Results for ramadan

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran

April 28, 2022

 

salat mencegah kemungkaran
Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (unsplash.com)

Katanya salat itu mencegah kemungkaran, tapi mengapa masih banyak orang yang terlihat rajin salat, masih juga mengerjakan maksiat, perbuatan keji dan dosa-dosa lainnya?

Memang betul, Allah berfirman,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Ankabut, 29: 45)

Salat dikatakan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar apabila dikerjakan dengan baik dan sempurna. Apabila ada seorang muslim mengaku sudah salat, tapi masih juga melakukan maksiat, maka salatnya belum sempurna. Orang tersebut hanya sekedar melakukan gerakan salat, tapi inti dari ibadah salatnya tidak sampai masuk ke hatinya. 

Kesempurnaan Salat Berawal Dari Kesempurnaan Wudhu

Kesempurnaan salat dimulai ketika kita berwudhu. Salat baru dapat dikatakan sah apabila kita sudah bersuci. Jika wudhu kita belum sempurna, maka salat kita juga dikatakan tidak sah karena kita masih belum menyucikan diri dari hadas.

Rasulullah (ﷺ) bersabda,

"‏ لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak ada salat yang diterima tanpa wudhu (bersuci) (HR Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah (ﷺ) bersabda,

 "‏ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ‏"‏ ‏.

“Jika waktu untuk salat (wajib) telah tiba, dan seorang Muslim melakukan wudhu dengan benar, (dan kemudian shalat) dengan kerendahan hati dan rukuk (kepada Allah), itu akan menghapus dosa-dosanya yang lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar; dan ini berlaku untuk semua waktu.” (HR Muslim)

Ini baru perkara wudhu, belum lagi ibadah salat itu sendiri. Entah kita sadari atau memang belum kita ketahui, dalam melakukan salat kita banyak melakukan kesalahan yang membuat salat kita tidak sempurna.

Kesempurnaan Salat Mencegah Kemungkaran

Kesalahan umum yang sering dan banyak dilakukan umat Islam adalah melakukan salat dengan terburu-buru. Padahal, salah satu rukun salat adalah tuma’ninah atau berdiam diri sebentar setiap kali selesai melakukan satu gerakan salat. Sebagian ulama mengartikan tuma'ninah adalah menempatkan setiap bagian tubuh kita dengan benar ketika berada dalam posisi salat. Artinya, ketika ruku' maka kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita ikut berada dalam posisi ruku. Ketika sujud, kita harus menunggu setiap anggota tubuh kita berada dalam posisi sujud.

Seperti yang disampaikan Rasulullah (ﷺ) dalam hadis di atas, kita yang melakukan salat dengan kerendahan hati dan rukuk (tunduk) kepada Allah, maka dosa-dosa kita akan terhapuskan, selama kita tidak melakukan dosa besar.

Ketika kita salat dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh perhatian, tunduk, murni, mengarahkannya kepada Allah, dan membaca takbir (mengucapkan 'Allahu Akbar': Allah Maha Besar) untuk memulai salat, hakikatnya kita menyatakan bahwa Allah lebih besar dari siapapun dan apapun.

Kemudian, kita memulai salat dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala dengan mengucapkan doa istiftah. Perhatikan makna salah satu doa iftitah: Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawati wal ardhi (Aku menghadapkan wajahku kepada Pencipta Langit dan Bumi, dan seterusnya). 

Kemudian, kita mencari perlindungan kepada Allah dari godaan setan (membaca ta’awudz/A’udzubillah) dan membaca Al-Fatihah, yang dikenal sebagai Umm Al-Kitab (induk Al-Quran), karena menggabungkan semua makna iman dan tauhid.

Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Quran) karena memuat pujian kepada Allah, mengungkapkan rasa syukur, mengagungkan, mengakui Hari Pembalasan dan bahwa Allah adalah Tuannya , menyembah dan memohon kepada-Nya, serta meminta petunjuk kepada Tuhannya dan tidak ada kecualinya. Petunjuk di sini mengacu pada petunjuk jalan para nabi, dan orang-orang yang beriman.

