Results for khasanah islam

Jalan Termudah Menuju Surga

May 04, 2022

 

jalan termudah menuju surga
Menurut Rasulullah () ada 4 jalan termudah menuju surga

Islam agama yang memudahkan pemeluknya dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Seluruh perintah dalam syariat Islam adalah demi kemaslahatan (kebaikan), sedangkan seluruh larangannya adalah untuk menghindari kemudharatan (keburukan).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah () pernah ditanya seseorang, apa jalan termudah menuju surga. Beliau () menjawab,

: أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا الليل وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

"Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, sholatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai". (HR Ahmad, sahih).

1.  Menebarkan Salam

Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan salam tidak sekadar kata-kata, namun mengandung arti menebarkan perdamaian , kasih sayang dan kerukunan terhadap sesama, baik kepada keluarga, tetangga, maupun terhadap sesama Muslim.

2. Memberi Makan (Bersedekah)

Nabi menganjurkan kepada kita untuk memberi makan (bersedekah), terutama bagi orang-orang yang membutuhkan. Rasulullah () bersabda,

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ

“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.” (HR Tirmidzi)

3. Menyambung Silaturahim

Rasulullah () bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ قَالُوا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: تُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ» قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ، فَمَا لِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تُحَاسَبَ حِسَابًا يَسِيرًا وَيُدْخِلَكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ

"Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah dan akan dimasukkan ke surga dengan Rahmat-Nya."

Sahabat bertanya, “Bagi siapa itu wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “Engkau memberi (kepada) orang yang menghalangimu, engkau memaafkan orang yang mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang memutuskan silaturrahim denganmu.”

Sahabat bertanya, “jika saya melakukannya, apa yang saya dapat wahai Rasulullah ()?”

Nabi () bersabda: “engkau akan dihisab dengan hisab yang ringan dan Allah akan memasukkanmu ke surga dengan rahmat-Nya."

4. Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Nabi () bersabda:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Jalan Termudah Menuju Surga Jalan Termudah Menuju Surga Reviewed by Himam Miladi on May 04, 2022 Rating: 5

Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar

May 04, 2022

 

kewajiban berdakwah,pendakwah
Bersemangatlah menjadi pendakwah, sekalipun minimalis. Sekalipun hanya menyampaikan satu potongan ayat Al-Quran atau hadis Rasulullah

Berdakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dasarnya adalah hadis Rasulullah ():

 

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ "‏بلغوا عني ولو آية

Dari Abdullah bin Amr bin Ash (Radhiallahu anhuma) melaporkan bahwa Rasulullah () bersabda, “Sampaikan dariku bahkan satu ayat (dari Al-Quran).” (HR Bukhari)

Di dalam Al-Quran, Allah berfirman mengenai kewajiban dakwah (menyeru pada agama),

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS At-Tahrim, 66: 6).

Ayat ini menerangkan kewajiban kita untuk memelihara diri sendiri (terlebih dahulu) dan keluarga dari siksa api neraka. Dengan kata lain, ayat ini menerangkan kewajiban berdakwah bagi setiap muslim, terutama laki-laki sebagai keluarga.

Mengenai tafsir ayat ini, Imam Qatadah berkata: "Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!"

Imam Ibnu Jarir juga berkata: "Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!"

Sedangkan Ibnu Umar berkata: "Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu."

Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ke-6 dari QS. At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas kepada seorang muslim untuk berdakwah agar dapat menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan tindak-tanduk mereka. Karena sebuah kewajiban, maka bila perintah tersebut tidak dipatuhi atau tidak dijalankan dengan baik oleh seorang muslim, maka tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.

Dakwah, menurut terminologi syariatnya adalah: mengajak keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Ada 4 (empat) macam kegelapan yang mana kita harus mengajak orang keluar darinya:

·         Kegelapan syirik menuju cahaya Tauhid

·         Kegelapan kejahilan menuju ilmu

·         Kegelapan kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

·         Kegelapan bidah (amalan di luar syariat) menuju sunnah Rasulullah ()

 

Allah sangat menghargai orang-orang yang berdakwah atau mengajak kebaikan. Allah berfirman,

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fusshilat, 41: 33).

Menurut kebanyakan ahli tafsir, penghargaan Allah ini ditujukan kepada setiap orang yang mengajarkan atau mengajak kepada kebaikan. Sekalipun hanya dengan satu kata kebaikan, dan dia sendiri menjadi teladan dalam kebaikan tersebut.

Dari ayat ini kita juga dapat memahami bahwa sesuatu yang paling utama dikerjakan oleh seorang muslim ialah memperbaiki diri lebih dahulu, dengan memperkuat iman di dada, menaati segala perintah Allah, dan menghentikan segala larangan-Nya. Setelah diri diperbaiki, serulah orang lain mengikuti agama Allah. Orang yang bersih jiwanya, kuat imannya, dan selalu mengerjakan amal yang saleh, ajakannya lebih diperhatikan orang, karena ia menyeru orang lain dengan keyakinan yang kuat dan dengan suara yang mantap, tidak ragu-ragu.

Tentu, semua ini hanya bisa kita lakukan apabila kita punya ilmu. Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada iman yang kokoh kecuali dengan ilmu.”

