadarus Al-Quran.

Membaca Al-Quran secara tadarus di masjid-masjid sudah dilakukan sejak jaman kekhalifahan Umar bin Khattab (radhiallahu anhu). Diriwayatkan dari Abi Ishaq al-Hamdani, bahwa Ali bin Abi Thalib (radhiallahu anhu) keluar pada awal Ramadan, lentera dinyalakan dan kitab Allah dibaca di masjid-masjid. Ketika itu, Ali berkata, "Semoga Allah menerangimu, wahai Umar dalam kuburmu, sebagaimana engkau telah menerangi masjid-masjid Allah dengan al-Quran”.

Secara kaidah, membaca Al-Quran secara tadarus disebut dinamakan sebagai (قراءة الإدارة), yakni membaca Al-Quran dalam satu kelompok majelis secara bergiliran, untuk diperbaiki bacaan dan penguasaan tajwid-nya. Membaca Al-Quran seperti ini, menurut Imam Malik, Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah hukumnya harus (sunnah muakkad).

Membaca Al-Quran secara Tadarus juga sesuai dengan sabda Rasulullah

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tiada suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah (Masjid), sedang mereka membaca kitab Allah (Al-Quran) dan bertadarus sesama mereka, melainkan akan diturunkan ke atas mereka ketenangan, kelimpahan rahmat, dan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat serta Allah akan menyebut (memuji) mereka di hadapan para malaikat-Nya.” (HR Muslim)

Hadis Rasulullah tersebut menerangkan kepada kita, betapa tingginya derajat orang yang bertadarus di masjid. Bayangkan, nama kita disebut dan dipuji oleh Alah di hadapaan para malaikat-Nya!

Tak hanya itu, para malaikat atas perintah Allah menurunkan ketenangan dan kelimpahan rahmat-Nya.

Sayangnya, pahala yang sedemikian besar ini tidak bisa menarik perhatian umat Islam! Banyak masjid yang sepi dari bacaan Al-Quran, bahkan di bulan Ramadan, bulan turunnya Al-Quran.

Kalaupun ada umat Islam yang bertadarus, terutama di masjid-masjid kampung, kaidah tadarus-nya dilupakan. Mereka hanya sekedar membaca secara bergiliran, saling menyimak, tapi lupa untuk belajar dan memperbaiki bacaannya!

Bahkan tak jarang, mereka membaca dengan cepat agar cepat pula khatam Al-Quran. Semakin sering mengkhatamkan Al-Quran, semakin bisa dibanggakan!

Padahal hakikat tadarus, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Imam Malik dan Imam Nawawi, adalah untuk memperbaiki bacaan dan penguasaan tajwid. Tadarus adalah kesempatan terbaik bagi setiap muslim untuk saling menegur serta memperbaiki kesalahan masing-masing, dan bukan untuk sekedar membaca bergiliran sampai mengkhatamkan Al-Quran.

 

 

 

 

 

 


Keutamaan Tadarus Al-Quran di Masjid Keutamaan Tadarus Al-Quran di Masjid Reviewed by Himam Miladi on April 16, 2022 Rating: 5
Powered by Blogger.