Kemudian, kita yang sedang salat memohon kepada Allah  agar melindungi kita dari jalan orang-orang yang menimbulkan kemarahan [Nya] dan orang-orang yang sesat.

Kemudian ketika ruku' dan sujud, kita mengucapkan puji-pujian kepada Allah, menyampaikan salam kepada Nabi (ﷺ), dan ditutup dengan salam yang diniatkan/ditujukan kepada imam, orang-orang di sekeliling kita, dan para malaikat yang ikut menyaksikan salat kita.

Jika kita memahami sepenuhnya apa artinya ini, akankah kita melakukan dosa dengan sengaja?

Jika kita memahami arti dari semua ini dalam salat kita, kita akan menyelesaikan salat sebagai orang yang berbeda (lebih baik) dengan cahaya batin yang lebih terang. Kita akan memperbaharui kepatuhan kita kepada Allah dan tidak akan pernah berani melanggar larangan-Nya.  Inilah yang dimaksud dalam firman Allah bahwa salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Mari kita perbarui dan sempurnakan salat kita, dan memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendirikan salat dengan sempurna.

Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Mari Menyempurnakan Salat untuk Mencegah Kemungkaran Reviewed by Himam Miladi on April 28, 2022 Rating: 5

Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani

April 25, 2022

 

madrasah rohani
Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu

Puasa Ramadan hendaknya tidak hanya sekedar dilakukan/dilaksanakan, namun juga harus dimaknai. Kalau puasa hanya dilaksanakan, itu berarti kita hanya sekedar mengugurkan kewajiban. Tak ada bekasnya di dalam diri kita setelah bulan Ramadan berlalu. Kalau puasa hanya dilaksanakan, kambing pun bisa melakukannya. Cukup kita kurung kambing itu di dalam kandang, tanpa kita beri makan dan minum, maka dia akan berpuasa.

Jika kita bisa memaknai puasa Ramadan, maka akan melahirkan perubahan karakter yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan berlalu, atau setelah kita berpuasa. Syekh Rasyid Ridho dalam tafsir Al-Manan mengatakan, puasa hakikatnya adalah pendidikan untuk kemauan. Selama bulan puasa, kita dididik untuk mengekang/membatasi segala kemauan atau keinginan kita.

Imam Ghozali berpendapat, puasa Ramadan adalah Madrasah Rohani. Menurut Imam Ghozali, ada 4 unsur rohani yang mendapat pendidikan selama kita berpuasa.

1. Pendidikan Hati

Orang yang berpuasa diharapkan memiliki Qolbun Saliim, hati yang selamat.

Rasulullah (ﷺ) bersabda,

” أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ.“ رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati adalah pusat pergerakan jasad insan. Jika hati seseorang itu sehat, maka seluruh anggota tubuh akan sehat dan sejahtera. Sebaliknya, jika hatinya kotor, maka amal perbuatan anggota tubuh juga akan rusak dan kotor, tiada guna dan tiada berpahala.

Maulana Muhammad Zakariya Al-Khandhlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal menyatakan hati diibaratkan seperti cermin.  Semakin kotor cermin tersebut, semakin kurang cahaya yang dipantulkannya. Sebaliknya, apabila cermin itu semakin bersih, maka semakin terang pula pantulan cahaya marifatnya. Di antara tanda hati yang kotor dan berpenyakit adalah:

·         Sering gelisah dan tidak tenteram

·         Selalu membanggakan diri sendiri

·         Memandang rendah dan hina terhadap orang lain

·         Menganggap diri lebih daripada orang lain

·         Tidak amanah dan ingkar janji

·         Sering mencari aib orang lain dan disebarkan

·         Suka mengumpat dan menyakiti orang lain

·         Mudah berburuk sangka terhadap orang lain

·         Cinta dunia melebihi kecintaan pada akhirat

·         Sering mengabaikan ibadah

Puasa Ramadan diharapkan dapat mendidik hati kita menjadi hati yang bersih dari kotoran hati, dan hati yang sehat bebas dari penyakit hati (amrotul qulub).

Orang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan hati, maka dia bisa menghadap Allah dalam keadaan hati yang bersih (Qolbun Saliim).

Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ  ٨٩

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy-Syuura, 26: 88-89)

2.   Pendidikan Nafsu

Madrasah Ramadan mendidik jiwa kita agar menjadi jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah).

Ciri-ciri jiwa yang tenang adalah:

Memiliki sumber keinginan yang baik, dicapai dengan cara yang baik, dan istiqomah dalam kebaikan (selalu kembali kepada jalan kebenaran apabila sekali waktu tergelincir dalam kesalahan).

Seseorang yang memiliki jiwa yang tenang, bisa dikatakan otomatis khusnul khatimah. Allah sendiri yang berkenan memanggil jiwa-jiwa yang tenang, dan memasukkannya ke dalam surga.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ -٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ -٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ -٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ – ٣٠

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr, 89: 27-30)

Orang yang memiliki jiwa yang tenang juga akan dimudahkan Allah kelak pada Yaumul Hisab.

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ

maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah (QS Al-Insyiqaq, 84: 8)

3.   Pendidikan Akal Pikiran

Puasa Ramadan juga menjadi sekolah bagi akal pikiran. Dalam teori psikologi, orang yang berpuasa dapat mencapai tingkat ketenangan yang luar biasa. Saat berpuasa, gelombang otak kita berada dalam posisi theta yang dihubungkan dengan memori atau daya ingat serta tingkat kesadaran yang tinggi.

Itu sebabnya, orang yang berpuasa bisa fokus pada hal-hal positif karena segala hal negatif terbuang dari pikirannya. Itu sebabnya pula, bulan Ramadan adalah bulan terbaik untuk menghafal Al-Quran karena dalam keadaan puasa, memori atau daya ingat kita berada dalam kondisi puncak.

Seseorang yang berpuasa dan berhasil mendapatkan pendidikan Akal Pikiran, dialah yang berhak disebut sebagai Ulul Albab.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ - الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran, 3: 190-191)

4.   Pendidikan Rasa

Puasa Ramadan adalah sekolah yang memberikan pendidikan rasa. Hakikatnya, puasa mendidik kita untuk dapat merasakan penderitaan orang-orang fakir dan miskin, yang karena kekurangannya sering merasa kelaparan.

Rasulullah sering mengingatkan kita, bahwa ukuran keimanan seseorang terletak dari empatinya terhadap penderitaan orang lain.

“Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangganya di sampingnya kelaparan” (HR Bukhari)

Maka, orang yang berhasil mendapat Pendidikan Rasa di bulan Ramadan adalah orang yang memiliki karakter Ta’awuun, orang yang ringan tangan, suka menolong sesama.


Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Puasa Ramadan Sebagai Madrasah Rohani Reviewed by Himam Miladi on April 25, 2022 Rating: 5

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik

April 24, 2022

 

infak,sedekah,infak dengan harta terbaik
Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik (pixabay)

Mungkin ini jarang terjadi, namun kali ini benar-benar terjadi!

Setelah shalat Ashar, seorang ibu mendatangi kantor takmir, lalu tanpa pikir panjang ibu ini mengeluarkan sebuah kalung emas dan berkata, Saya ingin menginfakkan kalung emas ini!

Masyaallah! Biasanya, orang berinfak dengan uang tunai. Tapi kali ini seorang ibu muda menginfakkan perhiasan emasnya. Kami yang saat itu sedang berada di kantor takmir sampai bengong sejenak, tidak bisa berkata apa-apa.

Kebanyakan kita enggan melepaskan barang-barang yang kita sayangi. Coba lihat dan pikirkan, betapa banyak barang-barang di rumah yang kita biarkan tidak terpakai, dengan alasan barang-barang tersebut adalah barang-barang kesayangan, dengan beribu alasan!

Ini masih muat kok!

Aduh, ini kan baju kenangan!

Sepatu model ini kan masih tren!

Jangan dong, tupperware beli mahal-mahal kok mau dikasihkan orang!

Ingat, simpanan-simpanan itu akan ada hisabnya di hari kemudian.

Simpanan sarung yang tidak terpakai, baju-baju yang mulai kekecilan, celana yang sudah tidak muat lagi di pinggang. Simpanan toples tupperware yang menumpuk di kardus, masih terbungkus plastik, tak pernah dipakai dan tak ada rencana dipakai.