Rasulullah () memberi apresiasi yang besar kepada siapapun yang menyampaikan kebaikan. Sebagaimana yang pernah beliau () katakan kepada Ali bin Abi Thalib (radhiallahu anhu), “Wahai Ali, usahamu untuk membimbing satu orang ke jalan yang benar lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya.” (HR Bukhari, Muslim dan Al-Hakim).

Bersemangatlah menjadi pendakwah, sekalipun minimalis. Sekalipun hanya menyampaikan satu potongan ayat Al-Quran atau hadis Rasulullah ().

Jangan patah semangat untuk berdakwah. Sebab, setiap tetes keringat kita saat mengajak kebaikan kepada orang lain akan menjadi cahaya di liang lahat kita nanti. Sebab pahala kebaikan akan terus mengalir ke buku catatan perbuatan baik kita.

Nabi () bersabda,

“Barangsiapa mengajarkan atau merintis kebaikan, lalu kebaikan itu diikuti orang, maka ia mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebaikan tersebut, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang merintis kejelekan, lalu kejelekan itu diikuti orang, amak ia mendapat dosa dari yang mengikuti kejelekan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim).

Dakwah minimalis, dengan satu kata kebaikan sudah mendatangkan pahala yang besar. Apalagi jika yang kita sampaikan lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, jadilah pendakwah yang terpelajar dan pembelajar. Artinya, sembari kita giat mengajarkan kebaikan, kita juga tiada henti menuntut ilmu kebaikan. Pahamilah, bahwa masyarakat di sekitar kita sudah berkembang pesat pengetahuan dan wawasannya.

Dari Abu Hurairah (radhiallahu anhu), mengatakan bahwa Rasulullah () bersabda, “Semua isi dunia ini terkutuk, kecuali dzikrullah, orang yang taat kepada-Nya, orang terpelajar dan pembelajar (pencari ilmu).” (HR Tirmidhi)

Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar Jadilah Pendakwah Terpelajar dan Pembelajar Reviewed by Himam Miladi on May 04, 2022 Rating: 5

Mengingat Kembali Perjalanan Agung Isra' Mi'raj

February 27, 2022


Betapa sedihnya Rasulullah Muhammad s.a.w. Pamannya, Abu Thalib dan istrinya, Ummul Mukminin Khadijah r.a dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Tahun itu adalah Tahun Duka. Usai kematian dua orang yang paling dicintai dan paling gigih membela dakwahnya, perlakuan kaum kafir Quraish kota Mekkah terhadap Nabi Muhammad kian keras dan kejam. Nabi pun pergi ke Thaif, dengan maksud berdakwah sekaligus meminta dukungan.

Namun, penduduk Thaif justru memperlakukan Nabi Muhammad dengan keji. Mereka menganiaya, melempari Nabi dengan bebatuan hingga wajah Rasulullah bercucuran darah. Malaikat yang menyaksikan penganiayaan itu geram. Kepada Nabi, Malaikat meminta ijin untuk membalikkan gunung dan bukit, mengubur seluruh penduduk Thaif. Tetapi Nabi Muhammad berkata tidak, meminta para malaikat bersabar.

Tahun itu adalah Tahun Duka. Tak ada yang bisa menghibur hati Nabi Muhammad. Namun, kedukaan itu tak berlangsung lama. Allah sendiri lah yang kemudian menghibur langsung manusia agung pilihannya itu. Memberinya “hadiah” sebuah peristiwa yang menjadi salah satu episode paling luar biasa dalam kehidupan Nabi Suci tercinta.

Nabi Muhammad dipanggil oleh Allah SWT. Melalui kekuasaanNya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Mekah ke Masjid Al Aqsa di Palestina (Isra’). Dari sana, Nabi Muhammad kemudian dinaikkan, menembus pintu-pintu langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi’raj).

Ini adalah bentuk penghormatan yang luar biasa bagi Rasulullah. Merasakan kontak langsung dengan Penciptanya di tempat di mana bahkan para malaikat tidak memiliki akses masuk. Ini adalah klimaks dari perjalanan spiritual yang tidak dicapai oleh siapapun kecuali Nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada keraguan bagi kita semua umat Islam, bahwa pada malam Isra’ Mi’raj tersebut, junjungan kita diberkati Allah dengan kehormatan yang tidak tertandingi.

isra miraj,infografis isra miraj
Infografis peristiwa Isra Miraj


Perjalanan Isra’

Para ulama ahli sejarah Islam berbeda pendapat tentang tanggal dan tahun tepatnya peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun pendapat umum meyakini terjadi pada malam 27 Rajab.

Pada malam tersebut, Nabi Muhammad diperjalankan Allah secara fisik dari Mekah ke Masjid Al Aqsa di Yerussalem, Palestina, dengan menaiki Al-Buraq (hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda) dan ditemani oleh Malaikat Jibril a.s. Dalam perjalanan menuju Masjid Al Aqsa mereka melewati makam Nabi Musa a.s.  Nabi lalu berhenti dan sembahyang.

Setelah tiba di Masjid Al Aqsa,  Nabi Muhammad lalu sholat dan memimpin para Nabi berdoa. Usai sholat, Jibril membawa dua botol berisi susu dan alkohol, lalu meminta Nabi Muhammad memilih. Rasulullah memilih susu dan kemudian meminumnya. Melihat pilihan Nabi Muhammad, Jibril tersenyum dan berkata, “Anda telah memilih Al Fitrah (kebenaran).”

Perjalanan Mi’raj.