Ada lagi sajadah-sajadah yang teronggok begitu saja di dasar lemari.  Ada beberapa set piring dan gelas hadiah pernikahan, yang sampai sekarang pun masih belum pernah digunakan.

Ada ini ada itu, daftarnya bisa sangat panjang.

Yah, manusia memang tak bisa lepas dari nafsu. Semua yang kita miliki, kita beli dan kita simpan ini berawal dari nafsu. Ingin punya ini, tak mau kalah dengan tetangga atau saudara yang sudah punya barang itu, begitu seterusnya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS Ali Imran, 3: 14)

Padahal, apa yang kita miliki di dunia ini tak bisa kita bawa pulang ke kampung abadi. Yang kita pakai sekarang dan kita sedekahkan itulah harta kita yang sebenarnya, yang bermanfaat.

Yang simpanan dan koleksi-koleksi, mereka semua akan dihisab, diminta pertanggung jawabannya. Dari mana kita memperoleh, dan untuk apa barang koleksi itu kita gunakan.

يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam. Lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah, 9: 35)

Dalam berinfak atau bersedekah, Allah menganjurkan kita untuk berinfak, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit (ketika kaya maupun miskin).

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit (QS Ali Imran, 3: 134)

Begitu pula dengan harta yang kita infakkan, Allah meminta kita untuk menginfakkan harta yang terbaik.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah, 2: 267)

Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir menyatakan bahwa tema ayat ini adalah kewajiban memilih harta yang baik ketika hendak berinfak di jalan Allah, baik infak tersebut berupa zakat wajib maupun sedekah sunnah. Karena tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan menabung pahala dengan beramal baik. Tujuan ini tidak bisa diraih kecuali jika harta yang diinfakkan adalah harta yang baik pula.

Sekarang, mari kita pikirkan kembali, seberapa sering kita menginfakkan harta kita yang terbaik?

Yang sering adalah, kita menginfakkan harta-harta tersisa. Kalau ada pengumpulan sumbangan untuk korban bencana alam misalnya, yang kita sumbangkan adalah baju-baju bekas! Sekalipun itu masih layak pakai, namun tetap saja bekas kita pakai!

Sebab kita enggan berinfak yang terbaik adalah karena setan terus membisikkan ke dalam hati kita akan kemiskinan.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah, 2: 268)

Jangan takut berinfak dengan harta terbaik. Allah menjanjikan kepada kita, bahwa setiap harta yang kita infakkan hakikatnya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Dan kita tidak akan rugi karenanya.

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (QS Al-Baqarah, 2: 272).

Ingatlah, sedekah menghapuskan dosa, sebagaimana air mematikan api.

Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Jangan Takut Berinfak dengan Harta Terbaik Reviewed by Himam Miladi on April 24, 2022 Rating: 5
April 03, 2022

 

Ramadan Bulan untuk Berkata Baik

Oleh: Himam Miladi

 


ramadan bulan untuk berkata baik,bahaya lidah manusia
Puasa di bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih kebiasaan selalu berkata baik. Islam mengajarkan kita bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus


Bulan Ramadan yang diberkahi adalah bulan kedermawanan, sedekah dan berlomba-lomba dalam kebaikan, baik lisan maupun amal. Di antara perbuatan baik lisan adalah bertuturkata yang baik yang tidak membahayakan.

Allah memerintahkan hambanya untuk bertuturkata yang baik ketika kita berinteraksi dengan sesama manusa.

 

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ

Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. (QS Al-Baqarah, 2: 83)

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ٥٣

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Isra, 17: 53)

Allah juga memperingatkan hambanya bahwa semua ucapan yang keluar dari lisan manusia itu tercatat dan terekam dalam buku amal perbuatan.

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS Qaf, 50: 18)

Ramadan Bulan untuk Berkata Baik

Puasa di bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih kebiasaan selalu berkata baik. Islam mengajarkan kita bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus. Orang yang berpuasa harus menghindari sesuatu yang lebih dari sekedar makanan dan minuman. Orang yang berpuasa tidak boleh berperilaku buruk, baik melalui lisannya maupun perbuatannya.

Nabi (ﷺ) mengajarkan bagaimana seharusnya orang yang berpuasa itu:

“Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang sia-sia dan bahasa yang kotor. Jika salah seorang di antara kalian dicaci maki atau disakiti, hendaklah ia berkata: “Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam hal perkataan, Rasulullah (ﷺ) dikenal sangat berhati-hati terhadap lidahnya dan memperingatkan dengan keras kepada sahabat-sahabatnya untuk menjaga lidah, sebab orang bisa tersungkur ke neraka karena lidahnya. 

Ibnu Mas’ud berkata, Aku mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda, Bahwa kebanyakan dosa anak adam itu pada lidahnya. (HR Thabrani dan Baihaqi)

Dalam hadis lain diriwayatkan, pada suatu kali seorang perempuan mendatangi Aisyah r.a hendak menanyakan sesuatu. Ketika perempuan itu pulang, Aisyah berkata, “Alangkah pendeknya perempuan itu.”

Nabi Muhammad (ﷺ) yang mendengar perkataan Aisyah segera menegur, “Ya Aisyah, itu adalah ejekan.”

Aisyah menjawab, “Aku hanya mengatakan yang benar, ya Rasulullah.”

Maka Nabi (ﷺ) pun menjawab, “Oleh karena itu, perkataanmu merupakan ejekan. Kalau engkau mengatakan yang tidak benar, maka engkau termasuk orang yang berdusta, yang lebih besar dosanya.”

Rasulullah (ﷺ) bersabda,

“Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bahaya Lidah Manusia

Lidah termasuk anggota tubuh yang sangat istimewa, nikmat luar biasa yang dikaruniakan Allah kepada kita.  Hakikatnya, lidah termasuk anggota tubuh yang ukurannya kecil. Namun, ketaatan dan kemanfaatan seseorang, juga dosa dan kemudharatan seseorang bisa diukur dari lidahnya. Kufur dan iman seseorang bisa tampak dari kesaksian lidahnya.

Imajinasi, kenyataan, atau dugaan semuanya dapat dicapai dengan lidah. Ilmu pengetahuan juga dicapai dan disampaikan oleh lidah, baik yang benar maupun yang batil. Tiada suatu pun, melainkan ilmu itu menerima untuk lidah. Inilah keistimewaan yang tiada di dapat anggota tubuh lainnya. Mata, tidak akan sampai melainkan kepada warna dan bentuk. Telinga, tidak akan sampai melainkan kepada suara. Tangan, tidak akan sampai kepada yang tidak berwujud padat.

Segala bentuk komunikasi, sejak manusia diciptakan hingga kini masih memakai lidah sebagai media penyampaian. Di dalam lidah pula bersumber kebenaran atau fitnah.

Bahaya yang ditimbulkan oleh lidah jauh lebih besar dosanya dibandingkan yang disebabkan oleh anggota tubuh lainnya. Tangan bisa menganiaya, namun fitnah yang ditimbulkan oleh lidah kita jauh lebih besar dampak dan dosanya.

Kita tidak akan bisa terlepas dari bahaya yang ditimbulkan lidah, selain dengan bertindak diam. Karena itulah, Rasullah (ﷺ) memuji orang yang bertindak diam dan mengajak kita semua untuk menahan lidah.

Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Barangsiapa diam, niscaya ia terlepas (dari bahaya).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Keutamaan berbuat diam di antaranya adalah terhindar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat lidah, yang dapat mengantarkan si pemilik lidah ke dalam lubang dosa dan kehinaan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan, ada 15 bahaya yang disebabkan oleh lidah manusia

  1. Membicarakan hal yang tidak perlu
  2. Perkataan yang berlebihan
  3. Berbicara hampa (omong kosong) dalam hal batil
  4. Bertengkar dan berbantah-bantahan
  5. Permusuhan
  6. Kata-kata keji, caci maki dan kekotoran lidah
  7. Mengutuk
  8. Sendau gurau berlebihan
  9. Menghina dan menertawakan orang lain
  10. Membuka rahasia orang lain
  11. Janji palsu
  12. Dusta pada ucapan dan sumpah
  13. Fitnah dan adu domba
  14. Berlidah dua (bermuka dua)
  15. Sanjungan berlebihan

Inilah bahaya yang tidak berat dilakukan oleh lidah kita, dan disukai oleh hati kita. Hati yang sudah tercemar oleh godaan syaitan yang terkutuk. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa, sulit baginya untuk menahan lidah. Dilepaskannya semua yang disukainya melalui lidah, dan ditahannya apa yang tidak disukainya.

Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Simpanlah lidahmu, selain untuk kebajikan. Karena yang demikian itu, engkau berarti dapat mengalahkan syetan.” (HR Ibnu Hibban dari Abu Dzar).

Kunci penyelamat dari bahaya-bahaya yang disebabkan lidah tersebut tak lain adalah diam. Selain menyelamatkan kita dari bahaya yang menjerumuskan ke dalam dosa, diam atau menahan lidah juga membawa banyak manfaat bagi kita, di antaranya: penggunaan waktu untuk berpikir, untuk berzikir, untuk beribadah, tetapnya kehormatan diri, dan yang lebih penting, selamatnya kita dari perhitungan amal yang disebabkan oleh kata-kata yang kita ucapkan selama hidup di dunia.

Kata-kata yang baik menyerukan moral yang baik dan perbuatan yang benar. Seseorang yang mampu mengendalikan lidahnya akan mampu pula mengendalikan semua urusannya.

Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Berbahagialah orang-orang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan kelebihan dari hartanya.” (HR Baihaqi)

 

Wa’allohu ‘a’lamu bisshowaab

 

Reviewed by Himam Miladi on April 03, 2022 Rating: 5

Keistimewaan Ramadan dalam Angka

April 18, 2021

 

keistimewaan ramadan dalam angka

4 Minggu Penuh Belas Kasih Allah Swt

Ramadan adalah bulan kebajikan dan bulan pelipatgandaan ganjaran. Setiap umat Islam hendaknya menyambut Ramadan dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, hingga diibaratkan kegiatan itu dapat  menjadikan pintu-pintu surga terbuka lebar karena amal kebajikan apa pun, kendati sedikit, dapat mengantar ke surga.

Rasulullah Saw bersabda,

“Kalau (bulan) Ramadan tiba, pintu-pintu surga terbuka dengan lebar, pintu-pintu neraka tertutup dengan rapat dan setan-setan terbelenggu” (HR. Muslim).

30 Hari Penghambaan diri kepada Allah Swt

Ayat paling populer yang sering disampaikan selama bulan Ramadan adalah surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini berisi perintah untuk menunaikan ibadah puasa selama Ramadan, dengan tujuan agar kita bertakwa. Dalam konsep keagamaan, para ulama mendefinisikan takwa sebagai “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.

Jadi, seorang mukmin yang sempurna imannya adalah seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya melayani Allah. Sebagaimana firman Allah Swt,

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS Az-Zariyat: 56).

720 Jam Pengalaman Spiritual Bersama Allah Swt

Bulan Ramadan juga menjadi bulan yang bisa mendekatkan orang-orang beriman kepada Allah. Di sela-sela rangkaian ayat tentang puasa (QS Al-Baqarah ayat 183-187), Allah berfirman,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka it memenuhi (perintah-Ku) dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Ayat ini memberi isyarat bahwa puasa adalah cara mendekatkan diri kepada Allah.

Bulan Ramadan juga menghadirkan suasana kerohanian khusus yang dialami banyak orang, suasana khas yang tidak didapatkan di bulan-bulan lainnya. Selama Ramadan, setiap muslim akan merasakan pengalaman spiritual khusus bersama Allah Swt. Pengalaman spiritual ini bisa dalam bentuk pemujaan kepada Allah melalui pelaksanaan ritual ibadah seperti salat, puasa, tadarus Al-Quran, zikir, zakat, sedekah dan berbagai amal kebaikan lainnya.

keistimewaan ramadan
Keistimewaan Ramadan dalam angka


43.200 Menit Pengampunan dari Allah Swt

Menurut etimologi (akar kata) bahasa Arab, Ramadan berarti “membakar”. Ia dinamai demikian karena karena ketika terjadi perubahan nama-nama bulan, yang kemudian dikenal dengan nama Hijriah, penduduk Mekkah menamai bulan-bulan sesuai dengan suasana iklim yang mereka alami ketika itu atau tradisi yang mereka lakukan. Penduduk Makkah menamakan Ramadan karena pada bulan ini suhu udara demikian panas dan membara hingga diibaratkan mampu membakar apa saja.