Dari Masjid Al Aqsa ini, Nabi Muhammad melalui kekuasaan Allah kemudian diangkat dan diperjalankan menyusuri 7 lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha. Ketika sampai di langit pertama, Jibril mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk. Pintu dibuka, dan keluarlah Nabi Adam a.s menyambut Rasulullah. Nabi Allah yang pertama ini kemudian menyatakan keimanannya pada kenabian Muhammad s.a.w.

Kemudian, Nabi Muhammad dan Jibril naik ke langit ke-2. Disini Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yahya a.s dan Nabi Isa a.s. Rasulullah lalu menyapa dan memberi salam pada mereka. Nabi Yahya dan Nabi Isa menjawab salam Rasulullah dan kemudian menyatakan persaksian mereka pada kenabian Muhammad.

Di langit ke-3, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Yusuf a.s. Usai membalas salam dari Rasulullah, Nabi Yusuf menyatakan keimanannya pada kenabian Muhammad. Di langit ke-4, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Idris a.s. Sebagaimana para nabi sebelumnya, Nabi Idris juga menyatakan keimanannya pada kenabian Muhammad.

Kemudian, Nabi Muhammad dan Jibril naik ke langit ke-5. Disini Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun a.s. yang juga menyatakan keyakinannya pada kenabian Muhammad. Di langit ke-6, Nabi Muhammad menjumpai Nabi Musa a.s. Nabi Muhammad memberinya salam, yang kemudian dibalas salam pula oleh Nabi Musa dan menyatakan kesaksiannya pada kenabian Muhammad.

Ketika hendak meninggalkan langit ke-6 ini, Nabi Muhammad melihat Nabi Musa menangis. Beliau kemudian bertanya, mengapa Nabi Musa menangis. Dijawab oleh Nabi Musa, “"Saya menangis karena seorang pemuda yang diutus setelah saya akan memiliki lebih banyak pengikut dari bangsanya yang masuk Surga daripada bangsaku sendiri."

Setelah itu, Nabi Muhammad dan Jibril naik ke langit ke-7. Disini Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s, Bapak Para Nabi dan Rasul. Dengan takzim, Nabi Muhammad memberi salam, dan Nabi Ibrahim pun membalas salamnya serta menyatakan keimanannya pada kenabian Muhammad s.a.w.

Menerima Perintah Salat

Dari langit ke-7, Jibril kemudian mengantarkan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha. Saat di pintu gerbangnya, Jibril mempersilahkan Rasulullah untuk masuk, sementara dia sendiri menunggu di luar karena para malaikat sendiri termasuk dirinya tidak diijinkan untuk masuk ke dalam.

Di Sidratul Muntaha ini, Rasulullah bertemu langsung dengan Sang Khaliq, Zat Pencipta Alam Semesta, Allah SWT. Nabi Muhammad mendapat perintah untuk menegakkan sholat lima puluh waktu sehari.

Sekembalinya dari Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa yang kemudian bertanya, “Apakah Allah memberimu suatu perintah untuk dilakukan umatmu?”.

“Benar, Allah mewajibkan sholat lima puluh waktu sehari,” jawab Nabi Muhammad.

“Kembalilah dan mintalah keringanan. Umatmu tidak akan kuat menjalankan perintah sholat lima puluh waktu sehari,” kata Nabi Musa.

Nabi Muhammad menuruti nasehat pendahulunya tersebut, kembali ke Sidratul Muntaha, meminta keringanan jumlah sholat yang diwajibkan untuk ummatnya. Begitulah, setiap kali turun dan bertemu lagi dengan Nabi Musa, Nabi Muhammad disarankan untuk meminta keringanan jumlah waktu sholatnya karena menurut Nabi Musa itu masih terasa berat. Hingga tersisa perintah sholat lima waktu, Nabi Muhammad menolak usulan Nabi Musa untuk kembali dan mengatakan itu sudah cukup.

Usai puncak perjalanan spiritual tersebut, keesokan harinya Nabi Muhammad kemudian menceritakan peristiwa mukjizat tersebut pada kaumnya. Alih-alih banyak yang beriman, cerita perjalanan Isra’ Mi’raj justru menjadi senjata bagi kaum kafir Quraisy untuk mendelegitimasi kenabian Muhammad.

Mereka menjadikan cerita Isra’ Mi’raj tersebut sebagai bahan ejekan. Mereka menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj ini untuk mempengaruhi kaumnya yang sudah memeluk Islam agar tidak percaya pada kenabian Muhammad. Bagaimana bisa percaya pada cerita yang menurut logika akal manusia sangat mustahil bisa terjadi. Pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis dalam semalam, dan kemudian naik ke langit ketujuh!

Bagi orang-orang yang imannya lemah, ini adalah ujian paling sulit. Tak sedikit kaum muslim saat itu yang gagal melewati ujian ini, terpengaruh dengan provokasi kaum kafir Quraisy, dan kemudian menjadi murtad. 

Teladan Keteguhan Iman Abu Bakar tentang Isra Miraj

Tapi tidak bagi mereka yang imannya sekokoh batu karang. Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa mukjizat yang bisa terjadi atas kehendak Allah. Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah puncak dari keimanan seorang muslim terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Seperti yang dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar r.a.