Ketika Allah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, hakikatnya pada bulan ini dosa-dosa manusia habis terbakar, buah dari keimanan, ketakwaan dan amal salehnya.

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni" (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

2.592.000 Detik Kebahagiaan

Jiwa setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk menuruti syahwat (hawa nafsu). Dengan beragam cara jiwa kita mengarahkan kita agar berbuat seperti halnya binatang buas yang tak pernah puas. Itu sebabnya Rasulullah Saw bersabda, jihad atau peperangan terbesar bagi setiap muslim adalah memerangi hawa nafsu.

Kata shaum yang diterjemahkan menjadi puasa memiliki makna menahan diri (dari hawa nafsu). Hakikatnya, puasa adalah menahan diri dari segala hawa nafsu seperti makan, minum, berhubungan intim dan hal-hal lain yang membatalkan puasa mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya imemiliki kepuasan jiwa atau kebahagiaan manakala dirinya mampu menyerahkan diri hanya kepada Allah, tidak kepada hawa nafsu yang rendah.

"Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kebahagiaan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya" (HR Bukhari).

 

Artikel ini sudah ditayangkan di Kompasiana

Keistimewaan Ramadan dalam Angka Keistimewaan Ramadan dalam Angka Reviewed by Himam Miladi on April 18, 2021 Rating: 5

Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi

April 22, 2020


Bagi sebagian umat Islam, Ramadan tahun ini diselimuti banyak kesedihan. Tak ada buka puasa bersama, tak boleh sholat tarawih berjamaah.

Apalagi bagi mereka yang di perantauan. Mereka tak bisa lagi mudik lebaran. Pemerintah sudah memutuskan untuk melarang mudik, demi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Ketika kita sudah terbiasa dengan ritual dan suasana Ramadan yang ceria, keadaan ini sulit untuk kita terima. Namun, alih-alih terjebak dalam lautan kesedihan, kita bisa menjalani Ramadan tahun ini dengan perspektif baru.

Seperti apa?

Coba ingat-ingat, bagaimana pengeluaran kita di Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Jujur saja, setiap kali bulan Ramadan datang, pengeluaran kita mendadak selalu bertambah, betul tidak?

Aneh kan, di bulan yang semestinya kita bisa berhemat karena hanya makan dan minum di malam hari saja, kita malah berlaku boros. Termasuk saya sendiri, yang kadang masih sering tidak tahan untuk membeli makanan yang berlebih, terutama makanan yang memang hanya ada/muncul pas kala bulan Ramadan saja.

Terhadap sikap konsumtif itu, kita selalu mencari pembenaran bahwa berbelanja banyak bahan makanan itu untuk persediaan berbuka puasa atau untuk sahur nanti. Kita tak mau tahu apakah makanan-makanan yang kita beli itu bisa kita habiskan atau kita buang percuma sisanya.

Inilah yang dinamakan paradoks Ramadan. Ada kontradiksi antara praktik fiqh Ramadan dengan praktik konsumtif kita selama menjalankan ibadah puasa. Padahal, hakekat ibadah puasa adalah upaya pembelajaran bagi kita untuk menahan nafsu makan, minum, seksual dan hawa nafsu lainnya.

Kalau hanya sekedar tidak makan, minum dan menahan nafsu seksual saja, kambing juga bisa. Karena kita adalah makhluk yang diciptakan dengan akal pikiran, maka perintah untuk menahan nafsu tersebut juga mencakup nafsu untuk bersikap berlebihan, terutama saat berbelanja dan makan.