Beberapa orang Quraisy mendatangi rumah Abu Bakar, dengan maksud menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj. Mereka berharap Abu Bakar tidak percaya pada cerita tersebut, dan nantinya akan memalingkan diri dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

Bagaimana respon sahabat Nabi yang mulia ini? Jangankan tidak percaya, malah dengan wajah berseri-seri Abu Bakar menjawab:
"Apa keberatannya? Bahkan saya akan mempercayainya walaupun lebih dari itu. Saya mempercayainya mengenai berita langit yang diterimanya, baik di waktu pergi maupun ketika kembali".

Kemudian diucapkanlah semboyannya yang terkenal:
"Jika demikian, maka benarlah ia!"

Abu Bakar kemudian bergegas pergi ke Ka'bah untuk menjumpai Rasulullah s.a.w. Disana dilihatnya kelompok manusia yang mencibir dan yang ragu-ragu sedang mengelilingi Rasulullah saw. dengan suara ribut yang tiada menentu. Dilihatnya Cahaya Allah sedang duduk sambil tunduk dengan khusyuknya menghadap Ka'bah. Ia tidak merasa terganggu dengan berisiknya orang-orang bodoh disekitarnya.

Setibanya disana, Abu Bakar menjatuhkan diri kepada Rasullullah sambil memeluknya, seraya berkata:
"Demi bapak dan ibuku yang jadi tebusanmu hai Rasulullah! Demi Allah, sesungguhnya engkau benar......Demi Allah sesungguhnya engkau benar......"

Inilah pertunjukan keimanan terbesar dan menakjubkan dari seorang muslim kepada Nabi junjungannya. Tak ada keraguan sedikitpun di hati Abu Bakar terhadap apapun yang diceritakan Nabi Muhammad. Kepercayaannya mutlak, begitu pula keimanannya juga mutlak.

Begitu pula sepatutnya kita umat Islam, bisa mencontoh keyakinan Abu Bakar dalam melihat peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai bagian dari keimanan kita terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Teguh terhadap ikrar yang dilakukan saat mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua kesaksian yang memiliki makna yang dalam sehingga dalam menjalani kehidupan ini kita hanya mengikuti perintahNya dan meniru contoh dari manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah Muhammad s.a.w.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)



 

Mengingat Kembali Perjalanan Agung Isra' Mi'raj Mengingat Kembali Perjalanan Agung Isra' Mi'raj Reviewed by Himam Miladi on February 27, 2022 Rating: 5

Tersenyumlah Seperti Senyum Rasulullah Saw

November 01, 2021

senyum Rasulullah
Islam dirancang oleh Sang Pencipta untuk menjadi jalan hidup yang sempurna bagi umat manusia sehingga terkadang hal terkecil dapat berdampak besar. Senyum adalah salah satunya.


Islam lebih dari sekadar agama, tetapi juga keseluruhan cara hidup bagi pemeluknya. Islam mengajarkan kita bagaimana berperilaku dari pagi hingga malam dan bahkan memberitahu kita posisi terbaik untuk tidur. Islam adalah cara hidup yang alami, yang membuat aturan menjadi semudah bernafas. Satu hal yang semudah bernafas adalah tersenyum. Lekukan kecil di mulut dan kerutan di mata yang tidak hanya membuat kita tetapi juga orang-orang di sekitar Anda merasa nyaman.

Nabi Muhammad tersenyum, sering dan dengan sukacita yang nyata. Bahkan dia tersenyum begitu teratur sehingga senyum dan sikap baiknya disebutkan berkali-kali dalam anekdot dan cerita dari tradisinya.

Aisyah r.a ketika ditanya seperti apa akhlak Rasulullah Saw, menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran.” Artinya, Nabi Muhammad hidup dengan ajaran Al-Quran. Dengan demikian perilaku dan kepribadian Nabi Muhammad adalah contoh terbaik untuk kita ikuti dalam kehidupan kita sendiri.

Keteladanan Nabi Muhammad Saw meliputi semua aspek kehidupan dan perilaku manusia. Dari skala tindakan yang besar seperti amar makruf nahi munkar, hingga tindakan kecil seperti bagaimana adab bercanda atau bersendau gurau.

Pada dasarnya, Islam tidak melarang umatnya untuk bercanda.

Seorang laki-laki berkata kepada Sufyan ibn 'Uyaynah, "Bercanda itu tidak benar, itu harus dicela." Beliau menjawab, “Sebaliknya itu sunnah, tetapi hanya bagi mereka yang tahu bagaimana melakukannya dan melakukannya pada waktu yang tepat.”

Kata Jabir bin Abdullah, “Tidaklah Rasulullah Saw melihatku melainkan dengan tersenyum, dan ia bergurau dengan para sahabatnya, ia bergaul akrab dengan mereka dan ia ajak mereka bercakap-cakap, dan ia bermain-main dengan anak-anak.” (HR Muslim)

Bercanda adalah istirahat dari keseriusan dan perjuangan yang berkelanjutan. Semua manusia hakikatnya membutuhkan canda tawa untuk relaksasi jiwa. Hanya saja, yang dilarang oleh Islam adalah bercanda yang keterlaluan dan berlebihan.

Rasulullah Saw mengatakan: "Jangan tertawa terlalu banyak, karena terlalu banyak tertawa mematikan hati." (Shahih al-Jaami')

Imam Nawawi r.a. berkata: “Lelucon yang diharamkan adalah yang berlebihan dan terus-menerus, karena terlalu banyak tertawa dan mengeraskan hati, mengalihkan dari mengingat Allah, dan sering kali menimbulkan rasa sakit hati, menimbulkan kebencian dan menyebabkan orang kehilangan rasa hormat dan martabat. Tetapi barang siapa selamat dari bahaya seperti itu, maka apa yang dilakukan Rasulullah Saw diperbolehkan baginya.”

Memang benar, Rasulullah Saw sendiri pun punya selera humor yang tinggi, senang bercanda, namun dalam batas-batas yang wajar. Canda Rasulullah adalah canda untuk menyenangkan hati sahabat-sahabatnya. Sendau gurau Nabi adalah sendau gurau yang sopan yang tidak bercampur dusta. 

Teladan Sendau Gurau Rasulullah Saw

Seperti ketika Nabi Muhammad Saw melihat seorang sahabatnya, Shuhaib bin Sinan yang sebelah matanya sakit sedang makan kurma. Dengan nada kaget, Rasulullah Saw bertanya pada Shuhaib, “”Hai Shuhaib, bagaimana caramu makan kurma, sedangkan mata Anda sakit sebelah?”

Shuhaib bin Sinan termasuk sahabat yang punya selera humor tinggi pula, mengerti maksud sendau gurau Nabi. Ia pun menjawab sambil tersenyum, “Saya makan dengan mata yang satunya lagi ya Rasulullah.”

Mendengar jawaban Shuhaib, Rasulullah Saw tersenyum.

Pernah suatu kali, Rasulullah Saw melihat seorang sahabatnya naik kuda. Dengan nada heran, beliau Saw bertanya, “Hai, mengapa engkau naik anak kuda?”

Kaget mendengar pertanyaan Rasulullah, sahabat itu langsung melompat turun dari kudanya. Diamatinya sejenak kuda yang ditungganginya, lalu dengan nada sedikit bingung menjawab, “Ya Rasulullah, ini bukan anak kuda, yang saya tunggangi ini induk kuda.”

Nabi pun berkata, “Bukankah setiap induk kuda adalah anak kuda juga?”

Mendengar jawaban Rasulullah, sahabat itu tersenyum dan Rasulullah pun tersenyum.

Suatu hari pula, seorang wanita tua datang kepada Nabi Saw dan berkata, "Ya Rasulullah, doakanlah saya bisa masuk surga dengan segala amal ibadah yang sudah saya kerjakan.”

Dengan maksud bercanda, Rasulullah Saw berkata, “Maaf Bunda Fulan, di surga nanti tidak ada wanita tua.”

Mendengar jawaban Nabi, wanita tua itu pun pergi sambil menangis. Rasulullah Saw lalu meminta sahabatnya untuk menyusul wanita tua itu dan berkata, "Katakan padanya bahwa dia tidak akan masuk surga sebagai wanita tua, tetapi semua orang menjadi muda kembali.” (HR Tirmidzi).

Di waktu yang lain, seorang wanita mendatangi Rasulullah dan mengatakan suaminya ingin mengundang Rasulullah ke rumahnya.

Nabi Saw lalu bertanya, “Apakah suamimu itu yang matanya ada putihnya?”

Wanita itu menjawab, “Tidak ya Rasulullah. Mata suamiku biasa saja, tidak ada putih di keduanya.”

Rasulullah Saw kemudian berkata, “Tidak. Suamimu pasti yang matanya ada putihnya. Bukankah setiap mata mesti ada bagian putihnya?”

Mendengar jawaban Rasulullah Saw, wanita itu pun tersenyum dan Rasulullah juga ikut tersenyum.

Tersenyumlah Seperti Senyum Rasulullah Saw

Nabi Muhammad Saw adalah manusia biasa, seperti halnya kita semua.

“Aku makan sebagaimana (seorang) hamba Allah (makan), dan aku duduk sebagaimana (seorang) hamba Allah (duduk), karena sebenarnya aku ini hanyalah hamba (Allah).” (HR Baihaqi)

Dan sudah menjadi kodrat manusia untuk tertawa di kala ada hal yang patut ditertawakan, dan menangis ketika ada hal yang patut ditangisi.

Tetapi, sendau gurau Rasulullah adalah jenis sendau gurau yang bersih, tak ternoda dan pantas. Canda tawa Rasulullah Saw adalah canda tawa yang terhormat, di dalamnya tidak ada kedustaan, tidak pernah melampaui batas-batas kesopanan. Bahkan saat tertawa pun, Nabi Muhammad tak pernah melampaui batas. Setiap kali mendengar lelucon atau ada sesuatu yang pantas menjadikan orang tertawa, Nabi Muhammad hanya tersenyum.

Aisyah r.a berkata, “Belum pernah saya melihat Rasulullah Saw tertawa gelak hingga terlihat langit-langit mulutnya, tetapi selalu tersenyum.” (HR Bukhari Muslim).

Allah memberikan kewibawaan sempurna kepada Nabi Muhammad Saw, sehingga tak akan hilang kewibawaan itu hanya karena tertawa atau bergurau. Tertawa dan bergurau yang tidak melampaui batas kesopanan adalah suatu tanda keramahtamahan yang patut ada pada seorang Nabi, yang setiap waktunya harus berhadapan dengan bermacam-macam manusia.

Islam dirancang oleh Sang Pencipta untuk menjadi jalan hidup yang sempurna bagi umat manusia sehingga terkadang hal terkecil dapat berdampak besar. Senyum adalah salah satunya.