Sikap berlebihan ini misalnya muncul dalam wujud keinginan berbelanja makanan yang biasanya tidak muncul di luar bulan Ramadan. Kolak pisang, kurma atau aneka ragam makanan khas Ramadan lainnya. Sikap berlebihan lainnya adalah saat kita berbelanja makanan dalam jumlah banyak, hingga akhirnya mungkin sekali banyak yang terbuang dan mubadzir.

Entah mengapa, kita seakan sulit untuk menghindar dari sikap konsumtif dan gaya hidup hedonis justru saat bulan Ramadan tiba. Ada saja godaan untuk membeli ini atau itu ketika waktu untuk berbuka puasa telah tiba.

Seakan-akan ketika waktu berbuka tiba, kita harus membalas dendam. Jadinya, bulan Ramadan malah kita maknai sebagai ritual menahan lapar dan dahaga belaka. Idealnya, ketika seseorang berpuasa dengan cara yang benar, seharusnya ketika berbuka, dia tidak berlebihan atau balas dendam pada makanan.

Sementara kita tahu, Allah melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Al A’raf ayat 31 mengajarkan pada kita bahwa berlebihan akan menyeret kita pada kemubaziran, dan hal tersebut akan menjadikan kita berkawan dengan syaitan.

Penyebab perilaku boros dan konsumtif yang kita lakukan saat puasa Ramadan salah satunya muncul karena kita terlalu sering menghabiskan waktu diluar. Godaan itu datang ketika mata kita jelalatan melihat berbagai macam barang yang dipajang di toko atau outlet-outlet di pusat perbelanjaan.

Perilaku konsumtif itu juga dapat muncul saat kita – dengan alasan silaturahim- mengadakan acara buka puasa bersama. Sah-sah saja kita mengadakan buka bersama dengan niat untuk menyambung tali silaturahim. Tapi akan lain jadinya jika acara buka bersama itu kita lakukan hampir setiap hari. 

Apalagi acara buka bersamanya di restoran atau cafe mewah. Memangnya pernah kita buka bersama di warteg atau warung makan pinggir jalan?

Puasa mengajarkan umat Islam untuk dapat memilah antara kebutuhan dan keinginan.  Puasa juga mengajarkan kita untuk memiliki empati kepada mereka yang tidak pernah mendapat nikmat makanan berlebih dan sehari-hari bersahabat dengan rasa lapar.

Ibadah puasa Ramadan di tengah pandemi Covid-19 ini bisa mengembalikan hakekat puasa yang sebenarnya. Tidak adanya pasar takjil bisa menjadi penahan diri kita untuk tidak membeli makanan secara berlebihan. Larangan berbuka puasa bersama juga bisa membantu kita untuk lebih berhemat, apalagi mengingat kondisi perekonomian kita yang nyaris tenggelam diterjang virus corona.

Berbagai batasan yang kita alami saat menunaikan ibadah puasa tahun ini justru membawa kebaikan pada nilai ibadah puasa kita. Kelebihan rejeki yang biasanya kita habiskan untuk membeli makanan berlebih bisa kita sedekahkan pada mereka yang lebih membutuhkan.

Di bulan Ramadan ini, setiap perbuatan baik dihitung sebagai sedekah. Dan, kata Rasulullah SAW, sedekah yang paling baik itu adalah yang dilakukan di bulan Ramadan.

Cara terbaik untuk tetap tenang menjalankan ibadah puasa di tengah kabut kecemasan pandemi Covid-19 adalah fokus pada saat ini. Terima kenyataan apa adanya, sadarilah bahwa diri kita baik-baik saja. Kemudian, maknai hakekat puasa itu dengan sebenarnya.

Memaknai puasa Ramadan secara benar di tengah pandemi Covid-19 tak hanya menghindarkan kita dari perilaku konsumtif, boros dan gaya hidup hedonis. Hal ini juga akan membuat kita lebih menjiwai substansi dari puasa Ramadan itu sendiri, yakni La’allakum Tattaquun, supaya kita lebih bertakwa.






Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi Kebaikan Tersembunyi Saat Ramadan di Tengah Pandemi Reviewed by Himam Miladi on April 22, 2020 Rating: 5
Powered by Blogger.