Abdullah bin Haarits berkata, “Saya tidak pernah menemukan seseorang yang tersenyum sebanyak Rasulullah Saw. Nabi Muhammad menganggap tersenyum kepada saudaranya sebagai amal.” (HR Tirmidzi).

Mari kita sambut setiap hari baru dengan senyuman, dan jangan lupa untuk tertawa dan bercanda bersama teman dan keluarga. Namun penting untuk kita ingat, bahwa meskipun Nabi Muhammad tertawa dan bercanda dengan keluarga dan sahabatnya, beliau Saw selalu berperilaku bijaksana dengan prinsip-prinsip moral yang baik.

Nabi Muhammad tidak pernah bercanda dengan cara yang menyakiti perasaan seseorang atau bercanda tentang hal-hal yang tidak benar. Bahkan Nabi Muhammad sampai mengingatkan “Celakalah orang yang berbicara dan berbohong untuk membuat orang tertawa; celakalah dia, celakalah dia.” (HR Abu Daud)

Sumber: Kompasiana

Tersenyumlah Seperti Senyum Rasulullah Saw Tersenyumlah Seperti Senyum Rasulullah Saw Reviewed by Himam Miladi on November 01, 2021 Rating: 5

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

May 24, 2021

 

kisah nabi musa menampar malaikat maut


Semasa mudanya, Nabi Musa a.s dikenal temperamental. Meski begitu, Nabi Musa memiliki kebijakan dan keadilan yang melebihi sifat temperamentalnya itu.

Nabi Musa juga memiliki sikap kepemimpinan yang tegas. Sikap yang sangat diperlukan untuk menghadapi kaum Bani Israil yang keras tabiatnya.

Kisah Nabi Musa dan Firaun termasuk kisah utama yang terdapat dalam Al-Quran. Mulai dari beliau lahir, dipungut sebagai anak oleh istri Firaun, hingga pada periode kenabiannya setelah tenggelamnya Firaun di Laut Merah.

Di antara riwayat hidup Nabi Musa yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, ada satu kisah menarik yang hanya terdapat dalam riwayat hadis. Kisah Nabi Musa menampar Malaikat Maut lantaran dianggap lancang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang berkisah:

Malaikat Maut diutus kepada Musa. Ketika dia datang Musa menamparnya. Malaikat Maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang menolak mati.

Lalu Allah mengembalikan matanya (yang rusak karena tamparan Musa).

Allah berfirman kepada Malaikat Maut, Kembalilah kepada Musa. Katakan kepadanya agar ia meletakkan telapak tangannya di punggung sapi jantan. Maka bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya  itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.

Musa berkata, Ya Rabbi setelah ini apa?

Malaikat Maut menjawab, Maut.

Musa berkata, Sekarang aku pasrah.

Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh sepelemparan batu.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, Seandainya aku berada di sana niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian yang berada di sisi jalan di dataran berpasir  merah yang bergelombang.

 

Dalam riwayat Muslim, Malaikat Maut mendatangi Musa dan berkata, Jawablah panggilan Tuhanmu. Rasulullah Saw bersabda, Musa menempeleng mata Malaikat Maut hingga membuatnya rusak. Lalu Malaikat Maut kembali kepada Allah dan berkata, Engkau mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati. Dia telah merusak mataku.

Rasulullah Saw bersabda, Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman kepadanya, Kembalilah kamu kepada hamba-Ku, katakan kepadanya, Apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup maka letakkanlah tanganmu di punggung sapi jantan, rambut yang tertutup oleh tanganmu itulah sisa umurmu. Satu rambut satu tahun.

Musa bertanya, Seterusnya apa?

Malaikat menjawab, Kemudian kamu mati.

Musa berkata, Sekarang ya Rabbi, dari dekat.

Musa berkata, Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu.

Rasulullah Saw bersabda, Demi Allah, seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan pasir merah.

Hadis tentang perjumpaan Musa dengan Malaikat Maut tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Ahadisil Anbiya bab wafatnya Nabi Musa. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Kitabul Fadhail bab keutamaan Musa. 

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

Melalui hadis tersebut, Rasulullah memberitakan kepada kita salah satu kemuliaan atau hak privilige yang dimiliki Nabi dan Rasul adalah mereka diberi pilihan, antara melanjutkan kehidupannya di dunia atau pulang ke sisi Rafiqil Ala.

Dalam kisah Nabi Musa ini, Allah mengutus Malaikat Izroil untuk menemui Nabi Musa dalam wujud manusia. Seperti halnya Malaikat Izroil menemui Rasulullah Saw dalam wujud manusia pula.

Ketika bertemu, Malaikat Maut kemudian meminta Musa menjawab panggilan Tuhannya. Artinya ajal Musa sudah tiba dan waktunya sangat dekat.

Nabi Musa yang memiliki temperamen cukup tinggi, kemudian menampar Malaikat Maut. Entah karena menganggap tidak sopan, atau tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Waallohu alam.

Akibat tamparan Nabi Musa, mata Malaikat Maut (dalam wujud manusia rusak). Seandainya Malaikat Maut mendatangi Nabi Musa dalam wujud aslinya, niscaya Nabi Musa tidak akan mampu menempelengnya. Tidak akan bisa!

Setelah ditempeleng Nabi Musa, Malaikat Maut pun mengadu kepada Allah Swt perihal perlakuan Nabi Musa terhadapnya. Allah kemudian mengembalikan mata (manusia) Malaikat Maut dan mengutusnya kembali kepada Nabi Musa dan meminta Nabi Musa meletakkan telapak tangannya ke punggung sapi jantan. Rambut yang tertutupi tangan itulah yang menjadi tanda sisa usia Nabi Musa.

Akan tetapi, ketika Nabi Musa mendapat jawaban bahwa setelah kehidupan yang sedemikian panjang itu dia akan berjumpa lagi dengan Maut, Nabi Musa memohon kepada Allah agar segera mengambil nyawanya agar bisa berada di sisi-Nya!

Apa yang ada di sisi Allah bagi para Nabi dan Rasul-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang saleh, itu lebih baik dan lebih kekal. 

Kematian itu Pasti

Hadis ini juga mengajarkan pada kita bahwa kematian itu pasti. Sepanjang apa pun usia kita, ujungnya adalah kematian. Tidak ada satu pun makhluk yang bernyawa di dunia ini bisa menghindar dari kedatangan Malaikat Maut. Bahkan seandainya ia bersembunyi di lubang semut, di bunker anti nuklir, di pulau terpencil, di puncak gunung tertinggi, Maut akan mendatanginya.

Kapankah waktunya?

Kita tidak akan tahu. Kita tidak akan pernah tahu kapan Malaikat Maut menyapa kita. Namun, dia sudah memberi tanda-tanda pada kita.

Rambut yang memutih, tubuh yang sudah mulai bongkok. Jalan yang mulai tertatih. Itu semua tanda-tanda dari Malaikat Maut.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, sudah siapkah kita menyambut kedatangan tamu yang pasti itu? Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih abadi nanti?

 

 

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut Reviewed by Himam Miladi on May 24, 2021 Rating: 5

Romantisme Nabi Ibrahim dan Hajar

July 29, 2020
Peristiwa Ibrahim a.s dan Hajar adalah kisah romantisme Keikhlasan (unsplash.com/Juliana Malta)



Di saat matahari bersinar terik di atas gurun pasir tak bertuan yang mengelilingi Ka’bah, Ibrahim a.s melangkah pergi. Ditinggalkannya Hajar dan Ismail kecil, tak dihiraukannya panggilan istri dan anak kesayangannya itu.

Hajar mengejar Ibrahim a.s. Di tengah sunyinya padang pasir yang kering kerontang, Hajar berteriak memanggil suaminya.

"Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?"

Ibrahim a.s tak juga menghentikan langkahnya. Ibrahim terus melangkah tanpa menoleh. Juga tak menggerakkan kepala atau telinga untuk mendengar teriakan sang istri yang baru saja melahirkan seorang putra yang sudah lama dia harapkan kehadirannya.

Namun tanpa sepenglihatan Hajar, air mata Ibrahim a.s meleleh. Remuk redam hati Ibrahim. Perasaannya terjepit antara pengabdian, kasih sayang dan pembiaran.

Seolah tak terima dengan diamnya Ibrahim, Hajar terus mengejar sambil menggendong Ismail kecil. Kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit.

"Apakah ini perintah Tuhanmu?"

Aneh, begitu mendengar pertanyaan Hajar ini langkah Ibrahim langsung terhenti.
Seiring berhentinya Ibrahim, dunia seperti ikut berhenti berputar. Butir pasir seolah terpaku, kaku tak mampu bergulir. Angin seolah berhenti mendesah.

Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam. Mereka menanti apa jawaban Ibrahim a.s. Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap.

Ibrahim a.s lalu membalikkan badannya tegas. Ditatapnya wajah Hajar yang masih mengejar dari kejauhan, lalu meluncurlah jawaban yang ditunggu para Malaikat itu.
“Iya!”

Mendengar jawaban Ibrahim a.s, langkah kaki Hajar langsung terhenti. Setelah terdiam sejenak, meluncurlah kata-kata dari bibirnya yang mengagetkan semua malaikat, bahkan seisi alam semesta.

"Jika ini perintah Tuhanmu, pergilah. Tinggalkan kami di sini. Tak usah mengkhawatirkan kami. Engkau pergi demi Tuhanmu, maka Tuhanmu juga yang akan menjaga kami.”

Tanpa berpamitan, tanpa berkata-kata lagi, Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema hatinya punah sudah. Langkahnya kian pasti, menuju pengabdian pada Sang Ilahi.

Romantisme Nabi Ibrahim dan Hajar Romantisme Nabi Ibrahim dan Hajar Reviewed by Himam Miladi on July 29, 2020 Rating: 5

Kisah Nenek yang Berkurban Sepuluh Ribu Rupiah Setiap Hari

July 29, 2020
Ibadah kurban hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan ALLAH (foto: Republika/Masruron)


Di sebuah tempat penjualan hewan kurban, seorang anak muda berpakaian necis tampak melihat-lihat sekumpulan kambing yang dijual untuk keperluan ibadah kurban di Hari Raya Iduladha nanti. Amir, anak muda tersebut hendak membeli seekor kambing untuk aqiqah putrinya yang rencananya sekalian dibarengkan dengan perayaan IdulAdha.

Setelah melihat-lihat, Amir memilih seekor kambing gemuk. Namun, ternyata harga kambing itu di luar perkiraan dan di luar budget yang sudah disediakan Amir. Meski sudah menawar harga, namun si penjual tak juga melepas kambing gemuk itu.

Tanggung, Amir pun kembali memilih-milih kambing yang sesuai dengan ukuran kantongnya.  Akhirnya, Amir mendapatkan seekor kambing berukuran sedang dengan harga lebih murah.

Tiba-tiba, datang seorang nenek berusia kira-kira 70 tahun seorang diri, tanpa ditemani siapapun juga. Tanpa basa basi, nenek itu langsung memilih kambing gemuk yang sedianya tadi sudah dipilih Amir, namun dilepas karena harganya terlalu mahal.

Lebih menakjubkan lagi, nenek itu membayar kambing gemuk tanpa menawar harganya! Segepok uang yang dibawanya dalam tas plastik hitam diserahkan pada penjual untuk dihitung.
Amir yang melihat langsung transaksi itu mendekat, lalu bertanya pada si nenek yang sedang menunggu uangnya dihitung penjual.

“Beli kambing buat apa Nek?”
“Buat kurban Nak,” kata si Nenek.
“Kok datang sendirian Nek, tidak ditemani anak cucu?”

“Nenek sudah tidak punya sanak saudara lagi , anak muda. Nenek sudah lama hidup sabatang kara. Untuk mencari nafkah hidup, sehari-hari nenek berjualan sapu yang nenek buat sendiri dari daun kelapa dan daun pisang,” kata si nenek dengan suara lembut.”

Amir tertegun, lalu berkata : “Masyaallah Nek, dalam kondisi demikian Nenek masih sanggup berkurban.”

Nenek itu tersenyum, dan dengan suara yang menggetarkan hati ia berkata,
“Nak, Allah sudah sedemikian sayang kepada nenek. Setiap hari Allah memberi nenek beragam nikmat yang begitu banyak, yang nenek sendiri tidak pernah mampu menghitungnya. Terutama nikmat menjadi manusia, nikmat Iman, dan nikmat Islam. Nenek selalu ingat ajaran Rasulullah, bahwa sebagai seorang hamba, setiap saat kita harus siap berkorban di jalan Allah. Nenek berpikir, sebagai umat Nabi Muhammad, nenek harus mengikuti sunah tersebut.

Bayangkan Nak, meskipun setiap tahun nenek berkorban seekor kambing, tapi sebetulnya setiap harinya nenek hanya menghargai nikmat Allah itu dengan berkorban sepuluh ribu rupiah saja.  Nak, Nenek tahu Allah begitu kaya. DIA tidak memerlukan uang dari nenek yang hanya sepuluh ribu rupiah setiap hari itu, walaupun memang itu yang dapat nenek korbankan untuk membalas nikmat-NYA yang begitu banyak tak terhitung jumlahnya.

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki yang sedikit berlebih kepada nenek , sebenarnya nenek ingin sekali pergi berhaji. Tapi nenek sadar, ongkos ke sana besar sekali dan kondisi nenek tidak memungkinkan. Maka nenek beramal sesuai kemampuan saja, seperti berkorban sekali setahun ini. Nenek sangat berharap Allah ridha dan menerima korban nenek.”

Tanpa terasa, air mata Amir menetes deras. Hatinya terguncang, jantungnya berdebar keras usai mendengar penjelasan sang Nenek tentang semangat berkurbannya.

Dirinya merasa sangat malu, mukanya bagai ditampar palu godam. Seorang nenek miskin, dengan pendapatan hanya seadanya, mau bersusah payah menyisihkan uang dua ribu per hari agar bisa berkorban setiap tahun untuk  membalas berjuta nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepadanya.

Sementara dia, punya penghasilan beratus kali lipat dibandingkan sang nenek. Sungguhpun begitu, dia masih merasa berat untuk berkorban. Dia masih menawar harga kambing untuk keperluan akikah putrinya. Sedangkan sang Nenek, tanpa menawar dan tanpa pertimbangan apapun juga langsung membeli seekor kambing gemuk, bermodalkan tabungan dua ribu setiap hari.
***

“Qurban” berasal dari kata “qaruba – qariibun” yang berarti dekat. Dari asal mula katanya saja kita bisa memahami bahwa ibadah kurban hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan ALLAH. Yakni mereka yang senantiasa mampu mensyukuri segala nikmat yang sudah diberikan Allah.

Kita boleh kaya, punya penghasilan yang lebih dari cukup. Namun, seringkali hanya untuk membeli seekor kambing setahun sekali, hati kita merasa berat. Jika pun kita niat berkurban, kita masih menawar dan mungkin mencari hewan kurban yang harganya paling murah.

Ibadah kurban bukan perkara kita mampu membeli hewan kurban atau tidak. Tapi seberapa dekat kita dengan Allah. Karena meski kita mampu membelinya, jika kita tidak mau mendekatkan diri dengan Allah, hati kita tidak akan tergerak untuk menunaikan ibadah kurban, setahun sekali.

Catatan:
Tulisan ini disarikan dari Khutbah ‘Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H di Kodam 2 Sriwijaya Palembang oleh Ustadz Reza Esfan Asjoedjir



Kisah Nenek yang Berkurban Sepuluh Ribu Rupiah Setiap Hari Kisah Nenek yang Berkurban Sepuluh Ribu Rupiah Setiap Hari Reviewed by Himam Miladi on July 29, 2020 Rating: 5
Powered by Blogger.